
Tia dan Bella tertawa saat membaca pesan dari Zaskia, karena sahabat mereka itu berada di dalam satu masalah.
Zaskia: Aku akan berlibur ke kota B, apa kau ingin ikut?
Zaskia: Aku akan menginap ke hotel bintang lima, di sana!
"Kamu lihat itu?" tanya Tia sambil tersenyum manis.
Bella juga tersenyum, karena mereka tadi baru mengetahui bahwa Kendra akan berlibur di tempat yang sama. Bahkan, juga hotel yang sama.
Bisakah mereka tidak bertemu di sana, sepertinya hal itu sedikit mustahil karena Zaskia dan Kendra berada di hotel yang sama.
"Sudahlah, semoga mereka berdua bisa bersama lagi. Sebab, baru saja menjadi sepasang suami-istri," kekeh Bella.
Entah mengapa dia ingin sekali tertawa lepas, melihat tingkah Zaskia begitu juga dengan Tia yang selalu ingin mengejek sahabatnya itu.
.
.
.
Zaskia masuk ke dalam pesawat dan lagi-lagi, dia harus duduk bersebelahan dengan Kendra, karena bangku sudah penuh. Tidak mungkin bukan dia berdiri selama perjalanan panjang?
'Aku harus kuat, dan bisa,' batin Zaskia.
Gadis itu berjalan duduk di samping Kendra, kemudian dia membuang pandangannya agar pria tersebut tidak mengetahui keberadaannya.
__ADS_1
Setelah pesawat terbang, Zaskia tertidur dan tanpa sadar bersandar di bahu pria itu. Kendra hanya diam saja saat wanita duduk di sampingnya.
"Aroma ini, sepertinya wangi Zaskia," ucap Kendra sambil menghirup aroma tubuh gadis yang ada di sampainya.
Setelah tiba, Kendra membangunkan gadis itu dan sang empunya bangun kemudian berjalan ke luar dengan lemas.
Kendra membawa kopernya ke luar dari bandara, dan bertemu dengan gadis yang tidur tadi kemudian dia menghampirinya.
"Nona, tujuan kamu ke mana? Siapa tahu kita satu ara?" tanya Kendra dengan sangat lembut.
Zaskia hanya diam sambil menunggu taksi lewat, dan Kendra tertawa karena di tempat ini tidak ada taksi.
"Biar aku antar saja! Karena di sini tidak ada taksi. Ini bukan kota besar," tawar Kendra.
Zaskia berpikir sejenak, kemudian dia menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Kendra.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil yang sudah menjemputnya atas utusan Kenan, yang akan memanjangkannya selama berbulan madu.
.
.
.
Kenan duduk sambil meminum segelas jus anggur, sambil mengingat kembali kejadian saat sang anak meninggal dunia beberapa bulan lalu. Hatinya kian hancur berkeping-keping.
Tanpa sadar, dia meneteskan air mata dan memukul tembok sehingga tangannya berdarah. Namun, dia sama sekali tidak menghiraukan hal itu.
__ADS_1
"Aku akan membalasnya!" teriak Kenan dengan dendam yang membara.
Pria itu ingin sekali pulang detik ini juga. Namun, sayangnya pekerjaannya sanga menumpuk.
"Aku harus mengerjakannya dengan cepat, agar aku bisa segera pulang!" Kenan bergegas untuk menyelesaikan pekerjaan.
Pria itu bertekad untuk menyelesaikan pekerjaan selama tiga hari kedepannya, padahal pekerjaan itu akan selesai selama dua Minggu lagi.
Entahlah, kalau Kenan sudah menginginkan maka hal itu akan segera terjadi walaupun banyaknya rintangan yang datang.
.
.
.
Miranda tidak sabar menunggu beberapa minggu lagi, karena rencananya akan segera berhasil berkata bantuan Sari.
"Sari, kau tahu? Rencana awal kita itu akan segera berhasil," ucap Miranda sambil memejamkan matanya.
Sari tersenyum sambil terus memijat kepala sang majikan, karena dia masih di percayai dalam menjalankan misi menghancurkan Bella.
"Aku rasa dia belum datang bulan, apakah dia sudah hamil?" sahut Sari, dan Miranda tertawa lepas.
"Kau tahu? Kenan itu tidak akan mempercayai kalau wanita itu hamil anaknya, karena aku sudah menyusun rencana ini." Miranda memperlihatkan Poto Bella, bersama seorang pria tengah tidur berdua.
Ya, Miranda mengedit poto itu seperti nyata agar Kenan mempercayainya dan membuat Bella semakin menderita.
__ADS_1
"Bagus sekali Nyonya," ucap Sari dengan sangat bergembira.
BERSAMBUNG.....