Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku

Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku
Biarkan Kami Menikah


__ADS_3

Bella mencoba untuk melangkahkan kakinya. Namun, dia gagal lagi sehingga Hasrul membawanya naik ke atas dan memberikan handuk kimono pada gadis itu.


"Besok kita akan latih lagi. Jangan! Khawatir, om akan ada di sini sampai kamu sembuh dan bisa berjalan," ucap Hasrul dengan sangat lembut.


"Terimakasih banyak Om, karena om sudah mau membantu Bella walaupun mustahil Bella bisa berjalan kembali," ucap Bella dengan lirih.


"Sama-sama, ayo masuk ke dalam?" Hasrul hendak mendorong kursi roda Bella. Namun, gadis itu menahannya.


"Tidak usah Om, biar Tia saja," ucap Bella dengan lembut sambil menunjuk ke arah sang sahabat.


Hasrul tersenyum dan melihat adanya Tia di depan pintu, kemudian dia bergegas pergi dari sana.


Tia langsung menghampiri Bella setelah Hasrul pergi, kemudian dia duduk di samping sang sahabat.


"Bel, apa om itu sudah menikah?" tanya Tia, karena dia penasaran pria taman itu sudah memiliki pasangan atau belum.


"Entah, aku tidak mengenalnya," jawab Bella, karena dia memang tidak tahu masalah pribadi Hasrul.


"Sudahlah, kita masuk kamu bisa masuk angin nanti," ucap Tia sambil mendorong kursi roda Bella.


Bella menceritakan saat dia di Turki pada Tia, karena dia sangat senang Hasrul baik padanya. Sesampainya di dalam kamar mereka langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Tia membantu Bella berganti baju, dan melihat prut gadis itu sudah mulai membuncit, sehingga dia mengelus-elus.


"Hai bayi, apa kau di dalam baik?" tanya Tia sambil membantu Bella mengunakan baju, membuat gadis itu tertawa.

__ADS_1


"Apa dia bisa mendengarkan mu?" tanya Bella balik, karena dia sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang kehamilan dan bayi dalam kandungan.


"Entahlah, yang pasti aku sering melihat wanita hamil berbicara pada anaknya," jawab Tia sambil berpikir.


Bella tersenyum dan menganggukkan kepalanya kemudian mereka ke luar dari dalam kamar mandi. Tia membawa sang sahabat ke tempat tidur dengan cara menggendong gadis itu.


"Sekarang istirahat, aku akan kembali bekerja," ucap Tia dengan sangat lembut.


Bella tersenyum dan menganggukkan kepala, kemudian Tia bergegas pergi dari sana dengan perlahan. Saat di depan pintu kamar Bella dia sangat terkejut melihat Zaskia ada di hadapannya.


"Astaga!" pekik Tia.


Zaskia tertawa melihat Tia terkejut melihat kedatangannya, dan dia memegang pundak sang sahabat.


"Aku ini makhluk kasar, bukan makhluk halus," ucap Zaskia dengan sangat lembut.


"Aku tidak mau!"


Tia dan Zaskia bergegas pergi untuk melihat apa yang terjadi, dan mereka mengintip ada Siska dan seorang pria di sana. Bahkan, ada Astuti bersama Fajar juga.


"Siska!" sentak Fajar.


Gadis itu menangis karena sang ayah membentaknya untuk yang pertama kalinya.


"Ayah?" Siska menangis tersedu-sedu sambil memeluk sang ibu, karena dia merasa sangat bersedih.

__ADS_1


"Kamu membuat ayah kecewa," ucap Fajar dengan sedih.


Bagaimana tidak sedih, mengetahui bahwa anaknya hamil di luar pernikahan bersama anak musuhnya.


Ya, Betran mengaku kalau dia yang sudah menghamili Siska karena dia tidak ingin sang papa dan mamanya bercerai hanya karena gadis itu hamil.


"Om, kami melakukan itu karena saling mencintai," ucap Betran dengan sangat lembut.


"Ck, tutup omong kosong mu itu!" seru Fajar dengan sangat kesal, karena dia sangat membenci Albert papa pria itu.


"Om, kami melakukan itu karena saling mencintai," sahut Betran dengan sangat berani.


"Tutup matamu!" teriak Siska, karena dia tidak terima kalau pria itu mengaku sudah menghamilinya.


"Diam!" sentak Fajar, dan Siska langsung diam sambil menatap tajam ke arah Betran.


"Lebih baik anakku melahirkan tanpa suami, daripada harus menikah denganmu!" seru Fajar sambil menarik kerah baju Betran.


Fajar menghempaskan Betran dan pria itu terjatuh ke lantai, kemudian bangun dan menarik tangan Siska masuk ke dalam pelukannya.


"Katakan pada orang tuamu, kalau kita saling mencintai," ucap Bertan dengan keras agar Fajar mendengarnya.


"Katakan, atau kau ingin papaku mati di tangannya," bisik Betran dengan halus di telinga Siska.


Fajar merasa kesal, karena anaknya berada di dalam pelukan pria yang sangat di bencinya dan semua keturunannya.

__ADS_1


"Lepaskan anakku!" teriak Fajar, dan Betran tersenyum sambil mencubit lengan Siska agar gadis itu menjawab.


"Ayah, biarkan kami menikah," ucap Siska dalam isak tangisannya.


__ADS_2