Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku

Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku
Rakus


__ADS_3

Bella sedang menyiram tanaman di halaman rumah, dan melihat Kendra menatapnya dengan sangat tajam.


'Gadis ini sudah berganti baju saja?' batin Kendra sambil berpikir.


Pria itu langsung menghampiri Bella, dan terkejut melihat rambut gadis itu berwarna hitam. Padahal, tadi dia melihat rambut Bella berwarna merah.


"Apa maksud mu melihat ku seperti itu?!" tanya Bella dengan sangat emosi.


Entah mengapa saat melihat Kendra, emosi Bella langsung timbul dan menyerang pria itu dengan ganas.


"Kau cepat sekali kembali dari taman, dan kau sudah berganti baju? Bahkan, rambut mu jiga sudah berubah warna?" tanya Kendra dengan sangat penasaran.


Bella langsung menyiram Kendra, karena dia kesal pria itu menuduhnya yang bukan-bukan. Karena, ia sama sekali tidak pernah merubah warna rambut, dan juga tidak pergi ke taman seperti ucapan pria itu tadi.


"Kau kurang ajar sekali, beraninya membuatku basa!" sentak Kendra.


Bella langsung berhenti menyiram Kendra, kemudian menghampiri pria itu dan menatapnya dengan tajam.


"Aku tidak pernah merubah warna rambut, apa lagi pergi ke taman seperti apa yang kau tuduhkan!" geram Bella sambil bergegas pergi dari sana.


"Mana ada maling ngaku!" teriak Kendra. Namun, Bella sama sekali tidak menggubrisnya dan terus berjalan masuk ke dalam.


Kendra marasa kesal pada Bella, karena gadis itu sama sekali tidak mau jujur padanya, kalau mereka bertemu di taman tadi.


"Awas saja kau gadis kampung! Aku akan mengadukan mu pada kak Kan," ucap Kendra dengan kesal.


Tanpa disadari oleh mereka, ternyata sejak tadi Sari melihat pertengkaran itu dari atas balkon. Sebab, dia sedang mengerjakan tugasnya.


"Apa maksudnya, karena jelas-jelas aku sejak pagi sampai saat ini selalu melihat Bella di rumah. Lalu? siapa yang di maksud oleh Kendra?" tanya Sari dengan sangat bingung.


Gadis itu juga berpikir, bagaimana bisa Kendra melihat Bella ada di taman, sedangkan gadis itu sejak tadi ada bersamanya?

__ADS_1


"Sepertinya ini harus di selidiki," ucap Sari sambil terus menatap ke bawah, yang terdapat Kendra di sana.


.


.


.


Bella kesal karena bukan Kendra saja yang mengiranya ada dua. Bahkan, Kenan juga mengiranya sebagai wanita malam.


"Apa wanita itu mirip denganku? Atau, mereka yang tidak bisa membedakan mana Bella dan yang mirip?" tanya Bella pada diri sendiri.


Gadis itu merasa pusing, dan menidurkan tubuhnya di kasur dan mulai terlelap ke dalam alam mimpi.


Malam hari tiba ...


Gadis itu terbangun dan merasa pusingnya sudah berkurang, dan langsung bangun kemudian membersihkan diri.


Sebab, Bella menginginkan sang ibu memasak makanan kesukaannya. Entah mengapa gadis itu sangat menginginkan ibunya memasak.


"Ibu ke mana. Ya?" gumam Bella sambil menyusuri dapur, dan tidak melihat keberadaan sang ibu.


Kemudian gadis itu berjalan menuju kamar sang ibu, dan tidak melihat keberadaan wanita paru paya itu.


"Loh, ibu di mana. Ya?" ucap Bella dengan lirih.


Gadis itu langsung bergegas pergi mencari keberadaan sang ibu di seluruh rumah. Namun, sama sekali tidak menemukan wanita paru paya itu.


"Bella, kamu nyari siapa?" tanya Tia sambil berjalan menghampiri Bella.


"Aku mencari ibu, apa kamu melihatnya?" tanya Bella balik, karena dia sudah lelah mencari sang ibu yang tak kunjung jumpa.

__ADS_1


"Tidak. Tapi, tadi aku melihatnya pergi sejak sore hari," jawab Tia.


Gadis itu melihat sang bibi pergi sejak sore hari. Namun, tidak tahu ke mana wanita paruh baya itu akan pergi.


Bella terdiam dan mengingat, kalau sang ibu sangat merindukan ayahnya dan saudara perempuannya.


'Apa ibu pergi mencari keberadaan ayah dan kakak ku?' batin Bella sambil berpikir.


"Sudahlah, ayo kita makan malam, aku sudah membelikan mu bakso seperti biasa." Tia memperlihatkan dua bungkus yang di bawanya.


Bella tersenyum dan mengikuti langkah sang sahabat, menuju meja makan khusus pelayan yang ada di ujung dapur.


Kedua wanita itu memakan bakso dengan sangat lahap sampai habis tak bersisa, dan keduanya saling bertatapan.


"Astaga Bella, kau rakus sekali," ucap Tia sambil menatap wajah Bella.


"Hei! Kau juga sama ya," jawab Bella yang tidak terima kalau Tia mengatakan dia rakus. Padahal, mereka berdua sama.


Tia tersenyum dan menganggukkan kepala, karena melihat Bella kesal padanya, dan mereka bergegas masuk ke dalam kamar Tia.


Kedua wanita itu bertukar cerita seperti sebelum Bella menikah, sampai wanita itu tertidur pulas bersamaan.


Rasa rindu seperti ini sudah lama mereka pendam, sejak pernikahan Kenan dan Bella. Karena, gadis itu tidak bisa bercerita atau bersama sahabatnya. Sebab, Kenan akan selalu memantau Bella seperti burung yang di kurung.


Tia tersadar dan menyelimuti tubuh Bella dengan selimut tebal, kemudian menatap wajah sang sahabat.


"Bella, andai saja kamu menikah dengan Adam. Mungkin kehidupan mu tidak seperti ini," ucap Tia dengan lirih.


Tia merasa sangat sedih melihat perubahan hidup Bella sejak menikah dengan Kenan, yang selalu mendapatkan kekasaran dan lainnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2