
Zaskia menunggu Kendra di jalan yang lumayan jauh dari rumah Fajar, karena dia tidak mau sampai Kendra tahu tentang pemilik rumah itu.
"Ya ampun, pria itu lama sekali!" geram Zaskia, karena sejak tadi dia sudah menunggu sang suami, dan tak kunjung datang membuatnya lelah.
Tak berselang lama akhirnya yang di tunggu datang juga, dengan mengendarai motor matic milik Bella yang bernama Cantika.
"Sudah lama menunggu?" tanya Kendra dengan sangat lembut dan manis, membuat Zaskia terdiam.
'Ya ampun, kalau seperti ini, 'kan tampan Mas,' batin Zaskia.
Kendra mengetahui kalau Zaskia mengaguminya, sehingga ia mengedipkan sebelah matanya. Membuat gadis itu langsung tersadar dan langsung naik ke atas motor.
"Sudah, ayo aku tidak sadar ingin mandi," ucap Zaskia sambil berpegangan tangan dengan Kendra, karena dia terbawa suasana.
"Euum, kalau seperti ini bagaimana? Aku melajukan motor?" tanya Kendra.
Zakia langsung melepaskan tangannya, karena dia tidak sadar memegang tangan sang suami. Sehingga wajahnya memerah seperti kepiting rebus menahan malu.
'Astaga Zaskia! Malu-maluin aja,' bain Zaskia.
Gadis itu memukuli kepalanya, dan Kendra melihat dari kaca spion sehingga dia tersenyum melihat tingkah gadis itu.
'Dasar gadis aneh,' batin Kendra.
.
.
.
Pagi hari tiba ...
Bella terbangun dan mendengar suara keributan dari luar. Namun, dia tidak bisa berjalan dan melihat apa yang terjadi.
"Ya ampun, apa itu ya?" ucap Bella sambil menelpon Tia, dan panggilan tersambung.
Tia: Ada apa, Bel?
__ADS_1
Bella: Kak, bawa aku ke luar, ada apa di sana.
Tia: Baik, aku ke sana sekarang juga!
Tia memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas masuk ke dalam kamar Bella, karena sejak tadi dia berada tidak jauh sari kamar sang sahabat.
Ceklek!
Pintu terbuka dan Tia masuk ke dalam, menghampiri sang sahabat di tempat tidur.
"Bel, sepertinya akan ada badai di rumah ini," ucap Tia dengan pelan, karena tadi dia menguping pembicaraan semua orang yang ada di ruang tamu.
"Badai?" tanya Bella dengan sangat tidak mengerti apa maksud Tia tadi.
Tia membantu Bella bangun dan mengendong gadis itu naik ke kursi roda, kemudian dia mengatur nafasnya dalam-dalam. Sebab, Bella terasa sangat berat.
"Ya ampun Bel, kamu makan apa sih? Kok berat bangat," ucap Tia dengan sangat ngos-ngosan.
Bella tersenyum dan marasa malu, karena sejak dia hamil tubuhnya semakin membesar seperti saat ini.
"Maaf Kak," kekeh Bella.
"Sudah ku katakan! Lebih baik anakku menanggung malu, daripada harus menikah denganmu. Bajingan!" Fajar memukuli Betran dan pria itu membela dirinya. Namun, tidak membalas.
"Ayah hentikan!" teriak Siska sambil memegang tangan sang ayah, agar tidak memukuli Betran lagi.
"Lepaskan aku!" sentak Fajar, sambil menghempaskan tangan Siska sehingga gadis itu terjatuh.
"Aaahhh!" teriak Siska.
"Siska!" Betran langsung menghampiri gadis itu dan melihat adanya darah.
"Neng, maafkan ayah!" Fajar berlari menghampiri sang anak dan menghempaskan tubuh Betran yang ada di sampingnya.
"Ayah sakit," ucap Siska sambil memegang perut dan darah mulai keluar dengan perlahan.
"Siska ada darah," ucap Bertan dengan panik, karena dia cemas akan keadaan calon adiknya yang ada di dalam perut gadis itu.
__ADS_1
"Menyingkir kau!" sentak Fajar sambil mengendong tubuh Siska, dan Betran mengikuti dari belakang dengan sangat terburu-buru.
Bella mengisi sang kakak, karena dia tidak bisa membantu apa-apa. Sebab, ia tidak bisa berjalan dan hanya diam di kursi roda.
"Kak, aku ini tidak berguna sama sekali," ucap Bella dengan sangat lirih.
"Hei, jangan bicara seperti itu! Kamu sangat berarti dalam hidup kami semua, aku tidak ingin mendengar ucapan itu lagi," ucap Tia dengan tegas.
Bella menangis, karena dia merasa sangat sedih tidak bisa mengikuti sang kakak, dan seketika gadis itu teringat ibunya yang tidak kelihatan sejak tadi.
"Kak, di mana ibu?" tanya Bella sambil berhenti menangis.
Tia terdiam, karena sejak tadi dia juga tidak melihat Astuti. Namun, ia mengingat kejadian tadi malam.
Tia melihat Fajar meminum obat yang sama persis seperti obat yang di minta Kendra waktu itu, setelah itu dia mengikuti pria itu sampai di kamar.
Gadis itu pun menguping pembicaraan Astuti dan Fajar dari sebalik pintu. Terdengar Fajar berkata akan lembur malam ini dan Astuti menjawab iya.
"Bella, seperti bibi masih ada di dalam kamar. Tapi, biarkan saja kamu pasti mengerti apa maksud ku," ucap Tia.
Bella mengangguk tanda mengerti, karena dia juga pernah di posisi itu sewaktu masih bersama Kenan. Tiba-tiba saja ia merindukan pria itu.
'Bella, kamu harus melupakan pria itu, karena dia yang sudah membuat mu tidak bisa berjalan,' batin Bella.
Tia membawa Bella menuju kolam renang, karena dia akan menyuapi sarapan gadis itu seperti bocah.
Rumah sakit ...
Siska tengah di tangani oleh Dokter, yang tidak lain adalah Adnan, dan Fajar bersama Betran menunggu di luar ruangan.
"Ya Tuhan, selamatkan anakku," ucap Fajar dengan lirih.
Bertan merasa sangat cemas, karena ia tidak rela kalau sang adik yang belum terlahir harus meninggal sebelum di lahirkan.
Tak berselang lama akhirnya Adnan ke luar dengan raut wajah sedih, dan menghampiri Fajar yang sudah gemetar melihat wajah pria itu.
"Dok, apa anak dan cucu saya selamat?" tanya Fajar dengan lirih.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....