Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 67


__ADS_3

Azri menatap sendu Widya yang terbaring di atas ranjang dengan selang infus tertancap di tangan nya. Ia memutar memori nya kembali pada kejadian satu jam yang lalu, ketika secara mengejutkan Widya tumbang ketika ia akan pergi meninggalkan apartement. Seluruh dunia nya seolah berhenti ketika tubuh lemas istri nya ambruk di lantai.


Azri melupakan niat nya untuk pergi dan seperti orang kerasukan berlari menyongsong tubuh lunglai istri nya. Dengan panik ia menepuk-nepuk pipi Widya. Rasa paranoid sempat mengepung hati nya. Ia mengira Widya terkena serangan jantung atau semacam nya. Tanpa memikirkan apa pun lagi ia segera membawa Widya ke rumah sakit dan dokter memberi nya perawatan intens. Ia baru bisa mendesah lega ketika dokter memberitahu bahwa Widya hanya terserang demam.


Dokter sudah memberi Widya suntikan penurun panas. Kini istri nya itu tidur. Namun, ia tidak bisa duduk tenang karena selama tidak sadarkan diri Widya terus mengigau, meracaukan kata-kata yang tidak begitu jelas. Ekspresi nya terlihat gelisah, entah apa yang terjadi dalam mimpi nya. Azri terus menyeka keringat di sekitar leher dan pelipis Widya dengan perasaan cemas.


Azri melihat Widya menggerakkan mata nya. Ia terperanjat senang menyaksikan hal itu. Refleks ia berdiri dan menanti dengan gembira hingga Widya membuka mata seutuh nya.


"Sayang," bisik nya senang. la mengusap kening Widya ketika kelopak mata istri nya itu terbuka sempurna. Widya mengerjapkan mata nya berkali-kali, iris mata nya yang meredup itu menelisik tempat nya berada lalu berhenti ketika bertatapan dengan mata Azri.


"Ini di mana?"


Suara nya begitu serak, membuat hati Azri nyeri. Ia bisa merasakan betapa sakit nya Widya saat ini. Dengan perasaan bersalah bercampur menyesal Azri mengusap kepala nya.


"Kamu ada di rumah sakit, kamu kehilangan kesadaran karena demam. Tapi kamu tenang saja, dokter sudah merawat mu dengan baik."


Tiba-tiba saja bola mata Widya melebar. Kulit nya yang putih pucat semakin kentara, ia terkejut begitu mengetahui tempat nya berada sekarang. Ia juga baru sadar ada selang infus tertempel di tangan nya.


"Rumah sakit?!" serunya histeris.


Azri mengerjapkan mata panik ketika Widya dengan tubuh ringkih nya berusaha bangkit.


"Aku tidak mau berada di sini, aku ingin pulang," mohon Widya memelas.


"Itu tidak mungkin, kesehatan mu ...."


"Aku tidak peduli, aku benci rumah sakit. Ku mohon, aku tidak mau berada di sini."


Widya sungguh memelas kali ini. Ia bahkan hampir menangis ketika mengatakan nya. Ia memang benci sekali dengan rumah sakit dan sejak kecil ia tidak pernah menyukai nya.


"Tidak bisa, Sayang. Kamu masih sakit.“


Azri berusaha menidurkan Widya yang berusaha bangkit. Widya mencengkeram tangan Azri yang berusaha membuat nya berbaring. Mata nya yang berair itu menatap nya memohon.


"Ku mohon ...."


Azri terenyuh, ia tidak bisa mengecewakan Widya. Namun, ia mencemaskan kesehatan gadis ini. Dia sedang sakit dan Azri tidak yakin Widya akan mendapatkan perawatan yang seharus nya di rumah. Pada akhir nya Azri kalah pada kesungguhan Widya. Ia tidak mau membantah permintaan istri nya lagi. la menghela napas berat.


"Baiklah, kita pulang ke rumah setelah aku berbicara dengan dokter." Azri mengecup kening nya lalu pergi meninggalkan Widya.


Sesuai permintaan, Azri membawa Widya kembali ke rumah. Ia sampai meminta dokter pribadi keluarga nya merawat Widya secara intensif dan kamar nya berubah menjadi ruang rawat bagi Widya. Peralatan medis lengkap ada di sana demi menunjang kesehatan istri nya.


"Sekarang kamu bisa tidur dengan tenang, kamu sudah berada di rumah," ujar Azri. Widya tersenyum, senang karena Azri mengabulkan permintaan nya.


"Terima kasih."


Azri mendesah. "Lekas lah sembuh. Aku tidak suka melihat mu terbaring lemah seperti ini, kamu Widya-ku yang kuat.” Ia ikut berbaring di samping Widya, mengecup kening nya kembali lalu merapat kan selimut.


Dokter sudah memberi nya obat dan Widya harus beristirahat agar obat itu bereaksi.


Widya menatap nya sebelum rasa kantuk yang tiba-tiba membuat mata nya berat untuk tetap terjaga. "Kamu tidak akan pergi menemui ayah mu, kan? Aku tetap ingin bekerja di sana," lirih nya lemah.


"Tidak." Kali ini Azri menjawabnya yakin. la tidak akan meminta Widya berhenti bekerja lagi.

__ADS_1


Setidak nya saat ini. Meskipun Azri masih juga penasaran dengan hal yang membuat tingkah Widya begitu aneh. Ia lebih mencemaskan nya di banding kan dengan apa yang Ayah nya lakukan pada gadis yang di cintai nya ini.


Widya tersenyum. Walaupun hanya senyuman tipis, tetapi hal itu membuat Azri lega. Ia membiarkan Widya tertidur. Lalu meninggalkan nya untuk menyelesaikan setumpuk tugas kantor yang tadi di kirimkan asisten nya lewat mesin fax.


***


Meskipun sudah memusatkan konsentrasi nya, Azri tetap tidak bisa fokus bekerja. la terpikir pada kemungkinan yang di sembunyi kan Widya dari nya. Ia beranjak dari tempat duduk nya lalu menengok Widya yang masih terlelap. Ia mendesah lega ketika mengecek suhu tubuh gadis itu sudah kembali normal.


"kamu membuatku hampir mati cemas," omel nya entah pada siapa. Tubuh gadis itu sudah bersimbah keringat. Azri berinisiatif mengambilkan baju ganti untuk Widya pakai saat dia bangun nanti.


Satu setel piyama sutera berwarna merah muda sudah ada di tangan nya. Namun, ia bingung di mana Widya meletak kan pakaian dalam nya. la melirik ke arah lemari dengan banyak laci yang ada di samping meja rias. Mungkin dia meletakkan nya di sana. Azri meletak kan piyama di atas ranjang lalu bergerak membuka salah satu laci paling atas. Ia tersenyum karena dugaan nya tepat sasaran. Widya memang menata pakaian dalam nya di sana.


"Rasa nya yang berenda ini cocok," pikiran nya dipenuhi hal-hal nakal ketika ia memegang ****** ***** berenda warna putih.


Azri sadar ia tidak berada dalam kondisi yang pas untuk berpikir mesum lantas menggelengkan kepala menepis pikiran itu. la menyambar asal bra dan berniat mendorong laci ketika pandangan nya tertarik pada sebuah map yang terendap di dasar laci.


"Apa ini?"


Tanpa pikir panjang Azri menarik nya keluar. Ia tidak memikirkan bahwa setiap orang memiliki privasi yang tidak boleh dilanggar. Azri membuka map itu tanpa ragu. entah kenapa ia penasaran sekali padahal biasa nya ia tidak pernah peduli dengan hal semacam ini.


"Oh, surat perjanjian," gumam nya spontan ketika membaca judul dari kertas yang ada di lampiran paling atas.


Azri tidak berniat membaca lebih teliti, tetapi mata nya kemudian melebar ketika ia melihat tanda tangan yang ada di bagian paling bawah kertas itu. Ia tidak mungkin lupa bagai mana bentuk tanda tangan Ayah nya sendiri.


Surat perjanjian macam apa sampai ayah nya mendatangani segala!


Seperti kerasukan Azri membaca setiap kata dalam kertas itu tanpa ada yang terlewat dan detik berikut nya ia membeku.


Tidak mungkin! Tidak mungkin!


Widya Lovarza tidak mungkin melakukan nya!


Kepala nya menggeleng cepat mencoba menepis pikiran itu. Widya tidak mungkin menyetujui perjanjian semacam ini! Apa-apaan semua ini? Bagaimana bisa sebuah pernikahan bisa dipertaruhkan seperti perjanjian bisnis?


Hanya ayah nya yang bisa melakukan hal semacam ini! Dan otomatis menjelaskan mengapa Widya begitu pucat dan histeris ketika ia akan berhadapan dengan ayah nya. Jelas karena perjanjian ini. Yang lebih membuat nya tidak percaya adalah Widya mau melakukan nya. Apakah demi uang senilai satu milyar?


Map yang digenggam nya jatuh. Tubuh nya lunglai bersandari pada dinding sementara pandangan nya menerawang kosong.


Kamu berjanji tidak akan meninggalkanku demi uang, bukan? kata-kata itu terngiang seperti lagu yang di putar di telinga nya.


Tidak.


Widya Lovarza, geram nya sambil mengurut pelipis nya sendiri. Ia tidak mengerti apa tujuan Ayah nya melakukan perjanjian semacam ini. Dan apa ini? Widya harus meninggalkan nya setelah ia pantas menjadi pemimpin Pradipta Group? Lelucon apa sebenar nya yang dilakukan Ayah dan Widya terhadap nya!


"Aarrgghh!" Azri menggeram kesal. Kepalan tangan nya membentur tembok dengan kencang. Ia kecewa, ia frustrasi dengan semua ini.


Widya Lovarza, mengapa? Mengapa?!


***


Widya merasakan sebuah belaian halus dan ia terbangun dari tidur nya dengan badan yang lebih ringan. Sakit di kepala nya pun tidak terasa lagi. Mata nya terbuka ketika sebuah kecupan mendarat di pelipis nya. Ia menoleh dan tersenyum mendapati Azri berbaring di samping nya. Pantas saja ia merasa begitu nyaman, ia tidur dalam pelukan Azri. Lengan kokoh suami nya itu menjadi bantal nya.


"Sudah baikan?" bisik nya.

__ADS_1


Widya mengangguk.


"Ya." Suara nya terdengar jauh dan ia sadar tenggorokan nya terasa kering.


Azri segera memberikan segelas air untuk nya. Widya meneguk nya hingga habis setengah.


"Maaf sudah merepotkan, biasanya aku tidak mudah sakit. Aku tidak tahu--"


"Sstit ...." Azri meletakkan telunjuk nya di bibir Widya. Pria itu kini menatap nya lembut. "Tidak apa-apa. Aku senang merawat mu." la mengecup bibir nya cepat, sesuatu yang ringan, tetapi membuat pipi gadis itu merona.


Senyum Azri semakin membuat jantung nya tak karuan. Widya sangsi apakah ia masih bisa sembuh cepat setelah mendapat serangan seperti ini. Ia menyembunyikan pipi nya yang bersemu merah itu dengan menarik selimut menutupi muka nya. Azri terkekeh geli.


"Kamu masih malu juga setelah aku mencium mu ratusan kali?" kekeh nya membuat Widya semakin malu.


Widya tidak berniat menjawab dan ia membiarkan Azri melakukan apa pun seperti memandang nya.


Azri terus menatap nya dengan tatapan yang sulit diartikan. Widya mengerut kan kening karena bagaimana pun ekspresi itu membuat nya penasaran.


"Ada yang ingin kamu tanyakan?"


Azri menggeleng, entah menyimak pertanyaan nya dengan baik atau tidak. Kini Widya seperti melihat kilatan luka dari manik mata itu. Ia tidak berani menarik kesimpulan seenak nya.


"Apa aku terlalu egois pada mu?"


Mendadak saja Widya merasa tidak enak dengan paksaan nya sebelum ia pingsan dan ketika di rumah sakit tadi.


Azri menggeleng kembali. Oh, sepertinya bukan itu masalah nya. Namun, kenapa Widya merasa Azri ingin mengatakan sesuatu pada nya?


Azri tersenyum sekali lagi, sedikit membungkukkan tubuh nya untuk membisik kan sesuatu tepat di telinga Widya.


"Aku ingin mencium mu sampai kehabisan napas."


Seketika, semburat merah kembali menghiasi kedua pipi Widya. Gadis itu mendongak kan kepala nya, mencoba mencari tahu apakah itu arti di balik ekspresi Azri saat ini? Seperti nya benar. Pria itu tersenyum penuh arti dengan telapak tangan sudah singgah di pipi nya sejak tadi, mengusap nya lembut.


“Jika kamu keberatan, tak apa. Aku tahu permintaan ini sangat egois mengingat kamu baru saja sembuh."


Widya sungguh lega mengetahui Azri berwajah cemas karena ragu bertanya apakah ia boleh mencium nya atau tidak. Tentu saja, bagai mana bisa Widya menolak.


"Lakukan saja. Kamu suami ku," jawab nya dengan suara pelan.


Azri tersenyum, meskipun dalam hati nya terasa sesak dan sakit menjengit. Tak berucap lagi, Azri merengkuh rahang Widya dengan telapak tangan nya yang kekar dan bibir mereka kembali bertemu beberapa detik kemudian.


Sekujur tubuh Widya memanas menerima sentuhan Azri. Bukan panas demam, tetapi panas karena gairah yang membakar diri nya.


Mengapa rasa nya lama sekali ia tidak terlibat ciuman panas seperti ini?


Azri menggulingkan tubuhnya menindih Widya dengan siku menopang tubuh nya, ia tidak mau terlalu membebani Widya. Dengan segenap hati ia menciumi setiap inci bibir manis Widya.


Sungguh, Azri ingin sekali menumpahkan semua unek-unek nya tentang perjanjian yang ia baca pada Widya. Namun, ego berhasil menahan nya. Ia yakin Widya bukanlah gadis rendahan yang hanya memikirkan uang, setidak nya itu yang ia yakini.


Jika memang Widya tipe wanita materialistis, mungkin sudah banyak uangnya yang terkuras habis. Namun, hingga detik ini Widya tidak pernah meminta nya membelikan barang-barang mewah. Ia memang tidak tahu maksud ayah nya meminta Widya melakukan semua ini ia tetap mempercayai Widya.


Setelah sibuk merenung Azri akhir nya memutuskan, ia akan percaya pada gadis ini. Ia mungkin bodoh, tetapi cinta nya yang besar telah membuat Azri enggan melepaskan gadis ini. Tak peduli perjanjian itu ada atau tidak. Ia rela memberikan harga yang sama asalkan Widya tetap bersama nya. Ia akan menawarkan hal itu nanti, di saat waktu nya tepat.

__ADS_1


Bersambung ....


Dan akhirnya Azri pun tahu .....


__ADS_2