Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku

Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku
Hamil Anak Siapa?


__ADS_3

Tak berselang lama akhirnya Kenan datang bersama dengan Adnan, dan dokter muda tersebut langsung memeriksa keadaanya sambil berbisik.


"Berhati-hatilah, karena dia tidak menyukai kehamilan mu," bisik Adan.


Kenan sama sekali tidak mendengar bisikan Adnan, karena dia fokus pada rencananya yang akan di susun ketika sampai di rumah nanti.


"Bella, jangan lupa minum obat dan vitamin ini. Karena, kamu lagi hamil," ucap Adnan dengan sangat kuat, agar Kenan tidak mencurigai mereka.


"Baik Dokter," jawab Bella pelan.


Adnan melepaskan jarum infus Bella, dan membantu gadis itu bangun dan duduk di kursi roda.


"Terimakasih!" Kenan mendorong kursi roda Bella ke luar dari rumah sakit, dan membawa sang istri masuk ke dalam mobilnya.


Bella hanya diam sambil menatap wajah sang suami yang ada di sampingnya, karena dia sedang memikirkan ucapan Adnan tadi saat di rumah sakit.


'Apa yang sebarnya akan terjadi? Mengapa dokter Adnan tadi berbicara seperti itu?' batin Bella sambil berpikir.


Kenan tersenyum simpul sambil menatap wajah Bella yang ada di sampingnya, kemudian dia memegang tangan gadis itu.


"Kau sudah tahu belum? Kalau saat ini kau tengah mengandung?" tanya Kenan dengan sangat lembut.


Bella menggelengkan kepalanya, dan Kenan tersenyum.


"Bukankah aku selalu meminta mu, untuk meminum pil kontrasepsi itu?" tanya Kenan dengan sangat halus. Namun, mengancam.


"Maaf Tuan, sudah satu bulan lebih saya lupa meminumnya karena obat itu hilang," jawab Bella dengan jujur.


"Hilang?" tanya Kenan, dan Bella menganggukkan kepalanya.


"Bukankah kau masih bisa memintanya padaku? Lagi pula, aku tidak meniduri mu selama itu, dan kau bisa hamil?" tanya Kenan sambil tersenyum.


Hati Bella kian berbuah, menjadi sangat takut saat Kenan berbicara seperti itu tadi. Sehingga dia diam dan tidak bisa menjawab.


"Katakan!" tanya Kenan dengan sangat lembut.


"Tuan, saya juga tidak tahu," jawab Bella dengan pelan.

__ADS_1


"Ck, mana mungkin kau yang memiliki tubuh dan kau tidak tahu," ucap Kenan dengan sangat lembut.


Bella semakin menekan ludahnya dalam-dalam, karena merasa akan ada musibah yang terjadi padanya melebihi diri biasanya.


Setelah sampai di rumah, Kenan mambawa Bella masuk ke dalam rumah dan membawanya naik ke atas tangga. Padahal, kamar gadis itu ada di lantai bawah.


Lalu? Apa yang akan di lakukan oleh pria itu pada sang istri?


"Tuan, kamar saya ada di bawah bukan?" tanya Bella dengan sangat hati-hati.


Kenan tersenyum simpul, dan menurunkan gadis itu dengan perlahan, kemudian mulai membisikkan sesuatu.


"Kau hamil anak siapa?" tanya Kenan.


Bella meneteskan air matanya, dan menatap wajah Kenan dengan sangat lirih.


"Saya hamil anak Tuan," jawab Bella dengan lirih.


Kenan semakin membenci gadis itu, dan langsung memegang tangannya dengan kuat.


"Anak haram siapa ini?!" tanya Kenan dengan sangat geram, membuat Bella semakin terisak-isak karena suaminya menuduhnya hamil bersama pria lain.


"Saya hamil anak Tuan," jawab Bella, sambil meneteskan air matanya.


Hati Astuti hancur melihat sang anak di perlakukan seperti itu oleh sang menantu, sehingga dia terjatuh lemas ke lantai.


"Bibi!" Tia membantu Astuti bangun, dan kembali melihat Kenan dan Bella dari bawah.


"Ck, katakan yang sejujurnya!" teriak Kenan, membuat Bella semakin terisak-isak.


Miranda tertawa puas melihat rencananya berhasil dengan mulus, dan kini wanita itu menghampiri sang suami dan madunya.


"Di mana-mana, maling tidak akan ada yang mengaku, kalau itu terjadi maka penjara akan penuh!'' ucap Miranda yang baru saja tiba.


Bella semakin terisak-isak, dan Kenan terlihat sangat emosi dan menarik tangan Bella dengan kuat kemudian menghempaskan sang istri. Sehingga Bella terjatuh dari atas ke bawah.


"Aaahhh!" teriak Bella.

__ADS_1


Sontak semua penghuni rumah langsung terkejut, dan menghampiri Bella yang sudah berlumuran oleh darah.


"Anakku!" teriak Astuti dengan sangat histeris saat melihat keadaan sang anak.


Mang Asep langsung membawa tubuh Bella dengan cepat masuk ke dalam mobil, dan membawanya ke rumah sakit terdekat.


Astuti menangis tersedu-sedu sambil menatap ke arah sang anak, yang sudah tidak sadarkan diri dan mengeluarkan darah sangat banyak.


"Ya Tuhan, kenapa semua ini terjadi?!" tanya Astuti dengan sangat histeris.


Mang Asep semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena sangat khawatir akan keadaan sang keponakan.


Sedangkan Kenan masa bodoh, dan masuk ke dalam kamar bersama Miranda. Hati Tia sangat sakit melihat hal itu, dan dia langsung membersihkan darah Bella tadi yang sangat banyak.


"Apakah adikku itu masih bisa selamat?!" tanya Tia dengan sangat histeris, dia sangat menghawatirkan keadaan sang adik.


Para pelayan membantu Tia membersihkan darah Bella tadi, karena Tia tidak sanggup dan akhirnya pingsan.


.


.


Kenan duduk di bibir ranjang sambil menatap kosong ke atas jendela kamar, karena dia sangat kesal mengira Bella hamil bersama pria lain. Padahal, gadis itu benar-benar hamil anaknya.


"Ken, biarkan saja dia kehilangan anak itu. Bukankah nyawa di balas dengan nyawa?" tanya Miranda.


Kenan menganggukkan kepalanya, kemudian mengusap kasar wajahnya. Entah mengapa hatinya sangat gelisah seperti saat dia kehilangan Adam dulu.


'Perasaaan macam apa ini? Kenapa sama seperti saat aku kehilangan Adam dulu?' batin Kenan sambil berpikir.


Miranda mengelus-elus punggung Kenan, agar pria itu bisa tenang dan mempercayai semua ucapannya.


'Ken, aku tidak akan membiarkan siapapun merebut mu dariku, meskipun aku harus melenyapkan anakmu sendiri,' batin Miranda dengan licik.


Kenan tanpa sadar meneteskan air mata, sama seperti saat dia kehilangan Adam dulu. Entah mengapa dia juga tidak tahu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2