Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku

Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku
Pergi Lama


__ADS_3

"Sialan!" Kenan melemparkan semua benda-benda yang ada di hadapannya, karena kesal mengetahui siapa pattern kerjanya.


"Kenapa bisa Fajar yang menjadi rekan kolaborasi, kita?!" tanya Kenan dengan sangat emosi pada Beno.


"Maaf Tuan, semua adalah keputusan Mr, Bean," jawab Beno sambil menundukkan wajahnya.


Kenan sangat kesal mengetahui orang yang akan kolaborasi dengannya dalam, membangun mall tersebar di sini.


"Kapan kita akan menemui dia?" tanya Kenan dengan pelan, karena emosinya sudah redah.


"Besok Tuan, karena dia belum sampai di sini," jawab Beno, dan Kenan menganggukkan kepalanya.


Mereka pun melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda akibat, emosi Kenan yang datang dengan tiba-tiba tadi.


.


.


.


Mata Zaskia sangat terpana akan rumah Fajar yang sangat indah dan nyaman, dia pun duduk di dalam kamar yang sudah di siapkan untuknya selama bekerja di rumah pria itu.


"Ternyata sugar deddy memiliki selera seperti Bella, karena aku tahu gadis itu sangat menyukai desain seperti rumah om Fajar," ucap Zaskia dengan lembut.


Kemudian gadis itu berganti baju dengan mengenakan pakaian pelayan, dan bergegas pergi mengerjakan tugasnya.


Sesampainya di luar, dia melihat Fajar tengah sarapan bersama seorang gadis. Namun, dia tidak bisa melihat wajah wanita itu.


'Itu pasti anaknya om Fajar. Tapi, aku tidak bisa melihat wajahnya,' batin Zaskia.


Gadis itu bergegas pergi dari sana, karena tugasnya adalah memperhatikan setiap pelayan bekerja di sana.


Zaskia mengehentikan langkahnya, saat melihat pria yang sangat di rindukan ada di hadapannya.


"Tiyo," panggil Zaskia.


Pria yang sedang memotong rumput langsung menoleh dan sangat terkejut melihat Zaskia.


"Zaskia!" pekik Tiyo sambil menghampiri gadis itu.


Zaskia langsung memeluk Tiyo, dengan rasa rindu yang mendalam karena sudah lama sekali merdeka tidak bertemu.

__ADS_1


"Aku sangat merindukanmu Tiyo, apa kau tidak memikirkan aku selama ini?" tanya Zaskia sambil melepaskan pelukannya.


"Aku sakit, karena Bella sudah menikah," jawab Tiyo.


Ya, Tiyo adalah adik sepupu Zaskia dan pria itu menyukai Bella. Namun, sang sahabat sudah menikah sehingga dia pergi dan tidak ada kabar sama sekali.


"Tiyo, bukankah sebelum menikah dia juga sudah memiliki pasangan?" tanya Zaskia sambil memegang tangan Tiyo.


"Tapi, setidaknya aku masih bisa melihatnya," jawab Tiyo.


Zaskia hanya diam sambil menatap wajah adik sepupunya yang sangat di rindukan, dan pria itu juga menatap wajahnya.


"Kau bekerja di sini?" tanya Tiyo, dan Zaskia menganggukkan kepalanya.


Zaskia tersenyum bahagia karena ada orang yang di kenali bekerja di rumah Fajar, sehingga dia tidak merasa kesepian.


.


.


.


"Untungnya kau masih tutup mulutmu, kalau kau membuka mulut, sudah pasti detik itu juga nyawamu melayang," ucap Miranda dengan licik.


Wanita itu menyusun rencana agar bisa melenyapkan Robert, tanpa sepengetahuan siapapun termaksud polisi.


"Wanita yang membunuh anakku saja bisa bersembunyi selama ini, masa aku tidak bisa membunuh tanpa meninggalkan jejak sedikitpun," ucap Miranda.


Wanita itu mengingat kembali kejadian beberapa bulan lalu, di mana dia melihat sang anak meninggal dengan keadaan mengenaskan. Padahal, Kenan tahu siapa pelakunya dan merahasiakan semua dari polisi dan dirinya.


Namun, sayangnya Kenan tidak bisa menahan lebih lama rahasia itu dan memberitahukan kepadanya siapa pembunuh sang anak.


Betapa hancurnya hati Miranda mengetahui siapa pelakunya, sehingga dia mengalami perubahan sikap dan perilaku, yang membuatnya jahat pada setiap orang.


"Aku belum bisa melupakan hal itu, sampai detik ini. Kalau belum nyawa di bayar nyawa!" geram Miranda dengan dendam yang membara.


.


.


.

__ADS_1


Bella merasa pusing karena belum makan sarapannya, sehingga dia langsung bergabung dengan para pelayan makan bersama.


Akan tetapi, rasa sakit kepalanya belum hilang walaupun dia sudah makan dan meminum obat penenang lambung.


"Bel, kami baik-baik saja?" tanya Tia sambil menghampiri sang sahabat.


"Iya, hanya pusing sedikit saja," jawab Bella pelan.


Tia membantu gadis itu berjalan dengan perlahan masuk ke dalam kamar, kemudian dia memberikan minya kayu putih ke seluruh tubuh Bella.


"Tia, sudahlah ... kamu pasti lelah karena mengerjakan semua tugasku," ucap Bella.


Gadis itu sangat kasihan pada Tia yang harus mengerjakan tugasnya, karena dia selalu sakit-sakitan sudah beberapa Minggu ini.


"Bukan masalah besar untukku, yang terpenting kamu sehat dan aku juga akan bahagia," sahut Tia dengan senyuman manisnya.


Bella sangat bahagia bisa mengenal Tia, karena gadis itu sangat baik padanya dari dulu sampai saat ini. Walaupun Bella belum pernah memberikan apapun padanya.


"Ya sudah, aku lanjutkan pekerjaan ku dulu, dan kamu istirahat sampai sembuh." Tia bergegas pergi dari sana meninggalkan Bella seorang diri.


Bella tersenyum dan dia melihat ponselnya berdering, ternyata ada panggilan masuk dari Kenan.


"Ada apa tuan Kenan menelpon ku?" tanya Bella pada diri sendiri, dan langsung menjawabnya.


Kenan: Apa kau baik-baik saja?


Bella: Iya Tuan, saya baik.


Kenan: Mungkin aku akan pulang bulan depan, sampai semua urusan ku selesai.


Bella: Baik Tuan.


Bella terdiam, karena dia berpikir akan bahagia karena, Kenan akan kembali dalam waktu yang masih lama.


Kenan: Aku tutup dulu telponnya.


Tut ... Tut ...


Bella menatap layar ponselnya, dan tersenyum karena dia tidak akan melihat Kenan untuk beberapa Minggu ke depan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2