
Teman-teman Azri satu persatu datang. Jhors, Ki Bum, Bobby, dan yang terakhir Ryan. Mereka semua berada di sana untuk mencemaskan Azri. Ia tidak bisa berdiam diri saja. Ia juga harus ada di sana. Ia hampir saja menampakkan diri ketika ia melihat Lia bergegas ke depan ruang IGD itu. Langkahnya seketika terhenti.
"Bagaimana keadaan Azri?" tanyanya dengan airmata merebak. "Dia akan baik-baik saja, bukan? Katakan padaku!" Dia mengguncang lengan Bobby yang kebingungan.
Widya mencengkeram ujung bajunya. Ia menyesal karena kemunculan Lia mencegahnya berada di sana.
Operasi memakan waktu yang sangat lama. Orang-orang yang menunggu di luar mulai kelelahan. Widya tak beranjak sedikit pun di tempatnya berada. Duduk di sudut yang tak akan terlihat oleh orang yang tidak memperhatikan. la bermunajat pada Tuhan, mengharapkan segala yang terbaik untuk pria tercintanya.
Selagi diam menunggu, ia melamun. Bayang-bayang kebersamaannya dengan Azri kembali berputar di retina matanya. Begitu jelas dan membahagiakan. Saat mereka bertengkar, tertawa, saling memeluk saat tidur, dan senyumnya tak bisa disembunyikan lagi ketika ia mengingat kenangan bagaimana indahnya pria itu bila tersenyum.
Oh Tuhan, jangan sampai senyum itu hilang. Azri bagaimana pun harus tetap hidup. Masih banyak yang harus ia perjuangkan. Masih banyak masalah yang belum selesai. Tidak boleh berakhir seperti ini.
Masa penantian yang menyesakkan napas itu berakhir begitu lampu merah ruang operasi padam. Semua orang berkumpul menunggu dokter keluar. Widya merangkak bangkit dan mengintip saat ia mendengar suara kasak-kusuk penuh semangat.
Bibi Swari tergesa-gesa mendekati dokter itu, "Bagaimana keadaan keponakanku?”
Dokter menghembuskan napas berat, terlihat kesulitan untuk menjawab pertanyaan sederhana Bibi Swari "Masa kritisnya sudah lewat. Pasien mengalami beberapa luka di bagian bahu dan pinggul. Tetapi untuk saat ini kondisinya baik-baik saja."
Semua orang mendesah lega. Begitu pun Widya. "Tidak ada luka dalam yang terjadi bukan?" tanya Ryan cemas.
Dokter itu menggeleng.
"Apa dia akan cepat siuman?"
"Kami tidak bisa memastikannya. Operasi ini tidak menjamin kondisi mental pasien. Pasien bisa saja mengalami syok yang membuatnya lama untuk tersadar. Kita hanya bisa berharap untuk yang terbaik."
Detik-detik sebelum kecelakaan nahas itu terjadi, terulang kembali laksana film yang sedang diputarbalikkan. Azri ingat dengan jelas bagaimana ia menangis melihat Widya tersenyum meskipun itu hanya sekelebaat bayangan. Ia merasa sangat diberkati bisa menyaksikan kembali senyum indah itu. kemudian muncul bayangan Lia Fernandez. Gadis berparas sama dengan Yuna itu mencoba memengaruhi pikirannya.
Menikahlah denganku, aku janjikan kejayaan Pradipta Group padamu.
Azri sempat terlena dengan tawaran itu. Mungkin itu jalan keluar satu-satunya untuk masalah yang sedang ia hadapi. Lalu muncul kembali sosok Widya yang berdiri menggandeng seorang anak laki-laki melambaikan tangan padanya. Azri bimbang. Ia berada di persimpangan yang tak memberikannya waktu untuk memilih. Ketika ia memutuskan untuk menghampiri istri dan anaknya, sosok mereka lenyap. Sekujur tubuhnya langsung membeku. Ia tercengang.
Tidak ada pilihan lain, menikahlah denganku. Jika kamu memilih istrimu, maka kamu akan tamat.
Suara Lia bak bisikan setan yang membuat Telinganya berdengung sakit. Azri berteriak, ia tidak mau. Ia tidak bisa memilih pilihan itu.
Baik, jika itu satu-satunya pilihanku untuk bertahan hidup, maka aku lebih memilih mati.
Tangannya bekerja tanpa sadar, membanting kemudinya ke kanan sehingga mobilnya menabrak mobil di jalur lain lalu terpelanting keluar badan jalan. Tubuhnya membentur sana-sini. Rasa sakit menyerang sekujur tubuhnya dan ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir di pelipisnya. Darah, seluruh tubuhnya berdarah. Sebelum mobil itu tertahan oleh tiang listrik dan berhenti seutuhnya, ia sudah tak sadarkan diri.
Apakah aku sudah mati?
Itulah pertanyaan pertama yang Azri pikirkan ketika ia berdiri di tengah padang rumput yang hijau cemerlang. Tak ada bangunan sejauh mata memandang. Hanya cakrawala biru dengan awan berarak ketika ia mendongak menatap langit. Angin sepoi-sepoi menyebarkan wangi bunga musim semi ketika ia menghirup udaranya.
Apa tidak ada orang lain di sini? Azri berjalan dan terus berjalan. Setiap kali ia berhenti melangkah karena sekelebat memori terproyeksikan dengan jelas di depan matanya, seperti sedang menonton film di bioskop.
Kenangan saat ia pertama kali berangkat ke sekolah, saat ia belajar mengendarai sepeda motor di usianya yang ke 13, saat pertama kali ia bertengkar hebat dengan ayahnya, saat ibunya meninggal dunia, pertemuannya dengan Yuna, dan yang terakhir yang membuatnya tertegun begitu lama adalah memori saat ia pertama kali bertemu dengan Widya Lovarza. Gadis itu jatuh di depannya, dengan berani berkata dia datang untuk menghancurkan hidupnya.
Azri tersenyum dengan air mata mengalir. la heran mengapa dulu ia sangat ingin membuat gadis ini sengsara karena saat ini yang paling ia inginkan justru membahagiakannya. Tuhan, aku sangat mencintainya.
"Dia sangat cantik, Nak."
Azri menoleh, terkejut ketika sadar di sampingnya kini berdiri sosok mendiang ibunya. Terlihat cantik dan muda dalam balutan gaun putih. Pandangan ibunya fokus menatap kenangan Azri tentang Widya di depannya.
"Benar. Dia istriku. Bukankah aku sudah pernah mengenalkannya pada Ibu?" ujar Azri mengingat kenangan ketika ia mengajak Widya mengunjungi makam ibunya.
__ADS_1
"Apa kamu bahagia hidup bersamanya?"
"Tak ada yang membahagiakanku lagi selain kenyataan itu."
"Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga," sahut sosok ibunya pelan. "Apa kamu sanggup meninggalkannya saat ini?"
Azri tak mengalihkan pandangannya sedetik pun. "Tidak. Meskipun aku sudah lelah hidup, aku sadar aku tidak bisa meninggalkannya sendirian di dunia ini.“
"Oh, Nak kamu bahkan tidak berada di dunianya saat ini."
"Aku tahu. Aku mungkin sudah mati." Azri menatap dirinya sendiri lalu ibunya. “Jika tidak, bagaimana bisa aku bertemu denganmu."
Ibunya tersenyum, "Apa keinginan terbesarmu saat ini?"
Azri terdiam, mengalihkan pandangannya pada bayangan Widya. Air mata tiba-tiba mengalir di sudut matanya. "Aku sangat ingin bertemu dengan Widya."
Siapa pun tidak ada yang melihat ada air mata yang mengalir dari celah kelopak mata pria yang tertidur di ruang ICU itu. Mesin pendeteksi detak jantung masih menunjukkan garis-garis naik turun tak beraturan. Berbagai alat penunjang kehidupan tertempel di tubuh pria itu. Ia tampak begitu damai, begitu tenang seperti seseorang yang ingin beristirahat dari carut marut dunia.
Pintu menderit membuka, Widya masuk dengan langkah pelan memakai masker dan baju rumah sakit yang disediakan khusus untuk kerabat yang ingin menjenguk pasien ruang ICU. Tadi ia melihat Bibi Swari tertidur di ruang tunggu. Sekarang tengah malam. Tidak akan ada suster atau siapa pun yang akan mencegahnya menemui Azri.
Widya duduk di kursi samping tempat tidur. Menatap sedih Azri yang tak sadarkan diri. Kepalanya dililit perban dan wajahnya dipenuhi oleh luka lebam dan memar. Bahkan untuk bernapas pun Azri memerlukan alat bantu pernapasan. Widya harus mengigit bibirnya sendiri agar tangisannya tak terdengar.
Suaminya, pria yang ia kenal begitu kuat, tegar, dan tak takut apa pun kini berbaring tak berdaya dengan luka di sekujur tubuhnya. Wanita mana yang tetap bertahan melihat prianya seperti ini?
Dengan berderai air mata, Widya menggenggam tangan suaminya. Ia sadar seerat apa pun ia memegangnya, sekeras apa pun ia menangis, pria itu tidak akan langsung bangun untuk memeluknya. Suaminya sedang tertidur pulas. Tuhan memberinya waktu istirahat setelah begitu banyak ujian yang dilewatinya.
"Azri." Widya menyentuhkan ujung jarinya dengan hati-hati pada pipi Azri. "Kamu tahu apa aturan saat kamu memutuskan untuk tidur?"
Sekuat tenaga Widya menahan isak tangisnya. "Jangan pernah lupa untuk terbangun.”
Pria itu bahkan tidak merespon. Tidak adanya reaksi dari pria itu membuat tenggorokan Widya tercekat kenapa hal ini menimpa Azri? Begitu banyak penderitaan yang sudah pria ini alami, mengapa harus ditambah kecelakaan ini juga?
"Apa yang akan terjadi padaku seandainya senyum pria ini tak bisa kulihat lagi?“ gumamnya serak.
Pandangannya mengabur kembali. Meskipun Widya tahu ini takdir yang harus Azri lalui, tetapi ia tetap menyalahkan orang-orang yang membuat suaminya mengalami semua ini.
Lia lah penyebabnya.
Semua ini adalah kesalahan Lia. Bisikan itu menggema dengan jelas di telinganya. Widya mengangkat kepala. Ya, semua yang terjadi disebabkan gadis busuk itu. Dia yang sudah mengusik hidup tenang Azri. Mengingat namanya saja hatinya sudah bergemuruh.
Tiba-tiba hati Widya dipenuhi dendam yang membuatnya menuntut darah. Meski ia tidak bisa membunuhnya, setidaknya gadis itu harus merasakan separuh penderitaan Azri dan dirinya. Widya bangkit.
"Lia, bukankah sudah kuperingatkan untuk tidak melukai suamiku?" bisiknya pelan dan tajam. "Akan kubuat kau menyesal sudah membuat Azri seperti ini."
Widya membungkukkan tubuhnya untuk mencium ringan kening Azri.
"Jangan khawatir. Kamu tidurlah dengan tenang di sini, karena itu biarkan aku yang berjuang untukmu."
Dipenuhi tekad untuk menuntut balas, Widya melangkah pergi meninggalkan ruangan Azri. Otaknya sudah dipenuhi cara untuk memberi Lia pelajaran. Ia akan membuat gadis itu mati perlahan-lahan, tersayat-sayat oleh kesakitan yang seribu kali lebih menyengat dibandingkan yang dirasakan oleh dirinya dan juga Azri.
***
Widya benar, Lia memang menyesali perbuatannya. Sejak kecelakaan itu hingga dua minggu terlewat, gadis itu duduk melamun di ruang kantornya. Ia telah mendapatkan kabar dari rumah sakit bahwa kondisi Azri tetap sama hingga saat ini.
"Apa yang harus kulakukan!"
__ADS_1
Lia mengerang penuh penyesalan. Hingga saat ini ia masih tidak percaya dengan kecelakaan yang dialami Azri. Pria itu lebih memilih mati dibandingkan menikah dengannya. Kenyataan yang membuat sekujur tubuhnya gemetaran. Ia tidak bisa bekerja dengan benar.
Semua proyek yang ditanganinya berantakan. Semuanya karena ia merasa hancur. kejadian naas yang dialami Azri membuat pola hidupnya kacau balau.
"Apa aku seburuk itu? Apa aku benar-benar mengerikan?" Lia memeluk dirinya sendiri.
Apa ini yang dirasakan Yuna saat mengetahui dirinya tidak akan bisa bersama dengan Azri? Kenapa, kenapa ia juga harus merasakan penderitaan yang sama? Apa karena jantung Yuna berdetak di tubuhnya? Atau perasaan cinta yang dialaminya adalah perasaan cinta milik Yuna?
"Apa kamu senang?"
Lia mendongakkan kepalanya. Bibirnya meringis melihat Widya Lovarza berdiri di depannya. Raut dingin dan sikap penuh percaya dirinya membuat Lia menegang.
"Seingatku, aku pernah menyuruhmu pergi meninggalkan negara ini. Lalu apa yang kamu lakukan di sini? Bagaimana bisa kamu melewati keamanan gedung ini?"
"Aku memakai ini."
Widya menunjukkan free pass yang dulu pernah Lia berikan pada Azri agar bebas keluar masuk kantor pusat GN Group tanpa harus melewati bagian keamanan.
Lia langsung mencibir, “Ah, aku lupa kamu masih istri Azri. Baiklah, sekarang katakan padaku apa maumu. Jika kamu ingin aku membebaskan semua utang-ulang Pradipta Group, kamu menemui orang yang salah. Kamu bisa memintanya pada ayahku."
"Tidak, kamu keliru," bantah Widya dingin. Tanpa disuruh ia menduduki salah satu sofa set di ruangan itu. "Aku hanya ingin melunasi janjiku."
"Janji? Ah." Lia menepukkan tangannya. "Jadi kamu datang untuk membunuhku? Dengan apa, aku yakin kamu melewati alat pendeteksi logam di pintu depan. Apa kamu bermaksud membunuhku dengan tangan kosong? Maaf karena ruanganku diawasi CCTV yang dipantau 24 jam penuh sehingga kamu akan langsung ditangkap sebelum membuatku mati. Ya, jika kamu ingin mencekikku dengan tangan kosong."
Widya tersenyum. "Bagaimana dengan racun? Aku pura-pura membantumu menghidangkan kopi sementara aku memasukkan racun yang akan kauminum tanpa sadar," sahutnya penuh percaya diri.
Wajah Lia mengeras, "Kalau begitu aku tidak akan memberimu minum."
Ekspresi Widya tidak terpengaruh gurauannya. Gadis ini rupanya sudah bertekad untuk membunuhku, Sialan.
"Sebelum aku membunuhmu." Widya bangkit. "Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan padamu."
"Apa jika jawabanku memuaskan kamu akan pergi?" Lia yang merasa terancam berkata dengan nada sengit.
Widya tidak mendengarkan. Ia dengan tenang berjalan mendekati Lia.
"Pertama, mengapa kamu ingin sekali membalaskan dendam Yuna pada keluarga Pradipta? Apa kamu pikir itu adalah tugasmu?"
"Mereka pantas mendapatkan pelajaran karena sudah membuat Yuna menderita menjelang kematiannya," jawab Lia tergagap.
"Kedua, mengapa kamu yakin sekali Yuna menderita di akhir hidupnya sampai dia ingin kamu membalaskan dendamnya?" Widya terus maju mendesaknya.
Lia mundur. Punggungnya lalu menabrak tembok. "Itu tertulis dengan jelas dalam surat terakhir yang Yuna tinggalkan untukku! Jika kamu tidak percaya aku bisa memperlihatkannya padamu."
Lia membuka laci meja kerjanya, mengacak-acak dengan gerakan menggila dan setelah menemukannya ia memperlihatkannya pada Widya.
"Lihat, kamu percaya padaku, bukan? Mereka memang kejam, keluarga yang sungguh mengerikan. Yang mereka bisa hanya menindas orang-orang lemah."
"Ketiga, bagaimana bisa kamu yakin ini adalah surat yang ditulis Yuna? Bagaimana jika ini adalah surat palsu?"
Lia tertawa, "Mustahil, Yuna tidak mungkin menipuku. Dia bukan tipikal orang yang akan bermain-main dengan orang lain."
"Baiklah, lalu pertanyaan terakhir, αρα yakin itu ditulis langsung oleh Yuna?" kau
Detik itu juga Lia tidak bisa menemukan jawabannya. Mulutnya megap-megap mencoba melontarkan sesuatu, tetapi tidak ada satu patah kata pun yang terucap.
__ADS_1
Tidak, ia sama sekali tidak yakin. Ia juga tidak bisa membuktikannya.
BERSAMBUNG ....