
Setelah sampai di rumah sakit, Mang Asep langsung membawa tubuh Bella masuk ke dalam IGD agar sang keponakan segera di tangani.
"Dokter, tolong!" teriak Mang Asep.
Adnan sedang memeriksa keadaan pasien, dan langsung menghampiri pria itu. Sontak dia sangat terkejut melihat kedatangan Bella yang kritis. Padahal, gadis itu baru saja pulang tadi.
"Bawa ke dalam ruan operasi!" Adnan bersama perawat lainnya bergegas pergi menuju ruang operasi, untuk menyelamatkan Bella yang saat ini sudah tidak sadarkan diri.
Astuti duduk lemas di depan ruangan operasi, dan dia tidak bisa berhenti menangis dan berpikir akan membawa Bella pergi jika gadis itu sudah sadar.
"As," panggil Mang Asep dengan sangat lembut sambil menghampiri sang adik.
Astuti hanya menganggukkan kepala sambil mengeluarkan air mata yang tidak ada habisnya.
"Sudahlah, kita berdoa agar Bella selamat," ucap Mang Asep dengan sangat lembut.
"Mang, jika Bella sudah sadar. Aku akan membawanya pergi menemui ayahnya yang sudah kami temukan," ucap Astuti dengan pandangan yang kosong.
Mang Asep terkejut mendengar Astuti sudah menemukan Fajar, yang menurutnya akan sangat sulit. Namun, kini mereka sudah bertemu.
"As, mang akan selalu dukung kamu dan kita semua ikut bersama kalian begitu juga dengan Tia," ucap Mang Asep dengan sangat lembut.
Astuti tersenyum dan langsung memeluk sang kakak, dengan sangat lembut karena pria itu sudah mau menerima suaminya.
"Terimakasih Mang, karena sudah mau menerima mas Fajar kembali," ucap Astuti dengan sangat bergembira.
__ADS_1
"Sama-sama," jawab Mang Asep dengan lembut.
Mang Asep tidak bisa bertahan di rumah Kenan, karena dia juga sangat membenci pria itu yang sudah membuat sang keponakan menderita sampai keris seperti ini.
'Aku belum sepenuhnya menerima Fajar. Namun, semua ini aku lakukan hanya untuk Bella. Keponakanku,' batin Mang Asep.
Astuti masih meneteskan air mata, sambil terus berdoa dan memohon agar Bella bisa selamat dan juga janin yang masih berusia empat Minggu itu.
'Tuhan, selamatkan anak dan calon cucuku. Kasihan mereka,' batin Astuti lirih.
Hatinya seakan di hantam benda tajam, mengingat kembali kejadian tadi saat Kenan membuat nyawa sang anak dalam bahaya.
'Aku tidak akan membiarkan Bella bersama Kenan lagi, karena aku akan membawanya pulang ke rumah mas Fajar. Semoga dia bisa melindungi kami,' batin Astuti lirih.
.
.
.
'Tuhan, semoga aku bisa menyelamatkan Bella dan anaknya,' batin Adnan.
Adnan berkerjasama dengan para perawat untuk menyelamatkan Bella dan bayi yang ada di dalam kandungan gadis itu.
Setelah satu jam menangani Bella, kini Adnan dan para perawat bernafas lega karena gadis itu bisa terselamatkan.
__ADS_1
"Akhirnya, semua bisa terselamatkan," ucap Adnan sambil menghembuskan nafas dalam-dalam.
"Iya, Dokter!"
Adnan bergegas ke luar, dan menghampiri Astuti yang tengah duduk bersama mang Asep.
"Dokter!" Astuti langsung bangun, dan menghampiri dokter muda itu dengan harapan yang sangat besar.
"Apakah anak dan cucu saya bisa selamat?" tanya Astuti dengan harapan yang begitu besar.
Adnan tersenyum dan berkata, "Mereka berdua selamat, karena Tuhan."
Hati Astuti sangat girang saya mendengar ucapan Adnan dan dia langsung memeluk mang Asep, dan mereka tersenyum bersama begitu juga dengan Adnan yang terbawa suasana.
"Mang, kita akan segera punya cucu, dan Bella juga selamat," ucap Astuti dengan sangat bergembira.
"As, kita harus segera menyelesaikan rencana itu," bisik Mang Asep, agar tidak ada yang mendengar ucapannya.
Sebab, dia takut rencana membawa pergi Bella akan ketahuan oleh Kenan atau anak buahnya.
"Silahkan Bibi dan Paman, menjenguk Bella di ruang rawat inap," ucap Adnan sambil bergegas pergi.
Karena, pria itu ingin menyiapkan keperluan untuk Bella dan memeriksa keadaan gadis itu untuk memastikan bahwa Bella akan baik-baik saja.
Sedangkan Astuti dan Mang Asep langsung bergegas pergi menuju kamar inap Bella, dan masuk ke dalam. Terlihat gadis itu terbaring lema.
__ADS_1
"Anakku!" Astuti berlari dan memeluk gadis itu dengan sang lembut, sambil menangis tersedu-sedu.
BERSAMBUNG....