
Hari ini Kendra bersama Zaskia akan pergi ke rumah sakit, karena pria itu akan melakukan operasi pasien Adnan.
Ya, kemarin Kendra dan Zaskia menemui Adnan meminta agar pria itu mengizinkan Kendra untuk ikut melakuakn operasi pasien. Sebab, itu keinginan Zaskia.
"Sudah?" tanya Kendra.
Pria itu menatap sang istri yang tengah bersiap-siap, dan Zaskia langsung menghampiri sang suami.
"Sudah," jawab Zaskia.
Kendra menghela nafas panjang, karena dia takut melakukan operasi untuk yang pertama kali. Padahal, ia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang operasi.
Kendra dan Zaskia berjalan dengan perlahan menuju ruang tamu, dan melihat semua orang tengah berkumpul. Merupakan pun menghampiri semua yang ada di sana.
"Ken, kamu mau ke mana?" tanya Fajar.
Belum sempat Kendra menjawab, Kenan sudah memotongnya sehingga dia hanya diam saja.
"Aku tidak ke mana-mana, Ayah." Kenan tertawa melihat wajah sang mertua.
Fajar menghela nafas panjang, kemudian dia menatap wajah Kendra yang terlihat sangat bersedih.
"Ken, ada masalah apa? Katakan pada ayah?" tanya Fajar dengan lembut.
Ya, Fajar menganggap Kendra sebagai anak nya. Sebab, ia sangat menyayangi Kendra sama seperti dia menyayangi Siska dan Bella.
"Sebenarnya Ayah-" terputus karena Fajar memotong ucapan sang menantu.
"Aku bertanya pada anakku, bukan kau!" ucap Fajar dengan ketus.
Kenan mengendus kesal, karena sang adik sangat dekat dengan mertuanya sedangkan dia tidak.
"Sebenarnya Ayah ... "
Kendra menceritakan semua pada Fajar, membuat seisi rumah tertawa mendengar permintaan konyol Zaskia.
"Sabar Ken, itu adalah keinginan anakmu. Siapa tahu dia besar nanti akan menjadi dokter," ucap Fajar dengan lembut.
Kendra tersenyum dan menatap wajah Fajar, kemudian dia bangun.
"Kami pergi dulu, Ayah." Kendra menghampiri Fajar dan mencium tangan pria itu.
"Hati-hati," sahut Fajar.
Kendra berjalan dengan sangat lema, sedangkan Zaskia sangat gembira hari ini, karena keinginan gilanya akan terpenuhi.
'Senangnya dalam hati, kalau keinginan terpenuhi seperti ini,' batin Zaskia dengan sangat gembira.
Kendra merasa dirinya akan mati detik ini juga, saat membayangkan bagaimana dia nanti di dalam ruangan operasi. Walaupun ia hanya melihat dan membantu Adnan nantinya.
Tetap saja, rasa takut dan cemas menjadi satu membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi.
'Selamatkan aku ya Tuhan, lindungilah aku dari operasi nanti,' batin Kendra lirih.
. . .
Kenan masih saja tertawa mengingat wajah sang adik sebelum pergi tadi, karena dia tahu bagaimana rasa menuruti keinginan aneh wanita hamil.
"Mas, kita ikut ke rumah sakit juga yuk," ucap Bella dengan lembut.
Kenan langsung menatap wajah Bella, karena sang istri ingin ikut Zaskia dan Kendra. Pria itu berpikir kalau istrinya akan meminta hal yang sama seperti adik iparnya.
'Astaga! Aku tidak ingin melakukan hal seperti itu,' batin Kenan.
Fajar tertawa melihat ekspresi wajah Kenan, karena di tahu sang menantu takut Bella meminta hal aneh.
"Ken, sudahlah. Kalian pergi saja!" ucap Fajar dengan lembut.
Fajar tertawa sambil terus menatap wajah Kenan, yang terlihat jelas sedang menahan takut.
"Ayo Mas!" Bella bangun dan bergegas pergi dari sana.
Kenan masih diam sambil memegang kucing mobilnya, dan ia menatap ke arah Betran yang sejak tadi memandangnya.
"Sabar Om," ucak Betran dengan lembut.
Namun, nada bicaranya mengejek Kenan, sehingga pria itu langsung bergegas pergi dari sana.
Kenan berjalan masuk ke dalam mobil, bersama Bella dan mulai melajukan mobilnya dengan perlahan menuju rumah sakit.
Hati Kenan berdebar-debar, saat membayangkan kalau Bella mengatakan dia igin hal yang sama seperti Zaskia.
. . .
Kendra dan Zaskia bersama Adnan di ruangan dokter tampan itu, membahas tentang operasi nanti.
"Kita akan melakukan operasi anak kecil, yang mengalami usus buntu," ucap Adnan sambil melihat berkas-berkas.
Kendra semakin takut mendengar kalau pasien Adnan adalah anak kecil, dan usianya masih sepuluh tahun.
"Terimakasih Dok, sudah menyetujui keinginan saya," ucap Zaskia dengan lembut.
Adnan tersenyum, karena dia tidak bisa menolak keinginan wanita hamil. Apa lagi Kendra hanya melihat dan tidak mengganggu pekerjaannya.
"Kalau begitu, ayo kita ke ruang oprasi." Adnan bergegas pergi dari sana.
Kendra mengikuti langkah sang Dokter menuju ruangan operasi, sedangkan Zaskia hanya menunggu di depan ruangan.
Kendra dan Adnan memakai baju khusus untuk oprasi, dan hati pria itu semakin berdenyut. Sebab, rasa takutnya akan oprasi nanti.
"Ayo semua!" Adnan dan tim lainya masuk ke dalam ruangan khusus oprasi.
Kendra terdiam saat melihat anak kecil yang ada di hadapannya. Terlihat anak itu sudah pingsan akibat bius.
__ADS_1
"Mari kita berdoa dengan kepercayaan masing-masing," ucap Adnan.
Kendra berdoa untuk dirinya agar kuat melihat oprasi yang akan berjalan. Adnan memulai oprasi dan Kendra langsung pingsan.
Satu orang perawat membawa Kendra ke luar, dan kembali ke ruang oprasi dan melanjutkan tugasnya.
. . .
Kenan dan Bella baru saja sampai di rumah sakit dan mereka langsung berjalan menuju ruang operasi. Terlihat Zaskia tengah duduk sambil bermain ponselnya.
Bella langsung menghampiri Zaskia, sedangkan Kenan masih diam di tempat. Karena, ia takut sang istri meminta agar dia melakukan operasi.
"Zaskia, suamimu di dalam?" tanya Bella dengan lembut.
Zaskia menganggukkan kepala, dan mereka berdua bercerita bersama sampai Bella mengingat sang suami.
"Mas, kemari!" pinta Bella.
Zaskia melihat Kenan berdiam diri, dan pria itu menghampiri mereka berdua dan duduk di samping Bella.
"Ngapain di sana kak?" tanya Zaskia.
Kenan tersenyum dan memberikan kode pada Zaskia, membuat gadis itu tertawa karena dia tidak mengerti apa maksud Kenan.
"Katakan saja! Mas," ucap Bella degan sangat penasaran.
Kenan menghela nafas panjang dan menceritakan apa yang terjadi padanya, membuat Bella dan Zaskia tertawa lepas.
"Astaga! Apa yang kakak pikirkan itu," kekeh Zaskia.
Kenan tersipu malu, karena sudah berpikir yang bukan-bukan. Padahal, Bella tidak pernah berpikir hal aneh itu.
"Mas ada-ada saja! Mana mungkin Bella meminta hal itu," ucap Bella dengan lembut.
Kenan dan kedua gadis itu bercerita bersama tentang Kendra yang ada di dalam sana. Mereka menerka-nerka kalau Kendra sudah pingsan.
Tiga jam kemudian . . .
Kendra sudah sadar dan melihat dirinya ada di kamar inap, kemudian matanya melirik ke arah samping yang terlihat ada sang kakak bersama kedua gadis itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Kendra sambil mencoba mengingat-ingat kembali kejadian tadi.
"Kau pingsan, sebelum operasi di mulai," sahut Kenan.
Bella dan Zaskia terus-menerus tertawa melihat Kendra bingung, membuat Kendra langsung mengingat kembali kejadian itu.
"Sudahlah, lupakan saja!" pinta Kendra.
Karena dia sangat malu kedua gadis itu tahu kalau dia pingsan tadi, saat operasi belum di mulai sedikitpun.
. . .
Hari-hari yang di lewati Bella dan Kenan, sangat membahagiakan bagi mereka berdua. Sebab, kandungan Bella sudah semakin besar.
Hari ini, Bella dan kedua ibu hamil yang ada di rumahnya melakukan hajatan empat bulan bersama. Sebab, kehamilan mereka tidak jauh berbeda.
"Wah, Bella ... kamu cantik sekali," ucap Zaskia dengan kagum.
"Benar, hanya dia yang terlihat sangat cantik di antara kita," sambung Siska.
Kedua wanita hamil itu sama-sama hamil anak laki-laki, membuat aurah kecantikan mereka pudar.
"Aku tidak merasa paling cantik, karena kita semua sama-sama cantik," ucap Bella.
Gadia itu tersenyum dan berpelukan. Tanpa mereka sadari ternyata sejak tadi Tia terus-menerus menatap para sahabat yang sedang berbahagia.
"Andai aku sama seperti mereka saat hamil dulu. Tapi, nyatanya aku malah menderita hamil tanpa adanya seorang suami," ucap Tia lirih.
Tiba-tiba saja sesak di dadanya kambu, saat dia mengingat kembali di mana sakitnya saat hamil tidak ada seorang suami. Belum lagi dengan cibiran para tentangga.
"Hei!"
Tia langsung lompat dan melihat siapa yang memanggilnya. Gadis itu membuka mata lebar-lebar saat melihat orang tersebut.
"Ternyata kehidupan mu sangat menyedihkan," ucap Tiyo.
Ya, sejak tadi pria itu mendengar apa saja ucapan Tia dan melihat betapa sedihnya gadis itu.
"Euum, aku tidak merasa begitu," ucap Tia dengan pilih.
"Kau bohong!" sentak Tiyo.
Tia meneteskan air mata, karena dia sudah tidak tahan lagi dengan masa lalu yang di sembunyikan dari semua orang.
"Ayolah." Tiyo menarik tangan Tia menuju tamban belakang.
Mereka berdua duduk di taman, kemudian Tia menceritakan dirinya berpacaran melewati batas dan hamil. Saat ia dan pacarnya akan menikah, tiba-tiba pria itu pergi tanpa ada kabar.
Sehingga dia harus membesarkan anaknya sendiri tanpa padanya seorang suami. Hal itu membuat Tiyo heran.
Sebab, sejak pertemuan pertama dengan gadia itu, dia sama sekali tidak tahu kalau sang sahabat sudah memiliki anak.
"Kau tahu Tiyo, ternyata pria itu adalah kaki tangan tuan Kenan," ungkap Tia.
Tiyo semakin kasihan pada Tia. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu sang sahabat.
"Apa anakmu tidak bertentangan di mana ayahnya?" tanya Tiyo.
Tia semaki terisak-isak mencerna setiap hari sang anak bertanya di mana ayahnya. Sehingga gadis itu pingsan.
"Astaga Tia!"
Tiyo membawa Tia masuk ke dalam kamar gadia itu, dan dia mencoba membangunkan sang sahabat dan berhasil.
__ADS_1
"Terimakasih Tiyo, kamu baik sekali," ucap Tia dengan lirih.
Tiyo tersenyum dan memeluk Tia, karena mereka sudah lama sekali kenal dan menjadi sahabat baik.
. . .
Kenan dan Fajar berada di dalam ruangan kerja dan membahas kerjasama mereka, karena Kenan akan memberitahu kalau dia tidak bangkrut melainkan hanya berpura-pura.
"Sudah selesai," ucap Fajar.
Pria itu baru saja membuat berita di salah satu akun gosip, agar semua orang tahu Kenan tidak bangkrut.
"Terimakasih Ayah," ucap Kenan.
Pria itu hendak memeluk sang mertua. Namun, Fajar mengekeka sehingga Kenan terjatuh.
"Aaahhh!" pekik Kenan.
Fajar langsung tertawa lepas melihat sang menantu terjatuh, kemudian dia membantu pria itu karena merasa sangat kasihan.
"Astaga! Kau lucu sekali. Aku ini masih normal tidak mau berpelukan dengan pria," ucap Fajar.
Kenan mengendus kesal, karena mertuanya itu seringkali memeluk Kendra dan tidak pernah berkata hal yang sama seperti barusan.
"Dasar tua bangka!" seru Kenan.
Fajar semakin tertawa lepas, dan mereka kembali membahas kerjasama yang tertunda tadi.
. . .
"Aaahhh!"
Miranda membanting ponselnya, karena membaca berita terbaru tentang Kenan yang hanya berpura-pura bangkrut.
"Kurang aja! Dia hanya mempermainkan aku, karena kami berpisah dan dia bisa bahagia bersama pelakor busuk itu!" teriak Miranda dengan kesal.
Wanita itu sangat menyesali perbuatannya, yang sudah meninggalkan Kenan saat pria itu bangkrut.
"Bagaimana cara agar aku bisa bersama Kenan lagi?!" tanya Miranda dengan sangat emosi.
Wanita itu tidak bisa bersama Kenan lagi, karena dia sudah menikah dengan suami orang dan menjadi istri ketiga.
Nasi sudah menjadi bubur, dia harus menjalani hidupnya yang sekarang ini.
. . .
Ketiga wanita hamil masih menggunakan baju yang sama, setelah acara mereka usai tadi. Kini mereka duduk bersama Astuti.
"Eh, di mana ayah dan mas Kenan?" tanya Bella.
Karena sejak acara usai, dia sudah tidak melihat kedua pria itu. Begitu juga dengan semua orang.
"Sejak tadi aku tidak melihat mereka," sahut Kendra.
"Iya," tambah Betran.
Bella membuka ponselnya, karena dia ingin menelpon sang suami. Namun, matanya mala melihat berita kalau sang suami berpura-pura bangkrut.
'Ternyata dia membuat gosip ini, agar namanya kembali bersih lagi,' batin Bella.
Saat mereka tengah menceritakan Kenan dan Fajar, kedua pria itu tiba dan duduk di bangku masing-masing.
"Panjang umur," ucap Kendra.
Kenan dan Fajar sama-sama tersenyum karena meraka berdua sudah membuat jagat maya ramai, karena berita yang di buatnya tadi sudah viral.
"Bagaimana kita berlibur saja? Sambil menunggu kelahiran anak-anak?" usul Kenan.
Semua tidak setuju, karena meraka ingin menghabiskan waktu di Indonesia dan menanti kelahiran anak mereka di tanah air.
"Ya sudahlah, kita menunggu mereka lahir di sini saja," ucap Kenan.
"Semuanya, ibu sudah menyiapkan kamar dan perlengkapan yang lain untuk anak kalian. Jadi, jangan membeli apapun lagi," ucap Astuti dengan bergembira.
Ketiga gadis hamil itu terkejut, karena kehamilan mereka masih ada lima bulan lagi.
"Cepat sekali Bu?" tanya Siska.
Astuti menceritakan semua pada anak-anaknya, sehingga ketiga gadis itu saling mengerti dan menghargai.
"Mas, masuk ke dalam yuk. Mau ganti baju," ucap Siska.
"Baik." Betran membantu Siska berjalan.
Karena gadis itu kesulitan berjalan dengan perut yang sudah membesar, karena dia hamil anak kembar.
"Kalian juga beristirahat," ucap Fajar sambil menatap kedua anaknya.
"Siap Yah," jawab Bella.
Sedangkan Zaskia hanya mengangguk pelan, karena dia masih menyukai ayah sahabatnya yang menganggapnya sebagai anak.
'Sudahlah, anggap aku tidak pernah menyukainya. Biarkan rasa ini menjadi rahasia ku,' batin Zaskia lirih.
Kedua gadis hamil itu bergegas pergi dari sana, masuk ke dalam kamar masing-masing dan beristirahat.
Astuti melihat Zaskia menatap suaminya tadi, dan mengetahui kalau gadis itu menyukai suaminya. Namun, dia membuang pikiran itu jauh-jauh.
'Semoga ini hanya perasaanku. Zaskia tidak menyukai Mas Fajar, kalau sampai itu terjadi, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Karena, Mas Fajar menganggapnya sebagai anak,' batin Astuti.
TAMAT!
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir🙏🏻 Dan maaf jika cerita ini harus tamat, karena seperti yang kalian tahu, author tidak suka cerita yang berkepanjangan. Dan jangan lupa untuk terus mengikuti karya aku yang lain, karena setiap bulannya pasti Author akan menciptakan karya yang baru😘
__ADS_1
semoga kalian selalu diberi kesehatan agar selalu bisa membaca karya author sekali lagi terima kasih All, karena sudah berkenan membaca karya receh Author🙏🏻😘😘Love sekebon buat Kalian❤❤❤❤❤❤