Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku

Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku
Kenapa Aku Tak Bisa Berjalan?


__ADS_3

Kendra membanting berkas yang ada di hadapannya, karena perusahaan Kenan di nyatakan bangkrut karena adanya penarikan dana dengan nominal yang besar.


"Siapa yang melakukan hal itu?!" teriak Kendra dengan sangat kesal, karena dia takut sang kakak akan marah padanya.


"Kami tidak tahu, Tuan." Beno menjawab dengan lirih. Padahal, dia tahu siapa pelakunya dan merahasiakan semua itu.


"Bagaimana bisa dia sangat pandai, aku yakin kalau dia di bantu seseorang yang sangat berpengaruh di perusahaan ini!" teriak Kendra.


Beno menggelengkan kepalanya, karena dia akan selalu menutupi siapa pelakunya karena dia juga akan merasakan uang itu nantinya.


"Saya permisi dulu, Tuan." Beno bergegas pergi dari sana, meninggalkan Kendra seorang diri.


Kendra merasa sangat kesal, dan langsung membagikan gaji karyawan dan mengemasi barang-barang milik Kenan. Sebab, perusahaan itu akan di sita oleh pemilik barunya.


Kendra sangat takut memberitahukan kepada Kenan, karena dia takut pria itu akan jatuh sakit atau gila. Sebab, mereka kini telah menjadi orang miskin.


"Apa yang aku katakan pada kak Ken, aku sangat takut dia akan menjadi gila. Terutama denganku yang tidak sanggup hidup susah," ucap Kendra.


Pria itu duduk sambil memegang dada, menguatkan dirinya agar tegar dan menerima kenyataan kalau dia dan sang kakak sudah bangkrut.


Kendra bergegas pergi dari sana sambil membawa semua barang-barang milik Kenan, karena sang pemilik baru sudah tiba.

__ADS_1


"Ya ampun, aku tidak pernah berpikir kalau kak Ken akan bangkrut. Sebab, harta peninggalan papa tidak akan habis sampai tuju turunan," ucap Kendra dengan sangat heran.


Pria itu mengingat nominal yang di tarik dengan gelap mencapai ribuan miliyar, dan Kenan sama sekali tidak mengetahui hal itu? Bukankah mustahil.


"Apa ini ada hubungannya dengan kak Ken? Sebab, semua terjadi sejak kejadian kemarin. Tapi, untuk apa dia melakukan hal itu?" ucap Kendra sambil mengemudikan mobilnya menuju rumah.


.


.


.


Bella menangis seorang diri, karena dia ingin hati dan pikirannya tenang dan bisa menerima kenyataan.


Gadis itu mencoba untuk berjalan. Namun, dia sama sekali tidak bisa menggerakkan kakinya, membuat dia sengat heran.


"Ada apa denganku?" tanya Bella dan dia terjatuh, karena memaksa untuk terus berjalan.


"Tuan, ada apa denganku?!" tanya Bella dengan sangat histeris.


Gadis itu baru menyadari dirinya tidak bisa berjalan, karena tadi Tia yang menggendongnya naik ke atas tempat tidur sehingga dia tidak tahu.

__ADS_1


"Apa aku tidak bisa berjalan?!" tanya Bella sambil menangis histeris, kemudian dia mencoba untuk bangun.


Namun, gagal karena kakinya sama sekali tidak bisa di gerakkan sedikitpun. Padahal, di rumah sakit kemarin dia masih bisa menggerakkan kakinya.


"Tuhan ada apa denganku!" teriak Bella.


Tia yang sedang menyapu di ruang tamu, mendengar teriakan Bella sehingga dia langsung cepat-cepat berlari masuk ke dalam kamar gadis itu.


Tia terkejut melihat Bella ada di bawa dan langsung membantu gadis itu bangun, kemudian duduk di kursi roda.


"Bella, ada apa?" tanya Tia, sambil menghapus air mata yang mengalir deras membasahi seluruh wajah Bella.


"Kak, kenapa aku tidak bisa berjalan?" tanya Bella dengan sangat lirih.


Tia bingung harus menjawab apa, karena dia sudah tahu mengapa sang adik tidak bisa berjalan saat ini. Namun, dia takut menceritakan hal itu.


"Katakan kak!" teriak Bella, yang masih menangis tersedu-sedu.


Tia tidak tega melihat Bella menangis histeris, sehingga dia menceritakan semua yang terjadi pada gadis itu. Sontak membuat Bella sangat terkejut dan terpukul akan kondisinya saat ini.


"Kak, aku minta temani aku ke makam Adam," pinta Bella dengan sangat lirih, sehingga Tia tidak bisa menolak.

__ADS_1


"Tapi, kepergian kita jangan sampai ada yang tahu," jawab Tia, karena dia takut Fajar akan marah kalau tahu Bella ke luar rumah.


__ADS_2