Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 31


__ADS_3

Playlist: Anymore (Jeon Somi)


Azri bangun dari tidur nya saat fajar hampir saja menyingsing. Sinar kebiruan membias di ujung cakrawala, kontras dengan langit yang hitam ditaburi bintang. Kepala nya terangkat menoleh ke arah sofa tempat gadis itu berbaring. Senyum nya terbit tanpa diperintahkan.


la menyibakkan selimut dan turun dari ranjang tanpa menimbulkan suara. Ia menghampiri gadis yang masih terlelap dalam alam mimpi itu. Tampak damai. Rambut panjang yang biasa nya rapi kini terurai, agak berantakan.


Azri heran bagaimana bisa ada wanita dewasa di dunia ini yang masih memakai baju anak kecil seperti itu. Apa dia tidak memiliki satupun baju tidur wanita yang lebih seksi?


Tubuh Widya tampak bergidig karena udara fajar yang lebih dingin. Azri segera merapatkan selimut yang mengumpul di pinggang nya hingga menutupi bahu. Tidur gadis itu pun kembali tenang.


Azri tidak mengerti kenapa sekarang ia tertegun menatap gadis yang dibenci nya setengah mati. Namun, ia sadar, wajah damai gadis ini membuat nya nyaman dan tenang.


Ketika pandangan nya jatuh ke pipi putih Widya, ia tanpa sadar mendekat lalu mengecup pipi itu. Widya bergerak halus dalam tidur nya, dia terusik sambil menggumamkan sesuatu yang tidak jelas lalu kembali terlelap. Azri tersenyum sendiri melihat reaksi lucu gadis ini. Rasa nya ia ingin berbuat lebih, tetapi sekali lagi ia mengingatkan diri bahwa ia bukan pria tidak bermoral yang akan menyerang gadis di saat dia sedang tidur. Lebih baik ia kembali saja ke tempat tidur nya.


***


Widya tidak pernah merasa semenyesal ini seumur hidup nya. Sekarang, ia seperti baru saja dijatuhkan vonis mati oleh hakim. Ia bahkan tidak sanggup menatap Azri yang tersenyum penuh kemenangan. Tidak, hidup nya akan berakhir sekarang.


Azri berhasil menjawab tantangan nya. Mahesa maupun Chris sangat terpukau dengan cara Azri mempresentasikan tugas yang para trainer berikan. Widya pun tidak mungkin memberikan penilaian kecil pada Azri hanya karena tidak mau pria itu menang. Ia harus bersikap objektif.


Pelatihan pun berakhir dan semua peserta akan pulang malam nanti. Masih ada sekitar lima jam bebas dan sepanjang sisa itu digunakan oleh seluruh peserta untuk berekreasi. Kebanyakan dari mereka bermain di pantai dan berjalan-jalan di sekitar festival yang masih berlangsung hingga dua hari ke depan.


"Widya, kau tidak pergi ke festival?" tanya Chris.


Widya menoleh sejenak lalu tersenyum hambar. Setelah tahu bahwa nasib nya masih belum jelas, ia tidak bersemangat menjalani sisa hari itu.


"Kau duluan saja. Aku akan pergi nanti."


"Oh baiklah. Kalau begitu aku pergi."


Widya kembali memfokuskan pikiran nya pada tantangan balik yang akan Azri ajukan. Kira-kira apa tantangan yang akan diajukan pria itu? Ia hanya berharap semoga bukan tantangan yang akan menjatuhkan harga diri nya.


"Kamu tidak pergi?"

__ADS_1


Hampir Widya melonjak kaget dari tempat nya saat merasakan tepukan tangan seseorang di bahu nya. Ia menoleh cepat pada Azri yang berdiri di belakang nya.


"Aku mau pergi!" jawab nya cepat tanpa pikir panjang. Ia waswas dengan tatapan Azri yang datar dan dingin itu. Ia bahkan selalu takut setiap kali Azri membuka mulut nya untuk berbicara.


"Kalau begitu ayo."


Azri mengendikkan kepala nya menyuruh Widya pergi. Gadis itu mengikuti Azri di belakang nya. Ia tidak mau dekat-dekat. Dalam hati ia berdoa semoga Azri lupa pada taruhan mereka semalam.


Walaupun suasana festival cukup ramai dan meriah, Widya tidak menikmati kunjungan itu sama sekali. Berbeda dengan Azri yang kali ini tampak begitu antusias melihat-lihat berbagai macam jajanan, permainan, dan souvenir yang di jajakan di sana.


"Benarkah?"


Widya tertoleh ke arah samping. Ia terkesiap melihat Azri kini sedang mengobrol bersama beberapa wanita cantik yang baru saja ditemui nya. Dia terlihat sangat bahagia seolah baru saja bebas setelah menjalani hukuman kurungan.


Pria itu tidak pernah berubah!


Kenapa bisa cepat sekali menjerat wanita padahal Widya hanya melepaskan pengawasan selama beberapa menit. Ia kesal menyaksikan kemahiran Azri merayu wanita. Kapan kebiasaan buruk nya itu akan berubah? la menderap mendekati Azri untuk menyeret nya, tetapi seseorang menahan tangan nya.


"Adam?" Widya terkesiap saat tahu yang mencekal nya sekarang adalah lelaki yang ingin dihindari nya.


"Akhir nya aku bisa menemui mu. Kukira kita tidak akan bertemu lagi setelah kejadian kemarin. Kamu tidak marah padaku, bukan? Widya?"


Adam bingung karena sejak tadi arah pandang Widya tidak terfokus pada nya, melainkan ke arah lain. Ia ikut menoleh ke arah itu dan mengerjap saat tahu alasan kenapa wajah Widya tampak jengkel.


Suami nya sedang mengobrol bersama beberapa orang wanita.


"Jangan terlalu dipikirkan," hibur Adam bermaksud menghapus raut sedih itu. la agak mengguncang tubuh Widya untuk menyadarkan nya.


Widya akhir nya memalingkan pandangan, tetapi kesedihan belum meninggalkan wajah nya. Dia mengerjapkan mata beberapa kali untuk menepis perasaan sakit yang dialami nya.


Menyaksikan reaksi Widya, membuat Adam bertanya-tanya bagaimana hubungan nya dengan suami nya. Apakah buruk? Sesering apa Widya melihat suami nya merayu wanita lain?


Azri sadar bahwa Widya tidak ada di dekat nya ketika ia selesai berbincang dengan beberapa gadis lokal untuk berta nya spot indah daerah itu, ketika mengedarkan pandangan dan mendapati Widya sedang bersama pria yang mencium nya kemarin, rahang nya mengeras.

__ADS_1


Apa-apaan mereka?! Apa mungkin diam-diam mereka berjanji akan bertemu di sini?


Widya sadar Azri sedang menatap nya. la bisa merasakan tatapan panas menusuk punggung nya. Namun, ia sudah terlanjur sakit hati sehingga perhatian Azri hanya ingin membuat nya enyah dari tempat itu. la menghempaskan genggaman tangan Adam lalu berbalik pergi tanpa menghiraukan pria itu yang khawatir pada nya.


"Widya!"


Adam mengejar Widya yang berlari membelah kerumunan di festival itu.


Azri tercengang menatapi kepergian Widya disusul pria itu. la sempat ragu apakah harus ikut mengejar istrinya atau tidak. Namun, ketika bayang-bayang Widya berciuman dengan laki-laki itu, ia tidak bisa berdiam diri lagi. la pun ikut pergi menyusul Widya.


Widya terjatuh saat ia berlari mengingkari perasaan cemburu nya sendiri. Ia meringis menyadari di tangan nya tertoreh luka yang meneteskan sedikit darah. Apa ini gores hukuman? Setelah hati nya terluka sekarang tubuh nya juga. Pandangan nya mulai mengabur oleh air mata. Rasa nya ia ingin menangis.


"Widya, kau baik-baik saja?"


Adam segera membantu Widya bangun. la terkejut sekali saat melihat gadis itu tiba-tiba saja kabur dan sekarang kekagetan nya ditambah rasa panik ketika Widya jatuh di atas trotoar ketika akan menyebrangi jalan.


"Aku bodoh sekali," lirih Widya saat Adam membantunya berdiri.


Adam mengeryit, tetapi tidak mengatakan apa pun karena bibir nya mendadak kelu melihat wajah Widya yang lusuh dan dialiri air mata. Widya menangis. Pria itu sudah membuat Widya menangis. Ia tidak pernah melihat Widya menangis. Terakhir kali ia melihat nya saat di pemakaman kedua orang tua nya.


"Aku ...."


"Ssstt," cegah Adam sebelum Widya terlanjur menumpahkan semua kesedihan nya di sini. "Villaku ada di dekat sini, kita ke sana dulu dan kau bisa menangis sepuas nya."


Widya mengangguk dan ia membiarkan Adam menuntun nya ke sebuah villa yang terletak di ujung jalan.


Dari kejauhan, Azri melihat Adam membawa istri nya ke suatu tempat sambil bergandengan tangan. Dada nya bergemuruh. Baiklah, kemarin ia memang sudah yakin tidak akan pernah peduli lagi dengan apa yang dilakukan Widya bersama laki-laki itu. Namun, usaha nya tetap saja gagal. Ia tidak mengerti kenapa dada nya tetap saja bergemuruh melihat Widya bersama mantan kekasih nya itu.


"Terserah apa yang akan mereka lakukan! Itu bukan urusanku sama sekali," geram nya tak peduli.


Azri berbalik ke arah berlawanan, tetapi saat baru sekitar sepuluh langkah, ia terhenti karena bayang-bayang Widya berciuman terngiang kembali. Ia menoleh ke arah istri nya dan pria itu pergi lalu mengerang karena sadar ia tidak memiliki pilihan selain menjauhkan istri nya dari pria itu.


"Oke, oke. Aku akan menyusul nya!" gerutu nya kesal lalu menderap ke arah pergi nya Adam dan Widya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2