
Happy reading....
Bella terdiam saat masuk ke dalam ruangan kerja Kenan, dan sudah memastikan mendapatkan hukuman seperti biasanya.
'Tuhan, selamatkan aku dari om Kenan,' batin Bella.
Gadis itu duduk di bangku sambil menatap kepergian Kenan ke balkon, dan kembali sambil membawa bunga mawar merah miliknya.
Bella langsung bangun dan mendekati Kenan, dan mencoba mengambil bunga miliknya kembali. Namun, sayangnya pria itu tidak membiarkannya.
"Tuan saya mohon, kembalikan bunga itu! Itu pemberian terakhir dari Adam!'' mohon Bella pada sang suami.
Kenan diam dan terbesit rasa cemburu saat Bella mengatakan bunga itu pemberian Adam. Padahal, dia tahu memang mereka berdua saling mencintai.
'Kau ini sudah gila Kenan, masa kau cemburu anakmu sendiri?' batin Kenan.
Bella menangis dan mencoba untuk mengambil bunga tersebut. Namun, Kenan membanting bunga tersebut sampai hancur berkeping-keping.
Bella membulatkan mata dan mulutnya lebar-lebar, saat melihat bunga peninggalan Adam hancur berkeping-keping, dan dia langsung memunguti bunga tersebut.
"Dam, maafkan aku tidak bisa menjaga cinta kita." Bella menangis sambil terus memunguti bunga mawar merah itu.
Kenan langsung kesal mendengar kata cinta dari mulut Bella, dan langsung menghampiri gadis itu kemudian menarik tangannya dan menghempaskan tubuhnya dengan kasar.
Bella terjatuh dan menabrak ujung meja kerja Kenan, sehingga kepalanya terluka tepat di bagian yang di jahit tadi, sehingga luka kembali melebar dan mengeluarkan darah.
"Jangan pernah kau ucapkan cinta lagi pada anakku!" sentak Kenan.
Pria itu sama sekali tidak kasihan melihat Bella sudah berlumuran darah, dan langsung bergegas pergi dari sana.
Bella menangis tersedu-sedu sambil menutup lukanya mengunakan tissue, dan berjalan mengambil bunga mawar kemudian bergegas pergi dari dalam ruangan yang sudah berantakan.
Tia melihat keadaan sang sabahat sangat parah, dia langsung menelpon Dokter Adnan tanpa sepengetahuan Bella. Sebab, gadis itu sudah pasti akan menolaknya.
"Kasihan sekali dia," gumam Tia sambil berjalan masuk ke dalam kamar Bella.
Sesampainya di dalam kamar Bella, Tia melihat gadis itu hanya memperdulikan tanamannya sedangkan kepala yang sudah berlumuran darah di biarkan begitu saja.
"Bella!" jerit Tia yang melihat keadaan temannya yang terluka parah.
Bella tidak memperdulikan ucapan sang sahabat dan terus membersihkan bunga mawar yang sudah patah.
__ADS_1
"Aku bersihkan luka mu dulu." Tia langsung membersihkan luka Bella menggunakan alkohol, dan gadis itu sama sekali tidak meringis sedikitpun.
'Aku tahu pasti luka kepalanya tidak ada apa-apanya, di bandingkan luka hati dan batinnya selama ini,' batin Tia.
"Salahku apa, Tia?" tanya Bella dengan pandangan kosong.
Tia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Bella, karena dia juga tidak tahu apa salah gadis itu sampai mendapatkan perlakuan seperti ini.
"Bella, aku perban dulu lukamu. Ya? Sebelum Dokter Adnan sampai," ucap Tia dengan sangat lembut.
Bella hanya diam dengan pandangan kosong, karena dia masih jelas mengingat saat Kenan merusak tanaman kesayangan.
'Sepertinya aku harus segera melakukan apa yang di pinta oleh Zaskia, karena hanya itu yang akan membuat om Kenan berkata apa kesalahan ku,' batin Bella.
Tak berselang lama, pintu kamar Bella di ketuk dan Astuti masuk bersama Dokter Adnan.
"Apa yang terjadi Nak?" Astuti memeluk sang anak dan dia pun menangis melihat Bella bersedih, karena dia sudah tahu apa yang terjadi pada sang anak.
"Maaf Bu, biar saya jahit lagi luka Bella yang koyak tadi," ucap Dokter Adnan dengan sangat sopan.
Astuti langsung bangun dan berdiri di samping Tia, sambil melihat Dokter Adnan menjahit luka di bagian kepala Bella.
"Tentu saja! Kau tidak lihat itu luka?" jawab Kenan dengan ketus yang baru saja sampai.
Bella hanya diam, sedang Adnan kembali melanjutkan pekerjaannya, dan Kenan duduk di samping Bella dan memeluk gadis itu.
"Kerjakan tugasmu cepat dan pergi dari sini!" ucap Kenan ketus.
"Baik," jawab Adnan cepat.
Tia menatap jijik pada Kenan yang terlihat perhatian pada Bella. Namun, dia adalah pelaku yang melukai gadis itu.
'Dasar pria batu, tidak memiliki hati dan jantung sama sekali,' batin Tia kesal.
Setelah selesai mengerjakan tugas, Adnan memberikan obat untuk Bella. Walaupun tadi dia sudah di berikan oleh oleh Haikal di rumah sakit tadi.
"Obat yang tadi jangan di minum lagi! Karena, luka mu sangat serius kalau di biarkan. Pastikan istri Anda istirahat dengan cukup dan jangan memikirkan hal yang berat," ucap Adnan.
"Saya permisi dulu." Adnan bergegas pergi dari sana dan Kenan menatap tajam ke arah Astuti dan Tia.
Kedua wanita itu langsung pergi dari sana dan berhenti tepat di depan pintu kamar, agar mereka mendengar apa yang terjadi di dalam sana.
__ADS_1
"Diamlah, agar kita tahu apa yang terjadi," bisik Tia di telinga Astuti.
Kenan langsung melepaskan pelukannya dan membaringkan tubuh Bella, dan menyelimuti tubuh gadis itu kemudian menyalakan AC agar sang istri tenang dan nyaman saat tidur.
"Tidurlah, karena aku ingin kau sembuh. Karena, aku tidak ingin sampai kau mati dengan mudah," ucap Kenan pelan. Namun, sangat mengancam.
Bella tidak menjawab apapun yang di ucapkan oleh Kenan, karena dirinya masih sangat terpuruk karena bunga mawar merah miliknya rusak dan hancur.
Mungkin saja bunga itu akan tumbuh lagi. Namun, hanya kemungkinan saja, hal itu yang membuatnya sangat terpuruk.
'Aku tidak bisa menjaga cinta ku untuk Adam, karena bunga itu akan mati karena om Kenan,' batin Bella lirih.
Gadis itu mengantuk karena suntikan dari Adnan tadi dan langsung tertidur pulas. Kenan hanya menatap wajah Bella saja tanpa bergerak sedikitpun.
Astuti dan Tia bergegas pergi dari sana karena hanya mendengar suara Kenan sedikit tadi, dan tidak ada pertengkaran hebat seperti sebelumnya di dalam kamar itu.
'Salahkah aku menginginkan Bella di cintai oleh Kenan?' batin Astuti.
Dia sangat berharap anaknya bisa di cintai oleh suami anaknya, meskipun itu Kenan orangnya. Karena seorang ibu tidak sanggup melihat anaknya tersiksa dalam pernikahan yang di jalankan.
*
*
*
Miranda kesal karena Kenan benar-benar tidak mau menjemputnya kembali, dan dia tetap pada pendiriannya yang menunggu Kenan datang barulah dia pulang.
"Ternyata gadis sialan itu membuat Kenan lupa padaku. Lihat nanti kalau aku sudah kembali akan memberikannya pelajaran!" geram Miranda.
Wanita itu langsung menyusun rencana yang akan berjalan dengan sangat lancar, dan dia menelpon orang suruhannya yang menjalankan misi itu karena dia ada di luar kota.
Miranda: Jangan sampai lupa, dosisnya di tinggikan agar rencana ku berjalan sempurna.
Tanpa nama: Baik Nyonya, semuanya sudah saya selesaikan. Kita hanya tinggal menunggu hasilnya saja!
Miranda: Bagus, aku bangga padamu.
Miranda langsung memutuskan sambungan teleponnya, dan tertawa lepas karena beberapa bulan lagi pertunjukan akan di mulai.
Bersambung.
__ADS_1