Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 32


__ADS_3

Widya duduk di atas sofa ruang tamu rumah peristirahatan milik Adam. Tempat itu cukup luas bergaya minimalis dengan jendela besar yang menyajikan pemandangan laut yang indah. Air matanya memang sudah berhenti, tetapi rasa sakit masih tersisa di hatinya. Ia sudah mengingatkan diri bahwa Azri memang seperti itu. Selalu di kelilingi wanita di manapun dia berada. Lalu kenapa ia tetap sakit hati?


"Kau menangis karena cemburu?” tanya Adam lembut.


Widya tersentak. Dengan segenap hati menyangkal. Menurutnya kata 'cemburu' sangat tidak cocok mendefinisikan perasaannya saat ini.


"Tidak."


"Lalu kenapa kau menangis?" Adam berkata sambil mensterilkan luka di tangan Widya. "Jelas sekali kau menangis karena melihat suamimu bersama wanita lain."


"Aku tidak cemburu!" tegas Widya jengkel, kedengarannya konyol sekali. Apalagi suaranya terdengar aneh karena tercampur oleh isak tangis kecil.


"Baiklah. kau tidak cemburu tapi kau menyukainya."


Widya lebih terperangah mendengarnya. Cemburu saja mungkin masih bisa ditoleransi, tetapi bagaimana bisa Adam berkata dirinya suka pada Azri? la jatuh cinta pada pria arogan dan keras kepala seperti Azri? Tidak mungkin. Ia tidak akan membiarkan perasaan sepenting itu tumbuh, terutama pada pria semacam Azri.


"Aku tidak menyukainya.“


"Aku tahu kau tidak pandai berbohong, dan aku tidak mudah tertipu, jadi berhenti menyangkal," tutur Adam yakin.


Widya menatap pria itu lekat dengan pandangan bertanya-tanya. Ia menyelidiki bagaimana Adam bisa menyimpulkan gagasan paling buruk seperti itu. Suka pada Azri? Yang benar saja!


Adam tersenyum menjawab tatapan penuh selidik Widya.


"Sudahlah, ada baiknya sekali-kali jujur pada perasaanmu. Suka pada suami sendiri bukanlah dosa besar."


Widya tercengang dalam diam, tidak habis pikir dengan jalan pikiran santai pria di depannya. Adam memang bertolak belakang dengan kyu Hyun. Dia baik hati, memahami situasi, santai, dan menghadapi segalanya dengan senyuman.


"Kenapa kau bisa mengatakannya dengan mudah. Maksudku."


"Aku tahu maksudmu," sela Adam, la balas menatap lekat bola mata Widya yang berkaca-kaca. "Aku masih menyukaimu, sejujurnya. Tapi sekarang kau sudah menjadi milik pria lain. Aku tidak memiliki hak untuk merebutmu. Memang rasanya sakit ketika orang yang kusukai ternyata menyukai orang lain. Bagaimana pun, inilah takdir yang harus kuterima. Kau bukan ditakdirkan untukku, kau ditakdirkan untuk pria itu ...."


"Adam ...."


"Jangan berbohong pada perasaanmu lagi." Adam kembali menyela ucapannya.


Mengapa pria ini bersikukuh bahwa Widya suka pada Azri padahal dirinya sendiri terus menyangkal hal itu.


"Aku tahu kau sedang mencoba ingkar padahal kau sudah jelas tahu jawabannya. Alasan kenapa kau menangis, dan alasan kenapa kemarin kau memintaku menciummu."

__ADS_1


Widya merasa kesal karena mau tidak mau hatinya mengiyakan ucapan Adam. Pria ini memang selalu bisa menebak isi hatinya dengan benar. Dia menangis lagi karena merasa kalah dalam pertengkaran dengan dirinya sendiri. Sial, tidak mungkin sekarang dia menyukai Azri. Tidak mungkin!


Pria itu menyunggingkan senyum, yang terlihat bercampur dengan rasa bersalah. "Selain itu aku ingin minta maaf tentang apa yang kulakukan kemarin. Aku keterlaluan karena menciummu tanpa izin, tapi aku tidak menyesalinya. Meskipun begitu, aku tidak mau hubungan kita menjadi canggung."


Ah, benar. Berkat kejadian hari ini Widya lupa bahwa ada insiden itu di antara mereka. Pipinya terasa panas.


"Kecelakaan semacam itu bisa terjadi pada siapa saja, dan aku tidak marah padamu. Aku hanya terkejut."


Adam antara miris dan lucu mendengar Widya menyebut ciumannya sebagai kecelakaan. Namun, ia tidak berhak protes. Bagi perspektif Widya, ciumannya memang sama seperti insiden buruk.


"Kuharap kau masih mau bertemu denganku lagi setelah ini."


Adam mengusap kepala Widya untuk menenangkannya.


"Tentu saja," lirih Widya.


"Terima kasih. Sekarang giliran aku mengobati lukamu."


***


"Paman, kau melihat pria yang menggandeng wanita kemari?" tanya Azri pada seorang pria yang sedang memangkas pagar tanaman di depan rumah nya. Di ujung belokan tadi, ia kehilangan Widya dan Adam.


Azri secepat kilat menolehkan kepala nya pada rumah bercat putih yang ditunjuk oleh paman pemotong rumput. Pria itu berani membawa istri nya ke sana? Tidak bisa dibiarkan! Azri berlari cepat menuju rumah itu.


Pagar yang tidak dikunci memudahkan Azri masuk. Ia sudah berdiri di depan pintu dan berniat mengetuk nya secara brutal ketika ia mendengar suara-suara aneh dari jendela di samping nya yang terbuka.


"Aw, sakit."


Azri membelalakkan mata. Ia menahan napas mendengar suara ******* Widya dari dalam rumah itu. Apa yang sedang mereka lakukan di dalam? Apa mungkin ...? Tidak mungkin!


Azri tidak bisa berdiam diri lagi di depan pintu. Ia harus mendobrak masuk apa pun alasan nya. Ia berniat menggedor kencang pintu itu saat sadar pintu nya tidak dikunci. Pria bodoh itu ceroboh sekali tidak mengunci pintu nya. Ini memudahkan usaha nya. Ia meringsek masuk dengan wajah geram.


"Apa yang kalian lakukan?!" teriak Azri tiba-tiba mengejutkan Adam yang sedang mengobati tangan Widya. Kedua orang itu menatap heran Azri yang berdiri di depan pintu. Wajah nya tampak sangat marah.


Azri sendiri baru sadar beberapa saat kemudian bahwa baik Adam mau pun Widya tidak melakukan hal aneh. Ia sedikit salah tingkah lalu berdeham untuk meredam rasa malu. Ia beralih menatap tangan Adam yang memegang tangan istri nya lalu naik ke wajah Widya yang berbekas jejak air mata.


"Kau bernyali besar rupanya, apa yang kau lakukan sampai istri ku menangis seperti itu!" Azri berteriak marah sambil menderap merenggut tangan Widya dari genggaman Adam lalu menarik nya berdiri.


Widya meringis karena Azri mencengkeram tangan nya tepat di bagian luka. Azri yang terkejut lekas melepaskan tangan Widya.

__ADS_1


"Kau kenapa?" tanya nya cemas.


"Dia terluka, dan aku sedang mengobati nya," jawab Adam lebih dulu seraya berdiri.


"Luka?" Azri menarik pelan tangan Widya yang dipegang nya tadi dan mendapati luka gores yang sering didapat saat terjatuh.


"Kenapa kamu bisa terluka?" tanya nya pada Widya yang terus diam sejak tadi.


"Dia jatuh karena mu," jawab Adam lagi.


Azri menoleh jengkel.


"Diam kau! Lebih baik kau pergi saja sana! Jangan urusi masalah orang!"


Adam tertawa kecil. "Ini rumah ku. Kaulah yang seharus nya pergi."


Azri kembali mengerjap sadar. Karena kalap ia hampir lupa bahwa sekarang ia sedang berada di rumah pria itu.


"Baik, aku akan pergi." Ia menajamkan mata nya. "Jika sekali lagi kau mendekati istri ku, saat itu kau berurusan langsung dengan ku!"


Adam hanya mengendikkan bahu tanda mengalah.


"Ayo pergi!" Azri menarik Widya keluar dari rumah itu.


"Pelan-pelan," lirih Widya ketika Azri menarik tangan nya keluar.


Pria itu berhenti lalu menoleh pada gadis yang meringis di belakang nya. Azri heran kenapa Widya masih juga merintih padahal ia menarik tangan yang tidak terluka. Ia baru sadar saat melihat posisi berdiri Widya yang timpang.


"Kenapa dengan kaki mu? Kamu terkilir?"


Widya melirik kaki nya sendiri. “Aku tidak tahu. Tapi saat berjalan rasa nya sakit."


"Itu terkilir bodoh!" tegas Azri sambil menoyor gemas kepala nya.


Kenapa gadis yang menjadi trainer di Pradipta Group bisa sebodoh ini? Dia tidak sadar bahwa kaki nya terkilir dan masih bisa mengikuti nya berjalan dengan kaki sakit seperti itu?


"Tunggu sebentar, aku akan memanggil taksi."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2