Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku

Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku
Mengetahui Kebenarannya


__ADS_3

Zaskia tersenyum dan berkata, "Maaf Tuan Fajar."


Ya, seseorang yang di tabrak oleh Zaskia adalah Fajar yang baru saja sampai di rumahnya bersama Astuti dan juga Bella.


"Tidak apa," jawab Fajar dengan sangat lembut dan Zaskia tersenyum.


Bella tersenyum pada Zaskia dan gadis itu langsung memeluk sang sahabat yang berada di kursi roda.


"Bel, gue kangen bangat sama elo," ucap Zaskia dengan sangat haru, dan meneteskan air matanya.


"Anak-anak, kita masuk saja! Bicara di dalam," ucap Astuti dengan sangat lembut.


Zaskia melepaskan pelukannya, kemudian tersenyum pada Astuti kemudian menganggukkan kepalanya.


"Ayo masuk!" ucap Fajar.


Zaskia mengambil alih mendorong kursi roda Bella, masuk ke dalam bersama-sama menuju ruang tamu. Setelah sampai mereka semua di ruang tamu langsung duduk di tempat masing-masing.


"Mas, aku panggil Siska dulu. Ya," ucap Astuti dengan sangat lembut.


"Ya sudah Neng," ucap Fajar dengan sangat lembut.


Hati Zaskia sakit melihat kemesraan Fajar dan Astuti, karena dia masih mengagumi pria tampan itu.


'Ada yang patah. Tapi, bukan kayu,' batin Zaskia lirih.


Bella memegang tangan Zaskia, dan dia tersenyum karena sangat bahagia bisa berkumpul bersama orang-orang yang di sayang.


"Kia, gue senang bangat bisa kempul lagi sama kalian semuanya," ucap Bella dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Gue juga. Ngomong-ngomong, kenapa elo masih duduk di kursi roda?" tanya Zaskia sambil menatap wajah sang sahabat.


Fajar merasa gelisah, karena dia bingung harus menjawab apa kalau Bella bertanya padanya.


"Iya, kata om Dokter gue masih harus memulihkan kondisi dulu," jawab Bella dengan sangat lembut.


Zaskia mengangguk tanda mengerti, dan dia kembali bertanya-tanya pada gadis itu Mengani kondisinya sekarang.


Pada saat itu juga Siska datang bersama dengan Astuti, gadis itu langsung berlari memeluk sang adik dengan sangat lembut.


"Bel, aku selalu bermimpi bisa bertemu denganmu seperti saat ini," ucap Siska dengan sangat lirih.


Bella menangis tersedu-sedu karena dia merasa sangat haru bisa bertemu dengan sang kakak.


"Kak, Bella juga sama seperti apa yang kakak rasakan," sahut Bella dalam tangisannya.


Semua orang yang ada di sana sangat haru melihat pemandangan itu, dan pada saat itu juga Tia baru sampai dan ikut menangis tersedu-sedu.


"Baik, Tuan!" jawab Zaskia.


Tia langsung mendorong kursi roda Bella menuju kamar yang sudah dia siapkan, bersama Siska juga Zaskia.


Mereka berempat duduk di sofa, dan Bella masih duduk di kursi roda. Sambil terus menatap wajah tiga gadis yang ada di hadapannya.


"Bel, aku permisi dulu!" Siska berlari dengan sekuat tenaganya, karena dia merasa sangat mual dan ingin segera muntah.


Bella menatap heran kepergian Siska, karena tadi sang kakak baik-baik saja. Namun, sekarang sangat aneh dan terlihat sedang tidak sehat.


"Ada apa dengannya?" tanya Bella sambil berpikir.

__ADS_1


"Kamu mau tahu?" tanya Tia balik, karena dia sudah tidak bisa lagi menyimpan rahasia yang sangat besar.


Zaskia dan Bella menganggukkan kepalanya, karena mereka sama-sama penasaran mengapa Siska sangat aneh barusan.


"Yang pertama aku ingin menceritakan tentang kisah Siska dan kamu, begitu juga dengan tuan Kenan dan Adam," ucap Tia.


Bella merasa heran, mengapa Tia berkata Siska dan Kenan, Adam. Apa hubungannya mereka berempat?


"Katakan?" ucap Bella dengan sangat penasaran.


Tia mulai menceritakan semuanya dari awal sampai akhir, membuat Bella seperti di sambar petir di siang bolong.


Sekarang dia tahu mengapa Kenan sangat membencinya setelah kematian Adam, dan menyiksanya seperti saat ini.


Rasa kesal, sedih, bercampur menjadi satu membuat Bella seakan berhenti bernafas saat ini jiga. Sebab, mengetahui sang kakak sudah membunuh kekasihnya yang sudah menjadi jantungnya.


"Apa yang harus aku lakukan saat ini? Ternyata kakak ku yang membunuh Adam, katakan?" Bella menangis dengan sangat histeris, karena dia berpikir.


Kalau Adam pasti mengira dia adalah pembunuh itu. Sebab, wajah Siska dan dia sangat mirip orang akan sulit untuk membedakannya.


"Bel, sudahlah semua sudah terjadi," ucap Tia dengan sangat lembut sambil memeluk sang sahabat.


Zaskia juga memeluk Bella, karena dia bisa merasakan apa yang sedang di alami Bella.


"Bel, jangan seperti ini, aku tidak bisa melihat mu bersedih," ucap Tia sambil menangis tersedu-sedu.


Hatinya sangat sakit saat mengetahui semua tentang kehidupan Bella, karena dia sudah menganggap gadis itu sebagai adiknya.


'Tuhan, apa yang harus aku lakukan saat ini?' batin Bella dengan sangat lirih.

__ADS_1


Mereka mencoba untuk menenangkan Bella, karena gadis itu tidak berhenti menangis dengan histeris karena sangat terpukul dengan kenyataan.


__ADS_2