
Astuti menganggukkan kepalanya, kemudian dia bergegas mendorong kursi roda Bella. Sedangkan gadis itu hanya diam sambil berpikir.
Sebenarnya apa yang terjadi pada sang ayah dan suaminya, sampai dia tidak di perbolehkan pulang menemui Kenan.
'Sebaiknya aku mengikuti ucapan Ayah, karena dia tahu mana yang terbaik untuk ku dan bukan. Aku akan merawat bayiku seorang diri,' batin Bella lirih.
Gadis itu berpikir Kenan sama sekali tidak menginginkan anak mereka, dan dia juga memutuskan tidak akan kembali bersama suami kejamnya itu.
Saat mereka ke luar rumah sakit, tiba-tiba Hasrul datang dengan terburu-buru karena hampir saja tertinggal mereka.
"Kalian hampir saja pergi tanpa pamit!" teriak Hasrul yang berlari menghampiri Astuti dan Fajar.
Fajar tersenyum, kemudian matanya melirik ke arah tas kecil yang di bawa oleh sang sahabat.
"Ada apa?" tanya Fajar.
Astuti menatap ke arah Hasrul begitu juga dengan Bella, yang hanya melihat dan tidak mau menyambung obrolan mereka.
"Oh, ini untuk Bella." Hasrul memberikan tas kecil pada Bella, yang entah apa isinya. Sebab, tas tersebut berwarna hitam dan tebal.
Bella terdiam, karena dia bingung mengapa sahabat ayahnya selalu memberikan dia hadiah sejak kemarin.
"Terimakasih Om. Tapi, ini apa?" tanya Bella sambil tersenyum manis pada Hasrul.
"Untuk mu, ambil saja! Sampai bertemu di Indonesia!" Hasrul berlari dengan sangat kencang, meninggalkan mereka semua di sana.
Fajar menaikkan sebelah alisnya, kemudian melanjutkan kembali perjalanannya membawa Bella masuk ke dalam mobil.
Astuti tidak merasa aneh, karena dia tahu Dokter Turki itu sangat menyukai anak gadis. Sebab, dia tidak memiliki anak perempuan.
"Mas, apa Hasrul belum memiliki anak perempuan?" tanya Astuti sambil membenarkan posisi Bella.
__ADS_1
Fajar menggelengkan kepalanya, kemudian dia mengemudikan mobilnya. Sebab, sang supir tengah menyiapkan keberangkatan mereka kembali ke Indonesia.
"Bu, om itu sangat baik. Ya," ucap Bella sambil mengingat kembali perlakuan Hasrul padanya, saat di rumah sakit.
Astuti tersenyum dan berkata, "Benar sekali, dia juga akan ke Indonesia untuk mengecek keadaan mu."
Bella mengerutkan keningnya, karena Hasrul akan memeriksa dia lagi. Padahal, ia sudah sembuh Betul.
'Sebenarnya ada apa? Kenapa, om itu harus memeriksa aku ke Indonesia?' batin Bella sambil berpikir.
Namun, gadis itu takut untuk bertanya langsung pada ibu atau ayah. Karena, dia menghargai ucapan orang taunya dan tidak mau banyak bertanya.
.
.
.
"Markona!" teriak Zaskia sambil menatap ke arah Tia.
Tia masa bodoh, karena dia merasa bukan Markona. Hal itu membuat Zaskia kesal dan langsung menghampiri gadis itu.
"Dasar wanita tuli!" seru Zaskia dengan sangat kesal.
Tia langsung menoleh dan menunjuk dirinya, karena tadi ia mendengar kalau Zaskia memanggil Markona bukan Tia.
"Kamu manggil siapa?" tanya Tia sambil menyusun balon.
"Ya kamu lah, masa orang gila!" jawab Zaskia dengan sangat ketus.
Tia tertawa dan memukuli Zaskia mengunakan balon, karena dia merasa sangat lucu.
__ADS_1
"Astaga Zaskia! Kamu tadi memanggil Markona, bukannya aku," kekeh Tia sambil memegang perutnya.
Zaskia menarik tangan Tia, agar gadis itu diam dan tidak mengejeknya lagi.
"Aku manggil kamu," ucap Zaskia dengan kesal, karena Tia tidak berhenti tertawa.
"Ya ampun, kamu itu seenaknya aja ganti-ganti nama aku," sahut Tia sambil mendudukkan bokongnya di sofa.
Zaskia bergegas pergi dari sana, karena dia kesal pada Tia yang tidak ada hentinya menertawakannya.
Gadis itu berjalan menyusuri setiap sudut rumah, dan tersenyum karena semua pelayan bekerja dengan benar. Namun, matanya melihat Tiyo tengah membuat sesuatu di halaman belakang.
Jiwa kepo-nya langsung meronta-ronta, ingin segera di salurkan, dan gadis itu langsung berjalan menghampiri sang adik.
"Tiyo," panggil Zaskia dengan sangat lembut.
Tiyo langsung menolah dan memperlihatkan apa yang tengah dia buatnya, dan Zaskia membuka mulut lebar-lebar melihat itu.
"Semua ini kau yang membuatnya?" tanya Zaskia dengan sangat tidak percaya, kalau Tiyo membuat ukiran indah pada rumput yang ada di sana.
"Tentu saja! Lalu, kau pikir siapa?" jawab Tiyo sambil memegang hidupnya yang terasah gatal.
"Yo, itu ada hewan di hidung mu," ucap Zaskia dengan sangat pelan, karena dia sangat takut pada hewan itu.
"Apa?" tanya Tiyo sambil mendekatkan diri pada Zaskia, sehingga gadis itu berlari sekuat tenaganya.
"Aaahhh!" jerit Zaskia, sambil terus berlari sampai ke halaman depan dan Tiyo semakin mengejarnya.
Bruk!
Zaskia menabrak seseorang dan dia ada di atas tubuh seseorang tersebut, kemudian gadis itu bangun dan membuka mulut lebar-lebar melihat siapa orang itu.
__ADS_1
Bersambung.