
Bella mengangguk kepalanya, karena dia tidak bisa menunggu lama lagi untuk menjelaskan semua pada Adam.
Tia mendorong kursi roda Bella ke luar dan melihat bahwa situasi aman, kemudian membawa gadis itu menuju makam Adam yang tidak jauh dari rumah Fajar.
Setelah sampai, Tia membantu Bella berjalan mendekati makam Adam yang masih basah, karena belum lama pria itu meninggal dunia.
Bella langsung memeluk makam Adam, dan semakin menangis karena dia tidak bisa membangkang perasaan sang kekasih saat akan meninggal.
"Dam, maafkan aku ... bukan aku yang membunuh mu. Tapi, kak Siska," ucap Bella dengan lirih.
Gadis itu tidak bisa menenangkan diri, karena dia sangat sedih mengetahui kalau sang kakak sudah melenyapkan hidupnya.
"Bella, Adam pasti tahu semuanya. Percayalah," ucap Tia dengan sangat lembut, sambil mengelus-elus punggung gadis itu.
Bella berhenti manggis dan menatap makam Adam, sehingga dia tidak bisa meninggalkan sang kekasih sendirian di dalam sana.
"Dam, apakah aku bisa bersamamu lagi?" tanya Bella dengan sangat lirih.
Tia menangis, dan terkejut saat melihat ponselnya berdering ternyata Fajar yang menelponnya.
"Astaga, Bella ayahmu menelpon ayo kita kembali!" Tia membantu Bella berjalan dan duduk di kursi roda.
Bella hanya diam saja, karena dia sangat sedih meninggalkan Adam di sana seorang diri bertemakan sepi.
Tia merasa cemas, karena Fajar terus-menerus menelponnya. Sehingga dia mendorong kursi roda Bella dengan cepat agar segera sampai di rumah.
'Ya Tuhan, semoga saja aku sampai dengan selamat dan Tuan Fajar tidak tahu kalau kami pergi,' batin Tia.
Sesampainya di rumah, dia langsung membawa Bella masuk dan melihat semua orang sudah menunggunya di ruang tamu.
'Habislah aku,' batin Tia.
.
.
__ADS_1
.
Kendra memberikan berkas pada Kenan, dan pria itu langsung membacanya. Namun, dia biasa saja sama sekali tidak terkejut membuat Kendra heran.
"Kak," panggil Kendra.
"Ya," jawab Kenan dengan sangat lembut.
Pria itu diam sambil memberikan satu berkas pada Kendra, membuat Kendra sangat terkejut.
"Kenapa semua ini terjadi kak?" tanya Kendra, karena mereka harus mengosongkan rumah. Sebab, pihak berwajib mengambil rumah Kenan.
"Sudahlah, mungkin ini memang takdir kita," ucap Kenan dengan sangat santai.
Kendra sangat terkejut melihat sikap sang kakak yang biasa saja, saat mereka jatuh miskin dan harus tinggal di rumah sederhana.
"Tapi Kak, aku tidak mau tinggal di kontrakan," ucap Kendra dengan lirih.
Kenan memegang pundak sang adik kemudian berkata, "Semua akan indah pada waktunya."
"Aku tidak bisa bertahan lagi!"
"Maksudnya?" tanya Kenan.
Miranda langsung mendekati Kenan, dan memberikan sebuah surat yang bertuliskan bahwa dia menginginkan separuh harta Kenan.
"Baik, aku akan memberikan mu semua mobil yang ada," ucap Kenan dengan sangat lirih.
Sebab, sang istri tidak mau hidup susah dengannya yang baru saja mengalami kebangkrutan.
"Baik!" Miranda bergegas pergi dari sana dengan sangat kesal, karena Kenan bangkrut dengan sekejap mata.
"Menyesal aku sudah berbuat jahat pada Bella, yang nyatanya Kenan bangkrut," gumam Miranda sambil berjalan ke luar dari rumah Kenan.
.
__ADS_1
.
Kenan dan Kendra berada di rumah kecil yang hanya memiliki dua kamar, dan satu kamar mandi. Terlihat sangat sempit dan kumuh di mata Kendra.
"Kak, semua ini milik kita?" tanya Kendra sambil melihat motor matic yang sudah buruk.
"Iya. Tapi, motor itu bukan," ucap Kenan sambil menunjuk ke arah Cantika.
"Lalu?" tanya Kendra.
"Bella," jawab Kenan dengan cepat.
Lagi-lagi Kendra merasa kesal, karena mereka sudah tidak memiliki apapun. Bahkan, tempat tidur sekalipun.
"Kak, aku tidak bisa hidup seperti ini," keluh Kendra, karena pria itu sudah terbiasa hidup kayak raya selama hidupnya.
Kenan tersenyum dan berkata, "Ini adalah cobaan kita."
Kendra merasa sangat sedih, sehingga dia langsung masuk ke dalam kamar dan kesedihannya semakin menjadi-jadi, saat melihat kondisi kamarnya yang terlihat seperti kamar pembantu.
"Aaahhh!" teriak Kendra dengan sangat frustasi.
.
.
.
Mang Asep duduk sambil meminum segelas teh, kemudian melihat keindahan langit sambil mengingat kehidupannya yang kelam.
Pria itu sama sekali tidak mengetahui kalau ada keributan yang terjadi di ruang tamu, karena dia ada di balkon seorang diri dan bertemakan sepi.
"Apa Bella sudah kembali?"
Mang Asep mengingat kalau sejak tadi semua pelayan sibuk mempersiapkan kepulangan Bella, dan dia tidak tahu kalau sang keponakan sudah kembali ke rumah.
__ADS_1
Pria itu berjalan dengan perlahan menuju ruang tamu, dan dia sangat terkejut melihat adanya Bella di sana dan langsung menghampiri gadis itu.
Bersambung.