
Adnan duduk di ruangannya, sambil mengingat wajah Kenan tadi, yang terlihat sangat tidak menyukai kalau Bella hamil.
"Sepertinya aku harus memberitahu bibi Astuti, agar dia bisa menyelamatkan Bella dari tuan Kenan," ucap Adnan.
Pria itu mengirimkan pesan pada Tia, kalau Bella tengah hamil dan harus waspada dari Kenan yang terlihat sangat tidak suka hal itu.
Tia yang sedang mendayung sepedanya, berhenti dan membuka ponselnya ada pesan masuk dari Adnan.
Adnan: Tia, sampaikan pada bibi Astuti kalau Bella hamil, dan kalian harus menjaga Bella dari tuan Kenan yang sangat tidak menyukai hal itu!
"Ya ampun, Bella hamil!" pekik Tia, karena dia tahu sahabatnya itu selalu meminum pil kontrasepsi.
Lalu, bagaimana bisa hamil dan Kenan sudah pasti tidak akan menyukai hal itu.
"Aku harus pergi ke rumah majikan Zaskia, karena misi dari bibi Astuti tadi." Tia langsung melanjutkan kembali pekerjaannya menuju alamat yang di kirimkan oleh Zaskia tadi.
Setelah sampai, dia langsung mengetuk-ngetuk pintu rumah dan tak berselang lama akhirnya pintu terbuka.
"Akhirnya kamu sampai juga," ucap Zaskia dengan sangat lega.
"Iya ak-" terputus karena Zaskia menarik tangan Tia masuk ke dalam, gadis itu membuka mulut lebar-lebar.
"Bella!" pekik Tia, karena dia sangat terkejut melihat adanya Bella di hadapannya. Padahal, gadis itu tadi masuk rumah sakit.
__ADS_1
Bagaimana bisa ada di hadapannya saat ini dengan sangat cepat?
"Duduk!" Zaskia menarik tangan Tia duduk di samping Siska yang sejak tadi terus-menerus tersenyum.
"Maaf, aku bukan Bella. Aku ini kakaknya Bella," ungkap Siska.
Tia kembali membuka mulut lebar-lebar, dan Siska mulai menceritakan semua dari awal sampai akhir. Mereka sangat terkejut mendengar perbuatan kriminal Siska yang sangat sadis.
"Kamu melakukan semua itu, hanya untuk balas dendam ayahmu?" tanya Tia dengan sangat takut.
Siska menganggukkan kepalanya, karena dia sangat menyesali perbuatannya sampai mengakibatkan sang adik tersiksa.
"Aku tidak percaya, mas Fajar sampai seperti itu," ucap Zaskia lirih.
Tia dan Siska langsung menatap gadis itu, karena memanggil Fajar dengan sebutan Mas.
"Sewaktu Adam akan meninggal ... dia memeluk aku dan mengucapkan kata terakhir, yang membuat aku bingung waktu itu," ungkap Siska, dan Tia menganggukkan kepalanya.
"Apa katanya?" tanya Zaskia dengan sangat penasaran.
"Katanya, dia sangat mencintai aku dan ada surat yang dia tinggalkan di dalam laci lemari kamarnya. Waktu itu aku sangat bingung apa maksud ucapannya sampai saat ini," ucap Siska.
Tia langsung menangis tersedu-sedu, karena mengingat kembali kesedihan Bella yang tidak ada akhirnya sampai saat ini, karena kepergian Adam.
__ADS_1
"Surat apa?" tanya Zaskia dengan sangat penasaran.
"Katanya itu adalah surat impian kami berdua, dan masa depan ada di sana," jawab Siska dengan air mata yang mengalir deras.
Tia tidak sanggup lagi menahan rasa sedihnya, sehingga dia memeluk Siska yang sangat mirip dengan Bella.
"Siska, kau tahu? Bella menderita karena itu dan semuanya adalah perbuatan mu," ucap Tia dengan lirih.
Siska semakin terisak-isak, dan memeluk Tia dengan sangat erat, sedangkan Zaskia memeluk orang yang ada di sampingnya.
Tunggu? Bukankah mereka tadi hanya bertiga? Lalu, siapa yang ada di samping Zaskia.
"Mas Fajar!" pekik Zaskia dan gadis itu langsung melepaskan pelukannya.
Siska langsung melepaskan pelukannya dan memeluk sang ayah, dengan sangat erat dan Fajar mengelus-elus rambut sang anak.
"Ada apa sebenarnya? Mengapa meminta ayah pulang?" tanya Fajar dengan sangat lembut.
"Sebenarnya Mas ... " Zaskia menceritakan semua yang di ceritakan oleh Siska tadi, membuat Fajar lemas dan terjatuh.
"Ayah!" Siska membantu sang ayah bangun begitu juga dengan Zaskia dan Tia.
"Bagaimana semua ini bisa terjadi?!" tanya Fajar dengan sangat histeris.
__ADS_1
Fajar sangat tidak percaya, karena rencananya balas dendam mala membuat Putri yang sangat dirindukan dalam bahaya dan siksaan.
"Tuan, sepertinya kita harus menyelamatkan Bella, karena saat ini gadis itu tengah hamil,'' ucap Tia.