Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku

Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku
Siapa Yang Menukar Obat Itu?


__ADS_3

Malam hari tiba ...


Kendra bernyanyi sambil membuat minuman yang akan di campurkan obat yang di beli tadi, untuknya dan juga Bella. Sebab, pria itu memiliki rencana jahat. Namun, dia tidak tahu kalau obat itu sudah di tukar oleh Tia entah dengan obat apa?


"Selesai!" Kendra membawa nampan berisi dua gelas minuman menuju ruang tamu, dan meletakan di meja kemudian dia memanggil pelayan.


"Panggilkan Bella ke sini!" pinta Kendra pada pelayan di sana.


"Baik Tuan!" Pelayan tersebut bergegas pergi dari hadapan Kendra untuk memanggil Bella.


Tok.


Tok.


Pintu kamar Bella di ketuk oleh seseorang yang membuat sang empunya langsung membuka, dan tersenyum melihat sahabatnya sesama pelayanan datang.


"Ada apa Mang?" tanya Bella sambil menatap wajah pelayan yang di panggil paman itu.


"Tuan Kendra memanggil kamu, dia ada di ruang tamu." Pelayan tersebut bergegas pergi dari hadapan Bella.


Bella berpikir, mengapa Kendra memanggilnya dan dia langsung berjalan ke sana. Sebab, tidak ingin ada masalah kalau sampai dia tidak datang.


"Mau apa sih lalaki gelo," gumam Bella sambil terus berjalan menuju ruang tamu.


Sesampainya di ruang tamu, Bella membuka mata lebar-lebar saat melihat Kendra tersenyum lebar padanya.


"Sini!" Kendra menarik tangan Bella duduk di sampainya.


'Ya Tuhan, semoga aku baik-baik saja,' batin Bella.


Kendra memberikan satu minuman untuk Bella, membuat gadis itu sedikit curiga. Sebab, adik iparnya tidak pernah baik padanya.


"Ayo bersulang," ucap Kendra dengan sangat lembut.


"Untuk apa?" jawab Bella cepat.


Karena gadis itu takut terjadi sesuatu padanya. Namun, dia mengingat kembali saat Miranda bersulang padanya dan tidak ada yang terjadi.


"Bella, kau adalah istri kakak ku bukan? Lalu, aku ingin berbaikan padamu," jawab Kendra dan Bella menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, terimakasih!" Bella dan Kendra bersulang sampai minuman mereka habis tak bersisa.

__ADS_1


Pada saat itu juga Tia membuka mulut lebar-lebar, melihat Bella minum obat yang di belinya tadi di pasar.


'Astaga! Bodohnya kau Bella!' geram Tia dalam hatinya.


Tia langsung menghampiri Bella dan melihat sahabatnya tersenyum pada Kendra, begitu juga dengan pria itu. Kemudian dia berpikir apa yang terjadi kepada dua manusia itu.


'Bukankah aku mengganti obat itu dengan obat tidur? Lalu, kenapa mereka seperti orang yang tidak waras. Ya?' batin Tia sambil berpikir.


"Bella, apa yang terjadi?" tanya Tia sambil menggoyangkan tubuhnya sang sahabat.


Bella tertawa sambil memegang kepalanya yang terasa sangat pusing, kemudian dia terjatuh ke lantai.


"Astaga Bella!" pekik Tia.


"Sayangku, kau terlihat sangat cantik malam ini," ucap Kendra sambil menghampiri Tia dan memeluk gadis itu.


Tia membuka mata lebar-lebar saat seorang pria memeluknya, karena hal ini yang pertama kalinya buat gadis itu.


"Tuan Kendra bangunlah, aku ini bukan kekasih mu," ucap Tia.


Kendra tidak menggubrisnya, dan langsung menggendong Tia membuat gadis itu terkejut.


"Astaga pria gila! Lepaskan aku! Turunkan aku!" teriak Tia.


"Aku sangat menikmati ini, karena Bella tidak boleh tidur dengannya. Mala lebih bagus kalau gadis kampung itu yang tidur bersamanya!" geram Sari sambil menghampiri Bella.


Ya, Sari yang menukar obat tidur dengan obat yang akan membuat si peminum akan berhalusinasi dan melakukan apapun tanpa sadar. Namun, mengapa Bella pingsan?


"Mang Asep, tolong bawa Bella ke dalam kamarnya!" pinta Sari pada Pak Asep.


Pria itu menghampiri Sari dan bertanya kepada Kendra membawa Tia masuk ke dalam kamar, dan Pak Asep mulai menggendong tubuh Bella.


"Mereka saling mencintai Mang, tidak usah kita cemaskan lagi," jawab Sari dengan dusta dan Pak Asep mempercayainya.


Pak Asep berlalu pergi membawa tubuh Bella masuk ke dalam kamar gadis itu, kemudian meninggalkan sang keponakan sendirian.


Pria paru paya itu menghampiri sang adik yang tengah sakit di dalam kamar, dan memberikan obat pada Astuti.


"Dek, tadi mang lihat adiknya tuan Kenan membawa Tia masuk ke dalam kamar, apa yang terjadi pada mereka. Ya?" ucap Pak Asep pada Astuti.


Astuti langsung terdiam dan berpikir, untuk apa mereka masuk ke dalam kamar. Padahal, belum menikah.

__ADS_1


"Mang, Tia itu sama Kendra seperti tikus dan kucing. Mana mungkin mereka akur sampai tuan muda menggendong Tia," ucap Astuti.


Hati Pak Asep kian gelisah, karena dia sangat khawatir akan keadaan Tia. Namun, dia juga harus berpikir positif, mungkin saja ada keperluan Kendra yang harus di kerjakan oleh gadis itu.


'Aku harus berpikir positif, jangan berpikir yang bukan-bukan,' batin Pak Asep.


Astuti kembali istirahat, karena sudah dua hari belakangan ini dia kurang sehat. Sebab, terlalu banyak memikirkan tentang ayahnya Bella yang tak kunjung berjumpa.


"Dek, mang pergi dulu, kamu istirahat saja!" Pak Asep bergegas pergi dari sana, karena ingin sang adik beristirahat.


Astuti kembali memikirkan tentang anak dan suaminya, yang sampai saat ini belum ditemukan. Padahal, mereka berada di kota yang sama.


"Aku harus lebih giat lagi mencari keberadaan mereka sampai jumpa, karena Bella sangat membutuhkan bantuan dari mas Fajar," ucap Astuti lirih.


Mengingat kembali perlakuan Kenan pada anaknya, yang tidak memiliki hati nurani sama sekali. Padahal, Bella istri sah sang majikan walaupun hanya menjadi istri kedua.


Di dalam kamar Kendra ...


Tia tengah memijat kepala Kendra sampai pria itu tertidur pulas, dan juga mengompres kepala pria itu yang benjol akibat kejadian tadi.


Flashback on ...


Tia menjerit histeris saat melihat Kendra menutup pintu kamar, dan menghampirinya. Sontak dia langsung memukul kepala Kendra menggunakan botol bir yang ada di sampingnya.


"Aaahhh!" jerit Kendra sambil memegang kepalanya yang sudah benjol.


"Jangan macam-macam kau denganku!" teriak Tia sambil menjauh dari Kendra.


Pria itu mulai sedikit sadar, dan melihat Tia yang ada di hadapannya. Bahkan, ada di dalam kamarnya.


'Sial, aku salah sasaran tadi! Tapi, kenapa obat itu seperti membuatku berhalusinasi?' batin Kendra sambil berpikir.


"Pijat kepalaku! Sampai aku tertidur dan juga ini!" Kendra menunjuk kepala yang sudah benjol, akibat pukulan dari Tia tadi.


Tia cengengesan dan langsung menghampiri Kendra, kemudian dia mengompres benjolan di kepala pria itu dan memijat kepalanya.


Flashback off ...


Tia bangun dengan perlahan, takut membuat sang empunya terbangun dan memintanya untuk memijat kepala kembali.


Dengan perlahan dia berjalan ke luar dari dalam kamar Kendra dan bernafas lega, kemudian berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


"Siapa yang menukar obat itu, sih!" geram Tia sambil menidurkan tubuhnya di atas kasur miliknya.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2