
Kenan mengemudikan motor milik Bella dengan perlahan menuju suatu tempat yang rahasia, karena dia akan bertemu dengan seseorang di sana.
Setelah sampai, dia langsung masuk dan duduk di samping pria yang tengah menghitung uang.
"Apa semuanya beres?" tanya Kenan sambil mengisap rokok miliknya.
Pria yang tengah menghitung uang langsung menoleh, kemudian tersenyum simpul sambil melemparkan satu tas yang berisikan uang.
"Bos, itu sudah aku selesaikan. Semuanya aman dan beres," ucap Beno sambil terus tersenyum.
"Bagus," jawab Kenan.
Mereka berdua menyusun rencana, karena Kenan ingin terbebas dari Miranda yang selalu berbuat jahat, sehingga dia berpura-pura bangkrut agar Wanita itu meminta cerai padanya.
"Pastikan wanita itu tidak tahu, karena dia sangat licik," ucap Kenan.
Beno menganggukkan kepalanya, dan tersenyum puas karena dia mendapatkan uang banyak dari Kenan. Sebab, sudah menyelesaikan tugas dari sang bos yang lumayan sulit dan berbahaya.
"Bos, apa semua tidak akan terungkap?" tanya Beno, karena dia takut semua akan sia-sia saja.
"Tidak, aku dan Miranda sudah mengurus perpisahan hanya tinggal menunggu saja, setelah itu barulah aku aman. Kau tahu, 'kan? dia seperti apa?" jawab Kenan.
Beno menganggukkan kepalanya, kemudian melanjutkan kembali rencana mereka yang akan di susun.
Kenan melakukan semua itu hanya untuk terbebas dari Miranda, yang menurutnya sudah tidak bisa di pertahankan. Sejak dia mengetahui malam kelam itu.
Flashback on ...
Kenan tidak sengaja melihat ponsel Albert berdering, saat mereka tengah melakukan meeting bersama. Betapa terkejutnya dia melihat Miranda mengirimkan pesan singkat.
Miranda: Albert, aku ingatkan sekali lagi padamu! Jangan kau bicara malam kita itu pada Kenan!
Kenan langsung menghapus pesan itu, dan meletakan ponsel Albert kembali, sambil terus berpikir semua yang di lihatnya.
Wanita yang sangat di percayai mala tega melakukan hal terlarang itu, sedangkan istri yang menurut padanya dan setia mala dia tuduh menjadi wanita malam.
"Aku benar-benar sangat hancur dan kecewa," ucap dengan lirih.
Flashback off ...
Kenan melupakan semuanya dan kembali fokus pada rencananya, bersama Beno yang selalu setia padanya sampai saat ini.
.
__ADS_1
.
.
Satu Minggu kemudian ...
Bella semakin hari semakin cantik dan gemuk, karena gadis itu banyak sekali makan agar sang anak sehat di dalam perutnya.
Kini gadis itu tengah memakan manisan mangga dari Hasrul yang baru saja tiba di rumah sang ayah.
"Bella, apa hadiah dari om sudah di buka?" tanya Hasrul dengan sangat lembut.
Bella menganggukkan kepalanya, karena dia sudah membuka hadiah dari Harus, dan pria itu memberikannya buku-buku tentang menjadi ibu yang bijak.
"Terimakasih Om, atas semua buku yang Om berikan pada Bella," ucap Bella dengan sangat lembut.
"Sama-sama, dan jangan! Lupa, kita akan belajar berjalan setiap hari," ucap Hasrul sambil mengerjakan tugas dari Leptopnya.
"Baik Om," jawab Bella dengan sangat lembut.
Pada saat itu juga Tia datang dan memberikan pria itu minuman yang di buatnya.
"Silahkan di minum airnya." Tia meletakan air di meja depan Hasrul dan pria itu tersenyum manis.
Gadis itu berjalan tanpa melihat jalanan, sehingga dia tersandung dan jatuh ke atas tubuh Hasrul.
Bella membuka mulutnya lebar-lebar, melihat sang sahabat jatuh di atas tubuh Dokter tampan itu, dan dia terus melanjutkan makan manisan.
Tia dan Hasrul saling menatap satu sama lainnya, kemudian gadis itu langsung bangun karena dia sudah sadar dari lamunannya.
"Maaf Dok!" Tia berlari dari sana, karena dia merasa sangat malu tadi.
Tanpa disadari oleh Tia, ternyata Zaskia sejak tadi merekam adegan yang membuat mata akan bosan melihatnya.
"Dasar Tia," gumam Zaskia sambil berjalan masuk ke dalam dapur.
Gadis itu berdiri tepat di depan pintu sambil terus menatap wajah Tia, yang terlihat memerah seperti kepiting rebus.
"Enak ya!" cibir Zaskia.
Tia terkejut mendengar ucapan Zaskia, karena setahunya tadi dia sendiri di dalam dapur.
"Dasar jelangkung!" sahut Tia dengan ketus.
__ADS_1
Gadis itu melanjutkan kembali pekerjaannya mencuci piring, sedangkan Zaskia belum pergi sebelum dia puas mengejek Tia.
"Apa jantungmu aman?" Zaskia memegang dada Tia, sehingga Lato-lato miliknya tersentuh oleh gadis itu.
"Dasar mesum!" teriak Tia, sambil menghempaskan tangan Zaskia dari dadanya.
Zaskia tertawa karena ia tadi tidak sengaja memegang Lato-lato milik Tia, dan dia sudah tahu berapa ukuran Lato-lato Tia.
"Astaga Tia! Ukurannya sangat kecil," kekeh Zaskia sambil terus menatap wajah Tia.
Tia merasa sangat kesal, sehingga dia bergegas pergi dari sana meninggalkan Zaskia seorang diri.
Sedangkan Zaskia, juga melanjutkan kembali pekerjaannya melihat semua pelayan yang bekerja di sana.
.
.
.
Bella duduk di kursi roda berada di bibir kolam renang bersama dengan Hasrul, karena pria itu akan membantu Bella belajar jalan.
"Lo, kenapa tidak memakai baju renang?" tanya Hasrul yang melihat Bella menggunakan piyama.
"Iya, karena pakaian itu sangat ketat," jawab Bella dengan lembut.
Hasrul tersenyum, karena Bella sangat menjaga penampilan agar tidak ada yang melihatnya.
"Sekarang kita mulai?" tanya Hasrul dengan sangat lembut dan Bella menganggukkan kepalanya.
Hasrul dengan perlahan mengendong tubuh Bella masuk ke dalam kolam, kemudian memberikan gadis itu berdiri.
"Apa kakimu terasa sakit?" tanya Hasrul dengan sangat lembut sambil menatap wajah Bella.
"Tidak," jawab Bella.
"Coba gerakan dengan perlahan," ucap Hasrul dan Bella dengan perlahan mengerakkan kakinya dengan perlahan.
Bella merasa kakinya tidak bisa di gerakan sehingga dia terjatuh, untungnya Hasrul sigap menangkap Bella.
"Tidak apa, jangan di paksa," ucap Hasrul dengan sangat lembut.
Bella Merasa bersedih, karena dia benar-benar tidak bisa berjalan, walaupun hanya di air.
__ADS_1
Bersambung.