
Azri tahu setiap hari libur Ayah nya selalu bermain golf bersama beberapa rekan bisnis nya. Karena itu kini ia mengajak istri nya ke sana. Meski pun enggan, Azri memaksakan diri berhadapan dengan Ayah nya.
"Ayah tidak tahu kamu suka bermain golf," ujar Mahendra bangga untuk pertama kali nya melihat Azri berada di lapangan golf, memegang stik golf dengan wajah malas.
Azri hanya mendengkus lalu memalingkan wajah.
"Kamu yang mengusulkan ini?"
Pandangan Mahendra beralih pada Widya. Gadis itu segera menunduk kan kepala dengan sikap formal.
"Sebenar nya ada yang ingin kami tanyakan, Ayah," ucap Widya.
"Kamu bisa bermain golf?"
Mahendra menyela ucapan nya, bahkan mengabaikan nya. Dia justru memberikan stik golf pada Widya dan menyuruh nya ikut bersama nya bermain golf.
Widya menerima nya dengan pasrah sambil mendesah. Salah nya datang di saat Mahendra sedang di sibuk kan dengan olah raga favorit nya. la menoleh pada Azri yang menatap tajam Ayah nya dari jauh. ******* nya semakin kencang. Ia harus berhadapan dengan Ayah mertua yang lebih memprioritaskan bisnis dan suami yang membenci Ayah nya. Dua-dua nya kompak sekali membuat nya merasa terjepit.
Azri mengalih kan perhatian nya dari Ayah nya yang sibuk memukul bola pada Widya. Wanita itu tampak tidak bersemangat sambil mencoba memukul bola dengan stik golf di tangan nya.
"Bukan begitu cara memegang nya."
Widya terkejut karena tiba-tiba Azri sudah berada di belakang nya. Ia belum sempat mengatakan apa pun saat tangan pria itu memeluk nya, ah tidak, bukan memeluk melainkan mencoba memposisikan tangan nya agar memegang stik dengan benar.
Pria ini, batin nya panik dan gugup. la bisa merasakan punggung nya menempel di dada Azri. Bahkan embusan hangat pria itu menerpa leher nya, membuat bulu roma nya menegang. Tangan nya pun berada di bawah lindungan tangan Azri. Bagai mana ia bisa fokus kalau begini?
"Buka kaki mu selebar bahu mu, buat tubuh mu terpusat pada tangan mu dan mulailah memukul," bisik Azri dan Widya hanya bisa menuruti nya.
Setelah seorang caddy meletak kan bola golf di dekat kepala stik nya, ia mulai memukul. Bola yang dipukul nya itu terlontar jauh.
"Nice shot!" seru Azri sambil memicingkan mata melihat ke arah bola melayang.
Widya bersorak senang dengan senyuman yang membuat Azri ikut tersenyum lalu memeluk nya.
"Kamu memang pintar, Sayang."
Tanpa menghiraukan keadaan di sekitar Azri mengecup nya kilat. Widya mengerjapkan mata, bukan hanya karena ciuman itu, tetapi juga karena panggilan sayang pria itu untuk nya. Entah sejak kapan Azri memutuskan memanggil nya begitu.
__ADS_1
"Hei, ini tempat umum!" peringat Widya waswas.
"Who cares!" Azri mencium pipi nya lagi lalu melepaskan pelukannya dengan tawa ringan di bibir.
Mahendra yang melihat kemesraan anak-anak nya hanya bisa menghela napas berat. Azri terlihat gembira, begitu pun Widya. Sejujur nya ia tidak suka kenyataan ini. Kepedulian Azri yang tak terduga pada Widya hanya akan mempersulit keadaan nanti nya. Padahal ia memilih Widya karena ia yakin Azri tidak akan menyukai nya. Wanita itu bertolak belakang dengan tipe wanita ideal putra nya.
"Widya, bukankah tadi ada yang ingin kamu katakan, apa itu?" Mahendra memaksakan diri menyela.
Widya menoleh lalu buru-buru menjaga jarak dari Azri. Gawat, ia hampir saja lupa tugas nya hanya sebagai istri sementara Azri.
"Sebenar nya, kak Azri yang ingin bertanya sesuatu."
Ucapan nya kali ini membuat Azri maupun Mahendra terkejut. Kedua pria itu sontak memandang nya dengan ekspresi yang berlainan. Azri tercengang sementara Mahendra mengerutkan kening heran.
"Aku tidak bilang ingin berbicara dengannya!" bisik Azri.
Widya tidak menjawab, ia hanya menunduk kan kepala nya karena bagai mana pun tatapan Mahendra sekarang membuat nya sangat gusar.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" Mahendra memandang anak nya, Azri dengan wajah ramah.
Setelah bertatapan langsung dengan ayah nya, Azri rasa Widya benar. Ia memang harus bertanya pada Ayah nya secara langsung mengapa saat itu dia tidak datang demi memenuhi permintaan terakhir ibu nya.
Mahendra mengangguk paham lalu meminta Azri dan Widya berjalan mengikuti nya. Ada ruang duduk privat khusus member VIP di golf club itu. Mereka bisa bicara dengan bebas di sana. Namun, ketika sedang melintasi lobi, mereka bertemu dengan seseorang yang tidak di sangka-sangka.
"Oh, Presdir GN," seru Mahendra ramah.
Azri segera memasang sikap formal dengan diikuti Widya. Tak disangka mereka bisa bertemu di tempat seperti ini.
"Wah, bersantai bersama keluarga?" ujar Presdir GN—Matthew—semringah melihat Mahendra bersama anak-anak nya. "Senang bertemu dengan mu kembali," ucap nya saat berpandangan dengan Azri.
"Senang bertemu dengan Anda juga." Azri tersenyum.
"Dia istri mu?" Matthew terkejut saat menatap wanita di samping Azri.
"Widya, perkenalkan dia tuan Matthew." Azri memperkenalkan mereka. Mahendra yang melihat nya hanya tersenyum samar.
"Ah, sayang sekali. Awal nya aku ingin mengenalkan mu pada putri ku," gurau Matthew.
__ADS_1
Azri tertawa bersama nya sementara Widya tidak berani tertawa karena Mahendra menatap nya sejak tadi. Segala gerak-gerik nya begitu diawasi oleh Ayah mertua nya dan itu membuat nya sedikit takut dan waspada.
"Anda datang sendiri kemari?“ Mahendra bertanya setelah yakin Widya tidak terlalu membuat ulah di depan Matthew.
"Aku datang bersama putra sulung ku. Dia kebetulan mengajak serta tunangan nya hari ini. Ah, itu dia."
Arah pandang Matthew teralih ketika ia mendapati putra nya berjalan santai ke arah nya sambil menggandeng tunangan nya. Semua kepala menoleh ke arah yang dituju Matthew.
Kedua orang tua itu sama-sama tersenyum ramah ketika putra sulung Matthew menghampiri mereka lalu memberi salam pada Ayah nya dan Mahendra. Namun, tidak bagi Widya dan Azri. Mereka sama-sama terkejut karena gadis yang berdiri di samping putra Matthew adalah seseorang yang amat di kenali mereka.
"Marleen?" lirih Azri. Perlahan-lahan keterkejutan nya itu berubah menjadi rasa heran dan curiga.
Marleen lebih terkejut lagi ketika mata mereka saling bertatapan. Ia terlihat gelisah sekaligus takut.
"Dia putra ku, Rendra dan ini tunangan nya, Marleen."
Rendra memperkenalkan diri dengan ramah sementara Marleen hanya berkenalan seada nya, ia terlihat canggung ketika terpaksa bersalaman dengan Azri dan Widya seolah mereka baru pertama kali bertemu.
"Sudah berapa lama kalian bertunangan?"
Mungkin pertanyaan Azri terdengar aneh, tetapi ia sungguh penasaran dengan hubungan mereka. Ia tidak tahu sama sekali tentang pertunangan Marleen.
"Tepat enam bulan," jawab Rendra membuat Azri melebarkan mata.
"Karena itu pesta nanti sekaligus pesta pengumuman pernikahan mereka," tambah Matthew.
Marleen memalingkan pandangan nya ke arah lain, tidak ingin menatap Azri sama sekali.
Azri pun tidak berniat sama sekali beramah tamah ria setelah tahu Marleen sudah bertunangan dengan pria lain. Bukan nya ia peduli gadis itu bertunangan atau tidak, hanya saja Marleen berkata dengan gamblang bahwa dia tidak sedang menjalin hubungan dengan siapa pun saat mereka menjadi friend with benefit dulu. Rupa nya ia sudah dibohongi mentah-mentah oleh Marleen. Sungguh tolol.
Widya menggenggam tangan Azri erat. la tahu bagaimana perasaan Azri saat ini dari gurat-gurat yang muncul di sekitar leher dan wajah nya. Pria itu marah.
Hati Azri memang bergemuruh, tetapi itu tidak berlangsung lama berkat genggaman tangan Widya yang berfungsi seperti AC yang menyejuk kan. Perlahan-lahan rasa marah itu lenyap karena ia sadar, saat ini tidak ada guna nya lagi marah karena ia di bohongi oleh Marleen. Ia sudah memiliki Widya. Bibir nya tersenyum, lalu menoleh pada Widya.
"Tidak apa-apa," ucap nya menenangkan.
Bersambung.....
__ADS_1