
"KALAU begitu, kami pamit dulu. Masih ada yang harus kami kerjakan untuk membangun bisnis kembali," pamit Widya. Ia menggandeng tangan Azri, mereka saling melempar senyum. Masih ada rencana lain yang akan mereka lakukan hari ini.
"Tunggu," cegah Rendra. Ia mengulurkan salah satu map yang sejak tadi di bawa nya. "Ini sudah tidak diperlukan lagi. Aku sudah membicarakan nya dengan Pengacaraku. Kalian berhak memiliki nya kembali."
Azri dan Widya menerimanya dengan gembira saat tahu berkas itu berisi pengembalian aset-aset yang sempat disita GN Group pada Pradipta Group. Mereka bisa membangun bisnis mereka kembali dengan ini.
"Terima kasih."
Widya begitu gembira sampai ingin memeluk Rendra. Ia memandang Azri penuh permohonan. Pria itu mengerti keinginannya lalu mengangguk.
"Kamu boleh memeluk nya, tentu saja," ucapnya agak malas.
Widya langsung memeluk Rendra dengan erat sampai pria itu membelalakkan mata. Marleen menganga kaget melihatnya. Rendra yang tidak mengerti langsung memandang Azri. Pria itu heran kenapa ia mengizinkan istrinya memeluk pria lain.
Azri menjawabnya dengan mengendikkan bahunya. "Kehamilan membuatnya mengidam hal-hal yang aneh. Sejak kemarin ia selalu berkata ingin memelukmu.“
Meskipun harus menahan mati-matian rasa cemburu yang mencekik tenggorokan nya, ia harus rela. Toh demi memenuhi keinginan bayi dalam kandungan Widya.
Rendra ter senyum lega mendengar nya. la lalu balas memeluk Widya dengan erat, mengagetkan Azri. Pria itu maju. "Jangan ter lalu kencang, Bung. Istri ku sedang mengandung!" kilah nya untuk menutupi panas yang mem bakar hati nya. Namun, ia memang mencemaskan kondisi kandungan istri nya.
"Maaf, aku terlalu ber semangat. Istri mu adalah wanita yang cantik." Rendra lalu melepaskan Widya. Gadis itu begitu puas sampai senyum nya belum juga hilang meskipun sudah kembali ke samping suami nya.
"Kalau begitu kami pergi," ucap Azri sebelum Widya meminta hal aneh lain seperti memintanya men cium Marleen. Tidak, ia tidak akan pernah mau.
Marleen menatap kepergian pasangan itu dengan iri. Widya sungguh beruntung karena menemukan pria yang mencintainya setengah mati, tidak ingin kehilangannya, dan rela melakukan apa pun untuk nya. Sementara dirinya justru dimanfaatkan untuk menyelamatkan perusahaan keluarga yang pada akhir nya tetap di ambil alih oleh GN Group. Ia menoleh pada Rendra, pria yang dulu tidak pernah dianggapnya. Sejak ayah nya berkata ia harus menikah dengan Rendra demi perusahaan, ia merasa Rendra adalah pria paling jahat di dunia.
__ADS_1
Mengapa pria itu mau diatur oleh ayah nya sendiri? Bahkan ketika akhirnya mereka bertunangan, ia tetap menganggapnya lelaki jahat. Ia tak pernah mau mendengar, tak pernah mau memahami sebanyak apa pun Rendra mengucapkan kata-kata cinta padanya setiap kali pria itu tidur dengannya. Namun semenjak hari itu, semenjak ia mendengar pengakuan Rendra tentang alasan pria itu menyetujui pernikahan, pandangannya berubah 180 derajat.
Detik itu Marleen seakan melihat diri Rendra yang sebenarnya, sosok sebelum ini. Yang selalu terabaikan
"Ini untukmu."
Lamunanya buyar ketika sebuah map diulurkan pria itu padanya. Marleen memandang map satu lagi yang dipegang Rendra sejak tadi.
"Apa ini?" tanyanya heran.
"Berkas milik perusahaan keluarga mu. Setelah sidang ini selesai, aku berencana mengembalikan seluruh aset yang di sita dengan cara licik oleh ayahku pada pemilik sebenar nya."
Kedua mata Marleen langsung bersinar oleh kegembiraan. Tak ada hadiah yang lebih indah dan mengharukan dari pada ini. Ia mengambil map itu seperti baru saja menerima penghargaan sebagai pahlawan negara dari presiden.
Berkas-berkas ini bisa mungkin akan menggembirakan ibu nya. Dengan ini, mungkin ibu nya akan sadar dari koma nya. Marleen mendekap map itu di dada dengan perasaan bahagia, seperti menemukan cahaya setelah bertahun-tahun terjebak dalam kegelapan.
"Aku tidak tahu kamu akan mengembalikan aset milik keluarga ku juga." Marleen tersedak oleh air mata harunya sendiri.
Rendra langsung memeluk nya. Ia mendekap Marleen berharap gadis itu merasa tenang dan terlindungi. Ya Tuhan, gadis ini tidak tahu bahwa ia mencintainya setulus hati.
Rendra terdiam. Mungkin ini saatnya juga ia melepaskan Marleen. Ia tidak mau gadis ini terpaksa hidup bersama pria yang tidak dicintainya. Ayah nya sudah tidak memiliki kuasa untuk mengatur nya lagi. Lagi pula perjanjian pernikahan itu hanya lah taktik untuk mengambil alih perusahaan milik keluarga nya.
"Marleen," bisik Rendra sambil melepaskan pelukan nya. Ia memandang langsung mata gadis itu. Ini mungkin akan menyakiti hatinya selama dua puluh tahun ke depan, tetapi ia tidak akan menyesali nya. Marleen pantas me miliki kehidupan bebas nya.
"Aku tahu ayah ku dulu memaksa ayah mu untuk menyetujui pernikahan ini dan aku pun tahu kamu ter paksa menuruti permintaan ayahmu demi kelangsungan keluarga mu. Aku bukan pria yang baik untuk mu, aku tahu itu. Aku juga bahkan sadar bahwa bukan nama ku yang ter pahat di dalam hati mu. Tidak ada setitik pun cinta yang akan kamu berikan pada ku karena itu, aku merasa mem bebas kan mu dari per tunangan ini adalah jalan yang terbaik," ucap nya perlahan.
__ADS_1
Marleen terperangah mendengar nya. Rentetan kalimat itu seperti pisau yang memotong seluruh urat nadi di tubuh nya secara bersamaan.
"Kamu adalah gadis yang baik dan cantik. Aku tahu itu sejak pertama kali aku ber temu dengan mu di sebuah pesta yang diselenggarakan oleh kakak mu. Mungkin terdengar terlambat jika aku berkata bahwa aku sudah jatuh cinta padamu sejak saat itu. Inilah alasan sebenar nya mengapa aku menyetujui pernikahan yang diajukan ayah ku, setelah tahu gadis yang akan ku nikahi adalah Marleen, kamu."
Rendra menatap mata nya dengan ribuan rasa sakit tercetak jelas dalam bola mata hitam itu. "Aku merasa kesal ketika kamu berkata mencintai pria lain tapi tetap bersedia menjalani pertunangan dengan ku. Tetapi apa hak ku, kamu pantas membenciku setelah aku menghancurkan keluarga mu. Membuat ayahmu bangkrut, ibumu jatuh sakit, dan kamu menjadi boneka yang dikendalikan adikku. Maaf karena dulu aku terlalu pengecut untuk menolong mu. Selama ayahku masih ada, apa pun yang kulakukan akan membahayakan dirimu dan aku tidak mau hal itu terjadi. Tetapi sekarang, semuanya telah ber akhir. Setelah aku memiliki kekuasaan penuh atas GN Group, aku tidak ingin memaksamu lagi. Aku akan menggunakan kekuasaan ku untuk melepaskanm―"
Kata-kata Rendra terpotong karena tiba-tiba saja kedua tangan Marleen menarik wajah nya ke bawah lalu mencium bibir nya. Hanya kecupan singkat, tetapi berhasil menghentikan kerja otaknya. Ia mengerjap menatap Marleen.
Gadis itu memeluk lehernya dengan erat, matanya dipenuhi oleh kekesalan. "Kamu sangat bodoh Rendra Fernandez. Berhenti bicara!" bentaknya marah.
"Aku akan membebaskan mu dari semua ini, Marleen. Kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan normal." Rendra tidak mengerti. Apa Marleen tidak gembira dengan keputusannya.
"Just shut up!' tegas Marleen membungkam Rendra kembali. Pandangan gadis itu berubah lembut. "Setelah kamu membuatku terharu dengan semua kebaikanmu kamu ingin melepaskanku? Pria pengecut mana yang melakukannya? Rendra Fernandez yang kukenal bukanlah pria yang pengecut. Meskipun dia marah, dia tidak akan pernah memukul adiknya sendiri, meskipun dia tidak setuju, dia tidak akan membantah perintah ayahnya, meskipun dia menyayangi keluarganya, dia tetap harus menghukum mereka untuk menegakkan keadilan. Sekarang diamlah, jangan katakan apa pun lagi. Kamu sudah terlalu mengalah selama ini. Sekarang biarkan dirimu yang menang."
Tanpa disangka Marleen meneteskan air mata. Bukan karena kesal, tetapi karena ia baru menyadari bahwa ia sudah menyayangi pria ini sejak lama. Ia sadar mengapa selama ini ia tidak pernah bisa pergi dari sisinya meskipun ia tidak menyukainya. Semua karena ia merasa satu-satunya tempat paling aman di dunia ini adalah berada di sampingnya.
Rendra mengerjap ketika Marleen memeluknya dengan erat. "Aku tidak ingin kamu melepaskan ku." Suara lembutnya seperti air yang melepaskan dahaga. "Kapan kita akan menikah?"
Kata-kata itu membuat tubuhnya membeku selama beberapa saat. Ketika rasa bahagia merasuk ke setiap pembuluh darah di tubuhnya, Rendra mendapati dirinya mendesah lega. Jadi, Marleen bersedia menikah dengannya? Gadis ini bersedia menghabiskan hidup bersamanya? Karena terlalu gembira ia merenggut pinggang Marleen lalu memeluk tubuhnya sampai terangkat tinggi.
"Aku mencintaimu, Marleen. Jika itu yang kamu inginkan, aku tidak akan pernah melepaskan mu," seru pria itu. Marleen tertawa, ia balas memeluk pria itu.
Tak ada yang lebih membahagiakan baginya selain tahu bahwa dirinya begitu dicintai.
Bersambung ....
__ADS_1