Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku

Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku
Siska Hamil


__ADS_3

Kenan berada di rumah sakit, karena dia tidak bisa bangun sejak satu Minggu yang lalu. Semua itu memang perbuatan Miranda yang sengaja.


Sebab, wanita itu sangat cemburu memikirkan Kenan akan mencari Bella dan membawa gadis itu kembali lagi ke rumahnya.


Walaupun dia tahu, kalau gadis itu masih istri sah sang suami atas permintaannya juga.


"Adnan, apa Kenan akan segera sadar?" tanya Miranda dengan sangat cemas.


Padahal, wanita itu tahu sang suami tidak akan sadar selama dia masih memberikan obat tidur ke dalam minuman sang suami.


"Tante, kenapa ada orang yang masih memberikan obat tidur pada Tuan Kenan?" tanya Adnan, karena dia tahu pria itu baik-baik saja.


Hanya, Kenan tidak akan sadar kalau masih minum obat tidur dalam jangka waktu panjang.


"Maksudnya apa?" tanya Miranda yang seolah-olah tidak mengetahui apa-apa.


Adnan tersenyum simpul, kemudian mendekati Miranda dan memberikan gelas yang ada di meja.


"Air ini di campur oleh obat tidur, dan Tante tidak mengetahui apapun?" tanya Adnan dengan sangat lembut. Namun, mengancam.


Miranda merasa bingung harus menjawab apa, sehingga dia pergi dari sana membuat Adnan langsung menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak mengerti mengapa dia seperti ini. Padahal Tuan Kenan adalah suaminya," ucap Adnan.


Dokter muda itu langsung mengambil obat, kemudian memberikan kepada Kenan. Berharap pria itu lekas sadar dan pulih kembali seperti sebelumnya.


.


.

__ADS_1


.


Siska merasa sangat mual, sehingga dia muntah-muntah dan Tia membantu gadis itu dengan sangat sigap.


"Siska, kamu baik-baik saja?" tanya Tia dengan sangat cemas.


Karena, wajah Siska terlihat sangat pucat tidak seperti biasanya.


"Bantu aku ke kamar," ucap Siska dengan sangat lemas, dan Tia langsung membantu gadis itu berjalan menuju kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar, Tia membuat gadis itu duduk di ranjang sambil mengoleskan minyak kayu putih ke seluruh tubuh Siska.


"Sepertinya kamu sakit," ucap Tia, karena dia tidak melihat adanya tanda-tanda masuk angin pada tubuh Siska.


Gadis itu menangis tersedu-sedu, karena dia tahu kalau dirinya bukan masuk angin melainkan tengah mengandung.


"Siska, coba ceritakan semua padaku. Percayalah aku akan menjaga rahasia mu," ucap Tia dengan sangat lembut.


"Tia, aku tidak tahu bagaimana kalau sampai ayah tahu," ucap Siska sambil menangis di dalam pelukan Tia.


Tia mengelus rambut Siska, karena dia sedih mendengar cerita gadis itu yang harus mengalami hal seperti ini, hanya karena keegoisan orang tuanya.


"Siska, apa pria itu juga mencintai mu?" tanya Tia sambil melepaskan pelukannya.


Siska menganggukkan kepalanya, kemudian dia menghapus air mata yang terus berjatuhan.


"Tapi, dia sudah memiliki istri dan anak," ucap Siska.


Gadis itu menangisi kebodohannya, karena sudah menjadi selingkuhan pria yang memiliki istri dan anak. Bahkan, anak pria itu seumuran dengannya.

__ADS_1


"Apa kamu menginginkan anak itu?" tanya Tia lagi, karena dia ingin membantu menyelesaikan permasalah Siska.


Siska bingung haru seperti apa, sehingga dia mengikuti ucapan Tia dan akan mencoba untuk berkata jujur pada sang ayah, kalau saat ini dia tengah hamil.


"Terimakasih Tia, aku sangat beruntung bisa mengenal mu." Siska memeluk Tia dengan sangat erat.


Karena dia selama ini tidak mendapatkan teman, yang mau menerimanya apa adanya. Sebab, namanya sudah tercemar dalam wanita malam.


"Kamu tahu Siska? Kebohongan apapun yang kamu tutup, pasti akan terbongkar." Tia berucap dengan lirih.


Karena dia sedih mendengar cerita Siska, yang selalu menjadi sasaran atas keegoisan orang tua yang memikirkan diri sendiri.


'Aku sangat kasian pada Siska, dia harus membunuh seseorang hanya karena paksaan dari ayahnya,' batin Tia lirih.


Gadis itu mengingat kalau dia sudah tidak memiliki orang tua lagi, karena kedua orang tuanya sudah meninggal dan dia menjadi Yatin dan tinggal bersama sang paman.


.


.


Kendra merasa pusing, karena dari semalam belum memakan apapun. Sebab, biasanya dia makan masakan Tia. Namun, sudah dua Minggu gadis itu pergi dari rumah.


"Aku sangat heran, setelah kejadian itu semua pelayan pergi entah ke mana, termaksud gadis itu," ucap Kendra.


Padahal, saat ini banyak sekali berbagai macam makanan yang ada di hadapannya. Namun, dia sangat menginginkan masakan Tia.


"Ken, makan saja! Jangan pikirkan para pelayan yang kabur itu bersama gadis pelakor itu juga," ucap Miranda yang baru saja sampai.


Kendra langsung menoleh dan terdiam, karena dia sudah tidak ingin lagi berbuat jahat pada siapapun termaksud sang kakak.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2