Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 90


__ADS_3

"Kau mengirim istri ku ke mana!“ Seru Azri nyaris membentak.


Mahendra dengan tenang menutup bukunya, ia sudah memprediksi ini akan terjadi begitu putra semata wayangnya itu tahu istrinya tidak ada di rumah.


"Di mana sopan santunmu terhadap ayahmu sendiri?"


"Aku muak berbasa basi denganmu. Sekarang jawab pertanyaanku, ke mana kau kirim istriku pergi? Kau yang menyuruhnya, berdasarkan perjanjian sialan itu?!"


Ucapan Azri membuat ayahnya mengerjap kaget. Pria itu seketika berdiri dengan ekspresi tenang. "Kau sudah mengetahui hal itu rupanya."


Azri benci sekali melihat sikap tenang ayahnya. Pria itu selalu berhati dingin. Ia tidak pernah menyukai reaksi sok tegarnya ketika menghadapi apa pun. Bahkan di saat pemakaman ibunya dulu pun, ayahnya tidak menangis. Walaupun belakang ia tahu alasannya, ia tetap tidak menyukainya.


"Kau pasti tahu ke mana Widya pergi," tuduh Azri dingin dan tajam.


"Meskipun aku tahu aku tidak akan memberitahumu," balas Ayah tak kalah dingin.


"Kenapa?!"


"Karena memang seharusnya dia pergi. Sesuai dengan perjanjian itu.“


Azri membelalakkan mata. Tangannya mengepal kencang hingga buku-buku jarinya memutih. Ia didesak keinginan untuk menghancurkan apa pun yang ada di sekitarnya. la marah sekali mengetahui betapa mudahnya kebahagiannya dihancurkan oleh ayahnya sendiri.


"Kenapa kau melakukan itu pada Widya! kenapa kau menyuruhnya menikah denganku jika pada akhirnya kau mendepaknya pergi dengan perjanjian itu?!"


Suara Azri menggema di ruangan yang diterangi cahaya kekuningan itu. Namun, teriakan itu tidak mengubah ekspresi ayahnya sedikit pun. Pria itu tetap sedingin es.


"Kau ingin tahu cerita sebenarnya? Alasan kenapa aku melakukan semua ini padamu?"


Alasan sebenarnya? Azri menyipitkan mata. "Jika itu menyangkut tentang bisnis dan utang-utangmu pada GN Group aku tidak akan menerimanya sebagai alasan!"


Mahendra lagi-lagi dibuat terbelalak. "Kau juga sudah tahu tentang utang itu?"


"Jadi itu alasanmu melakukan semua ini? Menyuruhku menikah dengan Widya agar aku bersedia menjadi CEO Pradipta Group. Aku juga curiga kemunculan Lia juga bagian dari rencana busukmu. Apa kau ingin menjualku pada mereka? Semua hal itu kau lakukan untuk melunasi hutang-hutang perusahaan pada GN Group?"


Pria itu tidak bisa menerima kata-kata sinis putra tunggalnya lagi. “Apa kau pikir aku orang tua yang akan menukar anaknya dengan uang? Salahkan dulu sifatmu yang selalu menentang ayahmu sendiri!"


Azri terkejut karena untuk pertama kalinya ia mendengar ayahnya berteriak semarah itu.


"Aku memang ingin melunasi utang-utang itu, tetapi bukan dengan cara menjualmu pada Lia, putri Presdir Gn yang memiliki wajah mirip dengan mantan kekasihmu itu!" kata-kata itu membuat Azri tidak bisa berkata-kata. Ia tercekat.


"Apa hubungan Lia dengan semua ini?“


"Kau tidak tahu? Apa Widya belum berkata bahwa Lia yang seharusnya menjadi istrimu?"


"Apa?" Azri terperanjat kaget. Fakta apa lagi yang didengarnya?


"Sebelum aku menyuruhmu menikah dengan Widya, Lia datang memintaku melunasi utang perusahaan secepatnya. Aku terkejut ketika pertama kali melihatnya, dia mirip sekali dengan Yuna. Tetapi kemudian ia berkata bahwa dia tahu sesuatu tentang Yuna. Dia datang untuk membalas dendam Yuna dengan menggunakan utang-utang itu dan mengancamku. Jika tidak melunasi utang itu dengan segera, ia akan mengambil perusahaan dan melaporkan ku ke penjara dengan tuduhan pembunuhan."


"Pembunuhan?" Azri membelalakkan mata.


Ayahnya tampak mengurut pelipisnya, dia lalu menceritakan dengan mendetil tentang apa yang pernah ia lakukan dulu pada Yuna sehingga membuat gadis itu memutuskan untuk mati dalam pelayaran itu. Azri benar-benar kehabisan kata-kata mendengarnya. Entah ia harus marah atau tidak, ia sudah bingung harus bereaksi seperti apa lagi.

__ADS_1


"Kau sudah mengancam Yuna, membuat Yuna melepaskan pegangan tanganku hari itu. Dia pasti sangat tersiksa," gumam Azri pedih. "Lalu apa hubungan Yuna dan Lia, mereka hanya mirip. Lagipula dia putri seorang milyader kaya sementara Yuna--“


Azri melebarkan mata. Sepertinya ia bisa melihat kecocokan di antara Lia dan Yuna.


Ayah menatap sedih putranya seolah bisa membaca arti tersirat dari ekspresi tercengangnya. "Bagaimana jika ternyata mereka adalah saudara kembar yang terpisah? Presdir GN memang tidak pernah bercerita memiliki dua putri. Tetapi dia sudah bercerai dengan istrinya sangat lama. Bisa jadi Yuna tumbuh besar bersama ibunya."


"Tapi Yuna tinggal di panti asuhan sejak ia berusia empat tahun."


"Mungkin terjadi sesuatu pada ibunya yang membuat Yuna tinggal di panti asuhan. Aku yakin Lia pun tahu tentang saudara kembarnya itu dan mencari informasi tentang keberadaannya dan ketika ditemukan, Yuna sudah meninggal dunia. Dengan sedikit penyelidikan dia bisa mengetahui kaitanku dengan kematian Yuna. Aku bisa memahami mengapa dia begitu dendam padaku dan dia menggunakan utang perusahaan untuk mengancamku."


"Dan apa yang didapatkannya jika kau ingin terhindar dari hutang itu?"


Suasana menjadi kaku selama beberapa saat. Mahendra tidak tega memberitahu apa yang akan ia katakan pada Azri tetapi Azri harus tahu.


"Kau."


Dengan berat hati dia melanjutkan, “Lia ingin menikah denganmu jika aku ingin hutang-hutang itu lunas."


Azri seperti baru di jatuhkan dari langit ketika mendengarnya. Darah di sekujur tubuhnya langsung mendidih. “Jadi kau memang berniat menjualku demi uang?!" raungnya marah.


"Tentu saja tidak!" Mahendra balas berteriak, "Bukankah aku sudah menyuruhmu menikah dengan Widya sebagai penolakan atas usul gadis itu?"


"Dan kau membuat perjanjian dalam pernikahanku dengan Widya! Apa alasanmu untuk itu?"


"Untuk melindungi gadis itu."


Azri diam. Ayahnya melanjutkan, "Lia sempat mengancam akan mencelakai gadis mana pun yang akan menikah dengan mu dan aku menenangkannya dengan perjanjian itu. Setelah kau menjadi CEO, sesuai dengan perjanjian istrimu harus pergi. Namun, setelah hal itu terjadi Widya tidak kunjung pergi juga. Lia pun beralih mengancam akan mencelakai Ayah dan adikku."


Azri harus memegang pinggiran meja agar ia tidak jatuh setelah mendengar semua penjelasan itu. Lia, bagaimana bisa ada seseorang yang begitu mengerikan seperti dia dan ia hampir saja jatuh dalam permainan gadis itu?


"Karena itu Widya memang harus pergi. Untuk menyelamatkan perusahaan, keluargaku, dan cucuku."


Keterkejutan kembali dirasakan Azri. "Cucu?"


Mahendra menoleh. "Widya belum mengatakan padamu bahwa dia sedang hamil saat ini."


Apa? Azri tercengang. Seluruh darah di tubuhnya seakan membeku.


****


Malam itu Azri kembali ke apartemennya dalam keadaan lemas. Seluruh energinya sudah habis tersedot. Beruntung ia bisa tiba di tempat tidur tanpa tersandung apa pun. Ia menjatuhkan diri di sana. Syok membuatnya tak bisa berpikir jernih. la termenung. Benaknya melayang kembali pada informasi mengejutkan yang diberitahukan ayahnya di ruang baca tadi.


"Widya hamil anakku?“ Azri bertanya gamang.


Ayahnya hanya mampu memperlihatkan wajah prihatin.


"Aku tidak tahu kenapa dia tidak mengatakannya padamu. Tetapi kupikir itu untuk kebaikanmu juga."


Azri memandangnya meminta penjelasan. "Demi kebaikanku? Bukankah justru sebaliknya? Itu tidak adil untukku! Aku--"


"Lupakan istrimu. Kau harus menikah dengan Lia setelah Widya pergi," lanjut Mahendra menyentak Azri kembali.

__ADS_1


"Apa kau sudah gila, menyuruhku melupakan istri dan anakku yang sekarang entah ada di mana dan hanya Tuhan yang tahu bagaimana nasib mereka? Aku tidak bisa. Aku tidak akan sudi melakukannya!" bentak Azri. "Istriku selamanya hanya Widya Lovarza!"


"Kau harus melakukannya jika ingin perusahaan selamat!"


"Aku tidak peduli dengan perusahaan sialan itu! Berhentilah menjualku untuk bisnis!" Azri sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. la meledak. "Aku bukan barang yang bisa kau jual. Jika kau memang ingin utang-utang itu lunas kenapa tidak mencari solusi lain? Kenapa kau melakukan hal yang tidak masuk akal seperti menyuruhku menikah, menduduki kursi CEO dan mengusir istriku? Kenapa?!"


"Kau ingin mendengar alasan lain lagi?" Mahendra mulai terengah. "Satu-satunya alasan mendudukanmu di kursi CEO adalah untuk melawan GN Group. Aku sudah tidak memiliki kuasa untuk melawan dewan direksi. Namun, aku yakin kau bisa melakukannya. Lia tidak akan mencoba menjatuhkan perusahaan ini jika kau yang memimpinnya. Dia ingin menikah denganmu-entah untuk alasan balas dendam atau bukan. Tetapi kau bukannya melawan mereka kau justru semakin membuat perusahaan diinjak oleh mereka. Kau tidak tahu?"


Mahendra mulai mengeluarkan sederet berkas yang menunjukkan fakta bahwa Pradipta Group perlahan-lahan mulai diambil alih oleh GN Group.


"Mereka melakukannya dengan halus sehingga kau tidak menyadari sama sekali. Aku sudah memberimu kesempatan untuk menyadarinya tetapi kau terlalu malas untuk bergerak.“


Azri menatap berkas-berkas itu dengan tidak percaya. Pradipta Group sudah di ambang pengambilalihan oleh GN Group. Sejak kapan keadaannya menjadi separah ini? Apa usahanya yang kurang maksimal membuat segalanya memburuk? Ia memang tidak begitu serius bekerja selama ini karena tidak ingin hasil kerjanya menguntungkan ayahnya.


la merasa malu dan buruk sampai tidak bisa membalas kata-kata ayahnya. Memang benar, ia tidak terlalu serius dengan tugasnya di kantor karena ia merasa tidak ada keluhan apa pun yang terjadi. Ia pikir segalanya berjalan baik-baik saja. Ia tidak sadar bahwa ada bahaya besar mengancam seperti ini.


“Apa perusahaan ini begitu penting bagimu? Sejak dulu kau tidak berubah. Bahkan ketika ibu sekarat pun kau masih mementingkan bisnis. Apa yang membuatmu tidak bisa melepaskannya?"


Mahendra menggeleng pasrah. Ia berjalan ke dekat jendela, memandangi langit malam. "Aku mencemaskan nasib orang-orang yang bekerja pada perusahaan kita. Ribuan orang akan kehilangan mata pencaharian mereka jika kita membiarkan perusahaan diambil oleh 6n Group. Mereka lah yang kukhawatirkan. Aku berkerja membangun perusahaan bersama mereka. Adilkah jika mereka mendapat kekecewaan setelah mereka mengabdikan diri untuk bekerja pada Pradipta Group?"


Azri menggertakkan gigi, tak bisa menjawab.


"Karena itu, jika kau ingin segalanya berjalan normal, lakukan seperti apa yang kuminta. Menikah dengan Lia, lakukan sesuatu untuk membebaskan Pradipta Group dari utang-ulang. Setelah itu kau bebas melakukan apa pun yang kau mau."


"Aku tidak peduli," Azri tidak mau mengikuti perintah ayahnya lagi. “Bangkrutnya perusahaan itu akibat dari sikapmu selama ini. Kenapa kau melibatkanku dalam masalah ini? Kenapa harus aku yang menanggungnya?"


Mata Mahendra melebar. "Kau tidak peduli dengan dampaknya? Akan ada PHK besar-besaran dan kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada kakekmu jika mengetahuinya? Dia akan terkena serangan jantung dan--"


"Kukira kau mengkhawatirkan pegawaimu.“


"Karena itu kau harus menuruti keinginan Lia. Menikahlah dengannya."


"Aku tidak akan bercerai dengan Widya."


"Widya sudah tahu dan dia merelakannya. Karena itu dia pergi." Mahendra mulai khawatir. la menatap gusar putranya.


"Widya tidak mungkin melakukannya.“


"Kau tidak sadar juga? Widya berusaha mendekatkanmu dengan Lia."


"Tidak mungkin! Apa kau juga menceritakan kemiripan Lia dengan Yuna sampai Widya bersedia melakukannya? Kami saling mencintai!"


"Tidak. Kupikir jika aku menceritakannya sejak awal dia tidak akan pergi. Dia akan tinggal di sisimu untuk menyelamatkanmu."


Mahendra tidak menceritakan semuanya kepada Widya. Ia melewatkan bagian Lia yang mengancam akan mencelakai Widya jika dia tetap berada di samping Azri. Lia sudah pernah mengatakannya, jika Mahendra tetap bersikukuh menikahkan Azri dengan Widya, dia tidak akan membiarkan siapapun wanita yang menjadi istri Azri hidup tenang. Itulah alasan sebenarnya perjanjian itu dibuat. Jika ia menceritakan semuanya, ia yakin Widya tidak akan pergi.


Mata Azri terpejam rapat mengakhiri lamunannya. Setelah pembicaraan itu berakhir, ia segera pulang dengan perasaan yang lebih kacau balau. Ia tidak ingin menangis, tetapi tanpa disadari sepanjang pipinya basah oleh airmata. Ia juga tidak terisak, tetapi tenggorokannya terasa perih.


Fakta yang terkuak di balik pernikahannya serta perjanjian yang membuat Widya pergi membuat hatinya sakit. Terlebih ketika ia tahu Widya pergi dalam kondisi mengandung anaknya. Widya pergi tanpa memberitahu apa pun tentang anaknya. Hingga akhir ayahnya tidak mengatakan ke mana Widya pergi.


Teringat kembali dalam benaknya berbagai kenangan saat bersama istrinya. Azri sangat menyesal, kenapa ketika Widya masih bersamanya ia tidak berterus terang tentang perjanjian yang sudah diketahuinya itu. Jika ia mengatakannya, mungkin Widya masih ada bersamanya berbaring dalam pelukannya di ranjang ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2