
Selama di perjalanan, Astuti hanya diam sambil berpikir harus ke mana lagi dia mencari keberadaan sang suami dan anaknya.
'Pegawai itu juga belum memberikan kabar, mungkin karena mas Fajar tidak ke sana,' batin Astuti.
Setelah sampai, dia langsung turun dan masuk ke dalam. Saat ia ada di halaman belakang, terlihat banyak orang berlalu lalang di sana.
"Mang ada apa?" tanya Astuti pada Mang Asep.
Mang Asep langsung menghampiri sang adik dan membisikkan sesuatu di telinga Astuti.
"Bagaimana ini, kalau dia kembali sudah pasti akan selalu menghukum Bella, Bang?" tanya Astuti dengan cemas.
Bagaimana tidak cemas, karena Miranda akan selalu menghukum Bella walaupun gadis itu tidak berbuat kesalahan apapun sebelumnya.
"Tenang, ada mang di sini dan yang lain," jawab Mang Asep sambil bergegas pergi dari hadapan Astuti.
Astuti pergi dari sana, dan mengerjakan tugasnya karena sang majikan tahu dia pergi maka habislah dia.
.
.
.
Zaskia berkeliling melihat semua pelayan bekerja, dan dia duduk di bangku dekat kolam karena berpikir, akan mengembalikan Cantika pada Bella.
"Malam ini aku akan menemuinya, dan mengembalikan Cantika pada Bella," ucap Zaskia sambil melihat para pelayan membersihkan kolam renang.
Ponselnya bergetar, ada panggilan masuk dari Fajar membuat Zaskia langsung tersenyum dan menjawab panggilan dari sang majikan.
Fajar: Apa di sana baik?
Zaskia: Baik, Tuan.
Zaskia tersipu malu, dan berjalan-jalan karena sangat bahagia Fajar menelponnya.
Fajar: Jaga Siska. Ya.
Zaskia terdiam, karena Siska dari kemarin belum juga pulang ke rumah dan dia juga belum pernah melihat wajah gadis itu, sehingga tidak bisa mencarinya.
Fajar: Zaskia, apa Siska pergi dari rumah?
'Mapus ni, aku harus jawab apa?' batin Zaskia sambil bertanya.
Fajar: Zaskia!
Zaskia: Iya Tuan, Non Siska belum pulang.
Zaskia langsung menutup mulut menggunakan kedua tangannya, karena sudah keceplosan tadi.
Fajar langsung memutuskan sambungan teleponnya, dan mengutus semua anak buahnya untuk mencari keberadaan sang anak.
Namun, gadis itu tidak bisa di temukan di manapun oleh semua anak buah Fajar. Membuat pria itu kesal.
__ADS_1
"Aku sangat yakin, pasti Siska pergi bersama pria sialan itu. Kalau tidak, mana mungkin semua anak buah ku tidak menemukannya!" geram Fajar.
Bagaimana tidak kesal, karena sang anak hanya di manfaatkan oleh salah satu musuhnya. Namun, Siska tetap mencintai pria itu, dan sialnya lagi, Fajar sama sekali tidak tahu siapa pria itu.
'Setelah aku pulang, tidak akan ku biarkan pria itu hidup tenang!' geram Fajar dalam hatinya.
.
.
.
Kendra sudah rapi, dengan balutan jas yang membuatnya terlihat sangat tampan karena dia akan pergi ke kantor untuk melihat-lihat sesuai perintah Kenan.
Ya, Kenan meminta Kendra untuk melihat keadaan kantor selama dia pergi. Walaupun ada Beno di perusahaannya.
"Kendra, kau sangat tampan dengan balutan jas ini. Akankah wanita mengejar-ngejar aku?" Kendra bergegas pergi dari sana.
Pria itu berjalan dengan sangat santai, dan melihat Tia tengah menyiram tanaman di halaman depan. Kemudian Kendra tersenyum simpul.
'Aku akan membuatnya menyesal, karena sudah menghancurkan rencana ku!' geram Kendra dalam hatinya.
Pria itu bergegas pergi dari sana dengan senyuman liciknya, entah apa yang tengah di rencanakan olehnya yang akan membuat Tia menyesali perbuatannya.
Tia menyadari kalau Kendra menatapnya dengan sangat mengerikan. Namun, dia tidak ambil pusing dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
'Sepertinya aku harus berhati-hati, karena pria busuk itu sangat licik,' batin Tia.
Tiba-tiba saja ada yang melemparkan sampah ke tubuhnya, membuat gadis itu membuka mulut lebar-lebar.
Sari tertawa puas, karena sudah membuat Tia kotor dengan sampah yang di lemparkannya barusan.
Tia kesal dan langsung mengirimkan air pada Sari sehingga gadis itu basah kuyup, dan dia tertawa lepas karena dendam nya sudah terbalas.
"Dasar kau wanita sialan!" teriak Sari, yang hendak menjambak Tia. Namun, tangannya di tahan oleh seseorang.
Tia langsung membuka mulut lebar-lebar saat melihat siapa orang yang menahan tangan Sari.
"Lepaskan tanganku!" sentak Sari.
Pria itu langsung menghempaskan tangan Sari, sehingga gadis itu terjatuh ke lantai dan menatap tajam ke arahnya.
"Aku sudah pernah bilang bukan? Jangan ada keributan di sini!" teriak Kendra.
Ya, pria yang menahan tangan Sari adalah Kendra karena dia ingin mengambil berang yang tertinggal di rumah tadi.
Sari langsung bergegas pergi dari sana, tanpa memperdulikan ucapan Kendra untuknya tadi. Sedangkan Tia, dia harus membereskan sampah yang berserakan di lantai.
"Tidak ada ucapan terimakasih mu. Ya," cibir Kendra.
Tia sama sekali tidak memperdulikan ucapan Kendra dan terus mengerjakan tugasnya. Pria itu tidak langsung pergi dari sana, karena melihat lekuk tubuh Tia.
"Mau apa kau melihat ku seperti itu?!" tanya Tia dengan sangat emosi, karena tahu Kendra menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
Kendra tersadar dan langsung pergi dari sanan, tanpa menjawab ucapan Tia tadi.
"Dasar mata keranjang!" cibir Tia saat melihat Kendra sudah masuk ke dalam.
Setelah membersihkan sampah, Tia bergegas untuk mandi karena sebentar lagi Miranda akan tiba dan sudah di pastikan wanita itu akan membuat masalah.
Setelah selesai membersihkan diri, Tia duduk diam sambil menatap dirinya lewat cermin. Kemudian gadis itu tertawa lepas.
"Astaga! Tubuhku terlihat sangat kurus," kekeh Tia.
Gadis itu langsung bergegas menggunakan baju dan merapikan penampilannya, setelah itu ke luar dari dalam kamar menuju ruang tamu.
"Apa nyonya sudah sampai?" tanya Tia sambil menatap ke arah luar, yang ramai sekali orang di sana.
"Iya, dan di sana banyak sekali teman-teman nyonya Miranda. Sebaiknya kita cepat menyiapkan makanan dan minuman," ucap salah satu pelayan di sana.
"Ayo!" Tia langsung bergegas pergi dari sana untuk menyiapkan makanan untuk teman-teman Miranda.
Miranda sengaja membawa semua teman-temannya, karena mereka akan mengadakan arisan di rumahnya.
"Ayo kita masuk ke dalam!" Miranda masuk ke dalam bersama teman-temannya.
Mereka semua duduk di sofa dan para pelayan langsung menghidangkan minuman.
"Miranda, apa adik ipar mu sudah menikah?" tanya Alma.
"Belum," jawab Miranda cepat.
Alma tersenyum, karena dia sudah lama hidup menjanda di usia yang sudah memasuki kepala empat.
"Jodohkan aku dengannya," pinta Alma, membuat semua orang langsung tertawa lepas.
"Astaga Alma! Mana mungkin dia mau sama nenek seperti mu," kekeh Miranda.
Karena dia dan Alma seumuran, dan Kendra masih berusia 30 tahun yang sudah pasti ingat mencari daun muda bukan daun layu.
"Apa wajahku terlihat tua?" tanya Alma dengan serius, karena dia ingin menikah secepatnya.
"Tapi, aku akan mempertimbangkan untuk mu," ucap Miranda, dan semua orang di sana kembali bercerita tentang Kendra.
Para wanita di sana sangat mengagumi ketampanan Kendra, karena Miranda memperlihatkan Poto Kendra.
'Sepertinya aku memiliki ide untuk Kendra' batin Miranda licik.
Entah apa lagi yang sedang di rencanakan oleh Miranda pada adik ipar, yang sudah mau membantu misinya walaupun gagal.
Bella menatap ke arah semua teman-teman Miranda dan dia bergegas pergi menuju dapur, kemudian membantu semua orang yang ada di sana dengan sangat perlahan.
"Ada apa Bel?" tanya Tia sambil memperhatikan Bella, yang sejak tadi hanya diam saja.
"Tidak ada! Aku hanya sadar diri kalau aku ini anak pembantu yang menikah dengan majikan ku," ucap Bella.
Tia mengerutkan keningnya, karena tidak mengerti apa maksud dari ucapan Bella padanya barusan.
__ADS_1
Bersambung