
Heppy Reading ...
Kenan baru mengingat kembali, kalau dia belum memberikan kabar tentang Bella pada semua orang. Sampai mereka semua salah paham padanya.
"Kata siapa dia meninggal?" tanya Kenan balik.
Miranda menaikkan sebelah alisnya, kemudian menatap Kenan dengan heran berganti ke arah semua orang yang ada di sana.
Astuti tersenyum mendengar ucapan Kenan dan langsung menghampiri pria itu, begitu juga dengan pak Asep dan Tia. Sebab mereka sangat bahagia mengetahui Bella masih hidup.
"Tuan, anak saya masih hidup?" tanya Astuti dengan sangat bergembira.
Kenan menganggukkan kepala, mengartikan iya pada semua orang, kemudian dia bergegas pergi menuju kamar utama yang di ikuti oleh Miranda.
Setelah kepergian Kenan, Astuti dan pak Asep bergegas pergi menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Bella.
"Tunggu!" teriak Tia mengentikan langkah pak Asep dan Astuti.
Tia menghampiri kedua orang tua yang sudah seperti ayah dan ibunya sendiri, karena dia ingin ikut juga. Namun, gadis itu tidak tahu di rumah sakit mana Bella di rawat.
"Kalian tahu di mana Bella di rawat?" tanya Tia.
Pak Asep dan Astuti saling menatap satu sama lainnya dan menggelengkan kepala mereka.
"Lalu? Mau ke mana Paman dan Bibi?" tanya Tia sambil menepuk keningnya.
Karena kedua orang tua yang ada di hadapannya sangat polos.
"Sebaiknya kita tunggu Tuan Kenan, karena dia tahu di mana Bella di rawat," sahut pak Asep dan kedua wanita itu menganggukan kepala.
*
*
*
Kenan mengambil beberapa baju, membuat Miranda heran. Entah mau ke mana suaminya pergi pikir dia.
"Sayang, mau ke mana?" tanya Miranda sambil bergelayut manja di lengan Kenan.
"Lepaskan! Aku akan pergi untuk beberapa hari saja!" Kenan menghempaskan tangan Miranda.
Membuat wanita itu kesal dan langsung mengambil baju yang tadi sudah di susun oleh Kenan.
"Miranda, tolonglah jangan seperti ini," ucap Kenan sambil tersenyum manis pada sang istri.
Miranda tersenyum nakal, kemudian mengusap bibirnya agar Kenan mengecupnya. Pria itu pun menuruti keinginan sang istri.
Kecupan itu berbuah menjadi luma-tan, karena Miranda sengaja membuat Kenan berlama-lama bersamanya.
__ADS_1
Kenan menyudahi ciuman itu, karena dia ingin kembali ke rumah sakit menjaga Bella, agar wanita itu tidak kabur. Walaupun banyak anak buahnya yang bertugas di sana.
"Ken, mau ke mana?" tanya Miranda dengan sangat manja.
Kenan tersenyum dan berkata, "Rumah sakit."
Miranda langsung memasang wajah jutek, karena sang suami akan pergi menemui sang madu dan meninggalkan dia di rumah.
"Ayolah jangan cemberut! Aku akan kembali besok pagi," ucap Kenan yang tersenyum genit.
Miranda tidak menggubris ucapan sang suami dan memilih tidur di kasur sambil membalikkan tubuhnya.
Kenan tersenyum, karena dia tahu saat ini sang istri tengah cemburu dan kesal padanya, sebab lebih memilih untuk bertemu Bella ketimbang Miranda.
'Dari dulu sampai sekarang dia tidak berbuah, tetap saja suka cemburu dan ngambek,' batin Kenan.
Pria itu menghampiri sang istri dan mencium puncak kepala Miranda dengan sangat lembut, kemudian membisikkan sesuatu di telinga sang istri. Membuat wanita itu langsung tersenyum dan bangun.
"Benarkah?" tanya Miranda dengan sangat bergembira.
Kenan menganggukkan kepala dan tersenyum sambil mengelus-elus rambut sang istri.
"Baiklah, kau boleh pergi. Tapi, besok kembali dan lakukan ucapan mu tadi padaku," ucap Miranda dengan sangat manja.
"Siap Nyonya ku!" Kenan mengangkat tangan ke udara membuat Miranda tertawa, dan memeluknya dengan sangat erat.
Kenan tersenyum simpul kemudian menjawab ucapan sang istri.
"Aku menikah lagi itu karena permintaan dari siapa?" tanya Kenan sambil mengedipkan sebelah mata.
Miranda memukul bidang dada sispack Kenan, karena sudah meledeknya dengan cara tidak langsung.
Mereka berdua bercanda tawa bersama, karena Kenan selalu mengutamakan kebahagiaan sang istri barulah dia. Sebab, Miranda adalah harta terindah yang di milikinya saat ini.
*
*
*
Adnan masuk ke dalam kamar inap Bella, karena ingin memeriksa keadaan gadis itu dan mengganti infus yang sudah habis.
Saat dia masuk, terlihat Bella tengah tertidur pulas hanya sendirian saja dan Adnan tersenyum. Sebab, pria yang sangat menjengkelkan sudah tidak ada lagi.
"Syukurlah pria kutub itu sudah tidak ada lagi," ucap Anda sambil mengerjakan tugasnya.
Bella terbangun saat mendengar ucapan Adnan, sehingga dia dan Dokter muda itu saling menatap satu sama lainnya.
"Maaf, aku sudah menganggu tidurmu," ucap Adnan lembut.
__ADS_1
"Tidak Dokter, saya terbangun karena mendengar seseorang berbicara," sahut Bella.
Adnan tersenyum karena dirinya tadi sudah berbicara sendiri dan membuat pasiennya bangun.
"Apa kamu sudah membaik?" tanya Adnan sambil memeriksa tekanan darah Bella.
"Sudah. Apakah saya besok sudah di perbolehkan pulang?" tanya Bella.
Adnan menganggukkan kepala dan tersenyum, kemudian dia terdiam, karena takut akan bertanya kepada Bella mengenai pergelangan tangan yang di iris gadis itu.
"Ada apa, Dok?" tanya Bella yang melihat kalau sang Dokter akan mengungkapkan sesuatu padanya.
Adnan tersadar dan memberanikan diri untuk bertanya agar dia terlepas dari rasa penasarannya, mumpung Bella tengah sendiri dan tidak ada manusia kutub itu lagi.
"Sebenarnya ... " Adnan bertanya apa yang ada di benaknya pada Bella tanpa rasa canggung sedikitpun.
Sedangkan Bella tidak bisa menceritakan semua kebenarannya pada Adnan, karena dia takut kalau Kenan sampai tahu maka ia akan habis pikirannya. Sehingga gadis itu hanya menceritakan sekedarnya saja agar Dokter yang merawatnya tidak banyak tanya lagi.
Adnan tersenyum karena tahu sebenarnya Bella tidak menceritakan yang sebenarnya padanya. Namun, dia menghargai jawaban dari gadis itu.
'Ada apa sebenarnya pada mereka berdua, aku jadi penasaran?' batin Adnan.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Kamu jangan lupa istirahat dan minuman obat!" Adnan bergegas pergi dari sana meninggalkan Bella sendirian
Gadis itu hanya diam dan memejamkan kedua matanya, kemudian mengingat adanya selang transfusi darah yang mengalir ke dalam tubuhnya.
"Ini darah siapa? Bukankah aku memiliki golongan darah langka?" tanya Bella dengan sangat penasaran.
Sebab, dia memiliki golongan darah AB negatif yang lumayan langka di rumah sakit. Namun, dengan mudahnya Kenan mendapat darah itu?
*
*
*
Setelah satu jam lamanya menunggu Kenan, kini pria itu memunculkan batang hidung di hadapan ketiga pelayanan rumahnya itu.
"Ada apa?" tanya Kenan dengan sangat heran.
Sebab, ketiga pelayanannya menatap dia seperti akan menelannya detik itu juga.
"Sebenarnya ... " Tia menceritakan apa tujuan mereka menunggunya di depan rumah.
Kenan menyetujui permintaan dari mereka, karena dia sudah tidak memiliki waktu. Sebab pria itu takut sang istri bertemu Adnan lagi seperti sebelumnya.
"Ayo semuanya masuk mobil!"
Bersambung.
__ADS_1