
Pagi hari tiba ...
Bella berdiri tepat di depan pintu kamar Kendra, karena dia ingin bertanya apa maksudnya memberikannya obat sampai berhalusinasi seperti semalam. Untungnya gadis itu tidak mengalami hal buruk.
Tok.
Tok.
Tok.
Bella mengetuk-ngetuk pintu kamar, dan tak berselang lama akhirnya pintu terbuka memperlihatkan sang empunya.
"Aku mau masuk!" Bella bergegas masuk ke dalam, membuat Kendra terkejut dan langsung menutup pintu kamarnya.
"Hei ja-lang! Mau apa kau?!" tanya Kendra dengan sangat emosi melihat wajah Bella, karena semalam rencananya gagal.
Bella sudah terbiasa mendengar ucapan seperti itu, sehingga dia hanya diam sambil tersenyum simpul. Kemudian menghampiri Kendra dan berdiri tepat di hadapan pria itu.
"Apa maksudnya kau memberikan aku obat itu?!" tanya Bella dengan sangat emosi.
Kendra menundukkan kepalanya, karena Bella sangat pendek membuatnya kesulitan untuk melihat wajah gadis itu yang sangat menyebalkan.
"Kau itu wanita pendek! Hanya sampah bagi kakak ku!" seru Kendra.
Bella kenaikan wajahnya, kemudian dia berjinjit agar menyeimbangi Kendra. Namun, gadis itu tidak bisa karena dirinya sangat pendek.
"Kau jangan salah, dulu aku dan Adam saling mencintai dan hampir menikah!" jawab Bella dengan sangat berani.
__ADS_1
Entah apa yang merasukinya sampai memiliki keberanian yang besar melawan Kendra tanpa rasa takut. Padahal, biasanya dia tidak memiliki keberanian untuk melawan siapapun.
Kendra memegang wajah Bella, kemudian menatap wajah gadis itu dengan sangat sinis.
"Kau hanya sampah, tidak akan bisa menjadi ratu!" Kendra menghempaskan wajah Bella, sehingga gadis itu terjatuh dan merasakan perutnya keram.
Bella tidak memperdulikan rasa keram di perutnya, dan langsung menghampiri Kendra kemudian menendang pisang goreng pria itu.
"Aaahhh! Pusaka ku!" jerit Kendra sambil memegang pusaka miliknya.
"Rasakan pembalasan ku!" Bella bergegas pergi dari sana tanpa memperdulikan Kendra, yang sudah menahan sakit luar biasa di area kantung menyan nya.
"Wanita sialan!" teriak Kendra.
Bella masih dapat jelas mendengar suara Kendra. Namun, dia tetap bergegas pergi dari sana dalam keadaan sakit di bagian perutnya.
"Ada apa dengannya, bukankah tadi dia habis masuk ke dalam kamar Kendra? Apa adikku melukainya?" tanya Kenan pada diri sendiri.
Pria itu bergegas menelpon seseorang, untuk membantu Bella ke rumah sakit.
Kenan: Bawa istriku ke rumah sakit, pastikan keamanannya baik-baik saja!
.
.
Bella mengembuskan nafas dalam-dalam, kemudian tersenyum karena sakit di bagian perutnya sudah menghilangkan.
__ADS_1
"Bella kamu gak papa?" tanya Tia sambil menghampiri Bella di sofa.
Ya, Kenan menelpon Tia karena dia hanya mempercayai Bella pada gadis itu yang sangat baik pada sang istri.
"Aku baik kok, hanya keram perut saja tadi," jawab Bella dengan sangat lembut.
Tia bernafas lega dan mengirimkan pesan kepada Kenan kalau Bella sudah baik-baik saja, tidak perlu membawa sang sahabat ke rumah sakit.
"Tapi, kenapa kamu keram? Apa kamu lagi haid?" tanya Tia pada Bella, karena setahunya sang sahabat tidak pernah merasakan keram walaupun sedang datang bulan.
Bella terdiam, karena keram perutnya bukan kali ini saja dirasakannya, melainkan ada beberapa kali terjadi.
"Entahlah Tia, yang pasti sudah beberapa kali aku merasakan keram perut seperti ini," jawab Bella sambil berpikir.
"Sudahlah, itu mungkin terjadi karena kamu terlalu stress. Aku pergi dulu melanjutkan tugas." Tia tersenyum dan bergegas pergi dari sana, sambil menepuk pundak Bella dengan lembut.
Bella pun bangun dan berjalan menuju kamar sang ibu, karena wanita paruh baya itu sedang tidak sehat beberapa hari belakangan ini.
Saat dia masuk ke dalam, terlihat sang ibu sedang terbaring lemah di atas ranjang sambil memeluk sebuah Poto. Dengan perlahan Bella mengambil Poto tersebut dan melihatnya.
"Ini aku, dan ini ayah. Tapi, mengapa wajahku dan kakakku sama? Padahal, kami bukan anak kembar?" tanya Bella pada diri sendiri.
"Kalian itu adik dan kakak, maka-nya wajah kalian mirip," sahut Astuti sambil membuka kedua matanya.
Bella tersenyum dan memeluk sang ibu, kemudian berkata, "Apakah sampai saat ini wajah kami masih mirip?"
"Entahlah, yang ibu lihat waktu berjumpa mereka, kakakmu sudah besar dan memiliki tubuh cantik. Tapi, ibu tidak bisa melihat wajahnya," jawab Astuti dengan jujur.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....