
Sejujurnya Widya sudah lelah. Ia ingin sekali lepas dari semua masalah yang membelitnya seperti benang kusut. Namun, ia tahu ia tidak bisa menghindar. Detik ini ia menyesali hari di mana ia menandatangani perjanjian itu. Ia menghela napas berat.
"Ini ketiga kalinya kamu menghela napas selama kita sarapan."
Azri mengucapkannya dengan wajah datar, tetapi nada bicaranya terdengar cemas.
Widya lupa bahwa sekarang mereka sedang menikmati sarapan. Astaga, kenapa akhir-akhir ini ia mudah sekali kehilangan kesadaran?
"Maaf." Widya mengulum senyum lalu menikmati sarapannya dengan setengah hati.
Kali ini giliran Azri yang mendesah. “Kamu masih kepikiran tugas dari Pria Tua itu?" la menyudahi sarapan nya lalu menatap Widya tenang. Gadis itu mengerjapkan mata.
"Bukan begitu." Aku justru berpikir akan berbicara mengenai itu dengan Ayah Mertua hari ini, tambah Widya dalam hati.
"Widya ...." Azri mengalihkan perhatian Widya kembali padanya. "Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"
Azri memang bertanya dengan nada tenang dan tidak mengintimidasi sama sekali. Namun, Widya justru merasa jantungnya hampir saja jatuh mendengarnya dan ia terpaku tanpa sebab. Seperti penjahat yang tertangkap basah sedang mencuri.
Azri menatapnya lekat, justru itulah yang membuat Widya tiba-tiba dibanjiri keringat dingin.
"Aku tidak menyembunyikan apa pun." Widya tersenyum yakin. Ia berharap Azri tidak menginterogasinya lebih dari ini. Ia berjanji akan menceritakan segalanya setelah ia menemukan kesepakatan lain dengan Mahendra.
Azri mengangkat bahunya, tanda menyerah.
"Baiklah, aku percaya padamu," lirihnya lalu bangkit.
Widya mendesah lega luar biasa. la melemaskan tubuhnya yang menegang lalu bangkit untuk membersihkan meja.
__ADS_1
Diam-diam Azri merasa begitu buruk dan tidak berguna karena di saat Widya tertekan seperti ini, yang bisa dilakukannya hanya pura-pura tidak tahu. Matanya menatap nanar punggung Widya yang sedang sibuk mencuci piring. Ia merasa sedih, sungguh. Ia tahu bahwa perjanjian itu sudah menyiksa Widya.
Alasan sebenarnya Azri merasa begitu kesal dan marah adalah karena ia tidak tahu alasan Widya setuju dengan perjanjian itu. Kenapa Widya menyetujuinya? Apa memang benar karena aset itu? Ataukah ada tujuan lain? Azri benar-benar penasaran apa tujuan Ayahnya memperalat Widya hanya untuk menjadikan dirinya seorang CEO.
Sialan! Azri mengerang dalam hati. Ia merasa marah tanpa sebab. Ia menderap secepat langkah kakinya untuk memeluk Widya. Wanita itu tersentak kaget ketika tangan Azri mendadak melingkari perutnya.
"Zri ...." Widya berbisik kaku. Ia terpaksa menjauhkan tangannya yang basah oleh sabun dan air dari tubuh Azri.
Pria itu menjawab dengan gumaman halus, lalu memberikan kecupan selembut bulu di sepanjang garis lehernya.
"Apa kamu sudah memeriksa siklus bulananmu?"
Widya menelan ludah, merasakan bibir Azri bergerak ketika pria itu sibuk memberikan jejak-jejak di tengkuknya. Bulu kuduknya meremang dan ia tersiksa karena dipaksa untuk berpikir.
"Belum, kenapa?" Widya membiarkan Azri membuka kancing kemejanya.
Tepat setelah mengatakan kalimat itu Azri menyatukan bibir mereka. Widya agak kewalahan meladeni morning kiss yang tak disangka itu, kedua tangannya luluh tak berdaya di sisi tubuhnya sementara dirinya didekap erat tangan kekar Azri. Tangan itu tak hanya diam, dengan cekatan menyingkap kemejanya lalu mengusap perutnya. Widya mengerjap dan tepat detik itu ciuman mereka terputus.
"Apa kamu ingin aku mengeceknya?" tanya Widya terengah.
Azri lekas menggeleng, "Tidak perlu, jika dia benar-benar hadir, kita bisa tahu dari tanda-tandanya," ujarnya seraya mengedipkan mata.
Entah harus bereaksi seperti apa lagi, Widya benar-benar sudah tidak sanggup berdiri. Sekujur tubuhnya berdesir oleh ga***ah. Tangan pria itu menyentuh dagunya. Seringaian khasnya tiba-tiba menguar.
"Apa kita pernah melakukannya sambil berdiri?" tanya Azri mesra dengan suara rendah.
Widya berdebar kencang. Bisakah Azri bertanya dengan kalimat yang lebih halus lagi? Ia tidak akan pernah sanggup menangani efek yang timbul setelah mendengar kalimat yang begitu vulgar dan langsung seperti itu.
__ADS_1
Kedua pipi Widya merona merah dan tampak menggemaskan bagi Azri. Pria itu perlahan-lahan mendorongnya ke dinding terdekat lalu menurunkan bajunya. Ia terperanjat panik. Azri benar-benar akan melakukannya sambil berdiri?
"Kita ada rapat penting hari ini, jika tidak cepat kita bisa terlambat-"
"Calm down." Azri memotong perkataan dengan meletakkan jari di bibir Widya. Pria itu menatapnya seduktif.
"Siapa yang peduli dengan rapat itu? Kita masih memiliki banyak waktu. Aku bisa memastikannya. Selain itu aku hanya peduli dengan malaikat kecil yang ingin segera hadir untuk melengkapi kita."
Widya merasa sekujur tubuhnya memanas, malah nyaris terbakar mendengar ucapan romatis Azri. Ia pun sadar satu keahlian Azri yang paling fatal baginya adalah kemampuan pria itu menghipnotis wanita.
"Aku benar-benar ingin memiliki anak denganmu." Azri menunduk untuk menciumnya.
Widya tidak tahu kata apalagi yang bisa membuatnya melayang selain pernyataan Azri tentang keinginan pria itu memiliki anak dengannya. Bibir Azri kembali menyapa bibirnya. Detik itu Widya sadar bahwa sia-sia saja melawan ketika keduanya sudah terbakar gairah.
Aku akan memastikan kamu hamil, Sayang. Sehingga meskipun kamu berniat pergi, kamu tidak akan sanggup meninggalkanku.
Azri tidak akan membiarkan Widya lepas dari hidupnya setelah ia terikat begitu kuat dengan gadis itu. Widya tidak akan pergi ke manapun, karena ia akan memerangkapnya dengan ikatan cinta yang sangat kuat. Itu adalah hukuman karena sudah membuat Azri jatuh cinta setengah mati. Itu adalah imbalan yang harus diterima Widya karena sudah mengubahnya menjadi lelaki yang lebih baik.
la tidak akan membiarkan perjanjian itu merusak rencana masa depannya.
Jika ia tahu sejak awal, ia tidak akan pernah berubah dan ia tidak akan melupakan niatnya untuk menyiksa Widya. Seharusnya ia tetap pada rencananya, mungkin dengan begitu mereka tidak akan pernah tersiksa oleh perjanjian itu.
Namun, kebaikan Widya, cara gadis itu memperlakukannya, dan tutur katanya telah meluluhkan hati Azri. Widya telah menyentuh sisi hatinya yang beku, melelehkannya seperti sinar matahari.
Sungguh, kini Azri tidak ingin kehilangannya. Dua kehilangan sebelumnya ia masih bisa bertahan, tetapi ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya kelak jika Widya menghilang dari hidupnya. Mungkin ia akan mati.
Bersambung ....
__ADS_1