
Padahal, wanita paruh paya itu sangat merindukan putrinya yang sudah lama tidak ia temui.
"Semoga kita bisa bertemu dengan mereka, karena ibu sangat merindukan kakak mu," ucap Astuti lirih.
Bella memeluk sang ibu dengan lembut, dan tersenyum manis kemudian sang ibu juga tersenyum. Karena, dia melihat sang anak terlihat sangat bahagia dari sebelumnya.
'Apakah Tuhan sudah menjawab permintaan ku, agar tuan Kenan mencintai anakku seperti dia mencintai nyonya Miranda?' batin Astuti sambil berpikir.
"Sudahlah Bu, kalau Tuhan sudah berkehendak maka kita akan bertemu dengan ayah dan kak Siska," ucap Bella dengan sangat lembut.
Astuti tersenyum dan mencium anaknya, walaupun dia juga sangat ingin mencium Siska seperti Bella. Tetap, dia selalu mencium Bella.
Gadis itu langsung kembali ke dapur dan mengambil sambal, kemudian memberikannya pada Kendra.
"Silahkan Tuan," ucap Tia sambil berlalu pergi dari sana.
Kendra memasukan semua sambal ke dalam mangkuk buburnya dan langsung memakan. Sontak dia membuka mata lebar-lebar merasakan pedas yang luar biasa.
"Sari jus ku mana?!" tanya Kendra dengan sangat emosi.
"Sabar Tuan!"
Sari langsung berlari dan memberikan jus untuk Kendra, dan pria itu langsung meminum habis jus tersebut.
__ADS_1
Tia tersenyum sambil menatap wajah Kendra yang memerah akibat kepedasan, kemudian dia bergegas untuk mengantarkan sarapan ke ruang makan para pelayan di rumah Kenan.
.
.
Sari sedang membuatkan jus untuk Kendra, sedangkan Tia membuatkan sarapan untuk semua orang. Gadis itu memasak bubur ayam karena banyak yang memintanya untuk membuat masakan itu.
Sari terus-menerus menatap Tia dengan sangat benci, sampai-sampai jus yang di buatnya tumpah berserakan ke lantai.
"Astaga Tia! Kau terlalu memperhatikan wajah cantik ku ini!" Tia membuka mulut lebar-lebar, karena ingin mengejek Sari yang tengah membersihkan tumpahan jus.
Sari bangun dan menatap tajam ke arah Tia, kemudian tersenyum simpul sambil melihat adanya tanda merah di leher gadis itu.
Tia mematikan api kompornya, kemudian tersenyum simpul sambil menghampiri gadis itu kemudian menarik rambut Sari.
"Kau jaga mulutmu itu! Aku tidak melakukan apapun dengan bajingan itu!" Tia menghempaskan rambut Sari, sehingga gadis itu terjatuh ke lantai.
"Dasar wanita sialan kau!" Sari mengambil gelas jus yang ada di bawa lantai, kemudian melemparkan ke arah Tia.
"Aaahhh!" jerit Tia.
Kemudian gadis itu memegang wajahnya, yang masih sama tidak ada pecahan gelas. Sontak dia langsung membuka mata.
__ADS_1
'Oh Astaga! Pria bajingan ini menyelamatkan aku,' batin Tia.
Sari langsung bangun dan menundukkan wajahnya, karena dia sangat takut akan amarah Kendra.
"Apa tugas yang aku berikan padamu tadi?" tanya Kendra dengan sangat lembut. Namun, sangat mengancam.
"Membuat jus, Tuan muda," jawab Sari gugup.
Tia tidak memperdulikan mereka berdua dan kembali melanjutkan pekerjaan yang sudah selesai, dan menghidangkan semua mangkuk bubur ayam ke meja makan.
"Sekarang buatkan lagi aku menunggumu!" Kendra berjalan menuju meja makan, dan duduk di bangkunya.
Tia meletakan bubur untuk Kendra di hadapan pria itu dan hendak pergi dari sana. Namun, tangannya di tarik oleh Kendra.
"Ada yang lain Tuan?" tanya Tia sambil melepaskan tangannya.
"Tidak, aku hanya ingin meminta tambahan sambal saja!" jawab Kendra dengan asal, karena dia sama sekali tidak menyukai sambal.
Tia mengerutkan keningnya, kemudian tersenyum penuh kemenangan karena bisa mengerjai pria tersebut.
'Aku rasa dia sudah tidak waras lagi. Bukankah dia sama sekali tidak pernah makan sambal atau sejenisnya?' batin Tia sambil bertanya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1