Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 55


__ADS_3

Azri tidak bertemu dengan Widya saat jam kantor berakhir. Ia tahu dari Bella bahwa istri nya itu sudah pulang lebih dulu karena suatu alasan. Azri sama sekali tidak mempermasalahkan nya. Sepanjang perjalanan ia memikirkan macam-macam rencana untuk istri nya itu, seperti makan malam romantis.


Suara bel pintu berbunyi saat Azri selesai membuat makan malam. Ia mengira Widya yang akhir nya pulang. Saat ia kembali ke apartement dua jam lalu, apartement mereka kosong dan ia tidak tahu Widya pergi ke mana, seperti nya sekarang istri nya itu baru kembali. Ponsel nya pun tidak bisa di hubungi.


Tunggu, bel pintu? Azri menyadari keganjilan itu. Widya sudah tahu password rumah itu sehingga tidak perlu membunyikan bel. Ia pun tersadar kemungkinan yang membunyikan bel bukanlah Widya melainkan tamu asing. Dengan kepala penuh tanda tanya ia bergerak menuju pintu.


"Kejutan!!"


Azri mengerjapkan mata ketika membuka pintu ia menemukan Jhors dan Ryan berdiri di sana. "Apa yang kalian lakukan di sini?"


Tidak biasa nya teman-teman nya bertamu ke apartement nya malam-malam begini.


"Kami heran kenapa kamu tidak muncul di kelab akhir-akhir ini. Rupa nya kamu sudah berubah menjadi suami rumahan," komentar Jhors sambil tersenyum penuh arti.


"Seperti nya aku mencium bau harum masakan. Astaga, kamu memasak?" seru Ryan lalu meringsek masuk ke dalam tanpa menunggu sang pemilik rumah mempersilakan.


Azri hanya bisa menghela napas pasrah dan membiarkan teman-teman nya masuk.


"Memang kenapa jika aku memasak? Apa itu terdengar aneh?" sewot Azri. Ia tidak suka di komentari tentang itu. Apa ada masalah jika seorang suami ingin membuatkan makan malam untuk istri nya?


Ryan dan Jhors berseru takjub melihat deretan masakan di atas meja. Tampak jelas setiap hidangan di sana di buat dengan sepenuh hati oleh Azri.

__ADS_1


"Tidak, hanya saja ritual seperti ini hanya dilakukan oleh mu jika sedang jatuh cinta," ujar Ryan dengan senyum simpul nya.


"Iya, kamu tidak pernah semanis ini pada perempuan yang hanya kamu kencani sekali saja," tambah Jhors.


Kata-kata kedua teman nya itu membuat Azri tersadar akan tingkah aneh nya. Ia memang tidak menyadari hal itu sebelum nya, dan Ryan mau pun Jhors benar. Terhitung hanya dua kali ia rela membuat kan makanan untuk seorang gadis. Yaitu hari ini dan beberapa tahun yang lalu.


"Syukurlah kamu sudah melupakan dia,” ujar Jhors dan ia langsung terdiam saat menoleh pada Azri. Pria itu kembali menunjukkan raut sedih.


Ryan menyikut nya sebagai sinyal agar topik mengenai kisah masa lalu Azri tidak pernah diungkit-ungkit lagi.


"Omong-omong, ke mana pergi nya istrimu? Aku tidak melihat nya." Ryan mengedarkan pandangan nya ke sekeliling.


Mendengar nama Widya, rona sedih itu lenyap seketika dan berganti dengan raut cemas. Azri melirik jam dengan gusar. "Dia belum kembali sejak sore."


"Apa dia pergi bersama Bella?"


"Tidak, aku sudah bertanya pada nya tapi dia sendiri tidak tahu."


Azri baru menyadari hal ini. Widya memang sudah terlihat aneh sejak keluar dari butik Leeh. Mungkinkah sekarang tengah terjadi sesuatu yang gawat? Bagaimana ini?


"Coba kamu hubungi ponsel nya," usul Jhors.

__ADS_1


Azri segera menyambar ponsel nya yang sejak tadi menganggur di atas meja makan. la tidak mencoba nya lagi setelah tadi gagal menghubungi nya.


"Sial, ponsel nya masih tidak aktif!"


Azri mengumpat karena yang ia dengar hanya lah kata-kata operator yang membertahukan ponsel Widya tidak aktif. Kenyataan ini semakin memperparah rasa cemas nya.


"Bagaimana ini?" Azri berjalan mondar-mandir di hadapan teman-teman nya yang ikut kebingungan memikirkan masalah ini.


"Tenanglah." Ryan menyuruh Azri berhenti melakukan hal tidak perlu. “Jika kamu menjadi Widya, ke mana kira-kira kamu akan pergi?"


Azri memaksa otak nya berpikir. Jika ia menjadi gadis sekonservatif seperti Widya kira-kira tempat mana yang akan terpikir oleh nya pertama kali sebagai tempat pelarian?


"Ah!" Azri tersentak. "Aku tahu di mana!" seru nya.


"Di mana?" tanya Jhors dan Ryan kompak.


"Tempat terakhir yang akan ku kunjungi jika sedang frustrasi."


"Iya, di mana?"


"Rumah Kakek, tentu saja," ujar Azri yakin.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2