
Widya tidak pernah merasa seistimewa ini, seperti yang dirasakannya ketika Azri dengan bangga memperkenalkan dirinya pada rekan-rekan bisnisnya di sebuah pesta mewah yang diselenggarakan Presdir GN.
Pesta yang dilangsungkan selain untuk merayakan ulang tahun sang CEO dari GN Group, di pesta itu jugalah Presdir GN mengumumkan rencana pernikahan putra pertamanya, Rendra dan Marleen, wanita yang sudah lama tidak muncul dalam kehidupan rumah tangganya dengan Azri.
Azri sudah tidak memiliki perasaan apa pun lagi melihat Marleen bersanding dengan pria lain, tak juga penasaran ataupun marah mengetahui Marleen mendekatinya padahal sudah bertunangan dengan pria lain karena pusat perhatiannya kini adalah istrinya, yang entah kenapa terlihat begitu cantik dengan gaun yang sederhana, tetapi berhasil memperlihatkan pesonanya. Entah berapa banyak orang yang terang-terangan mengatakan kekaguman mereka.
Azri sungguh gemas melihat pipi Widya merona malu setiap menerima pujian. Jika ia tidak memikirkan perasaan Widya, mungkin ia sudah menarik gadis itu ke pelukannya dan menciumnya hingga kehabisan napas.
"Azri." Perhatian Azri teralih dari wajah gembira Widya ke arah suara wanita di belakangnya.
"Marleen," lirihnya, tak percaya.
Gadis itu berdiri di depannya dengan gaun sutera berwarna merah muda. Cantik seperti dahulu. Hanya saja sudah tidak ada getaran apa pun lagi ketika mata mereka saling bertatapan.
"Ada apa?" Alis Azri bertautan melihat Marleen begitu gelisah. Sepertinya ada yang ingin dikatakannya.
"Aku ingin bicara denganmu."
"Kamu bisa mengatakannya di sini."
"Tapi." Marleen menelisik ke sekitar tempatnya berada, tampak ragu. "Kita harus bicara di tempat yang lebih tenang."
Azri melirik ke arah Widya yang sekarang sedang mengobrol dengan salah seorang tamu. "Katakan saja di sini. Tidak masalah, bukan?"
Jika dipikir kembali, akhir-akhir ini Marleen memang mencoba bicara dengannya. Dilihat dari seberapa gusar dan gelisah gadis itu, Azri menduga apa pun yang ingin dikatakannya adalah sesuatu yang rahasia, bahkan bisa jadi berbahaya. Azri menanti dengan waspada.
Marleen menggigit bibirnya sebelum berkata dengan suara lirih, "Kamu harus hati-hati."
Ucapan singkat Marleen membuat Azri mengeryitkan kening.
__ADS_1
"Hati-hati? Apa maksudmu?"
Marleen melirik Widya, kegelisahan semakin terlihat jelas dalam sorot matanya. "Terutama istrimu, kamu harus menjaganya dengan baik."
Azri waspada begitu Marleen menyinggung keselamatan istrinya. "Apa maksudmu sebenarnya? Aku tidak berniat menanggapi gurauanmu, Marleen. Sebaiknya kita sudahi pembicaraan ini." Ia tidak tahu apa tujuan Marleen mengatakan hal yang membuatnya cemas. Menjaga istrinya? Tanpa diberitahu pun itu sudah menjadi prioritasnya.
"Kamu harus percaya padaku." Marleen mencekal tangannya yang berniat pergi.
Azri hendak menarik tangannya, tetapi sorot mata penuh permohonan Marleen membuanya berhenti.
Apa yang membuatnya begitu serius?
Marleen tidak sengaja melihat Azri berbincang dengan Marleen, tetapi matanya terbelalak melihat gadis itu dengan nekad menggenggam tangan suaminya di aula ramai orang seperti ini. Apa gadis itu lupa bahwa dia akan menikah dengan orang lain? Apa yang diinginkan gadis itu di saat dia sudah mendapatkan putra mahkota dari GN Group?
"Kenapa kamu belum pergi juga?"
"Ayah," cicit Widya. Jantungnya berdebar kencang merespon aura mengancam yang dipancarkan Ayah mertuanya.
Pria itu tetap memperlihatkan sikap penuh wibawa, dengan perlahan berjalan mendekatinya. Dia berkata dengan suara pelan dan dalam, dipastikan hanya Widya yang mendengar suara itu.
"Keserakahan hanya akan membuatmu sakit. Kamu tidak bisa memonopoli Azri dan mendapatkan aset yang sudah ku janjikan padamu, bukan? Kamu harus memilih."
Iris mata Widya melebar dan jantungnya seperti jatuh. Tak perlu bertanya untuk tahu betapa tersinggungnya Mahendra karena Widya telah mengabaikan perjanjian mereka. Pria ini sedang menuntutnya agar menuruti kesepakatan. Sungguh pria yang tidak mau rugi. Mengingatkannya pada Azri. Oh, jelas, like father like son.
"Maaf Ayah, aku sudah berusaha tetapi Azri...." Bibirnya bergetar, Widya hendak melanjutkan tetapi Mahendra menyela.
"Itu bukan alasan, kamu mencintainya, karena itu kamu tidak bisa pergi."
Widya tidak bisa menjawab karena memang benar apa yang dikatakan pria itu. Matanya mulai berkaca-kaca mengetahui betapa perasaannya tidak dihargai.
__ADS_1
"Kamu harus pergi dengan aset itu. Harus." Mahendra berkata penuh penekanan. "Aku berharap itu terjadi secepatnya," tambahnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan Widya yang terpaku di tempatnya.
Bagaimana ini, apa yang harus ia lakukan?
***
"Marleen, apa yang kamu lakukan?"
Azri dengan wajah datar menarik tangannya setenang mungkin agar tidak menarik perhatian. Marleen yang sadar tindakannya salah segera menundukkan kepala. Azri mencium gelagat aneh Marleen. Gadis ini bertingkah tidak biasanya. Malam ini dia lebih terlihat ragu, takut, dan gelisah.
"Ada apa denganmu hari ini? Kamu terlihat berbeda."
"Kamu harus percaya padaku. Jaga istrimu baik-baik."
“Tentu saja, kamu tidak perlu memintaku. Ada apa sebenarnya?"
Marleen mengangkat kepala hingga mata mereka bertatapan, mulut gadis itu bergetar hendak mengucapkan sesuatu ketika Rendra tiba-tiba saja muncul dan memeluknya possessif.
"Sayang, ke mana saja kamu?" Pria itu mencium pipinya dan tersenyum pada Azri. "Oh, maaf. Apa aku boleh mengambil kembali tunanganku?"
Tentu saja, ambillah, batin Azri antusias. Namun, agar membuat segalanya sopan ia tersenyum diiringi anggukan sopan. "Of course, you can."
Azri melihat Marleen sempat tercengang ketika Rendra menariknya pergi dari hadapannya. Tingkah Marleen tidak memperlihatkan wanita yang akan menikah dengan pria yang dicintainya. Namun ia tidak peduli, toh itu bukan urusannya. Sekarang sudah saatnya ia kembali pada Widya.
Namun, ke mana perginya Widya? Ketika ia membalikkan badan istrinya sudah tidak ada di sana. la segera mencari sosok Widya ke seluruh penjuru aula. Di antara banyaknya orang dalam ruangan seluas itu, ia tidak menemukan Widya.
Astaga, ke mana perginya Widya?
Bersambung ....
__ADS_1