Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku

Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku
Ke Luar Negeri


__ADS_3

Astuti bersama dengan Fajar saling menatap satu sama lainnya, dan mereka sama-sama diam dalam pikiran masing-masing.


'Apa yang harus aku katakan padanya?' batin Fajar sambil berpikir.


Pria itu bingung harus memulai pembicaraan dari mana dulu, karena sudah sangat lama mereka tidak bertemu.


"Mas!"


"Neng!"


Fajar dan Astuti saling menatap satu sama lainnya, karena mereka sama-sama memanggil satu sama lainnya.


Hati Astuti sangat girang karena Fajar masih sama, seperti dulu memangilnya dengan sebutan Neng.


'Mas Fajar masih memanggil ku dengan sebutan Neng. Padahal, aku sudah tua dan akan segera memiliki cucu,' batin Astuti.


"Neng, tolong ceritakan apa yang terjadi selama mas pergi," ucap Fajar dengan sangat lembut.


Astuti tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian mulai menceritakan semua yang terjadi padanya.


Wanita itu bercerita saat Fajar pergi dan hilang kabar, dirinya mengalami kebangkrutan dari usaha yang mereka buat. Sehingga Astuti harus menjual semua harta dan dia menjadi pembantu di rumah Kenan.


Astuti melanjutkan kembali ceritanya, saat Bella menikah dengan Kenan sampai sang anak hamil, dia juga menceritakan tentang kematian Adam.


"Entahlah Mas, sejak kematian Adam tuan Kenan sangat jauh berbeda dari sebelumnya," ucap Astuti lirih.


Wanita itu meneteskan air mata, karena mengingat kembali kejadian di mana sang anak selalu mendapatkan siksaan dari Kenan.


'Aku benar-benar sangat menyesali perbuatan ku. Karena, ini semua terjadi karena Kenan yang sudah membuat ku terpisah dari keluarga ku,' batin Fajar.


Pria itu tidak mungkin menceritakan semuanya pada Astuti, karena dia tahu kalau sang istri akan sangat marah padanya.

__ADS_1


"Neng, sudahlah ... sekarang Bella ada bersamaku, Kenan tidak akan mungkin bisa mengambil anak kita." Fajar mengelus-elus rambut Astuti dengan sangat lembut dan, memeluk sang istri.


Astuti terdiam dan berpikir kalau Bella sudah aman bersamanya dan sang suami, karena Fajar akan selalu melindungi anaknya dari Kenan.


'Terimakasih Tuhan, anakku sudah terbebas dari tuan Kenan,' batin Astuti girang.


Astuti bangun dan menghampiri Bella yang masih belum sadar, karena obat yang tadi di minum oleh gadis itu.


"Bella, kamu dan anakmu akan selamat dari manusia yang tidak memiliki hati itu," ucap Astuti lirih.


Fajar menghampiri sang istri, kemudian memeluknya dengan sangat lembut dan mencium puncak kepalanya.


"Mas akan ada untuk kita semua," ucap Fajar dengan sangat lembut.


Astuti tersenyum dan memeluk sang anak dengan sangat lembut, begitu juga dengan Fajar. Yang melepaskan rasa rindu yang membara selama ini.


.


.


.


"Euum, ini enak sekali Tia, kamu pandai sekali masak," gumam Siska sambil memakan bubur ayam tersebut.


Tia tersenyum dan dia menatap wajah Siska yang sangat mirip dengan Bella, membuatnya bisa menghilangkan rasa rindu pada sang adik.


"Siska, apa Bella akan selamanya di luar negeri?" tanya Tia dengan sangat penasaran, karena semua orang tidak ada yang tahu di mana Bella.


"Tidak, dia akan kembali setelah keadaannya pulih. Sebab, kata dokter yang ada di sana, Bella mengalami patah tulang di bagian punggung," jawab Siska yang masih memakan bubur ayam.


Hati Tia sangat sakit mendengar hal itu, dan dia bersumpah akan membalaskan dendamnya pada Kenan.

__ADS_1


"Di mana Bella sekarang?" tanya Tia, karena yang dia tahu Bella di rumah sakit luar negri, dan tidak tahu negeri mana sang adik berada.


"Tentu saja! Di rumah sakit," jawab Zaskia yang baru saja sampai.


Siska menganggukkan kepalanya, karena jawabnya sudah ada sedangkan Tia langsung menoyor kepala Zaskia.


"Tia!" geram Zaskia, karena kepalanya sakit di toyor seperti itu.


"Aku tahu dia di rumah sakit. Yang aku pertanyakan negeri mana dia berada!" kesal Tia, karena Zaskia selalu membuatnya kesal.


"Euum. Tapi, tadi pertanyaan mu tidak seperti itu," sahut Zaskia membuat Tia semakin geram.


"Sudah, Bella ada di Turki ... karena di sana ada dokter sahabat ayah yang sangat pandai menyembuhkan masalah seperti Bella," ucap Siska.


Tia dan Zaskia hanya menganggukkan kepala mereka, karena tidak mungkin mereka bisa ke Turki hanya untuk menjenguk Bella.


Sebab, ke Monas saja mereka jarang apa lagi ke Turki yang sangat jauh dan membutuhkan uang banyak.


"Kalian mau ke sana?" tanya Siska sambil meminum segelas jus jeruk miliknya.


"Tidak, kami menunggunya di sini saja. Karena, kalau kami pergi ... siapa yang akan menjaga mu di sini?" jawab Tia, dan Zaskia menganggukkan kepalanya, karena mereka satu pendapat.


Entah karena memang isi dompet mereka berdua sama. Sebab, kedua gadis itu tidak pernah sama hal apapun.


"Ya sudah, aku mau masuk ke dalam kamar dulu. Tia, jangan lupa untuk memijat kepala ku sebentar lagi!" Siska bergegas pergi dari sana.


Setelah kepergian Siska, Zaskia langsung bergegas pergi dari sana. Karena, gadis itu takut tugas sang sahabat akan di bebankan padanya.


Sedangkan Tia, dia langsung membereskan bekas makanan Siska tadi dan menyelesaikan tugasnya dulu, barulah gadis itu melaksanakan tugas dari Siska tadi.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2