
Alih-alih bahagia karena tujuannya hampir tercapai, Mahendra justru membisu. Rahangnya mengeras dengan raut wajah tegang. Ia meremas tangannya yang bersandar pada lengan kursi.
Widya heran. Tampaknya berita itu tidak membuatnya senang. Bukankah itu yang diinginkannya sejak awal?
"Jadi mereka sudah mulai dekat?"
Widya mengangguk gugup karena Mahendra bertanya tanpa memandangnya. Ia penasaran apa yang membuat pria paruh baya di hadapannya itu tidak puas.
"Lalu setelah itu apa rencanamu?"
Rencanaku? Widya semakin kebingungan mendengarnya. Ia tidak bisa menebak ke mana pembicaraan ini mengarah. Mahendra tidak pernah mau peduli dengan rencananya sebelum ini. Dia hanya menyuruhnya untuk pergi dari kehidupan Azri setelah membuat Azri jatuh cinta pada Lia, titik.
"Aku akan pergi. Sesuai dengan perjanjian," lirih Widya pelan. Bila bisa, ia lebih memilih untuk tidak mengucapkan jawaban itu. Pergi dari hidup Azri adalah perintah paling kejam.
Mahendra tak mengatakan apa pun, hanya ******* berat keluar dari mulutnya. Tangannya terangkat mengurut dahinya yang mulai dipenuhi kerutan. Melihat ayah mertuanya itu tampak berpikir keras, tiba-tiba saja Widya teringat pada pertanyaan yang terus menerus terngiang dalam benaknya.
"Sebenarnya, ada satu hal yang ingin aku tanyakan." Widya ragu-ragu bertanya.
Mahendra berhenti memijat keningnya. Pria itu tampak penasaran.
"Apa Anda tahu Lia mirip sekali dengan mantan kekasih Azri?"
Tubuh pria di depannya tersentak dengan mata membelalak lebar. "Maksudmu Yuna?"
Widya mengerjap kaget. Dia tahu, tentu saja, pikirnya, "Ya," jawabnya dengan suara pelan dan jauh.
Kali ini Mahendra menjadi lebih gelisah. Reaksinya membuat Widya bersemangat untuk mengorek informasi lebih dalam.
"Anda tentu tahu Yuna sudah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan di laut. Apa ada kemungkinan Lia adalah Yuna?"
Pertanyaan itu menimbulkan sentakan berat untuk Mahendra. "Tidak, tidak. Aku tidak tahu," ujarnya lemas, seolah pertanyaan Widya telah menyedot banyak tenaganya. “Mereka memiliki wajah yang sangat mirip. Aku juga merasa Yuna bangkit dari kuburnya ketika melihat Lia untuk pertama kali. Aku tidak yakin mereka orang yang sama. Semirip apa pun, cara mereka berbicara sangatlah berbeda."
Mahendra melemparkan pandangannya ke luar jendela dengan raut gelisah. Tersirat luka yang dalam dari binar meredup mata itu.
Widya merasakan ketegangan menyelimuti udara di sekitar mereka. Ia yakin Mahendra akan menceritakan sesuatu yang mencengangkan.
"Aku bertanggung jawab atas kematian Yuna." Widya terperanjat.
"Dulu aku mengancamnya agar meninggalkan Azri saat mereka masih menjalin hubungan. Azri tidak mengetahui sama sekali dengan hal ini. Aku diam-diam menemuinya di apartemennya di Amerika. Jika dia tidak meninggalkan Azri, maka aku akan mencabut beasiswa yang sudah kuberikan untuknya."
"Beasiswa?"
"Yuna adalah salah satu murid pertukaran pelajar yang didanai oleh Pradipta Group. Aku sangat terkejut ketika mengetahui dia dan Azri menjalin hubungan. Saat itu aku dikuasai oleh gengsi yang tinggi sehingga sulit sekali bagiku menerima kenyataan bahwa anakku satu-satunya menjalin hubungan dengan gadis miskin yang dibesarkan di panti asuhan seperti gadis itu."
Sekujur tubuh Widya merinding mendengarnya. Ia menatap nanar pria yang mengusap wajahnya frustrasi. Tak bisa berkata apa pun untuk cerita yang didengarnya. Ia terlalu tercengang untuk bereaksi.
"Gadis itu cantik serta pintar dan Azri memiliki banyak uang untuk menarik perhatiannya. Aku berpikir gadis itu hanya mengincar harta Azri karena itu ketika dia mengajak Yuna bertemu denganku dan berkata akan menikahinya, aku menolaknya dengan tegas. Kami bertengkar hebat. Saat itulah aku mengancam Yuna. Beberapa lama kemudian aku mendengar gadis itu meninggal dalam pelayaran bersama Azri. Setelah kejadian itu Azri berubah kembali, semakin hari semakin sulit dikendalikan. Sejujurnya sebagai orang tua aku sangat menyesal telah menghancurkan harapannya. Aku yakin memberontaknya Azri adalah bentuk rasa kecewanya padaku. Aku orang tua yang buruk."
Susah payah Widya menelan ludahnya. Rasa sakit mendera tenggorokannya mendengar hal itu. Ternyata ada alasan lain mengapa Azri sangat membenci ayahnya. Selain karena ayahnya terlalu memikirkan bisnis, pria itu juga secara tidak langsung sudah merenggut kekasihnya.
"Lalu beberapa bulan yang lalu, Lia muncul." Mahendra terdiam. "Dia mengatakan dirinya datang untuk meminta keadilan."
__ADS_1
Mata Widya melebar. "Apa yang dikatakan Lia saat itu? Memintamu agar menjodohkannya dengan Azri?"
Mahendra menggeleng. "Dia ingin aku menyerahkan seluruh aset Pradipta Group sebagai ganti utang perusahaan ini pada perusahaannya."
Widya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya lagi. Jadi perusahaan tempatnya bekerja selama ini memiliki utang yang besar pada GN Group? Bagaimana pun itu sulit dipercaya.
"Benarkah perusahaan ini berutang besar? Bagaimana bisa tidak ada yang tahu tentang hal ini?"
"GN Group melakukan banyak kecurangan dan menggunakan berbagai cara melumpuhkan kemajuan Pradipta Group. Sejak dulu mereka sudah mengincar perusahaan ini. Namun karena aku menolak bekerja sama, mereka terpaksa memakai siasat licik sehingga aku-perusahaan ini terlilit utang yang sangat besar pada mereka."
"Apa tidak ada cara lain untuk menghindari utang itu? Jika mereka memang memakai cara licik, kita bisa melaporkan mereka pada polisi.“
"Kau pikir aku tidak mencoba melakukannya? Mereka menjebak dengan sangat mulus sehingga sulit untuk dicari kesalahan mereka. Cara terakhir adalah berusaha keras untuk bertahan."
Mahendra mengembuskan napas berat. "Dan sekarang Lia datang, mengancamku dengan utang itu agar aku mengikuti keinginannya. Gadis itu berkata bahwa aku harus menikahkan Azri dengannya maka ia akan mempertimbangkan untuk mengurangi utang-utang itu."
"Jadi, Azri adalah tebusan untuk utang perusahaan ini? Dan Anda melakukannya? Demi uang?" Widya tidak percaya. Tepat seperti yang dikatakan Azri, bagi Mahendra bisnis adalah segalanya.
"Aku tidak tahu apa tujuan gadis itu sebenarnya. Tetapi aku juga tidak bisa menyerahkan putraku."
"Tetapi Anda tetap melakukannya!” marah Azri.
Mahendra bisa merasakan kemarahan Widya. Namun, ia harus tetap menjelaskannya, "Aku harus melakukannya. Jika aku menyerahkan Pradipta Group, bagaimana dengan nasib seluruh pegawainya? Kamu tidak mengenal Presdir GN. Sudah berapa banyak perusahaan yang diambil alih olehnya? Semua pegawai lama perusahaan itu dipecat dan digantikan oleh pegawai baru pilihannya."
Widya tak bisa membalas. Ia tercekat. ******* panjang keluar dari mulut Mahendra. "Aku tidak bisa membiarkan ribuan orang yang menggantungkan hidupnya selama ini pada Pradipta Group kehilangan pekerjaan mereka. Berapa banyak kerugian yang akan mereka tanggung jika perusahaan ini diambil alih? Sekali pun aku tidak pernah memikirkan diriku sendiri. Jika Presdir GN atau putrinya ingin memiliki rumahku atau yang lain aku akan memberikannya."
"Lalu kenapa Anda menyuruhku menikah dengan Azri? Alasan apa sebenarnya yang membuatmu memilihku untuk melakukan ini? Aku--" Widya menundukkan kepala. Ia tidak boleh menangis.
"Lalu bagaimana dengan perjanjian? Kenapa aku harus pergi setelah Azri menjadi CEO?"
Itu masuk akal. Jika Mahendra memang ingin Azri lebih kuat, seharusnya dia tidak memisahkan Azri dari kebahagiaannya lagi.
"Untuk melindungimu dan Azri."
Kedua mata Widya melebar. Ia menatap Ayah mertuanya dengan hati berdesir. Ekspresi Mahendra penuh kepedihan. “Ketika rencanaku gagal, kau bisa menjauh sambil membawa surat tanda kepemilikan aset itu. Aku mengubahnya menjadi atas namamu dengan surat yang sah agar Gn Group tidak bisa mengambilnya. Sementara kalian berpisah, aku akan mencari jalan untuk menyelamatkan perusahaan. Saat itu juga aku akan menjelaskan semuanya pada Azri sehingga kami bisa sama-sama mencari solusi untuk melawan Presdir GN dan putrinya."
Mahendra mengurut pelipisnya. “Sejak awal seharusnya aku tidak terlibat dengan Presdir GN. Keadaan menjadi semakin parah sejak kemunculan Lia. Sosoknya yang mirip Yuna sungguh mengejutkan."
"Lia memiliki wajah yang sama seperti Yuna. Apakah mereka memang orang yang sama?" lanjut Widya parau.
"Aku yakin mereka bukan orang yang sama. Aku tidak tahu bagaimana cara Lia tahu tentang Yuna dan menggunakan itu untuk memerasku."
"Itu terjadi sebelum Anda memintaku menikah dengan Azri?”
Mahendra mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan proyek kerjasama itu dan kenapa dewan direksi tidak mengetahuinya."
"Mereka tahu," ujar Mahendra lemah. "Presdir GN sudah membeli hati dewan direksi dengan sejumlah uang sekaligus membuat mereka pura-pura mematuhiku padahal diam-diam mereka menikamku dari belakang. Tentang proyek itu hanya akal-akalan mereka saja agar perusahaan ini terikat dengan GN Group."
Astaga, Widya memejamkan mata karena kepalanya mulai terasa pening. Jadi selama ini semuanya hanya sandiwara. Pantas saja Widya merasa Mahendra sedang berpura-pura. Pria itu tidak benar-benar bahagia ketika Azri berhasil membujuk GN Group untuk menjalin hubungan kerja sama. Padahal untuk itu ia sudah mempertaruhkan sesuatu yang berharga. Dengan kata lain, ia hanya dijadikan sebagai pacemaker untuk Azri?
__ADS_1
"Apakah Anda benar-benar menginginkan aku pergi?"
Widya bertanya dengan suara rendah dan lirih. Siapa pun bisa merasakan luka begitu yang pedih dari nada suaranya.
Dengan sangat menyesal Mahendra mengangguk. "Ya. Demi kebaikanmu. Terlebih sekarang kau sedang mengandung. Lia bukanlah sesuatu yang harus kau hadapi. Dia sama seperti ayahnya, seorang monster."
"Lalu bagaimana dengan Azri? Tidakkah Anda memikirkan perasaannya sedikit pun?"
"Oh, Demi Tuhan," lirih Mahendra pasrah. "Aku selalu memikirkan perasaannya seumur hidup. Hanya saja anak itu terlalu membenciku untuk menyadarinya. Jika bisa aku ingin membiarkan kalian tetap bersama. Tetapi Lia sudah mengancamku jika aku tidak segera menyuruhmu pergi, dia akan--" Mahendra terdiam.
Widya menegang. "Akan apa?"
"Dia akan mencelakai Azri dan keluargaku yang lain."
Itulah sebabnya Mahendra mengungsikan kakek Azri ke tempat lain. Widya juga baru sadar akhir-akhir ini ia jarang bertemu dengan Bibi Swari dan Zavir. Ia memandang Mahendra iba. Di usianya yang hampir enam puluh tahun Mahendra harus menanggung beban seberat ini. Dan bagaimana bisa ada orang yang tidak memiliki hati nurani seperti Lia? Mempertaruhkan nyawa orang lain untuk mendapatkan keinginannya.
"Karena itu kumohon Widya." Mahendra bangkit dari kursinya. Memohon kepada Widya dengan suara lirih. “Lindungi Azri dengan pergi dari hidupnya. Dan lindungi bayimu dari Lis. Dia adalah satu-satunya cucu yang kumiliki. Seseorang yang akan meneruskan garis keturunan keluarga Pradipta.“
Widya menangis mendengarnya. Mana bisa ia menolak permintaan pria paruh baya itu setelah memohon-mohon padanya seolah meminta pengampunan.
"Maaf Ayah," bisik Widya lirih, "Aku tidak mungkin meninggalkan Azri. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika aku pergi. Dia sudah merasakan begitu banyak penderitaan. Sekarang dia sedang bahagia. Pantaskah aku merenggut senyum itu lagi darinya?"
Widya terdiam untuk menenangkan diri dari isakan tangisnya. “Lagipula setelah aku mendengar cerita tentang Lia, aku semakin tidak bisa meninggalkan Azri. Lia mungkin akan menyiksa Azri dengan memanfaatkan rasa bersalah Azri terhadap Yuna. Aku sudah mengamatinya, Azri bahkah tidak bisa menolak permintaan Lia karena gadis itu mengingatkannya pada Yuna yang meninggal karena dirinya. Azri dia--" Widya tersedak karena tangisannya. la tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
Segalanya terlalu menyakitkan. Ia teringat lagi kata-kata yang diucapkan Lia bahwa Yuna adalah bagian dari masa lalunya.
Jika memang benar dia adalah Yuna yang datang untuk balas dendam, maka Azri berada dalam bahaya. Azri bisa disiksa oleh gadis itu tanpa disadari olehnya sendiri.
"Lia tahu rencanaku melawan ancamannya sejak awal. Ia membiarkanku menikahkan Azri denganmu."
Mahendra tertawa miris. Ia telah dipermainkan oleh bocah licik semacam Lia. Gadis itu persis seperti ayahnya, Matthew. Semua orang tidak akan menyangka keburukan dalam diri mereka jika tidak dilihat dari dekat.
Sudah tidak ada air mata lagi yang bisa ia berikan kecewa, jelas. Ia menyesal membiarkan dirinya dimanfaatkan pria ini. Dan ia tidak akan pernah memaafkan Lia karena sudah membuat Mahendra terpaksa melibatkannya dalam permainan ini. Jika memang rencana Lia untuk membalas dendam pada Azri dan Mahendra entah itu berhubungan dengan kecelakaan yang dialami Yuna atau tidak, ia tidak akan membiarkan gadis itu menang.
"Baiklah, sesuai perintahmu aku akan pergi," ujar Widya dingin.
Mahendra mendesah lega. Ia bangkit untuk mengambil sesuatu setelah kembali ia meletakkan sebuah kunci di atas meja di depan Widya.
"Ini adalah kunci villa yang kuberikan padamu. Rawatlah tempat itu dengan baik. Banyak kenanganku dan mendiang istriku tertinggal di sana. Aku harap cucuku kelak bisa tumbuh bahagia di antara semua kenangan itu. Setelah ini, jangan pernah pergi menemui Azri lagi atau mencoba menghubunginya dengan cara apa pun. Kami harus menenangkan Lia lebih dulu, membuatnya merasa menang setelah itu aku akan perlahan-lahan menjelaskan semuanya pada Azri. Mungkin setelah itu akan ada cara untuk menyelesaikan semuanya dan jika saat itu tiba, kau bisa kembali pada Azri. Aku akan dengan senang hati menyambutmu dan cucuku kelak. Karena itu hingga saat itu tiba, menjauhlah dari kami.“
Dengan perasaan sakit Widya mengambilnya. Ia mengangguk paham dengan pandangan menerawang. Jadi ia benar-benar harus pergi dan membiarkan Azri menghadapi Lia sendiri?
"Bagaimana jika Azri mencariku?" tanyanya dengan nada terluka. "Apa aku boleh menemuinya?"
"Azri tidak akan mencarimu, kupastikan hal itu. Bukankah kau sendiri sudah bilang, dia tidak bisa menolak permintaan Lia karena mengingatkannya pada Yuna. Azri sangat mencintai Yuba dahulu. Aku ragu kali ini Azri tidak akan mencintainya."
Tidak ada kata-kata lain yang lebih menusuk dibanding kata-kata yang didengarnya saat ini. Baru saja pria itu memberikan pengharapan padanya dan secepat itu pula dia menjatuhkan mimpi itu?
Meskipun ia tidak mau mempercayainya, tetapi sudut hatinya yang lain yakin Azri bahkan tidak akan mengingatnya jika sudah seharian bersama Lia.
Bersambung ....
__ADS_1
Dan inilah kebenaran yang sesungguhnya.