Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku

Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku
Mengakhiri Semuanya


__ADS_3

Heppy Reading ...


Kenan membawa mobil dengan sangat cepat, membuat Bella takut, sehingga gadis itu menutup kedua mata dan membayangkan sesuatu hal yang indah untuk menghilangkan rasa takutnya.


Setelah sampai di mansion, Kenan menarik tangan Bella masuk ke dalam dengan sangat kuat, sehingga gadis itu kesulitan mengikuti langkah sang suami.


Semua pelayan hanya bisa melihat, karena mereka tidak bisa membantu Bella terutama Astuti.


'Semoga ini cepat berlalu, dan anakku bisa bebas dari tuan Kenan,' batin Astuti lirih.


Kenan menghempaskan tubuh Bella, sehingga gadis itu terjatuh di atas kasur sambil menangis tersedu-sedu.


"Kau membuatku malu saja! Dasar ja-lang busuk!" caci Kenan.


Hati Bella kian sakit, dan sudah tidak sanggup lagi akan apa yang dia rasakan setiap harinya. Tidak ada hentinya cacian dan makian serapah ke luar dari mulut Kenan.


Mata gadis itu melihat ada pisau buah, dan langsung mengambilnya. Sontak membuat Kenan terkejut.


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Kenan dengan perlahan menghampiri Bella.


"Jangan mendekat!" teriak Bella sambil menodongkan pisau tajam tersebut ke lehernya sendiri.


Kenan mundur dengan perlahan sambil berpikir bagaimana caranya mengambil pisau itu.


"Selama ini Bella diam Om perlakuan seperti seekor binatang! Tapi, kali ini Bella tidak sanggup lagi. Di mana Om Kenan yang penyayang seperti dulu? Apa dia sudah mati?" ucap Bella dengan lirih.


Kenan tersentuh akan ucapan Bella dan dia terdiam sambil merenungi perbuatannya pada gadis itu.


"Maaf, Bella sudah tidak sanggup lagi!" Gadis itu langsung mengiris pergelangan tangannya dan terjatuh ke lantai dengan bersimbah darah.


"Bella!" teriak Kenan.


Kenan langsung menghampiri gadis itu dan memegang nadi yang masih berdenyut. Dengan cepat dia mengendong tubuh yang berlumuran darah ke luar dari kamar.


"Siapkan mobil!" titah Kenan, dan anak buahnya langsung melaksanakan tugas.


Semua pelayan berhamburan ke luar, dan melihat apa yang terjadi termasuk Astuti yang melihat sang anak berlumuran darah. Wanita paru paya itu pun terjatuh lemas di lantai.


"Bibi!" Tia langsung menghampiri wanita itu dan membantunya berjalan masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Astuti menangis tersedu-sedu sambil mengingat kembali kejadian tadi, saat melihat sang anak.


"Tia, apakah Bella masih hidup?" tanya Astuti dengan pandangan kosong.


Tia menganggukkan kepala, dan memeluk Astuti dengan tangisan yang di ciptakan oleh mereka berdua.


"Apa memang sebaiknya dia pergi? Untuk mengakhiri semuanya?" tanya Astuti dengan sangat frustasi.


Astuti sudah tidak sanggup lagi melihat sang anak terus-menerus di sakiti oleh Pria yang menikahi anaknya secara paksa.


"Bibi kenapa bicara seperti itu?" tanya Tia sambil menenangkan Astuti agar wanita itu rileks dan tidak bicara macam-macam lagi.


"Tia, apa kamu tidak kasian pada Bella? Dia selalu mendapatkan hukuman dari kesalahan yang sama sekali tidak dia perbuat," jawab Astuti dengan sangat lirih.


Tia tidak bisa menjawab ucapan Astuti lagi, karena dirinya juga tidak sanggup melihat Bella setiap hari di hukum oleh sang majikan.


'Apakah aku tidak bisa bertemu Bella lagi? Mungkin dia sudah pergi menyusul Adam?' batin Tia.


Kedua wanita itu terus menangisi Bella, karena mereka mengambil kesimpulan bahwa gadis itu tidak akan menempuh bertahan karena banyak sekali mengeluarkan darah.


'Aku rela kalau Bella pergi, karena lebih baik dari pada dia bertahan. Tapi, selalu menahan sakit setiap harinya,' batin Astuti dengan sangat lirih.


Wanita itu sampai merelakan agar sang anak pergi selamanya, ketimbang hidup. Namun, menderita seumur hidupnya.


Rumah sakit ...


Kenan dan anak buahnya berlari masuk ke dalam rumah sakit, membawa tubuh Bella yang sudah lemas bersimbah darah tersebut ke ruang IGD.


"Dokter, tolong selamatkan dia!" teriak Kenan dengan sangat panik, sambil meletakkan tubuh Bella di tempat tidur pasien.


"Baik!"


Dua orang Dokter tampan menghampiri Kenan, dan langsung menangani Bella yang mengalami pendarahan yang lumayan besar. Gadis itu sudah terlihat pucat, membuat Kenan panik bukan main.


Kata-kata gadis itu terus masuk ke dalam pikirannya sejak tadi, dan tidak bisa di melupakan.


'Apa aku kelewatan sudah memperlakukannya seperti itu?' batin Kenan.


Pria itu menggelengkan kepala karena sudah berpikir kasihan pada gadis yang sangat di bencinya.

__ADS_1


'Aku tidak akan membiarkan dia mati begitu saja. Karena, semua dendam ku belum terbalas,' batin Kenan lagi.


Pria itu seperti memiliki dua sifat sekaligus dalam dirinya. Entah apa yang membuat Kenan sangat membenci Bella sampai gadis itu sekarat pun dia tetap memiliki dendamnya pada sang istri.


Tidak ada rasa kasihan Kenan saat melihat Bella di tangani oleh dua Dokter tampan itu. Yang ada di dalam benak dan hatinya hanya kebencian pada gadis itu. Padahal, dulu dia sangat menyayanginya seperti anak sendiri.


Dua jam kemudian ...


Kenan bernapas lega, karena Bella sudah melewati masa kritisnya dan para Dokter langsung memindahkan gadis itu ke ruang inap.


Kenan berhadapan dengan Dokter yang menangani Bella tadi, karena pemuda itu ingin bertanya pada orang yang membawa pasiennya.


"Maaf, saya mungkin lancang bertanya masalah pribadi Anda dan gadis itu. Tapi, kenapa sampai dia mau bunuh diri?" tanya Adnan.


Kenan tersenyum simpul kemudian menepuk pundak Adnan dengan pelan.


"Jika kau masih ingin menjadi Dokter di sini. Jangan bertanya apapun padaku!" sentak Kenan membuat Adnan langsung pergi.


Adnan berjalan ke luar dari ruangan Bella dengan sangat kesal, karena dia tahu kalau gadis itu ingin bunuh diri yang terlihat jelas dari lukanya tadi.


'Aku sangat yakin kalau dia ingin bunuh diri, sudah terlihat jelas di tangannya tadi. Tapi, apa alasannya?' batin Adnan penuh tanya.


Dokter muda itu sangat kasihan pada Bella, karena dia sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri. Sebab, Adnan merindukan adiknya yang sudah lama pergi entah ke mana.


Kenan duduk di samping Bella, sambil mengelus-elus rambut sang istri dengan lembut. Kemudian masuk anak buahnya.


"Urus semua pekerjaan ku. Katakan pada Beno yang terjadi padaku, dan jangan lupa bereskan pria busuk murahan itu!" pinta Kenan sambil menghembuskan tangannya.


Anak buah Kenan mengangguk kepala tanda mengerti, dan bergegas pergi dari dalam ruang inap Bella. Meninggalkan sang tuan bersama istri kedua sang tuan.


Kenan Kembali menatap wajah Bella dengan dendam yang sangat besar pada gadis itu, sampai rasa sayangnya tidak membuat melerai dendam itu.


"Bella, aku tidak akan membuatmu merasakan kebahagiaan walaupun hanya sedikit saja! Kau sudah membuatku sangat membenci mu!" seru Kenan.


Pria itu bangun dari duduknya dan bergegas pergi dari sana, karena ada sesuatu hal yang ingin dia kerjakan untuk Dokter muda tadi.


'Beraninya dia ikut campur urusan ku. Apa dia tidak tahu kalau aku ini adalah Kenan Dukeun sang konglomerat,' batin Kenan sambil terus berjalan menuju tempat tujuan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2