Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 21


__ADS_3

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari paling berat bagi Widya. Ia tahu inilah resiko yang diambilnya semenjak menyatakan diri bersedia menjadi istri Azri El Pradipta. Pria itu lebih sulit diatur dan semakin hari kelakuannya semakin menjadi.


Rutinitas keluar malamnya belum juga sembuh meskipun Widya sudah menggunakan segala macam cara untuk menghentikannya. Bahkan kebiasaannya menenggak alkohol saat pusing juga belum berubah. Itu saja mungkin masih bisa dimaafkan, tetapi bagaimana dengan berkencan bersama gadis lain?


Widya harus mematri hatinya dengan baja agar tidak mudah goyah setiap kali ia memergoki suaminya bermesraan dengan gadis bernama Marleen itu, seperti kali ini.


"Ini kantor, Azri El Pradipta. Pantaskah seorang general manager sepertimu berciuman dengan gadis yang bukan istrimu di tempat ini?"


Widya menjaga agar nada suaranya tidak terdengar membentak ataupun marah. Ia berniat mengantarkan laporan untuk Azri periksa ketika tanpa sengaja melihat Marleen di dalam ruangan sedang berciuman dengan suaminya sendiri.


"Lagipula apa yang Nona Marleen lakukan di sini?“


Pandangan Widya teralih pada Marleen yang tersenyum manis, seolah tidak melakukan kesalahan apa pun. Azri sendiri kini sudah kembali ke tempat duduknya di balik meja.


"Aku mengantarkan surat undangan makan malam untuk Azri dari kakakku," ucapnya sambil memperlihatkan secarik kartu undangan pada Widya.


"Kau bisa menitipkannya ke resepsionis di bawah," ucap Widya cepat.


"Lebih cepat lebih baik. Lagipula, tidak akan ada yang marah jika aku masuk kemari, benar?" Marleen menoleh pada Azri yang mengangguk ringan.


Sabar, sabar. batin Widya. Ia meletakkan berkas yang dibawanya di atas meja Azri sambil memandang suaminya sengit.


"Ini laporannya, Pak GM. Harap diperiksa sekarang juga karena ini sangat dibutuhkan di rapat sore nanti."


"Baiklah. Akan kuperiksa nanti, kau boleh pergi," usir Azri acuh tak acuh.


Widya berdiri tegak dengan tangan melipat di depan dada.

__ADS_1


"Aku akan mengawasimu di sini."


"Sudah kubilang aku akan periksa nanti," tukas Azri tidak mau Widya berlama-lama di ruangannya.


"Aku-akan-memastikanmu-memeriksa-laporannya-sekarang!" tegas Widya dengan mata menyipit tajam. Bahkan setiap kata yang diucapkannya penuh penekanan.


"Bukankah Azri su-" Marleen hendak menyela, tetapi ucapannya terhenti ketika Widya mendelik ke arahnya dengan sorot mata dingin.


Mendadak lidahnya kelu. Jika tatapan bisa membunuh orang, mungkin Marleen sudah mati sekarang. Ia lebih memilih mundur saja dari pertempuran ini.


"Azri, aku akan meneleponmu nanti. Jangan lupa datang. Kakakku akan tersinggung jika kau melewatkan acara makan malamnya," kata Marleen kaku, detik berikutnya gadis itu sudah beranjak keluar ruangan Azri.


"Kenapa kau mengusirnya?" tegur Azri marah melihat Marleen keluar dari ruangannya. Ia menatap gadis yang bersedekap di depannya jengkel.


"Aku tidak mengusirnya. Dia yang angkat kaki lebih dulu sebelum kuusir," sindir Widya dengan mata menajam.


Azri menggerutu kesal. Ia mengambil kasar map yang tergeletak di atas mejanya lalu menelaahnya dengan teliti. Meskipun ia tidak suka, tetapi ia bukanlah orang yang akan menyepelekan pekerjaan. Ia selalu menyelesaikan semua pekerjaannya dengan hasil memuaskan.


Widya menunggu Azri menyelesaikan laporan sambil duduk di sofa set yang terdapat di ruangannya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, ruangan ini rapi sekali. Buku-buku berjejer rapi di rak sebelah kanannya.


Di buffet lain ada beberapa foto dipajang di sana. Widya tertarik pada satu foto berisi wajah wanita yang rasanya tidak asing lagi. Ia bangkit agar bisa melihat foto itu dari dekat.


"Ini," gumamnya saat sadar. Widya menoleh ke arah Azri yang tetap sibuk dengan laporannya lalu kembali ke foto di tangannya.


Tentu saja, bagaimana Widya bisa tidak tahu. Wajah wanita ini mengingatkannya pada Azri. Dia pasti ibu Azri. Akhirnya, bisa tahu seperti apa wajahnya. Entah kenapa Widya merasa senang sekaligus lega.


"Apa yang kau lakukan? Laporannya sudah selesai kuperiksa!" seru Azri mengagetkan.

__ADS_1


Widya meletakkan kembali figura itu ke tempatnya lalu menoleh pada Azri.


"Oh ya? Terima kasih." Widya mengambil laporan yang diacungkan Azri lalu pergi dari sana sebelum mendengar komentar pria itu.


Lupa sudah rasa kesalnya pada Marleen setelah melihat wajah ibu mertuanya. Ia berjalan menuju ruangannya ketika berpapasan dengan Ryan.


"Apa yang kau lakukan di perusahaan kami?" tanya Widya takjub. Dari semua teman Azri, Ryan yang paling memperlakukannya dengan ramah. Wajah tampannya memberi kesan murni sehingga agak mengejutkan mengetahui dia satu tipe dengan Azri.


"Menemani pamanku bertemu dengan tuan Mahendra." Ryan bergeser mendekatinya lalu berbisik.


"Apa temanmu Bella bekerja di sini juga?"


"Bella?" Widya heran, Ryan menanyakan sahabatnya. "Ya, tentu saja. Dia di bagian HRD."


"Kau serius?" serunya antusias, membuat Widya menyipit curiga.


"Oh maksudku bagus sekali. Kapan-kapan aku mengunjunginya-oh bukan, maksudku kalian. Baiklah kalau begitu aku harus ke ruangan Presdir dulu." Ryan buru-buru pergi sebelum Widya menginterogasinya.


"Dia juga berbahaya," gumamnya sambil mendesah berat. Sepertinya ia harus memperingatkan Bella.


Bersambung ....


Kemarin ada sekitar 600 yang baca, tapi tidak ada yang meninggalkan jejak, hmm ....


Oiya, aku buat grup chat, siapa tahu ada yang mau gabung, klik profil aja.


Menurut kalian, Widya cocoknya wajah Asia atau bule?

__ADS_1


__ADS_2