
Penyesalan tidak ada hentinya menghampiri Miranda karena sudah menikahkan suaminya, dan Bella membuat posisinya tidak aman seperti saat ini.
Sebab, dulu dia berpikir kalau Kenan akan membalaskan dendam mereka pada Bella, bukannya mencintai gadis itu.
.
.
.
Kendra berjalan-jalan di siang hari, untuk mendapatkan apa yang di inginkan. Namun, sayangnya dia tidak mendapatkan apapun.
Pria itu berhenti tepat di taman dan duduk di bangku taman tersebut, sambil mengingat kembali saat sang ibu masih ada.
Flashback on ...
"Kenapa Ibu membawa Ken, ke sini?" tanya Kendra yang masih berusia sepuluh tahun.
"Nak, ini rumah papa dan ada kakak mu di sana," jawab ibunya Kendra.
Kendra tersenyum dan mereka masuk ke dalam, tanpa sambutan hangat dari Kenan. Yang malah menuduh wanita itu adalah wanita malam.
"Jika benar dia adikku, kenapa papa tidak pernah bercerita kalau dia sudah menikah lagi! Sebelum dia meninggal!" seri Kenan dengan sangat angkuh.
"Karena papamu tidak pernah mau menyakiti hatimu. Aku datang ke sini karena umurku sudah tidak lama lagi, dan siapa yang akan menjaga Kendra kalau aku pergi?" ucap wanita tersebut dengan lirih.
lama kelamaan, Kenan bisa menerima Kendra dengan satu syarat bahwa ibunya Kendra tidak di terima masuk ke dalam rumah keluarga Dueken.
__ADS_1
Hati Kendra sakit, karena harus berpisah dari sang ibu dan berniat akan membalaskan dendamnya pada sang kakak.
Flashback off ...
"Hanya karena kami orang miskin, sampai aku tidak bisa melihat ibu lagi sampai sekarang karena ulahnya," ucap Kendra dengan sangat dendam.
Bagaimana tidak dendam? Saat sang ibu meninggal, dia sama sekali tidak bisa melihatnya. Sebab, Kenan sudah mengirimnya ke luar negeri dan sekolah di sana, sejak dia berusia 15 tahun.
Tiba-tiba saja, dia di kejutkan oleh kedatangan wanita yang sangat di bencinya juga duduk di bangku yang tidak jauh darinya.
'Untuk apa gadis itu kemarin?' batin Kendra sambil berpikir.
"Hei gadis kampung! Bukannya kau harus terus di rumah?!" tanya Kendra dengan sangat emosi.
Gadis itu langsung menoleh dan melihat kanan dan kiri, karena dia sama sekali tidak mengenal Kendra.
"Dasar wanita kampung, dan selir sampah!" teriak Kendra. Namun, Siska sama sekali tidak menggubrisnya.
'Aku rasa dia adalah pria gila,' batin Siska.
Gadis itu langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan dengan perlahan, karena dia sudah tidak memiliki tempat tujuan.
"Ke mana aku harus pergi dan mencari keberadaan saudaraku dan ibu?" tanya Siska dengan lirih.
Gadis itu menangis tersedu-sedu sambil menepikan mobilnya di pinggir jalan, kemudian dia melihat Poto masa kecilnya bersama keluarga yang masih lengkap.
"Aku dan adikku memiliki wajah yang sama, apakah sampai sekarang kami masih mirip?" tanya Siska dengan lirih.
__ADS_1
.
.
.
Astuti menangis, karena tiba-tiba saja dia merindukan anaknya yang entah di mana keberadaannya saat ini.
"Ibu sangat merindukan kamu Nak, di mana kalian berada?" tanya Astuti dengan lirih.
Wanita paru paya itu sedang mencuci pakaian sambil menangis seorang diri, tanpa memperdulikan siapapun yang akan melihatnya.
Mang Asep langsung menghampiri Astuti, karena dia tadi lewat dan melihat sang adik tengah menangis.
"Ada apa Astuti?" tanya Mang Asep dengan sangat cemas akan keadaan sang adik.
Astuti menggelengkan kepalanya, kemudian menghapus air mata yang sejak tadi terus berjatuhan.
"Lupakan saja! Mungkin semua adalah takdir kami," jawab Astuti dengan lirih.
Mang Asep terdiam, karena sejujurnya dia tidak menyukai Astuti menikah dengan Fajar puluhan tahun yang lalu.
Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena sang adik sangat mencintai pria yang asal usulnya tidak mereka ketahui.
'Apa ini yang di namakan bertanda? Dari dulu aku sama sekali tidak menyukainya, dan sekarang terbukti adik dan keponakan ku yang menderita,' batin Mang Asep.
Astuti dan Mang Asep melanjutkan kembali pekerjaannya masing-masing, karena kalau tidak mereka akan terkena amukan ketua pelayan yang ada di sana.
__ADS_1
BERSAMBUNG......