Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
107


__ADS_3

Widya menemukan Lia duduk di kursi taman. Ia meringis ketika melihat penampilannya yang menyedihkan. Tak ada lagi rambut bergelombang yang indah. Rambut itu kusut, pakaiannya lusuh dan wajahnya kusam karena debu asap.


"Kamu terlihat menyedihkan," ucap Widya ketika berdiri di depannya. Lia mengangkat wajahnya dengan lesu.


"Yeah, kamu terlihat senang melihatku seperti ini.“


"Sebenarnya, ya. Kondisi ini lebih mencerminkan isi hatimu yang sesungguhnya."


"Kamu benar." Lia mendesah. “Ayahku tidak pernah mencintaiku."


Kedua mata Widya melebar. "Oh, kamu sudah menyelidikinya." Bukankah ia memang menginginkan Lia terpuruk setelah mengetahui fakta itu, tetapi mengapa sekarang ia merasa tidak tega?


"Jadi kamu memanggilku kemari untuk memberitahuku hal ini?“


"Tidak." Lia menggeleng, sorot matanya kian meredup. "Aku hanya ingin meminta maaf."


Pernyataan yang tidak pernah disangka sama sekali. Rasanya seperti mimpi seorang Lia Fernandez yang ambisius, pendendam, dan keras kepala meminta maaf padanya. Widya terpaku memandang Lia untuk memastikan apakah gadis di depanya memang Lia Fernandez yang ia tahu.


"Sendirian sepanjang malam membuatku berpikir. Selama ini aku terlalu bodoh memercayai ayahku. Dialah penjahat yang sesungguhnya. Aku benar-benar malu bahkan untuk melihat diriku sendiri di cermin."


Lia menatap kedua tangannya dengan raut jijik. "Tangan ini begitu kotor. Aku banyak menggunakan tangan ini untuk mempersulit hidup orang lain. Apa yang harus kulakukan untuk membersihkannya?"


Gadis itu mulai terisak. Widya bisa merasakan penyesalan mendalam yang tersirat dari suaranya. Lia menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya yang kotor. Percuma saja menangis, penyesalan memang selalu datang terlambat dan semua yang sudah ia lakukan tidak akan bisa diubah.


"Kamu bisa membersihkannya," sahut Widya. ia tidak tahu apa yang dikatakannya, tetapi ia ingin sekali membantu Lia. "Kamu bisa berbuat baik mulai saat ini."


Lia bukan ancaman lagi saat ini, karena itu Widya duduk di sampingnya tanpa menakutkan apa pun, “Masih ada kesempatan untuk memperbaiki dirimu. Jika kamu tidak ingin berakhir seperti ayahmu, kamu harus mengubah dirimu sendiri."


"Oh, aku tidak tahu apa aku bisa.“


"Tentu saja kamu bisa." Widya menepuk pundaknya.


Lia mendesah, pikirannya benar-benar kacau balau sejak kemarin. "Sebenarnya ada alasan lain aku meminta bertemu denganmu." Ia mengambil map yang sejak tadi terabaikan di sisinya lalu mengangsurkan map itu pada Widya.


"Apa ini?" Alisnya berkerut.


"Itu surat perjanjian pinjaman Pradipta Group terhadap GN Group yang asli, kamu bisa menggunakan itu untuk menuntut balik GN Group."


Apa? Widya membelalakkan mata. Ia langsung mengeluarkan berkas-berkas itu dan membacanya. Benar, Lia tidak berbohong. Astaga, dengan ini ia bisa membebaskan Pradipta Group dari utang-utang itu.


"Tunggu dulu." Widya menoleh pada Lia. "Bagaimana kamu bisa mendapatkan ini? Bukankah GN Group terbakar?"

__ADS_1


"Yeah, aku menyelamatkannya lebih dulu." Lia bangkit. Ekspresinya begitu muram. Ia menatap Widya yang tak mengerti. "Aku yang membakar gedung itu," ucapnya datar.


Kali ini Widya benar-benar terkejut. Barulah ia melihat sorot dendam di mata gadis itu. Ia tidak pernah menyangka Lia akan melakukannya, membakar perusahaan keluarganya sendiri? Jadi sekarang ia sedang berhadapan dengan pelaku pembakaran gedung GN Group? Astaga, bagaimana ia menanggapi hal ini? Apakah ia harus melaporkannya atau membiarkannya?


"Kenapa?" Widya tahu pertanyaannya bodoh, tetapi ia tetap menanyakannya.


"Ayahku pantas mendapatkannya. Dia lebih menyayangi perusahaan itu dibanding diriku. Jadi kupikir satu-satunya cara untuk bisa menyakiti hatinya hanyalah dengan menghancurkan perusahaan itu. Kenapa, kamu ingin melaporkanku ke polisi?“Liai menyadari Widya tercengang menatapnya.


"Aku tidak tahu, ketika aku mendengar berita itu di televisi, kamu tahu hal apa yang kupikirkan?" Widya tertawa hambar, "Aku harus berterima kasih pada siapa pun yang membakar gedung itu. Aku tak perlu melakukan apa pun untuk menghancurkannya." Ia menatap Lia dengan iba. Gadis itu kini benar-benar terlihat menyedihkan. “Kamu yakin kamu baik-baik saja?"


Lia menggeleng sedih. "Tidak." Ia menarik napas dalam, tenggorokannya terasa tercekat. "Kurasa Ayah tidak akan pernah memaafkanku. Ya, tidak masalah. Aku akan pergi dan memulai hidup yang baru di tempat lain."


"Bagaimana dengan kakakmu? Kurasa dia akan mencemaskanmu."


"Aku akan berpamitan dengannya." Lia memandang Widya. "Jadi kurasa hari ini adalah hari terakhir kita bertemu." Ia mendekat.


Widya tidak perlu mundur atau pun merasa takut. Ia membiarkan Lia memegang kedua tangannya.


"Aku sungguh-sungguh meminta maaf karena sudah mengacaukan pernikahanmu dan Azri. Aku juga tahu permintaanku ini egois. Karena diriku Azri kecelakaan. Aku hampir saja menghancurkan hidup seseorang hanya karena perasaan cintaku. Azri tidak pernah mencintaiku. Meskipun aku mirip sekali dengan Yuna, aku tahu aku tidak akan seberuntung Yuna yang pernah memiliki hati Azri. Aku bodoh karena tidak mempercayai Marleen ketika dia berkata usahaku akan sia-sia. Azri mencintaimu, itu tidak perlu diragukan lagi. Dia membuktikan kata-katanya, tidak ingin mengkhianatimu, dia lebih memilih mati."


Lia sungguh-sungguh. Perasaan bersalah, menyesal, dan sakit karena cinta tak terbalas tercermin jelas dalam retina matanya. Gadis itu menarik napas sementara Widya tersedak karena hatinya tersentuh.


Widya mengangguk, air matanya melinang. "Kamu tak perlu memintaku dua kali." la memberikan Lia pelukan. "Aku harap kamu bahagia."


Lia mengangguk. Mereka berpamitan sekali-lagi sebelum berpisah. Widya menatap punggung Lia dengan perasaan yang berbeda. Gadis itu sudah menyesal. Lagi pula Lia sebenarnya hanya korban dan dia pantas bahagia. Tidak seharusnya Lia hidup sebagai boneka yang dikendalikan ayahnya.


Tentang kebakaran itu, anggap saja itu sebagai hukuman atas kejahatan yang dilakukan Presdir GN. Apa yang dipikirkan pria itu bila tahu putrinya yang melakukannya? Tapi tidak, pria itu atau siapapun tidak akan tahu karena Widya akan menutup mulut untuk hal ini.


Widya menatap berkas yang diberikan Lia. Seperti yang disarankan Lia, ia akan menggunakan ini untuk menuntut Matthew Fernandez.


***


"Aku tidak pernah melakukan kejahatan apa pun!"


Sudah tiga puluh menit Matthew Fernandez berteriak di ruang pemeriksaan tersangka di kantor kepolisian. Polisi sampai harus mendudukkannya kembali ke kursi sebelum polisi yang duduk di balik meja itu mengajukan pertanyaan yang lain.


Pintu ruangan itu terbuka, mengalihkan Matthew dari sesi interogasinya. Ia begitu lega melihat putranya masuk.


"Rendra, baguslah kamu membawa serta pengacara kemari. Kamu harus menyelamatkan ayahmu dari tuduhan-tuduhan ini."


Rendra tidak menunjukkan raut ramah seperti yang dikiranya. Bahkan Pengacara yang berdiri di belakang pria itu tak menunjukkan reaksi apa pun. Presdir GN mencium sesuatu yang tidak menyenangkan. Ada apa ini?

__ADS_1


Rendra menatap ayahnya dengan raut datar. "Maaf Ayah, tetapi aku tidak bisa melakukannya."


"Apa maksudmu?!" Presdir GN tersentak, terkejut.


Rendra mengembuskan napas berat, “Ayah sudah keterlaluan. Selama ini aku diam saja menyaksikan semua kelicikanmu tetapi kali ini, aku tidak bisa membiarkan kejahatanmu lebih lama lagi."


Presdir GN naik pitam mendengar penuturan putra yang selama ini ia banggakan. "Rendra Fernandez! Inikah balasanmu atas apa yang sudah kuberikan selama ini? Kamu bisa membuat Gn Group bangkrut jika tidak membebaskanku dari tuduhan ini!" la tidak percaya Rendra berani melawannya karena selama ini, putranya tidak pernah berani sekali pun membantah perintahnya.


"Aku akan membangun GN Group kembali, tetapi tidak dengan cara licik sepertimu. Tetapi untuk saat ini, kau harus merasakan apa akibat dari perbuatan yang kau lakukan di masa lalu."


Presdir GN tercengang ketika Rendra menoleh kepada pengacara di belakangnya lalu berkata, "Pak, bantu aku memenjarakan Ayahku.“


"Apa?! Rendra Fernandez!"


Rendra tidak mendengarkan teriakan histeris ayahnya. Ia menoleh pada petugas polisi yang menangani kasus ayahnya. "Aku bersedia menjadi saksi. Kapanpun kalian membutuhkan kesaksianku, aku siap." Ia menundukkan kepalanya lalu berbalik pergi.


"Tunggu, Rendra! Kamu tega memenjarakan ayahmu sendiri? Kamu sungguh anak durhaka!" teriak ayahnya.


Langkah Rendra berhenti lalu ia berbalik memandang ayahnya. Untuk pertama kalinya ia menunjukkan ekspresi kejam yang ia pelajari selama bertahun-tahun dari ayahnya untuk mengintimidasi orang lain.


"Kau tidak pantas menyebut dirimu sendiri seorang Ayah. Tidak ada Ayah yang membunuh anaknya sendiri. Tidak ada seorang Ayah yang memanfaatkan anaknya untuk keuntungannya sendiri, tanpa peduli apakah anaknya akan hancur atau tidak dan tidak ada seorang Ayah yang bahkan tidak khawatir ketika anaknya hampir memutuskan untuk bunuh diri."


Rendra memukul ayahnya dengan telak. Pria paruh baya itu mematung.


"Karena itu kali ini aku memohon padamu, bebaskan aku dan Lia. Kami ingin menjalani hidup sesuai yang kami inginkan. Sementara itu, kau nikmatilah kehidupan barumu di penjara." Ia membungkukkan badannya sebagai penghormatan terakhir sebelum pergi meninggalkan ayahnya yang terpaku.


"Tidaakk!"


Pria itu berteriak mencoba mengejar, tetapi petugas polisi segera menahannya. Ia terpuruk dalam penyesalanya yang terdalam.


"Kamu harus mencari Lia adikmu! Dia yang seharusnya dipenjara! Aku tahu anak itu yang telah membakar perusahaan kita!"


Pria itu terus berteriak namun Rendra tidak mau mendengarkannya. Cukup sudah ia mendengarkan segala kalimat provokatif dari mulut ayahnya. Ia tidak mau mendengarnya lagi.


Setibanya di mobil, Rendra memejamkan matanya rapat-rapat. Sebenarnya hatinya sangat berat ketika harus menerima kenyataan bahwa ayahnya memang bersalah. Ia tidak bisa membiarkan ayahnya berbuat jahat kembali jika ia membebaskan ayahnya. Dahulu ia diam karena ayahnya memiliki kekuasaan, tetapi sekarang ketika ia memiliki kesempatan ia tidak akan melewatkannya.


"Maafkan aku Ayah, aku memang anak durhaka. Tetapi aku melakukan ini untuk menyelamatkan orang-orang yang ku sayangi. Untuk menyelamatkanmu dari perbuatan jahat mu."


la mengusap setitik air mata di sudut matanya dengan cepat lalu menyuruh supir untuk menjalankan mobilnya karena ia masih harus mencari adiknya. Sama seperti ayahnya, ia pun merasa pelaku pembakaran itu adalah Lia Fernandez. Ia harus mencarinya sebelum gadis itu melakukan hal gila lain seperti, mem bunuh diri nya sendiri.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2