Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 47


__ADS_3

"Apa ada perkembangan?"


Widya menggeleng lemah menjawab pertanyaan Mahendra mengenai anak nya. Ia terus memberi nya laporan berkala mengenai perkembangan Azri. Jika yang dimaksud perubahan oleh Mahendra adalah sikap Azri yang membaik, maka misi nya sudah hampir sukses.


Sayang nya bukan itu yang di inginkan Mahendra. Memang setengah nya sudah benar. Tabiat Azri yang membaik pun menjadi poin penting. Namun, Mahendra lebih berharap Azri mulai tertarik ikut berkecimpung dalam bisnis keluarga. Mahendra ingin menduduk kan anak nya di kursi CEO Pradipta Group berikut nya.


Kenyataan nya, Azri masih membenci ayah nya dan menentang keras keinginan beliau. Dia bahkan masih terlihat ogah-ogahan saat berada di kantor.


"Aku sedang mengusahakan nya. Memang butuh sedikit usaha lagi dan juga kesabaran. Tapi jangan khawatir, aku yakin tidak akan lama lagi Azri akan siap menjadi pemimpin." Widya menyadari ekspresi Mahendra begitu gelisah. "Ada apa?"


Mahendra menghempaskan diri nya di kursi. "Kau tahu seperti apa para pemegang saham, bukan? Mereka sudah tidak bisa bersabar, beberapa bahkan tidak senang. Mereka mendesak akan memilih sendiri kandidat pemimpin jika posisi Azri sebagai calon pemimpin belum dipastikan. Bagaimana kalau begini, untuk meyakinkan mereka tentang kelayakan Azri, anak itu harus berhasil mendapatkan kontrak proyek kerjasama dengan GN Group. Kita berikan tugas itu padanya."


"Proyek kerja sama?" tanya Widya penasaran. Kedengaran nya seperti proyek yang sangat penting. "Anda yakin ingin menyerahkan nya pada Azri. Bagai mana jika tidak berhasil? Apakah Pradipta Group akan mengalami kerugian besar?"


"Berdasarkan kemampuan nya, aku yakin Azri bisa menyelesaikan nya dengan baik. Yang menjadi masalah adalah apakah anak itu mau menerima nya atau tidak dan tugas mu lah untuk meyakinkan nya. Bagaimana caranya, terserah pada mu."


Lagi-lagi ia di serahi tugas yang sangat berat. Widya menarik napas dengan sabar. Mudah sekali mengatakan nya. Bagaimana cara nya meyakinkan Azri agar mau menerima proyek itu? Pria itu bersedia datang ke kantor ini saja sudah merupakan kemajuan pesat.


"Ingat. Itu proyek yang sangat penting dan tidak boleh sampai ada kesalahan. Selain itu Presdir GN Group orang yang sangat rumit. Dia bukan orang yang mudah dihadapi. Tapi karakter Azri pasti bisa mengimbangi nya. Jika anak itu berhasil mendapatkan nya, para pemegang saham tidak akan ragu mempercayakan kursi pimpinan kepada nya."


Melihat Widya termenung dengan ekspresi terbebani, Mahendra menghela napas. Ia menatap gadis muda itu dengan sungguh-sungguh.


"Bagai mana pun kita harus berhasil membujuk Azri agar bersedia menerima nya. Semua demi kebaikan anak itu dan juga masa depan Pradipta Group. Mungkin keputusan ini terkesan egois, tapi aku bertanggung jawab atas kelangsungan hidup seluruh karyawan yang bekerja untuk Grup Pradipta. Azri harus belajar mengemban tanggung jawab juga. Dia tidak bisa terus hidup sekehendak hati seperti yang di lakukan nya sekarang."


Jika sudah menyangkut kelangsungan hidup orang lain, suka atau tidak Widya harus menerima tugas ini. Ia harus memikirkan cara untuk meyakin kan Azri agar mau menerima proyek itu. Baru memikirkan nya saja ia sudah pusing. Ia hanya berharap Azri tidak terlalu sulit untuk di bujuk.


Widya sama sekali tidak memperhitung kan bahwa Azri tampak frustrasi untuk hal lain. Pria itu seringkali menghindar setiap kali berpapasan dengan nya. Berkali-kali ia bertanya pada diri sendiri apa yang membuat Azri seperti itu, tetapi ia sendiri tidak mengerti. Seperti kali ini, Azri pun buru-buru berpaling saat menyadari keberadaan Widya di rumah begitu dia tiba.


"Kebetulan kamu pulang, ada yang ingin ku bicarakan."


"Aku sedang tidak ingin membahas apa pun. Pekerjaan kantor cukup membuat ku gila," lirih Azri sambil mengganti jas nya untuk bersiap pergi kembali selepas pulang kantor. Dia mengatakan nya tanpa memandang Widya sama sekali.


"Kamu mau ke mana lagi?" Widya mengedip heran ketika mendapati Azri sudah berganti baju dan bergegas pergi ke arah pintu.


Azri menoleh sebentar dengan pandangan dingin. "Bukan urusan mu." Setelah itu dia keluar tanpa berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


Widya tidak tahu kesalahan apa lagi yang sudah dibuat nya. Seingat nya sejak liburan sikap Azri sudah mulai membaik, lalu apa yang terjadi pada nya sekarang?


Azri sebenar nya tidak bermaksud membuat Widya sedih atau pun salah paham. Ia hanya tidak mau berdekatan dengan gadis itu. Pikiran nya bisa teracuni jika sampai menatap Widya terlalu lama. Ini fenomena yang sangat aneh. Ia tidak pernah mengharapkan sesuatu yang begitu besar seperti saat ini. Ia dipenuhi pikiran untuk menyentuh Widya.


"Kamu kenapa? Beberapa hari ini tampak gelisah?" tanya Jhors bingung.


Bahkan musik kelab yang berdentum kencang pun tidak membuat Azri tersadar dari lamunan nya. Sejak datang satu jam yang lalu, Azri hanya duduk merenung, sesekali mengumpat lalu melamun kembali.


"Mungkin ini efek dari pekerjaan di kantor," tebak Bobby. "Kalian tahu dia anti bekerja di balik meja, bukan."


"Ku pikir karena hal lain," sahut Ki Bum sambil mengamati Azri. “Aku tahu, sepertinya dia sedang kasmaran!"


Teman-teman nya tertawa, tetapi bagi Azri itu sama sekali tidak lucu. Mereka tidak tahu bahwa ia tersiksa karena tidak bisa mengendalikan hasrat nya. Ia butuh pelampiasan. la tidak mungkin mengencani sembarang wanita, karena itu jalan satu-satu nya melalui alkohol. Namun, beberapa teguk wine yang pun tidak lagi bisa membuat pikiran nya jernih.


"Senang menemukan kalian di sini."


Marleen datang dengan wajah ceria. Ia menyalami satu persatu teman-teman Azri lalu duduk di samping Azri yang tampak uring-uringan. Dari sikap nya, tampak dia sudah pulih dari gejala mental breakdown yang di alami nya selepas kejadian waktu mereka liburan.


"What's going on with you?"


"You must have some drink." Mar leen menuangkan red wine ke dalam sloki kosong lalu menyerahkan nya pada Azri.


Satu persatu teman-teman nya bangkit meninggalkan nya berdua saja. Mereka lebih memilih bersenang-senang di lantai dansa.


"Sedang ada masalah?"


Marleen berta nya lembut, Azri mengembuskan napas nya kencang sebelum menoleh pada gadis yang kini menatap nya lekat. Ia mengakui tidak akan pernah bisa marah pada Marleen karena gadis ini dan diri nya memiliki nasib yang sama. Sama-sama memberontak karena dikekang oleh orang tua mereka.


"Tidak. Hanya lelah dan bosan."


"Kalau begitu kita bisa bersenang-senang malam ini untuk menghilang kan rasa bosan mu." Marleen mendekatkan wajah nya untuk mengecup pipi Azri. Namun, Azri dengan sigap menahan tubuh gadis itu sebelum mendekati nya.


"Tidak Marleen, kamu cari saja pria lain untuk bersenang-senang malam ini," elak Azri tanpa ekspresi.


Marleen terperanjat kaget menyadari sikap Azri padanya lebih dingin dari sebelum nya. Apa sebenar nya yang terjadi?

__ADS_1


Azri meneguk sedikit wine di gelas nya untuk menghilangkan pusing. Seperti alarm, tiba-tiba saja ucapan Widya menggema di telinga nya.


"Azri El Pradipta, sudah ku katakan beberapa kali bahwa minuman beralkohol itu tidak baik untuk kesehatan. Cepat letakkan gelas nya!'


Azri terkesiap, ia refleks meletakkan kembali gelas nya di atas meja seolah benda itu bara api. Ia tercengang sambil menatap tangan nya sendiri.


Apa yang baru saja ku lakukan? Sial, jika terus seperti ini ia bisa gila.


"Kenapa, kamu tidak suka minuman mu?"


Pertanyaan Marleen tidak di gubris karena Azri sibuk menepis segala hal tentang Widya. Ponsel nya bergetar, sebuah pesan masuk terpampang di layarnya.


Sender: Widya


Kamu ada di mana? Aku sudah menyiapkan makan malam. Bagaimana kalau kita makan malam bersama?


Tangan Azri mengalami tremor ringan ketika ia selesai membaca pesan singkat itu. Widya mengajak nya makan malam bersama? Tanpa pikir panjang Azri beranjak dari tempat duduk nya.


"Kamu mau ke mana?" Marleen mengerjap kaget.


"Aku harus pergi. Ada hal penting yang harus ku urus."


Azri pergi meninggalkan kelab itu tanpa menoleh pada Marleen atau pun berpamitan dengan teman-teman nya. Pesan singkat itu memberikan inspirasi yang luar biasa.


Dalam hati Azri bersorak, ia sekarang tahu apa yang akan di lakukan nya pada Widya.


Widya berencana berbicara baik-baik pada Azri agar dia bersedia mengambil proyek itu. Ia tidak tahu apakah malam ini akan berhasil atau gagal. Paling tidak ia sudah mencoba. Ia tersenyum menatap meja makan yang sudah tertata rapi. Semua makanan yang tersaji di sana adalah makanan kesukaan Azri. la sampai bertanya pada Bibi Swari untuk mencari tahu makanan apa yang disukai Azri.


"Jika aku bisa membuat nya senang, mungkin dia mau mengambil tugas itu."


Widya menuangkan air ke dalam gelas sambil bersenandung ketika ia mendengar suara pintu dibuka. segera merapikan diri untuk menyambut siapa yang datang. Ia yakin itu pasti Azri. Ya ampun, tingkah nya sudah mirip seperti seorang istri sungguhan yang menanti kedatangan suami nya.


Tunggu, ia memang istri sungguhan Azri El Pradipta.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2