
Tidak tahan tidur sendirian di kamar yang di kelilingi banyak kenangan dengan Widya, Azri beranjak ke luar. Dengan kaki melangkah lunglai ia tiba di depan bar kecil untuk mengambil sebotol wine kesukaan nya. Ia berharap alkohol bisa membuat nya lupa pada kekacauan hati nya. Ia hendak menuangkan cairan kemerahan itu ke dalam sloki saat kata-kata Widya menggema.
"Azri El Pradipta, sudah ku katakan beberapa kali bahwa minuman beralkohol itu tidak baik untuk kesehatan. Cepat letakkan gelas nya!"
"Sayang!"
Azri menoleh cepat hampir mematah kan leher nya sendiri. Secepat itu pula senyum lebar nya lenyap saat ruangan kosong lah yang di tangkap indera penglihatan nya. Widya tidak ada di sana. Kenyataan itu membuat rasa sakit menjengit seperti tersengat listrik. Niat nya meneguk minuman itu menghilang. Ia meletakkan kembali botol wine di atas bar lalu berjalan ke dalam kamar yang dulu di tempati istri nya.
Kamar itu membuat tenggorokan nya tercekat. Ia duduk di tempat tidur berseprai merah muda yang terletak di tengah ruangan. Bau tubuh Widya tersisa di sana, menimbulkan kembali rasa rindu dalam diri Azri. Membuat nya semakin tak tertahankan. Mata nya mengerjap ketika ia menemukan secarik amplop cokelat di atas nakas. Tercetak logo resmi rumah sakit di sudut amplop itu.
Azri membuka nya tanpa berpikir dua kali. la menemukan sepucuk surat berisi laporan hasil pemeriksaan Widya di sana. Seketika tangan nya membekap mulut nya sendiri ketika mengetahui kertas itu berisi keterangan tentang kondisi kehamilan Widya.
Ya Tuhan, istri nya memang sedang mengandung. Laporan itu menyatakan bahwa anak nya tumbuh dengan sehat.
Kertas itu jatuh dari tangan Azri karena diri nya sudah tidak sanggup menahan rasa bersalah, rindu, dan sedih nya. Ia berteriak frustrasi. Namun, sekencang apa pun ia melakukan nya, tidak akan membuat Widya kembali. Istri nya telah pergi, membawa serta anak dan seluruh kebahagian nya.
***
"Benarkah, Widya Lovarza sudah meninggalkan suami nya?"
Lia tersenyum puas dalam kegelapan kamar nya yang mewah. Hati nya senang bukan main. Inilah berita yang ia tunggu-tunggu sejak dulu. Sekarang ia bisa melaksanakan rencana nya tanpa penghalang lagi. Menikahi Azri seharus nya terjadi sejak dulu, saat ia kembali dari rumah sakit setelah menjalani operasi jantung.
Dengan hati penuh dendam ia menemui CEO Pradipta Group, seseorang yang membuat Yuna--saudara kembar yang baru ditemui nya--meninggal dunia. Ia berhasil mengancam Mahendra dengan utang-utangnya pada GN Group. Ia tak mengira akan berhasil. Pria itu pasti merasa sangat bersalah dan bertanggung jawab. Selain itu, kecintaan nya pada perusahaan serta rasa tanggung jawab terhadap para pegawai nya membuat nya tak bisa merelakan riwayat Pradipta Group berakhir pada masa jabatan nya.
Lia ingin membuat pria paruh itu menyesal sudah mengancam Yuna. Terlebih, ia ingin menyiksa Azri yang dengan tega membiarkan Yuna mati dengan luka membekas di hatinya.
"Rencana ku akan berjalan sempurna."
Senyum licik menguar dari sudut bibir berwarna merah itu. Lia lalu menoleh pada sang pemberi informasi yang sejak tadi terdiam. "Kamu sependapat dengan ku bukan, Marleen?"
Marleen tak menampakkan emosi apa pun dari raut wajah nya. "Menurut mu keuntungan apa yang akan kamu dapatkan setelah semua ini terlaksana? Menikahi Azri lalu membuat nya menderita. Apa menurut mu itu akan membuat saudari mu bahagia di alam sana?"
"Setidak nya dia akan tenang melihat orang-orang penyebab kematian nya menderita."
"Aku tidak berpikir seperti itu.“
Lia mendelik tajam, membuat gadis yang akan menjadi kakak ipar nya itu semakin berani melawan nya. "Yuna mencintai Azri dan aku yakin dia tidak akan tega membuat orang yang di cintai nya menderita. Karena itu jika kamu menyiksa Azri dan keluarga nya, kamu tidak akan mendapatkan apa pun. Kamu hanya akan puas, tetapi tidak merasa bahagia. Kamu justru akan merasa marah dan--"
"DIAM!"
Suara teriakan Lia menggelegera ke seluruh penjuru ruangan itu. Gadis itu bangkit dengan segenap kemarahan nya.
__ADS_1
"Kamu tidak tahu apa pun. Aku sudah membaca surat yang ditinggalkan nya untukku. Dari tulisan nya tergambar jelas betapa menderita nya Yuna karena Azri, ditambah ancaman ayah nya. Dia berkata seandai nya ia memiliki hidup kedua, ia ingin membalaskan dendam nya pada Azri. Tetapi ia justru mati dan mendonorkan jantung nya pada ku.“ Lia lalu menangis memegang dada nya sendiri.
Yuna tidak mati dalam kecelakaan itu. Dia ditemukan terapung di atas potongan kayu oleh nelayan yang akan menjaring ikan dalam kondisi kritis. Rumah sakit kesulitan menemukan keluarga nya karena tidak ada kartu identitas atau apa pun yang bisa dijadikan petunjuk.
Lia saat itu kebetulan sedang menjalani pengobatan terkejut melihat seseorang memiliki wajah sama dengan nya. Ia yakin gadis itu adalah saudara yang lama ia cari. la menyuruh orang menyelidiki tentang gadis itu dan terkuaklah semua nya. Kembaran nya yang dia memang saudara sudah lama menghilang. Ia memutuskan untuk dirawat inap di rumah sakit yang sama.
Ketika Yuna sadar, ia menceritakan semuanya. Yuna hanya tersenyum dan mengatakan bahwa ia bahagia mengetahui masih memiliki keluarga. Perlahan-lahan mereka mulai akrab dan saling berbagi cerita. Namun, ketika Yuna tahu Lia menderita penyakit jantung, senyum gadis itu lenyap. Kondisi Yuna lalu kembali menurun secara mendadak. Ini aneh, Lia merasa diri nya yang menderita penyakit parah lalu kenapa Yuna yang merasakan sakit nya?
Lalu malam itu Yuna mengatakan sesuatu pada nya.
"Kita memang baru saja bertemu. Tetapi aku tidak pernah merasa sebahagia ini. Ini berbeda seperti aku jatuh cinta. Terima kasih sudah memberi ku senyum yang lain. Aku mungkin sudah menyerah dengan hidup ini jika kamu tidak hadir. Hidup ini begitu kejam."
Lia mengerjap. “Kamu ini bicara apa. Aku jamin hidup mu akan lebih baik setelah kita keluar dari rumah sakit nanti, jika aku sembuh. Tetapi seperti yang kamu tahu penyakit jantung ku semakin parah. Aku harus mendapatkan donor jika tidak, aku mungkin akan mati."
"Kamu tidak boleh mati. Ayah mu akan sedih jika kamu mati. Baiklah, bagaimana jika kamu saja yang hidup dan aku saja yang mati?"
"Hei, Yuna!"
"Aku bercanda. Jika Tuhan memang memberi mu kesempatan untuk melanjutkan hidup sementara Dia memanggil ku ke sisi-Nya, maukah kamu menerima donor jantung dari ku?"
"Yuna, kata-kata mu tidak lucu sama sekali!
"Yuna, ku mohon--"
"Lia, aku sudah pernah merasakan bagaimana indahnya hidup ini. Merasakan cinta dari seorang pria, mencintai pria itu. Meskipun harus berakhir menyakitkan tetapi aku tidak menyesali nya. Karena itu meskipun aku mati saat ini, aku tidak akan menyesal."
"Apa yang kamu maksud adalah cinta mu dengan pria bernama Azri?"
"Iya. Aku yakin jika kamu bertemu dengan nya kamu akan merasakan hal yang sama."
"Aku tidak mau mencintai jika pada akhir nya aku akan sakit hati."
"Hei, seperti itulah cinta."
"Indah?"
"Ya."
"Menyenangkan?"
"Pasti, kamu harus bertemu pria seperti itu sekali seumur hidup mu."
__ADS_1
"Jadi kamu menyuruh ku menemui Azri?"
"Bukan, aku menyuruh mu jatuh cinta."
"Pada Azri?"
"Siapa pun."
Itulah percakapan terakhir yang dilakukan nya bersama Yuna karena keesokan hari nya, Yuna meninggal dunia. Di bawah bantal nya di temukan surat yang di tujukan untuk nya. Surat yang membuat Lia membenci Azri El Pradipta dan keluarga nya sampai mati. Meskipun awalnya ia menolak donor jantung dari Yuna, pada akhir nya ia menerima nya karena ia merasa diri nya harus hidup untuk membalaskan dendam Yuna. Apa yang di derita Yuna harus di derita Azri dan ayah nya.
Sekarang Lia kembali merasakan sakit yang menjengit itu lagi walau pun kejadian nya sudah lama berlalu, ketidakadilan yang di terima Yuna pasti akan ia kembalikan dua kali lipat.
"Yuna mati karena Azri dan ayah nya. Setelah aku sehat dan kembali, aku datang untuk membalaskan dendam ku. Ayah ku mengatakan bahwa Pradipta Group memiliki utang yang besar maka aku menggunakan nya. karena itu sebelum aku menemui Azri aku menyuruh mu mendekati pria itu untuk mengetahui bagaimana perasaan nya setelah kehilangan Yuna. Tetapi kamu--" Lia menggeram sementara Marleen memalingkan wajah.
"Aku bisa memahami perasaan Yuna. Sulit sekali untuk tidak jatuh cinta pada Azri."
Marleen mengenang kembali saat-saat menyenangkan bersama Azri. Pria itu baik, perhatian, dan menyenangkan. Meksipun Marleen tahu Azri hanya menganggap nya sebagai teman kencan biasa, tak masalah karena ia mencintai pria itu. Jatuh cinta pada nya seperti orang bodoh.
"Diam lah karena sekarang kamu harus mencintai kakak ku!"
Marleen melotot tajam. "Jika bukan karena ayah mu yang membantu pengobatan ibu ku aku tidak akan pernah mau menikah dengan kakak mu!"
“Oh, seharusnya kamu bersyukur. Kakak ku jatuh cinta pada mu dan bersedia menikahi wanita yang sudah jelas mencintai pria lain. Berterima kasih lah atas semua kebaikan yang sudah di lakukan keluarga ku terhadap keluarga mu."
Tak di ragukan lagi, Lia memang wanita dengan lidah berbisa seperti ular. Marleen merasakan sakit nya bisa itu mengaliri seluruh pembuluh darah nya. Ia menggeram. "Baik, keluarga ku memang terancam bangkrut jika tidak di tolong oleh suntikan dana dari keluarga mu. Tapi haruskah kamu merendahkan ku seperti itu? Kamu sadar dampak sebesar apa yang akan kamu terima ketika kamu gagal melaksanakan semua rencana busuk mu itu?"
"Berhenti menceramahi ku. Berani nya kamu menuduh ku seperti itu. Kamu memang wanita murahan. Sekali wanita rendah tetap wanita rendah. Sudah berapa pria yang tidur dengan mu selain Azri dan kakak ku? Apa teman-teman Azri juga termasuk? Oh, Marleen yang hebat, menjual diri nya untuk uang. Kamu bahkan mau menurutiku karena aku membayar mu, bukan."
Lia tertawa puas melihat wajah Marleen merah menahan amarah. Gadis di depan nya itu seperti siap membunuh nya kapan saja, tetapi Lia tidak takut karena Marleen tidak akan berani melakukan nya.
"Aku bersumpah, balasan yang kamu terima akan lebih menyakitkan di bandingkan apa yang aku rasakan saat ini," ujar Marleen berusaha menekan kemarahan nya sedalam mungkin. la mengangkat dagu nya untuk menegaskan perlawanan.
"Kamu akan jatuh cinta pada Azri. Aku yakin itu dan jika saat itu terjadi, maka rasakan betapa pedih nya patah hati itu karena Azri tidak akan pernah menerima cinta mu."
Lia menyeringai. "Sayang nya dia akan menerima ku, pasti, kami akan menikah dan aku akan membuat nya jatuh cinta pada ku,” balas nya penuh percaya diri.
"Tidak mungkin terjadi." Marleen berkata penuh kemenangan. Bibir nya tersenyum puas. “Kamu tahu kenapa? Karena Azri sudah memberikan hati dan jiwa nya pada Widya."
Setelah mengatakan itu Marleen berbalik pergi meninggalkan Lia yang terperangah. Namun, sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan itu, ia berkata kembali. "Aku tahu bagaimana sakit nya, karena aku pun merasakan hal itu ketika Azri mencampakkan ku demi gadis itu."
Bersambung ....
__ADS_1