
"Apa tidak ada rumah yang lebih biasa dari ini?"
Azri menoleh setelah meletakkan tasnya di apartemen baru mereka yang dihadiahkan oleh kakek.
"Sudahlah, jangan banyak protes. Sudah bagus kita tidak harus tinggal di rumahnya," balas Azri.
Mereka sempat terkejut ketika kembali ke resort barang-barang mereka sudah dipindahkan ke apartement baru. Bahkan barang-barang yang ada di apartement lama Azri pun ada di sana. Beberapa benda asing yang sepertinya harta milik istrinya juga ada di sana, tinggal dibereskan saja.
"Tapi ini terlalu luas untuk kita berdua," gumam Widya sambil memperhatikan ke sekeliling apartement.
Tempat itu memiliki tiga kamar, satu ruang tamu, dua ruang keluarga, satu dapur, satu ruang makan, dan dua kamar mandi.
Widya membuka pintu kamar utama, lebih luas dari dua kamar yang lain. Ia menatap ngeri ranjang ukuran besar yang terletak di tengah ruangan.
"Katakan padaku kita tidak akan tidur di kamar yang sama?" tutur Widya pada Azri yang sedang menuangkan sampanye pada gelas di bar kecil di dekat dapur.
"Untuk apa kita menikah kalau tidak tidur bersama?" ujar Azri santai.
Widya mengerjapkan mata. Pria ini tidak serius, kan?
"Tapi ada banyak kamar di sini. Lagipula kita tidak saling mencintai, bukan? Untuk apa tidur di kamar yang sama?"
"Jadi?" Azri membalikkan badan menghadapnya. "Kamu ingin bagaimana?“ la menyesap sampanye di tangannya sedikit.
Mata bulat Widya melebar melihat Azri dengan santai menenggak minuman itu di depannya.
"Azri El Pradipta, sudah kukatakan beberapa kali bahwa minuman beralkohol itu tidak baik untuk kesehatan. Cepat letakkan gelasnya!"
Widya melangkah ke arah Azri dan sebelum pria itu bereaksi, gelas di tangan Azri sudah berhasil direbut oleh Widya.
__ADS_1
"Selama aku ada di sini, kamu tak kuizinkan meminum alkohol setetespun!"
Bukannya takut Azri justru tersenyum sinis. Tangannya yang terlatih itu dengan satu sentakan saja bisa menarik pinggang ramping Widya ke dalam pelukannya.
"Apa hakmu melarangku, Nona?" tanyanya tajam. Ia bertatapan langsung dengan mata hitam Widya yang terbelalak kaget bercampur panik.
"Apa yang akan kamu lakukan kalau aku meminum ini di depanmu?"
Azri mengambil kembali gelas yang dipegang Widya, berniat meminum kembali isi gelas itu sekedar ingin membuktikan bahwa ancaman Widya bukan apa-apa.
Pria ini mempermainkanku, aku tahu dia sengaja. Dasar bedebah tengik! Marah Widya dalam hati.
Karena itu sebelum gelas itu mencapai bibirnya, Azri merasa seluruh gerakan tubuhnya terhenti karena kini ia kesulitan bernapas. la menoleh pada Widya yang menatapnya penuh kemenangan.
"W-widya lepas," ucapnya kewalahan karena kini, Widya menarik dasi yang masih melingkar di lehernya sampai membuat Azri kesulitan menarik oksigen ke dalam paru-parunya.
Aku menang kali ini, Tuan Pradipta. Batin Widya puas.
Azri memegang tangan Widya yang menarik dasinya, mencoba melepaskan, tetapi tenaganya seperti tersedot oleh napasnya. Ia tidak sanggup melepaskan tangan Widya dari dasinya.
"Letakkan gelas itu baru aku lepaskan dasimu." Widya mengajukan penawaran.
Azri dengan sigap menggeleng. Widya menarik lebih kencang dasi Azri sampai pria itu terbatuk-batuk. Sebenarnya ia tidak tega, tetapi bagaimana lagi. Hati nuraninya hampir berpikir untuk mengakhiri saja ketika Azri mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Baik-lah, a-ku me-nye-rah!" seru Azri terpatah-patah.
Azri buru-buru meletakkan gelas di atas meja dan Widya pun melepaskan dasinya, benar-benar melepaskannya dari leher Azri. Pria itu langsung terbatuk-batuk kepayahan.
"Berjaga-jaga, benda ini kusita." Widya mengambil botol sampanye Azri dan membawanya pergi. "Ah, aku akan menggunakan kamar yang terpisah denganmu. Tentu saja kamu tidak keberatan bukan?" tambahnya sebelum benar-benar pergi.
__ADS_1
Azri belum bisa mengatakan apa pun, hanya mengayuhkan tangannya ke arah Widya yang pergi ke kamar lain sambil mengerek kopernya.
"Ga-dis itu ...," desisnya kesal. "Beraninya dia melakukan ini padaku!" Azri terbatuk. "Awas kamu, aku pasti akan membalasnya!" Dengan kesal ia mengerek kopernya masuk ke kamar utama untuk mandi dan berganti pakaian.
Tiga puluh menit kemudian Azri keluar kamarnya dengan penampilan yang lebih segar. la tidak perlu berpamitan dengan Widya untuk menjalani rutinitas keluar malamnya.
"Kamu mau ke mana?"
Azri berhenti memutar kenop pintu ketika ia mendengar suara Widya di belakangnya.
"Bukan urusanmu," ucapnya malas sambil membalikkan badan.
Dan Azri langsung menyesal. Seharusnya ia tahu, berbalik menatap Widya saat ini adalah kesalahan terburuk yang dilakukannya. Karena kini, tubuhnya terpaku menatap Widya yang baru saja selesai mandi.
Gadis itu dengan cueknya melangkah keluar dari kamar mandi hanya dengan balutan handuk sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Bahkan dari jarak kurang lebih tiga meter, Azri bisa menghirup wangi citrus dari shampoo yang dipakainya.
"Sekarang sudah sangat larut. Mau ke mana lagi? Bukankah besok sudah mulai bekerja?"
Azri mengerjapkan mata untuk menormalkan diri. Ia menolehkan pandangan ke arah lain yang lebih ‘aman' untuk dilihat.
"Kamu tidak memiliki hak untuk mengaturku," ujarnya ketus.
"Aku istrimu. Jelas aku memiliki hak," balas Widya tak kalah ketus.
"Itu menurutmu saja.“ Azri membuka pintu.
Widya hanya mendesah berat melihat Azri pergi sambil membanting pintu keras-keras. Andai saja ia memakai baju lengkap pasti ia sudah mencegah Azri pergi.
Bersambung ....
__ADS_1