Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 76


__ADS_3

"Untuk apa meminta bantuanku?"


Ryan menatap Azri penuh tanda tanya karena sahabatnya itu mendadak saja datang ke tempat kerjanya untuk meminta bantuan. Sebelumnya Azri tidak pernah mau repot-repot mengunjungi Ryan jika tidak benar-benar perlu.


"Ayahku menunjukkan gelagat yang mencurigakan. Mungkin dia menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tidak mungkin menyelidikinya karena aku tidak ingin melepaskan perhatianku pada Widya." Azri menyesap kopinya pelan.


"Rasanya alasanmu terlalu berlebihan kali ini. Aneh rasanya mendengar seorang anak mencurigai orang tuanya sendiri."


Ryan bukannya tidak ingin membantu. Hanya ia sungguh tidak mengerti tujuan Azri memintanya menyelidiki Ayahnya.


"Aku tidak akan curiga seandainya dia tidak mengusik Widya. Aku hanya penasaran apa yang sedang direncanakannya di luar sana. Mungkin dia berniat menjualku hanya untuk mendapatkan investasi yang lebih besar."


Ryan tertawa kencang mendengarnya. "Kamu terlalu banyak menonton drama."


Azri mengeryitkan kening, tersinggung karena Ryan selalu seperti ini setiap ia mencurigai sesuatu. "Sudahlah, kamu tidak akan mengerti."


Ryan tahu Azri marah maka ia lekas menghentikan tawa tidak sopannya, ia berdehem sebelum berkata, "Baiklah, baiklah aku mengerti. Kebetulan perusahaanku terlibat dalam proyek kalian bersama GN Group. Aku hanya perlu mengamati Ayahmu diam-diam, bukan?"


Azri mengangguk. “Jika kamu memberiku informasi bagus meskipun sedikit, aku bisa membantumu mengatur kencan dengan Bella," ucapnya tenang, tetapi berhasil membuat Ryan melonjak senang.


"Sungguh? Kamu tidak bohong, bukan? Baiklah. Ah, kamu tahu betapa susahnya aku mengajak gadis itu berkencan? Kamu terlalu banyak memberi Bella pekerjaan," cerocosnya panjang lebar dan tanpa sadar hal itu membuat Azri mengangkat sebelah alisnya.


Ryan lantas mengatupkan bibirnya sadar ia terlalu banyak bicara. Ia berdehem kembali lalu membenarkan posisi duduknya. Ia sadar gelagatnya terlalu menunjukkan bahwa ia tertarik pada Bella.


"Kamu serius dengan ucapanmu, bukan?" tanyanya tenang, padahal dalam hati senang luar biasa.

__ADS_1


"Asal kamu berjanji tidak membuat Bella menangis, aku akan membenarkan kata-kataku. Widya sangat menyayangi Bella karena itu aku tidak akan memaafkanmu jika sampai Widya marah karena sahabatnya dikecewakan olehmu."


Ryan tersenyum manis, puas dengan jawaban Azri. "Aku tidak akan menyakitinya, tidak satu pun manusia di dunia ini yang tega menyakiti seseorang yang disukainya, bukan begitu?" ia mengedipkan matanya pada Azri.


Pria itu hanya mendesis karena ia ragu Ryan berkata sejujurnya atau tidak. Azri tahu Ryan sama playboy-nya seperti sahabatnya yang lain, Kibum. Tidak ada satupun wanita yang mereka anggap menarik gagal mereka dapatkan.


"Karena itu aku meminta bantuanmu, aku tidak ingin Pria Tua itu menyakiti seseorang yang sangat kucintai."


Ekspresi Azri terlihat begitu serius, Ryan dibuat penasaran kembali. “Kamu serius mencurigai Ayahmu kali ini? Kamu takut Ayahmu melakukan sesuatu seperti yang pernah dilakukannya pada Yuna?"


Tiba-tiba Azri merasa ngeri dan takut, teringat memori kelam saat Yuna lepas dari tangannya dan menghilang di tengah kepanikan di atas kapal pesiar kala kecelakaan itu terjadi. la meringis pelan membayangkan Ayahnya mengancam Widya dan membuat gadis itu terpaksa pergi dari hidupnya. Ia menatap Ryan dengan sorot mata penuh keyakinan.


"Kupastikan Widya tidak akan pergi meninggalkanku seperti Yuna." la terdiam menatap tangannya yang mengepal. "Akan kulakukan apa pun untuk membuatnya tetap berada di sisiku." Wajahnya tiba-tiba berubah sendu, "Aku masih ingin hidup, Ryan. Aku masih ingin hidup."


Pria ini benar-benar jatuh cinta, pikir Ryan. la tercengang, merasa begitu terharu dan simpati. Maka detik itu juga ia pastikan akan membantu Azri semampu yang ia bisa.


"Widya!"


Bella sadar suaranya terlalu kencang lantas menutup bibirnya. Sambil berlari kecil ia menghampiri Widya yang sedang berjalan dengan beberapa berkas di tangannya.


"Ada apa? Kamu terlihat senang sekali."


Tidak biasanya Widya melihat Bella begitu antusias. Hal luar biasa pasti baru saja terjadi. Tepat seperti dugaannya, Bella memang begitu senang sampai ia tidak sabar untuk membagi perasaan itu pada Widya.


"Taraaa, tiket drama musikal favorit kita!"

__ADS_1


Widya melebarkan mata melihat tiket bersemu emas di tangan Bella. Ia mendesah takjub. "Kamu dapat ini dari mana? Ini tiket VIP, harganya pasti sangat mahal."


Widya dan Bella sama-sama penggemar drama musikal dan mereka begitu antusias saat ada drama musikal baru dan terkenal akan digelar akhir bulan nanti. Namun, karena banyaknya masalah pelik dan harga tiket yang selangit, Widya jadi melupakannya.


"Ryan yang memberikan ini padaku. Dia mengajakku pergi bersamanya." Bella menjelaskannya dengan pipi bersemu merah.


Widya kembali berdecak kagum. "Astaga, baik sekali dia. Andai ada yang mengajakku pergi ke sana juga.“


"Ajak saja suamimu. Dia pasti bersedia mencarikan tiket untukmu."


"Lupakan." Widya mengibaskan tangan. "Lagipula bukankah tiketnya sudah habis terjual?"


Bella terdiam sejenak menatap sahabatnya dan detik itu ia sadar Widya terlihat begitu pucat. "Kamu baik-baik saja?" Bella memegang keningnya untuk memastikan suhu tubuh Widya.


"Kenapa?" Widya mengerjap.


"Wajahmu terlihat pucat dan kamu semakin kurus." Bella menghela napas penuh simpati, seolah bisa merasakan beban di hati Widya, ia menatapnya cemas. "Ini sudah di luar batas kemampuanmu, Widya. kamu harus memberitahu Azri. Kamu tidak bisa menyembunyikan tentang perjanjian itu dari suamimu lagi, mungkin jika Azri tahu kalian bisa memikirkan solusi bersama."


Widya mengeleng, ia memegang tangan Bella untuk menenangkannya. “Aku baik-baik saja. Sungguh. Azri pasti tahu jika saatnya sudah tiba. Lagipula malam ini aku akan berbicara dengan Ayah mertuaku tentang perjanjian," Tak lupa Widya memperlihatkan senyum hangat. "kuharap ada solusi agar aku bisa tetap bersama Azri."


Bella semakin merasa sedih dan tidak berguna karena hanya bisa menguatkan Widya tanpa melakukan tindakan apa pun yang bisa menolongnya. Namun, ia menghormati keputusan Widya, "Baiklah."


Widya tersenyum sekali lagi lalu pamit meninggalkan Bella.


"Maaf Widya, tapi Azri harus tahu,” lirih Bella pelan sambil menatap punggung Widya. Ia tahu ini lancang, tetapi ia tidak mau membuat Widya menanggung semua sendirian lagi. la rela disebut pengkhianat oleh Widya karena yang ia lakukan sekarang murni untuk kebaikannya.

__ADS_1


Bella mengambil ponselnya lalu menekan nomor yang terpaksa ia ingat-ingat demi keadaan darurat yang bisa saja terjadi. Tak perlu waktu lama Bella menunggu hingga seseorang di ujung sana menjawab panggilannya.


"Selamat sore, Tuan."


__ADS_2