
Zaskia baru tiba di rumah Fajar, dan dia langsung masuk ke dalam. Karena ingin memberitahu Bella kalau Kenan koma. Gadis itu langsung masuk ke dalam kamar sang sahabat.
Terlihat Bella tengah duduk sambil membaca buku, dan dia langsung menghampiri gadis itu dengan terburu-buru takut Fajar datang.
"Bel, liat ini." Zaskia memperlihatkan Poto Kenan yang tengah bertarung nyawa dan mati di rumah sakit.
Hati Bella sangat sakit melihat hal itu, sehingga dia menangis tersedu-sedu di dalam pelukan sang sahabat. Ingin rasanya ia pergi menemui Kenan namun sayangnya sang ayah pasti akan melarang.
"Zas, gue mau ke sana ngeliat suami gue," ucap Bella dengan lirih.
Zaskia juga ikut menangis, karena merasa sangat sedih melihat hal ini sebab ia juga bisa merasakan saat di posisi Bella.
"Bel, mungkin ini kali terakhir aku berada di sini, karena ayahmu sudah memecat ku. Karena, kami tadi bertemu di rumah sakit dan dia melihat aku bersama om Kendra," ucap Zaskia dengan lirih.
Gadis itu sangat sedih harus berpisah dari sang sahabat, karena mereka sudah pasti tidak akan bisa bertemu lagi. Sebab, Bella tidak bisa berjalan.
"Gue gak mau, nanti gue ngomong sama ayah. Apa elo tega ninggallin gue?" ucap Bella dengan sangat lirih.
Zaskia menggelengkan kepalanya, karena dia tidak berpisah dari Bella. Karena gadis itu adalah sahabat terbaiknya.
"Semoga ayah elo mau Nerima gue lagi," ucap Zaskia dengan sangat lirih sambil memeluk Bella.
"Semoga," sahut Bella.
Kedua wanita itu saling berpelukan, karena sangat sedih kalau sampai mereka berpisah. Entah apa yang akan terjadi jika semua itu benar.
.
.
.
Miranda tahu kalau Kenan masuk rumah sakit. Namun, dia sudah tidak peduli kalau mereka sudah berpisah hanya tinggal menunggu sidang saja.
Wanita itu malas kalau dia ke rumah sakit, semua tagihan Kenan harus ia bayar. Sebab, sang suami sudah jatuh miskin, begitulah pemikirannya.
"Kasihan sekali nasib mu Ken, untungnya aku sudah berpisah dari mu. Kalau tidak, sudah pasti semua biaya rumah sakit aku yang membayarnya," ucap Miranda.
Wanita itu tidak peduli pada mantan suaminya, padahal dulu meraka menjalani hidup bersama dalam suka duka. Namun, sekarang dia sama sekali tidak peduli pada pria itu.
Miranda juga sudah tidak mau berurusan dengan keluarga Kenan, atau Bella karena dia akan menetap di luar negeri seorang diri agar dia tenang.
Walaupun di Indonesia dia juga tenang. Namun, wanita itu ingin memulai hidup baru bersama orang-orang baru juga.
.
.
.
Fajar bergegas pulang, karena sang anak masih harus di rawat di rumah sakit dan meninggalkan Siska seseorang dari karena sang anak sama sekali tidak mau di jaga.
Siska kesal karena pertengkarannya tadi bersama Betran yang tidak ada hentinya, membuat Siska kesal dan tidak mau di jaga oleh sang ayah walaupun dia masih harus menginap di rumah sakit.
Kini pria itu sudah tiba di rumah, dan langsung masuk ke dalam karena dia tidak ingin melihat adanya Zaskia lagi.
"Zaskia!" teriak Fajar sambil berjalan menuju ruang tamu.
"Zaskia!" teriaknya lagi, dia tidak mendapatkan jawaban apapun.
"Zaskia!" teriaknya sekali lagi.
Zaskia yang tengah menyusun barang-barang langsung berlari, menuju ruang tamu dan melihat sang majikan ada di hadapannya.
"Iya Tuan," jawab Zaskia dengan pelan, dan Fajar langsung menoleh melihat gadis itu masih ada di hadapannya.
"Sekarang pergi dari sini!" teriak Fajar, membuat Zaskia menangis dan Bella langsung menghampiri sang ayah.
Karena sejak tadi dia menunggu kepulangan sang ayah, dan dia langsung mendorong kursi roda menuju sang sahabat.
"Jika Zaskia pergi dari sini, maka Bella juga akan pergi," ucap Bella dengan sangat tegas, membuat Fajar bingung.
"Neng, kamu tahu dia ini istri adiknya Ken, yang artinya dia adalah musuh kita," jawab Fajar dengan lirih.
Bella tersenyum, karena melihat sikap sang ayah yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.
"Bukankah Bella sedang mengandung anak Kenan Dueken? Lantas, mengapa Ayah tidak mengusir Bella juga?" sahut Bella, membuat Fajar bingung.
Pria itu berpikir dan membiarkan Zaskia ada di rumahnya, karena dia tidak ingin kalau Bella akan ikut-ikutan pergi dari rumah.
'Lebih baik aku mengalah saja,' batin Fajar.
Fajar bergegas pergi dari sana karena dia ingin menemui sang istri, sedangkan Bella dan Zaskia sangat senang masih bisa bersama dan tidak terpisahkan.
Mereka saling berpelukan dan menyusun rencana agar Bella bisa menemui Kenan besok, karena gadis itu benar-benar sangat ingin bertemu sang suami.
__ADS_1
'Ya Tuhan, semoga besok aku bisa menemui tuan Kenan,' batin Bella.
Bella sangat berharga besok bisa menemui Kenan, karena dia sangat merindukan cemas akan keadaan sang suami yang di nyatakan koma. Padahal masih hidup.
.
.
Betran sama sekali tidak menceritakan apapun pada sang papa dan mama, kalau dia akan menikahi Siska selingkuhan papanya.
"Setelah aku menikahinya, mama tidak akan bersedih dan menangis setiap waktu kalau mengingat wanita itu," ucap Betran.
Walaupun dia harus mengorbankan masa depannya menikahi selingkuhan sang papa, Betran senang sebab papanya tidak akan berselingkuh lagi.
Pria itu ingin sekali membunuh sang papa, karena sudah berselingkuh dari mamanya namun ia harus menahan rasa itu.
Membiarkan papanya hidup, kalau sampai kejadian terulang kembali mungkin dia akan benar-benar membunuh Betran.
.
.
.
Fajar dan Astuti saling berpelukan menceritakan semuanya yang terjadi selama mereka hidup masing-masing.
"Mas, kenapa Siska masih di rawat?" tanya Astuti dengan bingung, karena sang anak baik-baik. Mengapa harus menginap di rumah sakit pikirannya.
"Entahlah, karena Adnan yang memintanya," jawab Fajar dengan jujur dan ada apanya pada Astuti.
Mereka kembali bercerita bersama-sama suku saat pertama bertemu dan menikah, rasanya mereka hidup di masa lalu dengan sangat bahagia. Walaupun kenyataannya mereka harus berpisah.
'Aku tidak akan membiarkan mu tenang, karena kau sudah membuatku terpisah dari anak dan istriku,' batin Fajar.
Pria itu masih saja dendam pada Kenan, padahal dia sudah melenyapkan anak Kenan satu-satunya dengan sadis.
.
.
.
Siska merasa sangat sedih, karena mengetahui dia hamil anak kembar. Yang artinya tanggung jawab pada kedua anaknya nanti.
Walaupun itu akan sangat sulit baginya, namun dia harus menjalankan dengan lapang dada. Sebab, semua adalah kesalahannya juga sudah tidur bersama pria beristri.
Gadis itu sangat sedih memikirkan tentang itu, sehingga dia mencoba menerima semua yang terjadi padanya walaupun itu akan sangat sulit baginya.
.
.
.
Keesokan harinya ...
Bella sudah rapi karena hari ini dia akan menjenguk Kenan di rumah sakit, walaupun belum ada persetujuan dari sang ayah.
Kini gadis itu sudah pandai mencoba untuk berjalan, sehingga dia tidak merepotkan orang lain untuk membantunya dalam segala hal.
"Semoga ayah mengizinkan aku menemui tuan Kenan," ucap Bella dengan penuh harapan.
Gadis itu dengan perlahan mendorong kursi roda menuju ruang tamu, dan berhenti di sana menunggu kedatangan sang sahabat yang akan mengantarkan ke rumah sakit.
"Bel, maafkan aku karena telat," ucap Tia sambil merapikan penampilannya.
Bella tersenyum kemudian dia berkata, "Tidak masalah kok."
Tia berdiri di belakang Bella, karena Fajar baru tiba dan duduk di sofa sambil menatap tajam ke arahnya dan sang sahabat.
"Ayah, kami mau pergi ke rumah sakit," ucap Bella dengan sangat lembut, tanpa rasa takut sedikitpun pada sang ayah.
Tia menatap wajah Fajar, dan terlihat pria itu sangat kesal terlihat jelas dari raut wajahnya yang menahan rasa kesal.
"Berani?" tanya Fajar sambil tersenyum simpul.
Bella mendorong kursi roda menuju sang ayah, kemudian memegang tangan pria itu dengan sangat lembut.
"Ayah, bila kakek melarang ibu menemui Ayah, bagaimana perasaan Ayah?" tanya Bella dengan sangat lembut, agar sang ayah mengerti.
Fajar terdiam, karena rasanya akan sangat sakit kemudian dia juga berpikir rasa sakit Kenan kehilangan sang anak, membuatnya mengerti semuanya.
"Tapi, ayah takut dia melukaimu," ucap Fajar dengan sangat lembut.
"Ayah, dia saja menyelamatkan dirinya saat ini tidak bisa. Bagaimana dia mau melukai Bella? Bahkan, saat ini dia sedang bertarung antara hidup dan mati," ucap Bella dengan lirih.
__ADS_1
Fajar terdiam karena semua yang di ucapkan oleh sang anak ada benarnya, dan dia selama ini terlalu egois.
"Coba Ayah bayangkan, jika yang Adam alami berbalik pada Bella atau kak Siska. Apakah Ayah sanggup?" tanya Bella, karena dia ingin menyadarkan sang ayah.
Lagi-lagi Fajar diam, karena apa yang di ucapkan oleh Bella semuanya benar adanya.
"Apakah semua ini adil untuk tuan Kenan? Sedangkan Ayah, sama sekali tidak kehilangan siapapun," ucap Bella lagi.
Fajar meneteskan air matanya, karena sudah sangat egois pada Kenan. Dia berpikir kalau Kenan tidak mendapatkan keadilan.
"Bella mohon pada Ayah dan tuan Kenan, berdamai buang semua dendam di masa lalu kalian. Jangan karena kesalahan itu kami semua yang menanggung perbuatan Ayah dan tuan Kenan," ucap Bella dengan lirih.
Tia yang sejak tadi ada di sana, menangis sambil menatap ke arah sang sahabat yang sudah berlinang air mata, begitu juga dengan Fajar yang mulai terisak-isak.
"Maafkan ayah Neng, semua adalah keegoisan ayah," ucap Fajar sambil terisak-isak.
Pria itu memeluk sang anak dengan sangat lembut sambil menangis, dan Tia juga semakin terisak-isak dan memeluk seseorang yang ada di sampingnya.
Tunggu? Bukankah mereka tadi hanya bertiga? Lalu, siapa yang ada di samping Tia?
Gadis itu langsung melepaskan pelukannya, dan melihat kalau yang ada di sampingnya adalah Zaskia dengan senyuman meledek.
"Astaga! Kau bisa lihat tidak? Di sini sedang haru, jangan tertawa," ucap Tia dengan ketus, dan Zaskia tersenyum.
"Aku ikut kalian, ya? Karena, di sana ada suamiku," bisik Zaskia di telinga Tia, dan gadis itu mengangguk tanda setuju.
Fajar melepaskan pelukannya, kemudian mencium puncak kepala sang anak dengan sangat lembut, dan menghapus air mata Bella yang terus berjatuhan.
"Neng, ayah akan mencoba untuk memaafkan Kenan dan berdamai dengannya, dan berkata juju kalau ayah adalah pembunuh itu," ucap Fajar dengan lirih.
Hati kecilnya sudah memaafkan Kenan, karena dia juga salah dan lebih salah dari perbuatan Kenan.
"Jujur lebih baik Ayah, kalau begitu kami pergi dulu," ucap Bella dengan sangat lembut, dan Fajar tersenyum sambil mempersiapkan sang anak pergi.
Tia mendekati Bella dan mendorong kursi roda gadis itu pergi dari sana, bersama Zaskia.
Mereka bertiga pergi ke rumah sakit dengan di antar oleh Tiyo, walaupun pria itu sudah bilang tidak bisa. Namun, tetap saja Tia membujuknya.
Bella dan Zaskia duduk di belakang, sedangkan Tiyo dan Tia duduk di depan.
"Tia, kamu sama Tiyo jadian aja kenapa sih," ucap Zaskia dengan tiba-tiba, membuat kedua Ti itu langsung menoleh.
"Sembarang kalau ngomong," ucap Tia dan Tiyo secara bersamaan.
Kedua Ti itu langsung menatap satu sama lainnya, karena sudah kompak dalam menjawab pertanyaan dari Zaskia.
"Ya ampun, itu saja sudah sama," kekeh Zaskia sambil menatap wajah Tia yang memerah.
"Sudahlah," ucap Tiyo dengan sangat lembut, karena dia merasa malu juga akan godaan Zaskia.
Sedangkan Bella hanya diam tidak menjawab apapun, karena dia masih sedih memikirkan tentang keadaan Kenan yang koma, dan akan sulit untuk sadar kembali, yang artinya anaknya akan menjadi Yatim.
'Ya Tuhan, semoga saja tuan Kenan bisa sadar. Sebab, ayah akan berdamai aku ingin melihat mereka berdua Akur dan hidup tidak ada dendam,' batin Bella.
Setelah tiba di rumah sakit, semuanya turun terkecuali Tiyo karena dia hanya menunggu dan tidak ikut masuk ke dalam.
"Hati-hati Tiyo, entar ada hantu," ucap Zaskia sambil mendorong kursi roda Bella.
"Gue hantunya," sahut Tiyo.
Tia tersenyum karena melihat kedua adik dan kakak itu terus-menerus membuat lucu, dan mereka bertiga masuk ke dalam dengan perlahan.
"Bel, sehabis kita besuk suami elo, kita besuk Siska ya, gue kangen sama dia," ucap Zaskia sambil terus mendorong kursi roda Bella.
"Iya benar," sambung Tia, karena dia juga penasaran bagaimana keadaan Siska.
"Iya," jawab Bella dengan sangat lembut.
Hati Tia tiba-tiba berdenyut mendengar suara yang sangat familiar sekali di telinganya, karena pria itu yang sudah menghancurkan perasaan dan jiwanya.
'Suara itu? Apa sebenarnya dia memang orang yang sama?' batin Tia sambil berpikir.
Tia berdiam diri, sehingga dia tertinggal Bella dan Zaskia yang sudah masuk ke dalam. Kemudian dia juga menyusul.
Bella langsung menghampiri Kenan, dan menangis tersedu-sedu tanpa rasa malu adanya Kendra dan Beno di sini.
"Om, bangunlah anak kita butuh ayah nya. Apa Om tahu, ayah akan berdamai dengan Om," ucap Bella dalam isak tangisannya.
Sedangkan Tia, langsung diam dan lemas saat melihat siapa pria yang ada di samping Kendra itu.
'Apakah mereka cuma mirip, atau memang dia orang yang sama?' batin Tia lirih.
Beno melirik ke arah Zaskia dan matanya membulat sempurna saat melihat Tia, yang ada di hadapannya.
'Apakah itu benar-benar Tia?' batin Beno.
__ADS_1
Pria itu semakin menatap wajah Tia, dan melihat gadis itu juga menatapnya kemudian meneteskan air mata.
Bersambung.