
Apartement terasa begitu sepi ketika Widya kembali. Malam sudah sangat larut dan ia tidak melihat tanda-tanda kehidupan di sana. Mungkinkah Azri sudah tidur? Teman-teman Ryan berkata bahwa Azri mencari-cari nya, tetapi ia ragu sekarang Azri masih berkeliaran di luar sana karena itu ia menuju kamar suami nya untuk mengetahui jawaban nya.
Widya membuka pintu kamar Azri dan ia terkesiap karena yang menyambut nya adalah udara kosong. Azri tidak ada di sana. Tunggu, tidak mungkin Azri masih mencari-cari nya di malam selarut ini. Ia berjalan menuju kamar nya sambil mencoba menelepon untuk mencaritahu keberadaan nya. Sebelum telepon nya tersambung, langkah nya terhenti saat mata nya terpaku pada meja makan yang penuh dengan piring berisi makanan.
Hati Widya mencelos jatuh melihat nya. Bahu nya melemas dan tangan nya jatuh terkulai di kedua sisi tubuh nya. Ia bahkan mengabaikan nada tunggu yang terus menggaung dari ponsel nya. Ia terlalu terpaku pada piring-piring yang tertata rapi di atas meja makan. Kaki nya perlahan menjalan mendekati meja.
Tak perlu waktu lama untuk tahu bahwa itu adalah masakan hasil tangan pintar Azri dan semua nya bukanlah masakan asal jadi. Azri pasti membuat nya dengan sepenuh hati. Widya bisa merasakan ketulusan nya dari cara pria itu menata piring-piring di sana.
Widya jatuh terduduk di salah satu kursi dengan air mata yang kembali membanjiri pipi nya.
"Kenapa kamu melakukan ini?" lirih nya perih. Pandangan nya mengabur saat melihat semua masakan itu. "Seharus nya kamu tidak perlu menaruh perhatian pada ku. Untuk apa kamu membuat semua ini? Kamu membuat ku merasa semakin bersalah."
Perhatian kecil Azri ini membuat Widya teringat pada pernyataan cinta suami nya siang tadi. Sesuatu yang membuat nya senang sekaligus sakit. Azri sangat tulus saat mengatakan nya. Fakta itu justru yang membuat nya merasa kian terpuruk.
Seharus nya ia mengartikan itu sebagai salah satu usaha Azri untuk mematahkan hati nya hingga hancur berkeping-keping. Oh tunggu, memang Azri sudah mematahkan hati nya dengan kata-kata itu. Terbukti dengan sekarang hati nya yang terasa begitu perih sekaligus sakit.
Terlepas dari niat Azri menghancurkan hati nya atau tidak, Widya tahu yang membuat hati nya sepedih ini adalah rasa tidak ingin kehilangan Azri. Ia tidak mau berpisah dengan pria itu karena ia sangat mencintai nya. Mahendra benar, seharus nya ia tidak menggunakan perasaan nya dalam tugas ini.
Widya sedang berbaring di ranjang nya dengan kaca mata bertengger di hidung. la sudah lelah menangis. Ia memutuskan untuk melupakan sejenak tentang Yuna dan perjanjian itu. Sekarang yang lebih di cemaskan nya adalah keberadaan Azri. la baru sadar Azri tidak membawa ponsel nya saat menemukan benda itu tergeletak di atas sofa.
"Apa yang dilakukan nya sekarang? Seharus nya dia tidak perlu mencari ku. Aku kan tidak kabur atau semacam nya." Bukan, tetapi belum. Widya memijat dahi nya yang terasa begitu pening.
Terdengar suara pintu berderit terbuka dan sebuah suara yang dikenali nya menggaung kemudian.
"Widya Lovarza."
Tubuh Widya menegang saat sadar itu adalah suara dari orang yang membuat nya pusing, tetapi amat dirindukan nya, suami nya.
"Azri," desis nya mengangkat sedikit kepala untuk bisa melihat Azri.
Widya berniat bangkit, tetapi terlambat, sekujur tubuh nya seperti tertimpa benda berat. Jeritan tertahan keluar dari celah bibir nya. Saat ia membuka mata perlahan, ia mengerjap melihat wajah Azri tepat di atas wajah nya dengan posisi tubuh yang menindih nya.
"Apa yang kamu lakukan di atasku? Bangunlah!"
Widya mencoba mendorong tubuh Azri di atas nya, kekhawatiran serta kesedihan yang di rasakan nya tadi lenyap digantikan dengan kaget dan tercengang. Ia tidak bisa membiarkan Azri memandang nya terlalu dekat seperti ini. Bisa gawat jika Azri tahu ia habis menangis.
Usaha nya tidak membuahkan hasil, Widya sama saja seperti sedang mencoba menggeser batu besar dengan tangan kosong.
__ADS_1
Azri sebenar nya tidak berniat sama sekali melakukan ini. Tubuh nya lelah sekali setelah gagal menemukan istri nya di mana pun. Ia sudah membuat rencana akan melaporkan hal ini pada polisi ketika ia kembali tanpa hasil. Namun, ketika ia mengecek ke kamar Widya, betapa lega nya ia saat mendapati istri nya itu sedang berbaring di ranjang nya.
Gadis itu, setelah membuat ku cemas setengah mati dan kalang kabut mencarinya, dia bisa tidur nyaman di sana tanpa mengkhawatirkan ku? batin nya.
Azri tidak berpikir dua kali lagi. Dalam satu gerakan cepat, ia sudah melompat ke atas tempat tidur untuk memeluk nya erat. Ia tidak bermaksud membuat Widya panik sama sekali. Gadis ini tidak tahu bahwa ia hampir saja mati ketakutan karena lenyap tanpa kabar. Sekarang ia begitu lega setelah tangan nya melingkari tubuh Widya.
Ini nyata, batin nya. Widya Lovarza belum meninggalkan ku karena aku masih bisa merasakan detak jantung nya dan mencium aroma tubuh nya.
"Kamu ke mana saja?" tanya Azri rendah, merasa lega. Kepala nya tidak mau beranjak dari leher Widya, terkadang mengecup nya sesekali.
"Aku hanya pergi mencari udara segar," ujar Widya susah payah. Apa Azri tidak sadar bahwa tindakan nya itu membuat nya kesulitan bernapas?
"Kenapa kamu tidak mengajak ku? Aku mencemaskan mu karena tidak kunjung tiba bahkan setelah aku menyiapkan makan malam romantis. Aku kira kamu mencoba kabur dari ku."
Kini Azri memaksakan diri mengangkat kepala nya agar bisa bertatap muka dengan Widya.
Wajah ini, batin nya, dengan mata menyusuri setiap senti wajah Widya. Ia bersyukur karena masih bisa memandang wajah ini.
"Kamu tidak tahu aku mencari-cari mu, Nyonya Pradipta?”
Widya merasakan pipi nya memanas. Dalam hati ia mengerang karena lagi-lagi Azri berhasil membuat nya jatuh hati. Sungguh, tatapan Azri malam ini begitu tulus dan Widya bisa merasakan kasih sayang dari cara Azri menatap nya.
Azri begitu hati-hati mencium nya malam ini. Tak bisa dipungkiri Widya bahagia dengan setiap cara Azri me**umbu nya karena hanya dengan beginilah ia melupakan rasa kalut nya akan perjanjian dengan Mahendra maupun masalah Yuna.
Widya merasa sedikit kehilangan ketika Azri menjauhkan kepala nya. Pria itu menatap nya menyelidik kali ini. Seolah ingin mencari tahu kesalahan apa yang sudah diperbuat nya. Benar, Azri bisa menemukan nya karena kata-kata yang keluar dari mulut nya mengkonfirmasi segala kecemasan Widya.
"Berapa lama kamu menangis?"
Azri bahkan tidak bertanya 'Apa kamu menangis? namun langsung menanyakan berapa lama ia menangis.
"Aku tidak menangis." Widya merasa tolol sekali berniat mengelabui Azri. Mata sembab yang gagal disembunyikan dengan kacamata menjadi bukti nyata.
Azri langsung menyipitkan mata. Ekpsresi muka nya semakin menyeramkan bagi Widya.
"Jika kamu berbohong lagi aku akan membuka semua pakaian mu sekarang dan tidur dengan mu!" ancam nya membuat Widya terbelalak
Bisakah dia tidak mengancam ku dengan hal sevulgar itu? teriak Widya dalam hati. Lagipula ia tidak berniat menceritakan pada nya bahwa ia menangis karena tertekan oleh surat kontrak dan kisah cinta Azri bersama gadis bernama Yuna.
__ADS_1
Sadar Widya tidak menghiraukan ancaman nya, Azri melembutkan ekspresi nya. Kini ia menatap Widya sendu.
Widya bisa melihat perasaan bersalah dengan jelas dari sorot mata Azri. Oh Tuhan, apa yang ku lakukan pada Azri? Aku tidak bermaksud mengukir ekspresi itu di wajah nya, batin nya.
"Aku tahu dari kakek kalau kamu menangis. Aku memang tidak tahu alasannya tapi bisakah kamu tidak menangis diam-diam di belakang ku? Aku merasa sangat bersalah jika kamu melakukan nya."
Apa yang dikatakan nya? Jadi dia tahu aku ke rumah kakek hari ini? batin nya.
"Jika kamu merasa keberatan akan sesuatu, katakanlah. Aku berjanji akan berubah. Jika aku sudah melakukan kesalahan padamu, jangan ragu memberitahu ku. Aku berjanji tidak akan mengulangi nya lagi," tambah Azri dengan suara pelan, tetapi dalam.
Kamu tidak tahu. Aku menangis bukan karena apa yang sudah kamu lakukan terhadap ku, tetapi apa yang akan ku lakukan terhadap mu, batin nya. Namun, tidak ada satu pun yang terucap. Widya hanya menatap Azri dengan bola mata yang bergerak gelisah.
"Aku menangis bukan karena diri mu, sungguh," jelas Widya pelan berharap Azri bisa merasakan kesungguhan nya.
"Lalu kenapa?"
Widya tersenyum. "Aku hanya sedang sensitif. Aku hanya sedang merindukan orang tua ku. Karena itu aku datang mengunjungi kakek."
Azri tahu Widya sedang berbohong karena ia tahu dengan jelas alasan nya bukan itu. Namun, ia tidak akan mencurigai atau pun berpikiran yang tidak-tidak saat ini. Ia yakin Widya hanya belum siap menceritakan masalah apa pun yang membuat nya menangis hari ini. la pun mengangguk dengan senyum menghias bibir nya.
"Aku percaya pada mu."
Widya mendesah lega dalam hati. Syukurlah kali ini Azri tidak bertingkah seperti detektif dalam novel karya Conan Doyle yang pernah dibaca nya. Sekarang ia merasa kesulitan bernapas karena sejak tadi Azri tidak mau beranjak dari atas tubuh nya.
"Bisakah kamu bangun?" pinta Widya lagi. Posisi mereka agak memalukan untuk mengobrol.
"Hmm ... pilihan sulit," gumam Azri. Ia juga baru sadar posisi nya begitu menguntungkan sejak tadi. Pandangan nya kini jatuh ke leher Widya yang jenjang dan putih, menggoda diri nya untuk mengecup daerah itu.
Widya yang sadar Azri mulai menatap liar diri nya, dengan cekatan mendorong tubuh Azri, tetapi pria itu lebih cepat menyambar tangan nya. Ia tahu, saat Azri mengeluarkan smirk evil-nya seperti sekarang ia tidak bisa memiliki jalan untuk kabur.
"Kita belum selesai."
Sebelum Widya menyadari apa yang akan terjadi, ia sudah terjebak di bawah dekapan pria itu. Bibir Azri mencicipi bibir nya dengan ci**an lembut yang sukses membuyarkan akal sehat. Ia berusaha mengimbangi cara be**iuman Azri yang selalu menuntut pasangan nya agar tidak pasif, Azri ingin Widya membalas nya. Mereka bercumbu cukup lama hingga napas kedua nya semakin menipis.
Tangan Azri yang lihai bahkan telah melepaskan setidak nya empat kancing paling atas piyama yang dipakai Widya. Napas nya tercekat.
Oh, apa yang akan dilakukan Azri kali ini? Apakah dia akan mengajak ku tidur kembali? batin Widya. Ia tidak memberontak karena diri nya telah kalah pada hasrat nya sendiri. la ingin memiliki Azri meski hanya sementara.
__ADS_1
Bersambung .....