
FIRASAT buruk itu membuat jantungnya berdetak cepat. Widya menoleh ke sekitarnya untuk memastikan bahwa tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Segala yang berlangsung di lobi rumah sakit itu tampak normal. Orang-orang berjalan ke sana kemari dengan santai. Lalu kenapa, apa yang membuat hatinya merasa takut? Apa mungkin karena ia berada di tempat yang paling di bencinya di dunia ini? Lebih baik ia segera meninggalkan rumah sakit itu.
Widya berjalan agak cepat melintasi lobi. la tidak memerhatikan sama sekali ketika seorang suster melintas tergesa-gesa membawa berbagai macam peralatan medis di atas nampan stainless steel. Tabrakan pun tak terelakkan. Segala yang dibawa suster itu berhamburan di lantai sementara Widya memekik lalu terhuyung jatuh, tidak kencang, tetapi cukup untuk membuat orang-orang menoleh padanya.
"Anda tidak apa-apa?" Suster itu meminta maaf lalu membantu Widya berdiri.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ujar Widya.
Suster itu membungkuk sopan lalu membereskan benda-benda yang terjatuh tadi lalu bergegas pergi. Widya pun tidak berniat berlama-lama di sana. la hendak meninggalkan tempat itu saat ia tersadar cincin pernikahan yang semula melingkari jari manisnya menghilang.
"Cincinku!" Widya histeris lantas mencari cincin itu di tempat ia terjatuh tadi. Tidak, ia tidak boleh kehilangan cincin itu. Tidak boleh.
Apa ini arti dari firasat buruknya? Cincin pernikahannya menghilang. Semoga saja tidak. la terus mencari dan mendesah lega saat menemukan benda keemasan itu tergeletak di dekat pot bunga. Widya memungutnya. Ketika menyematkan cincin itu ke jarinya kembali, entah kenapa ia teringat pada Azri.
Astaga, Azri! Ini tidak benar, mengapa ketika ia teringat pada Azri jantungnya seakan berhenti berdetak? Widya diserang ketakutan yang membuat lututnya gemetar. Firasat buruk ini tidak ada kaitannya dengan Azri, bukan?
Tangannya bergerak sendiri mengambil ponsel dari dalam saku sweater-nya. Ia menghubungi Azri. Ia harus memastikan pria itu baik-baik saja. Widya meneleponnya beberapa kali, tetapi tak ada jawaban. Ia tidak menyerah. Ia mencobanya beberapa kali dan setelah percobaan ke dua puluh ia mulai panik.
Bagaimana bisa seseorang tidak menjawab panggilan hingga dua puluh kali? Apa Azri meninggalkan ponselnya? Tidak mungkin. Di saat genting seperti ini ponsel adalah benda pertama yang harus dibawa.
Kecuali Azri mengalami sesuatu yang membuatnya tak bisa menjawab panggilannya.
Tidak mungkin.
Widya mencoba lagi dengan hati dipenuhi kecemasan. Ia berdoa semoga ketakutannya tak terbukti dan saat ponsel itu diangkat, ia menghembuskan napas selega-leganya.
"Halo?"
__ADS_1
"Apa ini kerabat pemilik ponsel?" sela suara asing di ujung sana.
Widya mengerutkan kening bingung. kata-kata Iyang hampir saja ia ucapkan terpaksa ditelan kembali.
"Iya. kenapa, apa terjadi sesuatu pada Azri?" tanyanya cemas.
"Kami dari kepolisian ingin mengabarkan bahwa pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan dan sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit."
Apa?
Seperti seseorang baru saja merenggut oksigen dari paru-parunya, Widya tiba-tiba kesulitan bernapas. Otaknya membeku karena syok. Saking terkejutnya ia tidak sadar ponsel yang digenggamnya jatuh menabrak lantai dan mati.
Azri kecelakaan....
Kecelakaan ....
KECELAKAAN!
Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari sirine ambulans di susul kepanikan lain. Beberapa suster dan petugas medis berlarian menghampiri ambulan. Orang-orang melihat dengan raut penasaran. Mereka semua berkumpul di dekat pintu darurat. Seseorang dibawa di atas ranjang dorong dengan alat bantu pernapasan tertempel di hidungnya lalu segera dilarikan ke ruang gawat darurat.
Dengan lutut gemetar Widya memaksakan kakinya untuk berdiri tegak.
"Kudengar dia korban kecelakaan tunggal."
"Mengerikan sekali."
"Dari kondisinya aku yakin dia tidak akan bertahan lama."
__ADS_1
"Kalian dengar apa yang dikatakan dokter tadi? Dia CEO Pradipta Group yang diisukan bangkrut itu."
Apa? Widya menoleh ke arah korban kecelakaan tadi di bawa.
"Dari gossip yang beredar dikatakan CEO muda itu mencoba bunuh diri karena kasus di perusahaannya."
Bunuh diri? Azri mencoba bunuh diri? Tidak mungkin! Widya segera berlari mengejar la masih berharap apa yang terjadi hari ini adalah mimpi. Ia tidak sanggup hidup lagi jika Azri sampai mati.
Widya belum tiba di ruang gawat darurat saat ia melihat Bibi Swari dan kepala Pelayan bergegas pergi ke arah ruang IGD itu. Mereka terlihat sangat panik, bahkan ia sempat melihat Bibi Swari menangis. Ia hanya bisa mengintip dari jauh setelah tiba di sana.
"Apa benar keponakanku kecelakaan? Tidak mungkin, baru saja kami melihatnya pergi. bagaimana bisa."
Bibi Swari menahan tangis. Sama seperti Widya, wanita itu pun menolak kenyataan bahwa Azri mengalami kecelakaan. "Kami menemukan ini di dalam saku jas korban."
Polisi itu menyerahkan dompet Azri. Bibi Swari menerimanya dengan tangan gemetar. ketika membukanya dan menemukan kartu identitas Azri di dalamnya, tangisannya pecah.
"Nyonya!" Kepala Pelayan itu menyongsong tubuh Bibi Swari yang terhuyung karena tidak kuasa menahan kesedihan.
"Mustahil, Azri!" Dia berteriak memanggil Azri yang sedang memperjuangkan hidup di dalam sana. Beberapa detik kemudian wanita itu jatuh pingsan.
Widya jatuh terduduk di tempatnya. Ia menutup mulut dengan kedua tangan untuk meredam suara tangisannya. Azri benar-benar mengalami kecelakaan. Samar-samar ia bisa mendengar penjelasan polisi tentang kronologi kecelakaan itu. Mengerikan. Widya tidak sanggup mendengarnya. Ia bahkan tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya kondisi Azri saat ini. Ia hanya bisa berdoa pada Tuhan.
Semoga Dia tidak mengambil nyawa Azri.
"Nyonya, Anda tidak apa-apa?" Seorang suster menghampirinya, membantu Widya berdiri.
"Aku tidak apa-apa." Widya meminta suster itu meninggalkannya sendiri. la ingin sendirian. la tidak ingin seorang pun melihatnya seperti ini. Rapuh, menyedihkan, dan sengsara.
__ADS_1
Tak ada yang bisa ia lakukan, tak bisa muncul di depan keluarganya untuk mencemaskan pria itu bersama-sama. Ia merasa tidak berguna dan tolol.
Bersambung ....