
Azri memang sudah berjanji tidak akan memikirkan tentang Lia maupun Yuna. Namun, ketika ia teringat kemiripan wajah mereka, perasaan aneh itu muncul kembali. Setiap kali melihat Lia, ia selalu merasa bersalah, seperti ada dorongan melakukan sesuatu untuk menebus dosa. Azri memang merasa bersalah, karena dirinya lah Yuna tewas.
"Kamu terlalu banyak melamun."
Azri tersentak lalu menoleh pada Ryan yang merengut heran. "Aku tidak melamun. Hanya sedang berpikir,“ ketus nya.
Akhir-akhir ini Azri agak sensitif dengan kata melamun. Ia benci mendapati diri nya sendiri melamun karena memikirkan Yuna ataupun Lia, dan betapa kedua nya memiliki wajah serupa.
Ryan memutar bola mata malas. "Baiklah, kamu berpikir. Tapi kita sedang membahas masalah lain. Apa kamu tidak ingin tahu hasil penyelidikan ku tentang ayah mu?"
"Oh, apa yang kamu dapatkan?" serunya tak sabar.
Ryan mendengkus melihat perubahan sikap Azri yang tiba-tiba. Ia penasaran dengan apa yang di pikirkan Azri beberapa saat lalu. Namun, ia tidak terlalu memedulikan nya sekarang. Ia harus fokus pada hal yang sudah ia dapatkan dari penyelidikan diam-diam nya.
"Perusahaan mu memiliki sejumlah utang pada GN Group," ungkap Ryan tak tanggung-tanggung. Alhasil Azri membelalak kan mata nya syok.
"Kamu bercanda! Bagaimana bisa?"
Tidak mungkin hal itu terjadi. Azri sudah memeriksa laporan keuangan dan tidak menemukan tanda-tanda bahwa Pardipta Group memiliki utang pada GN Group. Selain itu, kedua nya baru saja melakukan kerjasama.
"Aku tidak tahu hal apa yang membuat Ayah mu terpaksa berulang pada mereka. Tetapi seperti nya GN Group memang mengincar Pradipta sejak awal. Aku menemukan beberapa proyek Pradipta Group yang gagal di sebabkan karena campur tangan GN Group."
__ADS_1
Azri tercengang, ia tidak mau percaya tetapi Ryan membawakan bukti-bukti akurat yang membuat Azri kehabisan kata-kata. Ini kenyataan yang tidak terduga sama sekali. Jika semua ini benar, itu arti nya ayah nya menyembunyikan kenyataan ini dari nya? Perusahaan yang tampak baik-baik saja rupa nya hampir saja bangkrut? Lalu apa arti nya kerjasama yang sudah di sepakati dengan GN Group?
Semua nya sungguh mencengangkan. Azri menatap lembar demi lembar laporan yang di suguhkan Ryan sementara sebelah tangan nya memijat pelipis nya.
Azri meletakkan berkas-berkas itu dengan keras di atas meja. "Pertanyaan terbesar ku adalah, kenapa?" ia memandang Ryan tajam yang hanya menjawab nya dengan mengendikkan bahu nya. "Kenapa mereka tidak segera mengambil alih perusahaan jika hutang perusahaan ini sudah terlalu banyak. Tapi ternyata mereka justru mengajukan kerjasama. Semua nya sangat membingungkan."
"Aku belum sampai sejauh itu. Mungkin saja Presdir GN memberi kesempatan pada ayah mu untuk melunasi utang-utang nya dengan membuat kerjasama. Itu hanya dugaan ku saja.“
Azri masih sibuk dengan pikiran nya. Begitu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini dan semua semakin rumit semenjak pesta Presdir GN tempo hari dan kemunculan Lia sungguh mengusik nya. Ingatan bahwa wajah mereka begitu mirip kembali membuat kepala Azri pening.
"Sudah lah, masalah ini bisa di pikirkan pelan-pelan," ujar Ryan melihat Azri mengurut pelipis nya.
"Apa kamu mengenal Putri Tuan Matthew?"
"Putri? Seingat ku Presdir GN tidak memiliki anak perempuan, bukankah anak nya laki-laki?"
Azri mendesis, "Dia sendiri punya, Presdir GN yang berkata pada ku dan kemarin aku baru saja bertemu dengan nya."
"Yang benar?" Ryan melabarkan mata nya, tampak benar-benar terkejut.
Ryan mengerutkan kening. Aneh sekali ia sampai melewatkan fakta ini. GN Grup adalah perusahaan yang terkenal, dan ia tidak mungkin melewatkan berita eksklusif tentang putri mahkota keluarga GN. Jika memang ada ia sudah mengetahui nya sejak dahulu.
__ADS_1
Tidak mempedulikan keterkejutan Ryan, Azri mengangguk. "Nama nya Lia Fernandez dan dia--"
Kalimat Azri menggantung di ujung lidah nya. Ada perasaan aneh yang membuat kata-kata nya tersendat. Kenyataan bahwa ia hampir saja mengatakan pada Ryan tentang kemiripan gadis itu dengan Yuna.
"Kenapa? Dia sangat cantik?" tanya Ryan penuh minat Azri mendelik tajam.
"Kamu menyukai Bella, bukan?"
"Tentu saja, tapi kenapa kamu marah?"
Ryan menjawabnya terlalu cepat dan enteng sehingga pengakuan nya itu terdengar meragukan. Azri tidak menjawab, hanya mendengkus. "Apa kamu juga masih ingat dengan wajah Yuna?"
Ryan mengerutkan kening. Ada apa dengan Azri hari ini? Kenapa sejak tadi dia terus menerus mempertanyakan wanita-wanita yang tidak jelas?
"Siapa yang akan melupakan wajah cantik seperti Yuna? Dia mahasiswa populer saat kita kuliah.“ Kerutan di kening nya bertambah, kali ini Ryan curiga. "Kenapa kamu mendadak bertanya tentang Yuna? Astaga, jangan katakan kamu bertengkar dengan istri mu karena Yuna?!" seru nya dengan mata melebar.
Azri terkesiap.
"Sejak tadi kamu bahkan tidak menyinggung soal Widya Lovarza. Padahal setiap kali kita bertemu kamu tidak pernah berhenti membicarakan nya. Katakan pada ku kamu tidak bertengkar dengannya, kan."
Azri diam seribu bahasa, kata-kata Ryan mengejutkan nya. Ia memang tidak berbicara dengan Widya lagi semenjak pertengkaran mereka malam itu. Widya tetap memperhatikan nya, tetapi diri nya yang mengabaikan gadis itu. Ia kira ia akan merasa tenang, tetapi sikap dingin nya pada Widya justru membuat nya merasa hampa dan ia semakin kebingungan.
__ADS_1
Bersambung .....