
Happy reading...
Zaskia menarik tangan Kendra, dan membawa pria itu ke bawah pohon yang ada di tepi jalan. Kemudian manarik kerah baju pria tersebut.
"Jangan per-kosa aku!" teriak Kendra. Sontak Zaskia langsung membuka mulut lebar-lebar.
"Astaga! Kau ini membuatku insecure saja. Ku pikir kau adalah pria sejati. Tapi, ternyata bencong," ucap Zaskia sambil meninggalkan Kendra di sana.
"Tunggu!" Kendra berlari mengejar Zaskia, dan menarik tangan gadis itu sehingga mereka terjatuh bersama.
Kendra jatuh menimpah tubuh Zaskia, membuat gadis itu takut bukan main. Sebab, jalan yang di ambil memang tidak ada yang melewatinya, dia pikir pria itu akan berbuat macam-macam padanya.
"Menyingkir!" teriak Zaskia.
Kendra langsung bangun, dan membantu Zaskia bangun kemudian mereka saling menatap satu sama lainnya.
'Awas saja kalau dia sampai macam-macam padaku,' batin Zaskia.
Zaskia masih saja menatap wajah Kendra dengan sangat tajam, begitu juga dengan pria itu.
'Aku akan membuatnya takut, kalau sampai dia macam-macam padaku,' batin Kendra.
Mereka berdua sama-sama takut, akan di lecehkan satu sama lainnya. Padahal, Zaskia maupun Kendra tidak ada nyali berbuat seperti itu.
"Cepat naik! Tapi, jangan berteriak-teriak lagi, aku tidak suka!" ucap Zaskia dengan ketus, membuat Kendra takut dan langsung naik ke atas motor.
'Gadis ini kejam sekali,' batin Kendra.
Zaskia langsung mengemudikan motor dengan kecepatan sedang, sampai di rumah Kenan. Meraka berdua langsung turun.
"Terimakasih, tunggu sebentar aku akan ambilkan uang dulu untuk mu," ucap Kendra dengan sangat lembut.
"Tidak! Aku ikhlas membantu mu," ucap Zaskia dengan sangat lembut, membuat Kendra tersenyum.
"Terimakasih banyak, aku tidak akan melupakan jasamu," ucap Kendra.
Zaskia tersenyum dan mulai mengemudikan motor dengan kecepatan tinggi, karena dia tidak mau sampai Bella melihatnya dan mengambil Cantika. Sebab, gadis itu masih ingin mengojek agar uangnya bertambah.
*
*
*
Miranda melemparkan gelas yang ada di hadapannya. Sebab, Albert tidak mau menutup mulut tentang rahasia meraka dari Kenan.
"Kau jangan main-main dengan ku! Kalau kau masih ingin melihat matahari besok!" seru Miranda.
__ADS_1
Albert tertawa, sambil berjalan mendekati istri dari sahabatnya itu. Kemudian memeluk Miranda dengan erat.
"Aku bisa saja tutup mulut! Tapi, kau harus tidur lagi bersama ku," ucap Albert dengan sangat lembut.
Miranda melepaskan pelukan meraka, kemudian dia berjalan menuju luar. Sebab, tidak mungkin kalau ia tidur bersama pria itu lagi.
Setelah sampai di luar, dia langsung mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Sebab, hatinya sedang kacau saat ini.
Pada saat itu juga Kenan baru sampai di halaman rumah Albert, dan langsung turun kemudian mengetuk-ngetuk pintu rumah sang sahabatnya.
"Tidak ada tanda-tanda keberadaan Miranda di sini?" tanya Kenan pada diri sendiri.
Tak berselang lama, akhirnya pintu terbuka dan Albert yang membukanya. Mereka saling menatap satu sama lainnya dalam pikiran masing-masing.
'Mau apa dia ke sini?' batin Albert sambil bertanya. Mengapa Kenan sampai datang ke rumahnya.
"Ada apa?" tanya Albert tanpa basa-basi, karena dia takut Kenan sudah mengetahui perbuatannya bersama Miranda.
"Tidak ada, aku tadi kebetulan lewat dan mampir ke sini," jawab Kenan dengan dusta, karena tidak mungkin dia menceritakan masalahnya.
"Kalau begitu mari masuk!" ucap Albert.
Kenan tersenyum dan langsung menggelengkan kepala, dan mencari alasan agar terbebas dari Albert.
"Aku masih banyak pekerjaan," tolak Kenan dengan halus, dan Albert tidak memaksanya membiarkan sang sahabat pergi.
*
*
*
"Ken," panggil Miranda dengan lembut, sambil menghampiri Kendra.
Pria itu langsung menoleh dan memeluk kakak iparnya, dan mereka saling menatap satu sama lainnya.
"Sudah lama sekali kau tidak pulang," ucap Miranda dengan lembut.
Kendra tersenyum, karena kakak iparnya tidak berubah sedikitpun walau dia sudah lama sekali tidak bertemu.
"Kakak ipar, kau tetap sama seperti dulu waktu aku masih kecil," ucap Kendra sambil memegang tangan Miranda.
"Tentu saja! Aku adalah kakak mu juga," sahut Miranda sambil memukul lengan Kendra.
Raut wajah Kendra berubah, saat mengingat sang kakak yang akan marah melihat wajahnya karena kesalahan yang sudah di perbuatnya.
Miranda melihat wajah Kendra berubah, dan sudah tahu apa penyebabnya sehingga satu rencana masuk ke dalam pikirannya.
__ADS_1
"Ken, aku akan membantu mu agar Kenan tidak marah padamu. Tapi, kau juga harus membantu ku," ucap Miranda dengan lembut.
Kendra tersenyum dan menganggukkan kepala, kemudian Miranda membisikkan sesuatu di telinga pria itu, dan mereka berdua tersenyum penuh kemenangan.
*
*
*
Adnan memberikan obat untuk Astuti, agar wanita paruh baya itu lekas sembuh dan bisa segera pulang. Sebab, sangat merindukan sang anak.
"Kalau keadaan Bibi sudah pulih, besok sudah boleh pulang," ucap Adnan dengan sangat lembut.
"Terimakasih Nak, kamu sangat baik pada Bibi," ucap Astuti sambil menatap wajah Adnan.
"Sama-sama Bi, saya permisi dulu." Adnan bergegas pergi dari sana, dan meninggalkan Astuti seorang diri.
Astuti menatap kagum pada Adnan yang sangat baik padanya, dan terbesit di pikirannya kalau Bella belum menikah, dia ingin pria itu menjadi menantunya.
"Adnan sangat baik padaku, dia membayar pengobatan ku di sini dan merawat ku di ruang VIP," ucap Astuti dengan lirih.
Karena, wanita itu mengkhawatirkan keadaan sang anak yang sudah dua hari ini tidak bertemu dengannya. Astuti berpikir kalau Bella pasti akan mengalami hal yang selalu di alaminya. Sebab, Kenan sudah pulang saat dirinya pergi dari rumah.
'Aku harus pulang besok. Sebab, Bella tidak ada yang menjaga atau merawatnya kalau Tuan Kenan sudah pulang,' batin Astuti.
Wanita itu langsung tidur, karena dia ingin cepat sembuh dan pulang. Sebab, ia terus-menerus memikirkan tentang keadaan Bella saat ini.
*
*
*
Kenan sudah sampai di rumah, dan dia langsung masuk ke dalam. Mata elangnya melihat Miranda bercanda tawa bersama Kendra.
Ya, Kendra adalah adiknya dari istri kedua sang papa yang membuatnya kehilangan semua orang yang di sayangnya. Sehingga sangat membenci sang adik itu.
'Dia sudah pulang, dan tidak memberitahu ku!' geram Kenan dalam hatinya, sambil berjalan menghampiri mereka berdua.
"Kendra!" seru Kenan.
Sontak kedua orang itu langsung diam dan menatap wajah Kenan, yang terlihat sangat marah pada Kendra.
'Apa yang harus ku katakan padanya? Berkata jujur atau bohong?' batin Kendra sambil berpikir.
Miranda langsung bangun dan menarik tangan Kenan duduk bersamanya, terlihat jelas kalau sang suami sangat marah pada Kendra.
__ADS_1
'Aku harus bisa menenangkannya, karena semua ini demi rencana ku juga yang akan berjalan dengan lancar,' batin Miranda licik.
Bersambung.