
Azri mengulum senyum melihat Widya tidak mendebat nya seperti biasa. Bukan nya merasa senang Azri justru mengaku kalah. Ia merasa bersalah karena secara tidak langsung menjadi penyebab luka di tangan dan kaki Widya.
"Baiklah, karena aku bersalah aku harus meminta maaf lebih dulu." la diam sejenak. "Maafkan aku."
Widya mengangkat wajah nya cepat, tercengang. Apa telinga nya tidak salah mendengar? Tadi Azri berinisiatif meminta maaf?
"Seperti nya kita memiliki masalah yang sama di sini," tambah Azri lagi. "Kita sama-sama tidak suka jika pasangan lebih gembira bersama orang lain. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku marah melihat mu bersama Adam. Tapi sekarang rasa nya aku tahu jawaban nya."
Widya menanti dengan tidak sabar apa yang akan Azri katakan. Jantung nya mendadak berdetak cepat. Apa Azri akan menyatakan perasaan nya? Kemungkinan nya hanya 0,000001 persen.
"Tanpa kita sadari kita mulai terhubung. Cara berpikir kita mulai sama, begitupun tujuan hidup kita. Meskipun aku sangat membenci kenyataan itu, tapi seperti nya hanya itu jawaban yang paling masuk akal."
Entah kenapa Widya merasa sangat kecewa karena yang ia dengar justru tidak sesuai dengan harapan nya.
"Baiklah, aku memaafkan mu.“ Suara Widya tercekat. "Berkat mu juga seperti nya aku menyadari satu hal."
Widya bangkit, berjalan dengan langkah pelan menuju ke jendela, menyibakkan sedikit gordin agar ia bisa memandang ke arah taman resort yang indah. Ia menarik napas yang terasa sempit lalu mengembuskan nya perlahan.
"Lebih baik mulai sekarang kita tidak perlu ikut campur urusan masing-masing lagi. Kamu benar. Aku akan hidup sesuai dengan caraku, begitu pun dirimu. Dengan begitu kita tidak perlu saling menyakiti lagi."
Azri terkejut mendengar pernyataan Widya. Ia memang sempat mengatakan hal yang sama, tetapi sejujur nya ia tidak serius. Merenung sendirian di tengah malam membuat nya tersadar bahwa ia sudah mulai membutuhkan Widya.
Bagaimana bisa mereka hidup masing-masing jika Azri membutuhkan gadis itu dalam hidup nya? la bangkit lalu berjalan mendekati Widya.
"Apa menurutmu itu hidup pasangan yang sudah menikah?"
"Kita tidak saling mencintai."
"Apa itu penting?"
Widya terkesiap saat merasakan sentuhan tangan Azri di pinggang nya. Apa yang pria ini lakukan?
"Lalu apa yang kamu inginkan?"
Embusan napas Azri di tengkuk nya berakibat fatal bagi kelancaran gerakan Widya. Gadis itu membeku, merasakan punggung nya menempel dengan dada Azri. Pria itu kini memeluk nya. Kenapa dia selalu seperti ini di saat diri nya mencoba untuk membuat garis batas?
"Kamu ingin bercerai dengan ku?"
"Tidak."
"Kenapa?"
Demi apa pun, bisakah pria ini tidak mulai menyiksa nya dengan 'cara-cara nya? Azri mulai berulah dengan mengecup tengkuk nya intens. Hal sederhana itu berimbas pada kacau nya jalan pikiran Widya.
"Aku hanya tidak mau," ujar nya terbata.
"Kau tidak mau memedulikan ku, tidak mencintai ku, tapi tidak mau bercerai dengan ku. Apa kau ingin menguasai tahta menantu tunggal keluarga Pradipta?"
"Aku sudah berjanji pada ayah mu untuk mengubah sikap buruk mu."
__ADS_1
Ucapan Widya tersendat karena Azri mencium daerah belakang telinga nya lalu naik ke pelipis nya.
"Jangan bawa-bawa Pria Tua itu dalam obrolan kita. Lagi pula apa untung nya bagi mu jika aku berubah? Kamu sungguh gadis polos yang mudah sekali dipengaruhi oleh kata-kata manis."
Azri juga tidak mengerti bagaimana bisa bertindak sejauh ini tanpa digoda lebih dulu oleh wanita. Ia tidak peduli karena tanpa Widya menggoda nya pun, insting nya bergerak lebih cepat dibanding akal sehat nya sendiri.
"Bagiku, berhasil mengubah seseorang menjadi lebih baik adalah kemenangan tersendiri," ucap Widya susah payah. Menahan diri dari godaan Azri lebih sulit dan menyerah.
"Bagi mu itu kemenangan, tapi kemenangan bagi ku adalah ini." Azri menarik dagu Widya lalu mencium bibir nya.
Widya tetap saja terkejut saat bibir mereka saling berpagut. Ia tidak membiarkan Azri berlama-lama mencium nya kali ini. Ia ingin cumbuan itu berakhir cepat karena ia tidak mengerti alasan kenapa Azri selalu melakukan ini pada nya. Mereka tidak saling mencintai bukan?
Apakah kontak fisik dengan orang yang tidak kamu cintai bisa ditoleransi? Widya memegang erat kemeja Azri saat diri nya mulai kewalahan mengimbangi cara berciuman pria ini yang terlalu ahli. Ia menjauhkan wajah nya tepat sedetik sebelum kedua tangan cekatan Azri menyusup ke dalam kemeja nya.
Azri tersenyum melihat Widya tak berdaya. Wajah nya tampak sayu dan mata nya mencerminkan gairah yang ditahan mati-matian. Widya enggan menatap mata tajam Azri, ia hanya bisa menatap bibir merah milik Azri yang ada tepat di depan wajah nya. Sial nya bibir itu mengeluarkan seringaian yang membuat nya makin mempesona.
"Bagiku, kemenangan adalah saat berhasil membawa mu jatuh dalam pesona ku, seperti kali ini." Azri berkata sambil mengusap halus pipi nya.
Gelombang asing berdesir dalam diri Widya, membuat jantung nya berdebar kencang ketika tangan Azri menyentuh rahang nya, lalu mengarahkan wajah nya agar menata pnya.
Seluruh panca indera Widya terkunci oleh tatapan Azri. Ia bahkan tidak bisa menggerakkan sesentipun tulang di tubuh nya di saat tangan Azri sudah melingkari pinggang nya.
"Sebenar nya apa maksud mu melakukan ini?" tanya Widya lemah, setelah berhasil memaksa bibir nya bergerak.
"Maksud ku?" tanya Azri dengan bibir tersenyum. "Tidak ada."
"Tidak ada?" tanya Widya ulang. "Setidak nya ada satu alasan jika kamu ingin menyentuh seorang gadis."
Azri tampak sangat senang saat ia kembali berhadapan dengan sisi Widya yang suka sekali mendebat nya. Sulit sekali memperdaya gadis ini di saat diri nya sedang mengajak mereka beradu argumen. Diri nya selalu merasa tertantang untuk mengalahkan nya.
Widya sungguh tidak mengerti jalan kerja tubuh nya. Semesti nya ia menolak mati-matian, tetapi tubuh nya justru pasrah saat Azri mengangkat nya dari lantai lalu membaringkan nya di atas ranjang. Ia bahkan tidak protes ketika tubuh Azri menindih nya sambil mencoba melepaskan kaitan bra nya di saat kemeja nya masih terpasang. Pria itu berhenti sejenak, memandang baju yang dikenakan nya dengan wajah serius.
"Widya, bisakah kau berhenti memakai baju membosankan seperti ini? Lain kali pakailah pakaian seorang gadis. Mini dress misal nya?"
"Aku nyaman dengan pakaian ini."
Widya merasa malu karena Azri menatap nya lembut. Ia terus menghipnotis diri bahwa Azri sedang melancarkan salah satu trik merayu andalan nya saat ini.
"Setidak nya, bisakah kamu membiarkan rambut mu terurai?"
Widya terkejut karena pria itu melapas ikatan rambut ekor kuda nya. Rambut nya pun terurai dan Azri tersenyum penuh arti.
"Lihat, kamu tampak cantik dengan rambut terurai seperti itu."
Mata Widya mengerjap beberapa kali dan kali ini seperti nya ia tidak peduli apakah Azri sedang merayu nya atau benar-benar mengajak nya melakukan nya. la bahkan tidak melawan ketika bibir pria itu kembali menyambangi leher nya dengan kecupan-kecupan lembut.
"Kapan terakhir kali kamu berpacaran?" Terdengar Azri berta nya.
Haruskah dia berta nya di saat seperti ini?
__ADS_1
"Empat tahun yang lalu dengan Adam. Dia pacar pertama dan terakhir ku."
Azri berhenti, lantas menatap lekat Widya sampai membuat nya merona malu.
"Hanya sekali? Ah, seperti nya aku tahu alasan nya. Kamu gadis yang membosankan. Lihat cara berpakaian mu, seharus nya kamu bisa berpenampilan lebih baik lagi."
Kalimat itu membuat Widya merasa tersinggung sekaligus tersanjung. Namun, sesaat ia sadar Azri tidak sedang mengkritik, pria itu malah sedang mencoba mengubah nya dan memberi nya saran sebagai seseorang pengamat wanita yang ahli.
"Setelah ini aku akan membelikan mu pakaian yang lebih 'perempuan." Tepat setelah kalimat itu berakhir Azri mengecup punggung tangan nya lembut dan ciuman itu berlanjut ke bibir nya.
Aku wanita bodoh, aku membiarkan diri ku termakan rayuan nya dan sekarang tubuh ku tidak menolak sama sekali disentuh oleh nya? Aku tidak boleh jatuh terjerembab dalam pesona Azri. Aku seharus nya mengabaikan hal yang satu itu.
Widya terus bertengkar dengan pikiran nya sementara tubuh nya menyambut belaian Azri. Tangan pria itu dengan cekatan menyingkap rok nya lalu meraba kulit di balik nya dengan gerakan seduktif.
Ting Tong ....
Bunyi bel memaksa Azri berhenti. Geraman keluar dari celah bibir nya. "Sial, siapa yang mengganggu di saat seperti ini?"
Dalam hati Widya bersyukur. Bel itu menyelamatkan nya dari bencana yang mungkin akan dialami nya jika apa yang dilakukan Azri tidak dicegah. Ia mendesah lega.
"Maaf, aku harus membuka nya."
Widya mendorong Azri dari atas tubuh nya. Ia segera bangkit dari tempat tidur, merapikan penampilan nya lalu membuka pintu untuk melihat siapa si penyelamat—bagi Azri, si pengganggu.
"Chris?" Widya menyambut Chris di balik pintu dengan senyuman nya.
Oh, kamu menyelamatkanku hari ini. Ia ingin sekali berkata begitu, tetapi yang keluar dari bibir nya justru kalimat lain.
"Ada apa?"
Entah hanya perasaan nya atau memang Chris sedang mengamati nya? Widya bertanya-tanya apakah penampilan nya aneh atau jangan-jangan tindakan Azri tadi 'berbekas' di tubuh nya?
"Acara penutupan akan dimulai beberapa saat lagi. Jika Azri ada di sini, beritahukan dia juga."
"Oh, tentu."
Widya termenung selama beberapa saat setelah Chris pergi. Ia hampir lupa dengan acara penutupan. Ia segera kembali ke dalam kamar nya sebelum pikiran nya teracuni oleh makhluk jahat yang sekarang sedang duduk santai di tepi ranjang.
"Apa yang dikatakan bocah itu?" tanya nya dengan nada sinis.
"Ayo siap-siap. Kita harus menghadiri acara penutupan." Widya berpura-pura kejadian tadi tidak pernah ada sementara Azri melebarkan mata nya kaget.
"Begitu saja? Lalu bagaimana dengan yang tadi kita ...."
"Kita apa?" potong Widya polos. "Kita tidak melakukan apa pun."
"Apa?"
Azri terkesiap tak percaya dengan sikap biasa Widya setelah diserang seperti tadi. Ada apa dengan gadis itu? Wanita lain mungkin akan berlari ke pelukan nya meskipun kegiatan seperti tadi terinterupsi.
__ADS_1
Rupa nya, menaklukan Widya Lovarza Anindita lebih sulit dari yang dikira nya. Namun, bukankah justru itu yang membuat nya menarik?
Bersambung .....