Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 29


__ADS_3

"Widya, kau tidak bilang kalau akan mengajak laki-laki yang bersama mu kemarin."


Adam berkata santai sambil menyesap kopi nya. Sebenar nya sejak tadi ia tahu ada yang mengintai dari jauh pembicaraan mereka. Namun, ia berpura-pura tidak tahu.


Mereka sekarang tengah berada di sebuah kafe kecil di pinggir pantai. Widya mengundang Adam menikmati secangkir kopi karena ada yang ingin dibicarakan oleh nya dengan pria itu. Baru dua puluh menit mereka berbincang, Adam sudah mengatakan sesuatu yang mengejutkan.


Sontak Widya yang duduk di depan nya itu terkesiap kaget.


"Lelaki kemarin? Di mana?"


"Jangan berbalik," cegah Adam ketika Widya akan membalikkan badan untuk melihat apakah ucapan nya benar atau tidak.


Widya cukup dikejutkan dengan pernyataan bahwa Azri berada di sana. Tepat nya, apa yang dilakukan pria itu di sini, menguntit nya?


"Kurasa dia tidak tahu aku sudah mengetahui keberadaan nya sejak tadi. Anggap saja kau tidak tahu kita sedang diintai," saran Adam.


Widya mengangguk setuju. Lebih baik ia berpura-pura tidak tahu meskipun hati nya gelisah. Ia pun kembali pada topik yang sedang mereka bahas sekarang.


la sudah berterus terang tentang pernikahan nya. Adam sempat terkejut. Ia bisa melihat raut kecewa di wajah tampan nya, tetapi bukan itu yang membuat Widya merasa cemas. Ia tidak tahu apa yang membuat nya segusar ini. Apakah karena dari jauh mata tajam Azri sedang menusuk punggung nya atau karena ketakutan lain.


Adam juga sudah diberitahu bahwa ia menikahi anak Presdir Pradipta Group, hanya saja pria itu tidak tahu seperti apa wajah suami nya. Widya belum menyiapkan diri mengatakan bahwa pria yang sedang mengintai mereka adalah suami nya. Adam pasti terkejut luar biasa.


"Kenapa kau tidak mengundangku ke pernikahan mu?" tanya Adam dengan nada sedih dan kecewa. “Apa mantan kekasih tidak cukup layak untuk menghadiri acara pernikahan mu?"


Widya terhenyak. “Bukan begitu." Ia mengibaskan tangan nya buru-buru. “Aku tidak tahu kau sudah kembali. Kukira kau masih berada di Eropa untuk melanjutkan studi arsitektur mu."


Bagaimana aku bisa ingat untuk mengirimkan kartu undangan pada mantan kekasih? Teman-temanku saja tidak ada yang diundang—kecuali Bella—Aku terlalu pusing memikirkan pernikahanku dengan pria arogan dan keras kepala itu. Batin Widya dalam hati.


Suara batin nya itu lebih baik tidak disuarakan sama sekali. Sebagai pengganti nya, Widya tersenyum hambar.


"Maafkan aku, saat itu aku disibukkan oleh persiapan pernikahan dan sebagai nya sehingga banyak hal yang kulewatkan. Di antara nya, aku bahkan lupa mengundang teman-temanku."


"Lagipula semua sudah berlalu.“ Adam tidak ingin memperpanjang rasa bersalah Widya. Ia tersenyum menenangkan. “Aku tetap mendoakan semoga pernikahan mu bahagia."


Sementara itu dari kejauhan, Azri menajamkan pendengaran nya mencoba menangkap apa yang mereka bicarakan. Namun, jarak meja mereka yang terlalu jauh membuat nya tidak bisa mendengar apa pun selain deburan ombak dan desau angin yang bergesekan dengan pasir dari arah pantai. Salah sendiri kenapa memilih meja yang agak jauh. Azri tidak mau mengambil resiko tertangkap basah oleh Widya.


Adam memandang Widya tulus. "Bagaimana pernikahan mu?“

__ADS_1


Widya mendesah berat jika ia mendengar pertanyaan orang-orang tentang pernikahan nya.


"Sejujur nya, berat sekali.” jawab nya terus terang.


Adam membelalakkan mata.


"Kenapa? Suami mu pria yang tidak baik?"


"Tidak juga," tukas Widya. Ia mencondongkan badan nya ke arah Adam untuk berbisik. Sudah saat nya ia berkata jujur. "Sebenar nya pria yang kau temui kemarin adalah suami ku."


Azri meremas majalah yang dibaca nya melihat Widya mendekatkan tubuh pada pria itu. "Apa yang dia lakukan?" geram nya.


Adam melebarkan mata lalu diam-diam melirik pria yang sejak tadi mengintai di balik bahu Widya.


"Jadi dia suamimu, Azri El Pradipta adalah suami mu?" tanyanya kaget.


Widya mengangguk pelan. Adam sendiri baru sadar bahwa marga pria itu Pradipta beberapa detik kemudian. Segala nya menjadi masuk akal. Bukankah Widya menikah dengan putra Presdir Pradipta?


"Apa dia masih melihat ke arah kita?" tanya Widya cemas. Ia tidak berani menoleh karena takut menatap mata tajam menusuk milik suami nya.


Adam mengangguk dengan sudut mata yang lain melirik pria yang ternyata suami Widya itu.


Widya mengangguk lalu menarik napas gugup kemudian. Terlintas ide gila dalam pikiran nya yang mungkin akan membuat Azri marah atau mungkin mengecap nya wanita murahan. Namun, ia ingin tahu bagaimana reaksi pria itu jika ia melakukan nya.


"Dengar, aku sangat membutuhkan bantuanmu,“ bisik Widya.


"Sebenar nya apa yang mereka lakukan? Kenapa berbicara dekat-dekat begitu?” gerutu Azri di tempat nya.


"Ya," jawab Adam yakin. Apa pun akan ia lakukan karena tampak nya Widya merencanakan sesuatu yang menarik.


"Bisakah kau mendekatkan wajah mu padaku dan memiringkan wajah mu," pinta Widya gugup. Dalam hati ia mengomeli diri karena merencanakan ide aneh yang bisa memberi nya kesan wanita murahan.


"Untuk apa?"


"Dari belakang akan terlihat seperti kita sedang berciuman. Aku hanya ingin mengetahui seperti apa reaksi nya."


"Oh, jadi kau ingin menguji suami mu sendiri?"

__ADS_1


Widya mengangguk pelan. Senang karena Adam memahami nya dengan cepat. Ia menatap pria itu penuh harap.


Adam melirik sekilas ke arah Azri lalu mendekatkan wajah nya. "Asal kau tidak menyesal," balas nya lalu mendekatkan wajah.


Jarak antara wajah mereka begitu dekat sehingga dari belakang siapa pun akan mengira mereka berciuman.


Azri membulatkan mata nya ketika menyaksikan adegan itu. Ia tidak percaya Widya akan bercumbu dengan pria lain tanpa sepengetahuan nya--menurut sudut pandang gadis itu padahal ia menyaksikan semuanya. Bagus sekali, berpura-pura menjadi wanita suci, tetapi rupa nya tabiat Widya pun sama saja.


"Sudah cukup!" Azri meletakkan dengan keras majalah yang dipegang nya lalu pergi melenggang dari kafe dengan langkah cepat.


Widya melihat Azri meninggalkan kafe dari sudut mata nya. Ia pun agak menjauhkan wajah nya.


"Bagaimana reaksi nya?" tanya nya ingin tahu.


"Seperti nya dia tidak terlalu terpengaruh. Ekspresi nya cukup datar untuk orang yang cemburu," jelas Adam, berusaha keras menyamarkan rasa kecewanya karena momen itu berlalu tanpa terjadi apa-apa. Sejenak ia berpikir mungkin ia bisa benar-benar mencium Widya dan berpura-pura bahwa itu tidak sengaja. Rupa nya itu hanya angan-angan kosong.


Hati Widya mencelos. Ia kira Azri akan menghampiri meja mereka lalu menarik nya pergi. Dugaan nya jelas salah besar. Azri sama sekali tidak peduli dengan nya atau bersama siapa ia sekarang. Pria itu tidak memiliki perasaan apa pun terhadap nya dan ia merasa konyol sekali sudah melakukan tipuan seperti ini.


"Sudah kuduga," gumam Widya dengan pandangan kosong.


Adam menatap ekspresi itu dengan wajah iba. Ia tidak tega melihat sorot terluka dari wajah Widya. Ia ingin sekali menghapus nya. Karena itu ia pun mengambil tindakan ekstrem, ia mencondongkan tubuh nya ke depan lalu dengan cepat mengecup bibir Widya.


Gadis itu tercengang. Bagus, lebih baik ekspresi nya seperti ini daripada merana seperti tadi. Adam balas memberikan tatapan yang menunjukkan bahwa ia tidak menyesal dan ciuman tadi memang disengaja. Ia menyunggingkan senyum.


"Daripada pura-pura mencium, lebih baik kita betul-betul berciuman bukan? Lagipula saat kita berpacaran dulu, kita tidak pernah berciuman sama sekali."


Tak bisa berkata-kata, Widya refleks memegang bibir nya sendiri. Samar-samar masih tersisa jejak lembut bibir Adam di sana. Detik berikut nya ia mengerjap.


Oh tidak, bagaimana bisa ia membiarkan diri nya dicium pria lain saat ia berstatus sebagai istri Azri? Dengan begini ia tidak ada beda nya dengan Azri . Bagaimana ia akan menghadapi pria itu nanti? la pasti tidak akan bisa membela diri karena ciuman itu sungguhan terjadi.


Teriakan histeris Widya tercekat di tenggorokan nya. Ia telah menggali kuburan nya sendiri. Ia tidak bisa menyalahkan Adam, bagaimana pun, karena dirinyalah yang mengusulkan sandiwara itu. Tanpa aba-aba ia bangkit dari tempat duduk nya lalu berjalan cepat keluar dari kafe. Ia bahkan lupa berpamitan pada Adam yang tercengang melihat tindakan nya.


"Widya!"


Adam berseru memanggil. Ia tak mengira reaksi Widya akan seperti itu. Terlihat jelas ia sudah menyinggung perasaan nya. Ia harus lekas meminta maaf. Ia tidak mau hubungan mereka menjadi canggung. Ia hendak mengejar Widya, tetapi sosok nya sudah menghilang entah ke mana. Ia meremas rambut nya sendiri.


Bagaimana kau bisa seceroboh itu, Adam Lewis! batin nya sebal pada diri sendiri.

__ADS_1


Apa yang harus dilakukan nya jika Widya tidak mau bertemu dengan nya lagi? Sudah beberapa tahun ini ia mencoba menghubungi Widya, tetapi selalu gagal. Beruntung sekali bertemu di tempat yang tidak terduga seperti ini dan sekarang ia mengacaukan segalanya.


Bersambung ....


__ADS_2