
Hari-hari yang di lalui Bella sangat membahagiakan dirinya. Tak terasa sudah satu bulan ia dan suaminya berada di luar negeri.
"Sayangku," ucap Kenan dengan sangat lembut.
Bella tersenyum saat melihat sang suami menghampirinya, sambil membawa buah-buahan khas Indonesia.
"Anak papa, di dalam sudah lapar, ya?" tanya Kenan sambil mengelus perut sang istri.
Bella tertawa dan mengecup pipi Kenan, membuat pria itu tersenyum manis dan memeluknya.
"Mas, Bella tidak bisa bernafas," ucap Bella dengan pelan.
Kenan langsung melepaskan pelukannya, dan menidurkan kepala ke pangkuan Bella. Sebab, rasa itu sangat nyaman buatnya.
"Hei, ada bayi besar di sini ternyata," sindir Bella.
Membuat Kenan langsung bangun dan mengecup pipi sang istri dengan lembut.
"Dasar anak nakal," ucap Kenan dengan lembut.
Bella tertawa, karena dia lucu mendengar ucapan Kenan yang mengatakan kalau dia anak nakal.
"Mas, kenapa kita masih di sini?" tanya Bella pada sang suami.
Karena, dia sudah sangat merindukan semua keluarga dan teman-temannya. Kenan tersenyum dan membisikan sesuatu di telinga Bella.
"Apa!" pekik Bella.
Kenan tersenyum dan Bella langsung menutup mulutnya dengan buah dari Kenan tadi.
"Bagaimana? Setuju?" tanya Kenan.
Bella menganggukkan kepala, karena dia tidak bisa menolak permintaan sang suami. Padahal, dia tidak tahu bisa menurutinya apa tidak.
"Yakin?" tanya Kenan sekali lagi.
Karena dia sedikit ragu akan jawaban Bella, dan gadis itu langsung membuka mata lebar-lebar.
"Tidak!" teriak Bella.
Kenan kekeh melihat Bella berteriak, karena gadis itu baru menyadari apa keinginan sang suami tadi.
"Mas, satu anak kita saja belum lahir? Bagaimana kita pulang, kalau menunggu anak kedua kita terlahir?" tanya Bella dengan sangat serius.
Ya, tadi Kenan meminta agar mereka memiliki dua anak baru pulang ke Indonesia dan berkumpul bersama keluarga di sana.
"Sudahlah, setelah anak kita lahir. Aku dan kamu langsung membuatkan adik agar dia ada temannya," ucap Kenan dengan sangat santai.
Bella terdiam dan berpikir, kalau satu anak saja membuatnya harus bertarung hidup dan mati saat melahirkan nanti. Kini mala Kenan memintanya melahirkan anak lagi dalam jarak yang sangat dekat.
Hal itu akan sangat membahayakan dirinya dan calon anak mereka kelak. Namun, Kenan hanya bercanda saja agar mereka tidak bosan.
"Dasar mesum!" Bella memukul Kenan dengan lembut.
Karena dia sangat kesal pada sang suami, yang terus-menerus menggodanya seperti ini. Mereka berdua kembali bercanda tawa dengan sangat bahagia.
. . .
Kendra sangat pusing akan permintaan Zaskia yang semakin hari semakin aneh dan berbahaya. Kini gadis itu meminta sesuai pada sang suami.
"Aku tidak bisa, Zaskia!" tolak Kendra sejak tadi.
Zaskia lelah membujuk Kendra agar mau menuruti keinginannya. Namun, hal itu gagal karena sang suami tidak mau.
"Ayolah," ucap Zaskia sekali lagi.
"Tidak!" tolak Kendra.
Zaskia merasa kesal, sehingga dia mendekati Kendra dan menerkam pria itu sehingga tidak bisa melawan.
"Zaskia, kau meminta aku untuk mengoperasi orang. Mana mungkin aku melakukan hal gila itu!" teriak Kendra.
Zaskia menjauh dari Kendra, karena dia sakit hati sang suami menolak keinginan gilanya itu.
"Apa susahnya, hanya tinggal menggunting tubuh seseorang dan selesai," ucap Zaskia dengan sangat santai.
Kendra menghela nafas panjang, karena Zaskia adalah wanita hamil yang selalu meminta hal yang aneh-aneh seperti saat ini.
"Ini bukan soal menggunting tubuh Zaskia! Tapi, tentang hidup dan mati seseorang," sahut Kendra.
Zaskia kesal pada Kendra, karena keinginan itu permintaan dari calon anak mereka bukan dirinya.
"Kalau saja kau tidak memasukan jaka tarub itu, mana mungkin saat ini aku hamil!" seru Zaskia.
Gadis itu bergegas pergi dari dalam kamar dengan sangat kesal, karena sang suami menolak keinginan gilanya.
Zaskia duduk di bibir kolam renang sambil menggoyangkan kakinya, tiba-tiba Siska datang dengan perut yang mulai membuncit.
"Hei ibu hamil," sapa Siska dengan girang.
Zaskia hanya tersenyum karena saat ini hatinya sedang tidak baik-baik, hal itu membuat Siska heran karena biasanya adik ipar sang adik tidak pernah murung.
"Katakan ada apa?" tanya Siska dengan sangat lembut.
Zaskia menceritakan semua pada Siska, sehingga gadis itu tersenyum dan tertawa kecil mendengar permintaan Zaskia.
__ADS_1
"Zaskia, suaminya selama ini selalu menuruti keinginan mu. Tapi, kali ini dia menolak karena itu berhubungan dengan nyawa seseorang," ucap Siska dengan membuat.
Zaskia tetap pada pendiriannya, dia mau sampai Kendra menuruti keinginannya yang lumayan gila.
"Aku tidak peduli itu," sahut Zaskia.
Siska terdiam karena Zaskia sama sekali tidak mau mendengarkan dia, sehingga gadis itu bergegas pergi.
Siska berpikir kalau dia tidak pernah ngidam, karena Betran selalu memberikan semua keinginannya sebelum ia meminta.
. . .
Bella dan Kenan sudah bersiap-siap kembali ke Indonesia, akan gadis itu sangat merindukan keluarga dan sahabatnya.
Kini mereka sudah ada di bandara menunggu jadwal penerbangan mereka. Bella berpikir aka memberitahu sang suami kalau ia pernah melihat Miranda. Namun, dia urungkan niatnya itu.
'Sebaiknya biar semua menjdi rahasia, dan kami semua hidup masing-masing dengan bahagia,' batin Bella.
Gadis itu bersandar di pundak Kenan karena merasa sangat lela, karena usia kehamilannya sudah semakin bertambah.
"Bek, masih tahan?" tanya Kenan pada sang istri dengan sangat lembut.
Bella menganggukkan kepalanya, karena dia tidak mau berkata jujur kalau dia lela dan mereka tidak jadi pulang.
"Ayo kita masuk, sebentar lagi akan berangkat." Kenan dan Bella berjalan menuju pesawat dan masuk ke dalam.
Mereka duduk di bangku, dan Bella langsung tidur karena di merasa lela. Entah kenapa sudah beberapa hari ini Bella sangat gampang lela walaupun dia tidak melakukan apapun.
10 jam kemudian . . .
Kenan dan Bella sudah sampai di Indonesia dan meraka langsung pulang ke rumah. Selama di perjalanan meraka berdua hanya diam dalam pikiran masing-masing.
Setibanya di rumah, Bella dan Kenan langsung masuk ke dalam dan di sambut meriah oleh semua orang.
"Bella!" teriak semua orang yang sangat merindukan gadis itu.
Keempat wanita itu memeluk Bella dengan sangat rindu yang mendalam, begitu juga dengan Bella.
"Sudah, biarkan Bella beristirahat dulu," ucap Astuti.
Karena dia melihat Sang anak sangat kelelahan, dan semua orang menganggukkan kepala masing-masing.
"Nanti kita sambung lagi, ya?" Bella berucap sambil bergegas pergi dari sana.
Kenan membawa Bella masuk ke dalam kamar, dan memijat gadis itu dengan sangat lembut sehingga sang istri tertidur lagi dengan nyenyak.
"Bel, pasti kamu sangat lela karena perjalanan jauh tadi," ucap Kenan lirih.
Pria itu mencium puncak kepala sang istri dan memeluk Bella dengan sangat lembut. Kenan Sangat menyayangi Bella dengan sepenuh hatinya.
Bella sudah rapi dan wangi, karena hari ini ia dan Siska juga Zaskia akan memeriksa kandungan mereka bersama di rumah sakit.
"Wah, ada yang tidak sabar ingin mengetahui keadaan anaknya," sindir Bella.
Karena sejak tadi Kenan terlihat cemas dan tidak sabar.
"Tidak," jawab Kenan.
Kemudian pria itu mendekati sang istri dan memeluknya juga mencium anak mereka yang masih ada di dalam perut.
"Apa anak kita akan terlihat jenis kelaminnya nanti?" tanya Kenan.
Karena sejujurnya dia menginginkan anak perempuan dari dulu, dan sekarang ia ingin hal itu terkabul.
Bella tertawa karena lucu melihat Kenan, karena pria itu bukan menanti anak pertama menaikan anak kedua. Yang artinya sudah berpengalaman.
"Mas, saat ini usia kehamilan Bella masih dua bulan dan tidak akan terlihat jenis kelaminnya," jawab Bella.
Kenan menganggukkan kepala dan meraka bergegas ke luar, terlihat semua orang sudah berkumpul di ruang tamu.
"Ayo kita berangkat," ucap Bella.
"Ayo!" sahut Siska dan Zaskia bersamaan.
Astuti menghampiri sang anak dan memeluknya, karena dia masih sangat merindukan anaknya.
"Hati-hati, dan cepatlah pulang ibu sangat rindu kamu," ucap Astuti dengan lirih.
Bella tersenyum dan berkata, "Baik Bu."
"Kalau begitu kami pergi dulu, Ayah, Ibu," ucap Kenan sambil membawa sang istri pergi.
"Hati-hati," ucap Fajar sambil menatap kepergian anak-anaknya.
Hati Tia sakit melihat ketiga wanita hamil itu bergembira, sedangkan dirinya sama sekali tidak bahagia. Sebab, dia tidak akan menikah dengan siapapun.
'Sudahlah, mana ada yang mau menikah dengan ku yang sudah tidak suci lagi. Mungkin aku akan seperti ini sampai selamanya,' batin Tia.
Gadis itu sangat sedih, karena hanya dia yang tidak mengandung. Sebab, ia sudah pernah hamil dan memiliki anak.
Ya, setelah gagal menikah ternyata Tia hamil anak Beno dan tidak ada yang mengetahui hal itu. Sehingga Tia melahirkan anak pertamanya di rumah sakit.
Gadis itu pun menitipkan sang anak pada Bibinya yang ada di kampung, karena dia bekerja di kota agar anaknya bisa sekolah tinggi.
Sebab itu, dia tidak pernah memikirkan tentang percintaannya sekarang. Hal yang terpenting adalah membuat anaknya bahagia.
__ADS_1
"Amora maafkan ibu, karena tidak bisa menemui mu," ucap Tia lirih.
. . .
Astuti dan Fajar saling tersenyum saat melihat kamar bayi yang di siapkan untuk cucu-cucu meraka nantinya.
"Mas, sebaiknya kita siapkan saja baju dan perlengkapan lainnya, untuk anak Siska dan Bella, juga Zaskia," ucap Astuti.
Fajar tersenyum dan menganggukan kepalanya, karena dia juga pernah berpikir seperti itu. Namun, takut mengungkapkannya.
"Kalau begitu sekarang saja kita pergi berbelanja, mumpung tiga gadis itu tidak ada die rumah," ucap Fajar.
Astuti menyetujui usul sang suami, dan mereka bergegas pergi menuju pusat perbelanjaan baju bayi dan perlengkapan lainnya..
. . .
Di rumah sakit . . .
Kini Bella ada di dalam ruangan USG dan memeriksa keadaan janinnya, dan semua sehat.
"Usia kehamilan Bu Bella, sudah memasuki Minggu keenam. Di harapkan banyak istirahat dan makan yang bergizi," ucap Dokter tersebut.
Kenan dan Bella tersenyum, karena calon anak mereka sehat dan tidak lama lagi mereka akan bertemu dengan bayi kecil itu.
"Baik Dok," jawab Bella.
Kini mereka sudah selesai dan giliran Zaskia dan Kendra masuk ke dalam. Keadaan anak gadis itu baik dan usia kehamilan baru memasuki empat Minggu.
Setelah selesai giliran Siska dan Betran, usia kehamilan gadis itu sama seperti hanya saja perut Siska sudah besar karena dia hamil anak kembar.
Setelah selesai ketiga wanita hamil itu bergabung dan pulang bersama. Sebab, mereka tidak sabar membagi kabar gembira pada sang ibu dan ayah.
Setelah tiba di rumah, yang di cari tidak ada dan mereka berkumpul di ruang tamu dan bercerita bersama.
"Bel, kamu tahu tidak? Zaskia meminta Kendra agar mengoperasi orang," ucap Siska sambil menatap wajah gadis itu...
Bella tertawa, karena dia lucu mendengar permintaan gila dari sang sahabat.
"Astaga," ucap Bella.
Semua orang yang ada di sana tertawa begitu juga dengan Kendra, karena dia juga lucu mendengar wanita hamil meminta sang suami mengoperasi orang.
"Sepertinya ini kasus yang pertama," ucap Kendra sambil menahan tawanya.
Agar Zaskia tidak marah padanya, karena sudah menertawakan sang istri.
"Iya, aku juga baru dengar," sambung Kenan.
Pria itu terus-menerus tertawa sehingga Zaskia kesal, dan membanting buku yang ada di hadapannya.
"Cukup Om! Ini semua karena ulah mu! Kalau saja tidak memasukan, jaka tarub mu itu mana mungkin aku hamil!" seru Zaskia.
Kenan dan yang lainnya semakin tertawa mendengar ucapan Zaskia, sedangkan Kendra merasa malu dengan ucapan sang istri.
"Kia, sudahlah itu rahasia kita," ucap Kendra.
Pria itu memeluk sang istri agar tidak semakin emosi, dan Zaskia diam sambil menatap wajahnya.
"Ayolah, kabulakan keinginan ku itu," ucap Zaskia dengan sangat lirih.
Membuat Kendra tidak sanggup untuk menolak keinginan sang istri, sehingga ia menuruti walaupun entah bagaimana dia melakukan hal itu.
"Ini patut di contoh, suami yang baik dan sayang istri," ucap Kenan.
Kendra hanya diam, karena dia tahu sang kakak tengah mengejeknya.
'Sabarkan aku Tuhan, semoga aku bisa menjalankan misi itu,' batin Kendra.
Zaskia sangat bahagia mendengar sang suami menyetujui keinginan nya, sehingga dia bangun dan melompat-lompat.
''Astaga Zaskia!" pekik Kendra.
Semua orang yang ada di sana tertawa lepas melihat kedua pasang suami-istri yang kocak itu.
"Dasar Juminten kamu," ucap Bella.
Gadis itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah sang sahabat, yang sangat somplak di matanya.
. . .
Astuti dan Fajar tersenyum saat melihat barang belanjaan mereka yang sangat banyak. Sampai satu mobil truk penuh karena itu untuk keempat cucunya nanti.
"Tidak sabar ya Mas, menanti keempat cucu kota lahir," ucap Astuti dengan lembut.
Fajar tersenyum dan memeluk sang istri, karena dia tidak menyangka akan menjadi seorang kakek dengan secepat ini.
"Tidak terasa, kita akan menjadi Kakek dan nenek. Padahal saat kita terpisah dulu. Anak-anak masih sangat kecil," ucap Fajar dengan lirih.
Pria itu mengingat betapa pahitnya hidup tanpa adanya keluarga kecilnya dulu, dan sekarang dia bahagia bisa berkumpul kembali.
Bahkan, sekarang dia memiliki dua menantu dan empat anak sekaligus. Ya, dia menganggap Kendra dan Zaskia adalah anaknya sama seperti Bella dan Siska.
"Sudahlah Mas, jangan di ingat lagi masa-masa itu. Karena, sekarang kita sudah berkumpul dan bahagia," ucap Astuti dengan sangat lembut.
Fajar tersenyum karena sang istri bisa membuatnya ceria lagi, seperti sebelumnya.
__ADS_1
Bersambung.