
Azri tercengang menatap Lia sementara Bella memandang gadis di depan nya dengan curiga.
Sekilas pandang saja Bella bisa menebak identitas nya. Jadi dia wanita yang mirip dengan wanita masa lalu Azri?
Reaksi berbeda di tunjuk kan oleh Ryan. Pria itu tampak terkejut. Bibir nya bergetar. Kulit wajah nya nyaris pucat pasi seperti baru saja melihat hantu.
"Kamu--" Ryan menatap Lia lekat-lekat. Gadis itu tersenyum padanya lalu menundukkan kepala sekilas.
"Maaf aku lupa mengenal kan diri. Aku Lia Fernandez. Ku harap kalian menikmati pesta kecil ini.“
Mereka berkenalan singkat di liputi berbagai emosi. Ryan merasa canggung dan Bella berusaha keras mengendalikan ekspresi nya.
"Jadi semua ini hasil pekerjaan mu?“ ucap Azri. Ia memaksakan senyum ramah.
Ryan memandang sahabat nya sekilas. Sekarang ia paham alasan Azri terus menanyakan soal putri Presdir GN. Lia benar-benar mirip Yuna. Ryan masih ingat dengan benar bagaimana wajah mantan kekasih Azri itu. Lia bagai pinang di belah dua dengan Yuna.
Apa kah dia benar Yuna ataukah orang lain? Mereka terlalu mirip jika dibilang hanya kebetulan. Ryan sejenak hampir berpikir ia melihat Yuna yang bangkit dari kuburan nya dan berjalan menyapa nya.
"Aku tidak keberatan menuangkan sedikit keahlian ku di sini."
"Semua tampak mengagum kan. Ku pikir tangan hebat mana yang telah membuat pesta seindah ini. Ternyata kau lah pelaku nya," ujar Ryan sedikit merayu.
Widya tak bermaksud memperhatikan, tetapi Lia Fernandez benar-benar seorang dewi. Segala yang dikenakan nya tampak luar biasa. Bahkan Lia tampak menawan meski hanya tersenyum ringan. Sekali lagi ia dibuat tersadar. Bagaimana ia bisa menyaingi gadis seperti nya?
Lia tersenyum puas, terlihat congkak di mata Bella dan Widya. Namun، kedua nya sepakat untuk tidak berkomentar apa pun. Dalam hati baik Bella maupun Widya mengecam para pria yang terlihat senang berbicara dengan Lia.
"Baiklah, seperti nya aku harus menyapa yang lain. Selamat menikmati pesta." Lia mengibaskan sedikit rambut nya ke belakang sebelum melenggang pergi.
Bella mendekati Widya lalu berbisik. "Aku tidak akan pernah menyukai nya. Aku bersumpah. Dia tampak seperti nenek sihir. Kamu lihat cara dia tersenyum tadi, menyebalkan sekali."
Widya tersenyum kecut. "Ku rasa tidak ada nenek sihir yang secantik itu."
Bella memandang nya serius. "Kamu tidak boleh kalah dari nya. Kamu lebih dari pantas untuk mempertahankan posisi mu sebagai Nyonya Pradipta.”
__ADS_1
"Aku tidak tahu Bella," lirih nya pelan lalu memandang Azri yang diam dengan mata tertuju pada punggung Lia yang menjauh. Ekspresi Azri itulah yang membuat nya tidak yakin.
"Aku tidak sanggup berada di sisi nya jika dia terus menerus memperlihatkan ekspresi rindu saat menatap gadis itu." Widya menghela napas berat. "Masih tersisa tempat untuk Yuna di hati nya."
"Widya!" Bella menegur, "kamu tidak boleh lupa. Dia Lia, bukan Yuna."
Azri belum bisa mengalihkan pandangan nya dari Lia. Entah kenapa ia merasa terganggu setiap kali menatap gadis itu. Bukankah ia sudah berjanji tidak akan pernah menyangkutpautkan Lia dengan Yuna? Mereka dua orang yang berbeda. Namun demi Tuhan, ia selalu merasa sedih sekaligus bersalah setiap kali melihat wajah nya. Wajah yang sama seperti milik Yuna.
"Lia terlalu mirip jika di bilang orang lain," gumam Ryan serius. Azri melirik Ryan melalui ekor mata nya. "Kamu yakin dia bukan Yuna?"
Azri menggertakkan gigi. “Ku harap mereka orang yang berbeda."
Tak lama kemudian terdengar pengumuman bahwa pertunjukkan akan di mulai. Semua tamu mulai bergerak meninggalkan ruangan pesta menuju theater hall.
Widya senang karena Azri menggenggam erat tangan nya selama mereka berjalan menuju kursi mereka. Namun, saat menyadari pandangan kosong suami nya, senyum di bibir Widya lenyap. Semua pasti karena Lia, atau karena Lia yang mirip dengan Yuna? Kedua nya membuat Widya sebal.
Widya berniat menikmati pertunjukkan pada awal nya. Namun lagi-lagi rencana nya tidak berjalan lancar karena siapa yang tahu Lia menempati kursi tepat di samping Azri.
Widya hanya melemparkan senyum palsu sementara Azri terpana. Ia tidak yakin semua ini hanya kebetulan saja. Lia pasti sudah merencanakan nya. Widya menyesal kenapa tadi tidak mengambil tempat yang Azri duduki saat ini.
"Yeah, aku tidak menyangka," sahut Azri dengan suara hambar.
Keberadaan Lia di samping nya menimbulkan atmosfer yang tidak nyaman. Azri menoleh pada Widya yang diam, tak menoleh pada nya sedikit pun. Penasaran apa yang sedang di pikirkan Widya saat ini. Ia hanya berharap Widya tidak salah paham. Azri tidak pernah merasa senang dengan kehadiran Lia. Sebalik nya, ia merasa terusik.
Selama pertunjukkan berlangsung Widya menyadari Azri tidak mencoba mengajak nya bicara atau pun sekedar menggenggam tangan nya. Ia bukan nya mengharapkan Azri menatap nya setiap saat, tetapi paling tidak hati nya tenang jika Azri memegang tangan nya. Ia memberanikan diri menoleh dan alangkah terkejut nya saat ia melihat Lia sedang menyandarkan kepala nya di pundak suami nya.
Widya mencelos. Ia heran mengapa Azri tidak mencegah nya. Kenapa pria itu pasrah saja bahu nya menjadi bantal kepala Lia? Tiba-tiba ia di sengat rasa cemburu yang membuat mata nya seperti tertusuk-tusuk. Jadi ini alasan mengapa ia di diamkan? Ternyata Azri memang masih menyimpan perasaan khusus pada Yuna sehingga secara tidak sadar dia memberikan perasaan nya itu pada seseorang yang mirip Yuna.
Widya sudah tidak berminat lagi menyaksikan drama musikal itu. Lebih baik ia keluar sebelum ia terlanjur menangis di sana.
"Kamu mau ke mana?" Azri mengerjap melihat istri nya bangkit.
Widya menjawab dengan nada dingin bahkan tanpa menatap nya.
__ADS_1
"Aku merasa tidak enak badan. Aku harus menghirup udara segar.“
Azri hampir saja bangkit untuk meraih tangan Widya, tetapi ia tidak bisa bergerak karena kepala Lia ada di bahu nya. Gadis itu tertidur dan ia ragu untuk membangunkan nya. Namun, bagaimana dengan Widya? Azri akhir nya memilih jalan yang disesali nya. Dengan berat hati ia membiarkan Widya pergi.
"Baiklah, tunggu aku di mobil. Di sana ada kotak obat." Azri menyerahkan kunci mobil nya pada Widya yang langsung di sambut tatapan tak percaya gadis itu.
Azri tega membiarkan nya pergi dan memilih tinggal di sini menemani gadis lain yang tertidur?
"Tidak perlu. Aku bisa mengurus diri ku sendiri.“ Widya pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Widya bergegas meninggalkan aula pertunjukkan itu. Hati nya sudah sesak. Terjawab sudah ketakutan nya selama ini. Azri memang menginginkan Lia. Pria itu secara tidak sadar sudah jatuh cinta pada Lia.
Seusai kepergian Widya, Azri mengutuk diri nya sendiri. Ia seharus nya menemani Widya, istri nya. kenapa ia memilih tetap tinggal? la menoleh perlahan pada gadis yang tertidur di samping nya. Ia heran kenapa ia tidak bisa meninggalkan Lia. Kenapa?
****
Azri membangunkan Lia yang tertidur setelah pertunjukkan berakhir. Ia harus mencari istri nya. Gadis itu menggeliat, lalu tersenyum penuh terima kasih pada Azri.
"Maaf, aku sudah merepotkan mu. Aku merasa lelah setelah menyiapkan segala hal untuk pesta. Ku harap kamu tidak keberatan."
Lia memperlihatkan raut penuh penyesalan. Azri tersenyum kecil. Tadi Lia memang sempat meminta izin untuk tidur bersandar pada bahu nya karena dia kelelahan. Entah kenapa saat itu Azri tidak bisa menjawab tidak.
"Tidak apa-apa. Kamu tidak apa-apa ku tinggalkan? Aku harus menyusul istri ku."
"Oh, dia pasti kesal karena kecerobohan ku. Sampaikan maaf ku untuk nya." Lia benar-benar menyesal.
"Ya, akan ku sampaikan." Azri segera bangkit meninggalkan Lia. Gadis itu duduk di kursi nya dengan senyum penuh kepuasan tersungging di bibir.
"Tebakan ku benar, Azri El Pradipta tidak akan pernah bisa menolak ku dengan wajah yang mengingatkan nya pada cinta masa lalu nya." Pandangan nya menggelap. "Saat ini balas dendam ku baru dimulai."
Bersambung .....
How do you feel?
__ADS_1